My Wolf Boy

1.    Author : Lime
2.    Judul : My Wolf Boy
3.    Kategori : Romance, Mysteri (?), Oneshoot
4.    Cast :
–    Park Chanyeol EXO
–    Kim Hyelim/Lime Hello Venus
–    Other EXO’s members
–    Park Jungsoo Super Junior

Hello! Author kembali dengan FF EXOVENUS. Haaaa ini couple favorit author, Chanyeol-Lime ^^ FF ini terinspirasi dari MV EXO-Wolf. Liat Park Chanyeol yang jadi Wolf pertama di MV itu kekeke~ maaf ya kalo banya typo, dipungutin aja.. well, semoga suka! Ditunggu  kripik pedasnya ^^
***

wolf boy cover


[Lime’s POV]

Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 10 malam. Kugerakkan lengan perlahan secara bergantian, lelah dan letih. Malam semakin merambat cepat namun pekerjaanku belum selesai juga. Sebenarnya aku sangat menyukai pekerjaanku sebagai penulis, kapanpun aku memiliki ide tulisan tinggal kutuangkan ke dalam laptopku kemudian memberikannya kepada penerbit majalah. Sudah banyak tulisanku yang dimuat di majalah remaja itu. Responnya sangat baik dan kemudian majalah itu mengontrakku. Hanya saja aku sangat benci deadline. Benar-benar menyebalkan jika otakku dipaksa untuk berpikir mencari ide baru.

Kuteguk lagi segelas kopi yang sudah tidak bisa dikatakan hangat. Aku baru ingat membuatnya 2 jam yang lalu. Perlahan kusandarkan tubuhku pada kursi dan mendongak, sedikit melegakan memandang bisa langit-langit kamar. Tiba-tiba perutku berbunyi. Angin dalam lambungku bergerak bebas karena tidak ada isinya.

Kuputuskan untuk keluar rumah sebentar untuk membeli makanan. Memang aku sangat jarang masak, untuk apa memasak kalau hanya untuk diri sendiri? Orangtuaku sudah lama berpisah. Sebenarnya aku anak orang kaya, kedua orangtuaku memiliki perusahaan masing-masing. Mungkin  karena kesibukan mereka, mereka jadi berpisah seperti ini. Harta gono-gini mereka digabungkan dibagi menjadi 3. Untuk ibu, ayah, dan aku. Walaupun sudah dibagi rata, mereka berdua tetap harus menafkahiku setiap bulan. Egois memang, namun jika tidak begitu aku tidak akan pernah bisa bertemu dengan ayah dan ibuku.

Meskipun begitu aku ingin bekerja. Ingin merasakan bagaimana rasanya mencari uang sendiri. Aku sudah berhenti kuliah, itu hal yang paling menyebalkan dalam hidupku. Duduk berjam-jam mendengarkan dosen mengoceh, aku sangat benci. Aku lebih suka menikmati hidupku seperti ini, sendiri.

Langkahku berhenti di sebuah kedai kecil. Ahjumma itu sudah sangat mengerti apa yang akan aku beli. Hanya dengan senyuman ahjumma itu membuatkanku kue ikan. Kue berbentuk ikan tapi berisi kacang merah.

“Ahjumma, taburkan yang rata kacang merahnya.” Pintaku. Ahjumma itu hanya membalasku dengan senyum dan melakukan pekerjaannya dengan baik. Aroma khas kue ikan yang sangat kusuka, rasanya aku ingin cepat pulang dan menghabiskan semuanya.

Setelah membayar aku segera beranjak pulang. Saat perjalanan pulang aku melintasi toko boneka yang akan segera tutup. Mataku melirik sebuah boneka serigala abu yang dipampang di kaca depan toko. Iseng aku segera masuk ke dalam toko meskipun pelayannya memintaku untuk segera keluar.

Aku merengkuh boneka serigala abu itu, ukurannya sedang dan sangat pas untuk dipeluk. Bentuknya tidak terlalu mengerikan seperti sosok serigala Jacob di film Twilight. Aku memutuskan untuk membeli boneka itu.

“Agassi, kau ingin membeli boneka ini? Ini satu-satunya yang ada di toko ini.” Kata petugas kasir toko itu, kuperkirakan umurnya sama denganku.

“Ya, aku rasa ini lucu. Tolong berikan aku kantung plastik.” Balasku penuh senyum.
~~~

Tidak ada yang berubah dalam kehidupanku. Setelah tulisanku selesai aku akan mengantarkannya kepada penerbit dan menerima uang. Jika tidak ada pekerjaan aku akan bersantai seharian di rumah sendiri, aku memang tidak begitu punya banyak teman.

Kuraih boneka baruku dan memeluknya erat sambil mengutak-atik twitterku. Melihat beberapa mention dari pembaca setiaku disana.

“Lime ssi, apakah benar kau tidak bisa memasak?” Aku membaca heran sebuah mention dari seseorang. Aku baru ingat terakhir kali aku mengeluh di twitter bahwa aku tidak bisa memasak.

Kegendong boneka serigala abu itu menuju dapur. Kulkasku terisi penuh oleh bahan makanan yang dikirim ibuku minggu lalu, namun tak satupun yang kumasak. Baiklah, aku akan menggoreng telur untuk makan malam kali ini.

Kuletakkan bonekaku di samping kompor. Setelah kukocok telur dan memanaskan minyak, kugoreng telur itu pelan. Hal yang paling aku takutkan saat menggoreng adalah kecipratan minyak panas. Aku asyik menggoreng telur sambil bersenandung ria. Ini hanya telur biasa namun rasanya sangat bangga untuk memasak sendiri. Tanpa kusadari ekor boneka serigala abuku terbakar.

Aku panik. Segeraku matikan kompor dan mengambil boneka itu, meniup ekornya yang terbakar sedikit. Aku sangat lega tidak terjadi apa-apa, hanya saja terlihat bekas gosong di bagian ujung ekornya. Nafsu makanku hilang, aku tidak akan pernah memasak lagi. Kuputuskan untuk tidur saja tanpa menyentuh telur gorengku.

Kujatuhkan tubuhkan di ranjang dan mencoba menutup mata. Tubuhku terasa dingin. Seperti ada angin yang masuk melalui tengkukku, dingin sekali. Kepeluk erat bonekaku dan menarik selimut lebih rapat. Tiba-tiba terdengar petir yang saling menyambar. Hujan. Semuanya terasa berbeda. Hujan kali ini sangat berbeda dengan hujan sebelumnya, bukan karena dingin dari luar. Seperti rasa dingin yang keluar dari dalam.

Ciittt….kurasakan ranjangku berdecit. Jantungku terasa jatuh berguling. Seseorang tengah duduk di ranjangku dan aku membelakanginya. Aku tidak tahu siapa, kututup indera penglihatan dan pendengaranku. Apapun itu aku tidak mau tahu. Kurasakan sebuah tangan dingin menyentuh lenganku. Oh Tuhan!

Tangan itu menarik dengan kasar selimutku. Aku hanya bisa bergidik ngeri dan menutup mataku. Seseorang itu mengambil boneka serigala abu yang tengah kupeluk. Aku hanya bisa pasrah. Jika esok hari ada namaku di sampul majalah, mungkin akan tertulis “Lime, Seorang Penulis Tewas Setelah Diperkosa Kemudian Dibunuh”.

“Kau tidak apa-apa? Apa ekormu baik-baik saja?” Itu suara laki-laki, suara yang sangat berat. “Apa agassi ini tidak bisa merawatmu dengan baik?”

Dengan penuh keberanian, aku bangun dan membalik badanku. Benar. Seorang laki-laki tengah menatap lembut bonekaku. “Si..siapa kau? Apa maumu?!” Kataku terbata-bata.

“Seharusnya aku yang bertanya. Apa kau tidak bisa menjaga boneka ini huh?” Balas laki-laki itu. Aku tidak bisa melihat jelas wajahnya. Hanya kilatan petir yang membantuku menemukan wajah laki-laki itu. Baru kusadari bola matanya berwarna merah. “Hah aku malas berdebat. Aku merasa lelah setelah berlari cukup jauh untuk menemukan boneka ini. Tidurlah, aku juga akan tidur. Jaljayo!” Sambung laki-laki itu kemudian berbaring santai di ranjangku.

Aku hanya menelan ludah. Entah dia datang darimana lalu menakutiku, dan sekarang berbaring di ranjangku. Kugeser posisiku lebih jauh darinya, kemudian berbaring membelakanginya.
~~~

Aku terjaga. Sinar matahari menerobos masuk dari jendela kamarku. Aku baru sadar semalam aku tidur satu ranjang dengan seseorang yang entah siapa dan datang darimana. Kuraba pelan permukaan ranjangku, tidak ada sosok laki-laki itu. Kucium bau yang sangat enak dari arah dapur. Seperti bau daging panggang.

Aku terperanjat melihat laki-laki itu tengah memasak di dapurku. Ia hanya memanggang daging, sudah banyak daging matang di piring satunya. Merasakan kehadiranku laki-laki itu berbalik ke arahku. Ia tersenyum sangat manis. Tubuhnya tinggi, rambutnya hitam legam, sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih susu. Bola matanya merah, cukup mengerikan. Namun ia tampan menurutku.

“Kau punya banyak daging segar. Sebenarnya bisa saja aku memakannya langsung mentah-mentah, hanya saja jiwa manusiaku berada disini dan itu sangat kuat. Aku harus memasaknya.” Katanya. Bulu kudukku berdiri. Daging mentah? Kutelan ludahku beberapa kali sambil menatapnya seram. “Tunggulah, aku akan menyelesaikan ini.” Sambung laki-laki itu lalu melanjutkan kegiatan memasaknya.

Seperti tersihir mata merahnya, aku hanya menurut dan duduk di ruang makan. Tak lama ia datang sambil membawa 2 piring besar yang berisi daging saja. Kami duduk berhadapan namun ia sama sekali tidak melihatku, ia hanya fokus pada dagingnya. Ia makan sangat lahap, aku merasa kenyang hanya dengan melihatnya makan. Dan benar, aku belum sempat menyentuh ujung sumpit semua daging itu sudah habis dilahapnya. Dia benar-benar punya selera makan yang besar.

“Sebenarnya kau siapa?” Tanyaku heran.

Laki-laki itu hanya tersenyum sambil mengelus perutnya, memperlihatkan giginya yang rapi dan putih bersih. “Aku pemiliki jiwa manusia dalam boneka serigala itu. Kau tahu, kau hampir saja membunuhku karena kecerobohanmu. Syukur boneka itu tidak terbakar semuanya, hanya di ujung ekor.”

Aku terdiam mendengar penjelasan anehnya. Jiwa manusia? “Jadi…mahluk siapa kau sebenarnya?”

“Serigala, manusia setengah serigala.” Katanya memberi penekanan dengan menatap mataku tajam.

Aku tak bisa menahan tawa. Aku tertawa terbahak-bahak. Dari semua cerita fiksi yang aku buat, ini benar-benar gila. Bagaimana bisa, manusia setengah serigala? Dia benar-benar pendongeng yang hebat. “Hahahahaaa…apa-apan kau…jangan bercanda seperti itu! Aku serius! Kau masuk rumahku tanpa izin, menginap dan makan gratis, sekarang menceritakan dongeng??”

“Aku serius! Kau tidak percaya padaku, hah?!” Tangan laki-laki itu mencengkram lenganku kuat, matanya yang tajam menatapku dalam. “Baiklah, akan kubuktikan padamu. Saat bulan purnama nanti malam, akan kubuktikan kalau semuanya bukanlah dongeng!”
~~~

Hingga malam hari laki-laki itu belum mau pergi dari rumahku. Ia menghabiskan waktunya untuk berbaring di ranjangku dan bermain dengan boneka serigala abu itu. Kehadirannya membuatku risih, aku tidak bebas melakukan apapun. Untuk mengetik saja harus membopong laptopku ke ruang tamu, padahal sangat menyenangkan mengetik di dalam kamarku.

Waktu cepat merambat. Tak terasa sudah jam 9 malam. Seperti biasa, aku merasa penat dengan pekerjaanku ini. Kudengar suara langkah kaki yang sangat cepat menuju ke arahku, laki-laki itu sudah berdiri di hadapanku.

“Kemarilah, bulan akan segera muncul. Akan kubuktikan padamu!” Kata laki-laki itu, sedetik kemudian menarik kasar tanganku dan membawaku ke kamar. Gelap. Kamarku gelap.

Ia membuka jendela kamarku lebar-lebar, seketika juga angin kencang menampar wajahku. Ia menatap langit, memperhatikan gerakan awan yang semakin lama berpindah memberi jalan untuk bulan. Bulan sudah terlihat bulat sempurna. Cahayanya yang terang benderang memberikan bayangan siluet pada laki-laki itu. Perlahan ia membalikkan badannya, kami berhadapan dan hanya berjarak sekitar satu meter.

Tubuhnya kini telah sempurna bermandikan cahaya bulan. Leherku terasa tercekik, nafasku terhenti. Tubuhnya mulai ditumbuhi bulu-bulu halus berwarna abu. Bentuk matanya berubah, lebih tajam dan bola matanya merah menyala. Dua telinga baru muncul dari kepalanya, hidungnya yang mancung berubah sangat mengerikan. Dapat kudengar nafasnya memburu seiring dengan perubahan postur tubuhnya. Kuku-kukunya yang tajam mengkilat tajam seakan mau menerkam apapun yang ada di depannya. Ekor itu meliuk bebas mengepak di udara.

Aku ingin berlari, namun langkahku seperti dikunci. Tubuhku membeku, tidak sanggup bergerak satu incipun. Serigala. Serigalah yang ada di hadapanku, lebih mengerikan dari sosok serigala Jacob di film Twilight. Serigala itu melangkah ke arahku, dapat kuhembus deru nafasnya. Ia mengendus rambutku dan leherku, memberikan hawa dingin dengan nafasnya. Kemudian serigala itu menatapku tajam, seakan mengerti apa yang di pikirannya, aku hanya mengangguk lemas.

Serigala itu mengambil langkah mundur. Ia mendongak ke arah bulan lalu melolong, “Awuuuuuuuuuu!” Dalam sekejap tubuhnya berubah menjadi sosok manusia kembali, kemudian terjatuh lemas di lantai.
[Lime’s POV END]
~~~

[Chanyeol’s POV]

Kepalaku terasa berat. Untuk membuka mata saja terasa sangat susah. Aku mengendus perlahan, aroma tubuh itu tengah mendekatiku. Ah…ini aroma tubuh gadis semalam. Baunya semakin kuat, bisa kupastikan dia sudah berada di sampingku sebelum ranjangnya berdecit.

“Bangunlah, aku sudah memasak daging untukmu. Aku merasa senang karena semua daging di rumahku akan habis, daripada membusuk di kulkas.” Ia berbisik pelan di telingaku.

Kubuka mataku perlahan, dan menemukan wajah gadis itu tepat di depan wajahku. “Bola matamu benar-benar merah. Aku pernah melihat yang seperti ini di kartun anime.” Sambungnya. Refleks kudorong tubuhnya, tubuh gadis itu terpental ke tembok. Ia terjatuh kemudian meringis. Benar, aku belum bisa nengontrol kekuatanku.

“Kau tidak apa-apa?” Tanyaku khawatir sambil membantunya berdiri. Gadis itu hanya mengangguk dan menunduk, tak mau menatap mataku.

Aku membawanya duduk di ranjang, ia hanya menunduk sambil menggigit bibirnya. Aku tahu punggungnya pasti sakit. “Maafkan aku. Aku belum bisa mengontrol kekuatanku.”

“Tidak apa-apa. Aku hanya…tidak mengerti kenapa bisa begini. Maksudku…kenapa aku harus bertemu mahluk sepertimu. Apa kau sejenis siluman atau apa?” Gumamnya, ia semakin menundukkan kepalanya. Bukan hanya merasakan sakit, ia pasti sangat takut padaku. Untuk kali pertama aku menunjukkan wujudku langsung pada manusia.

“Sudah kukatakan sebelumnya, aku adalah manusia setengah serigala. Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku bisa menjadi setengah manusia, semua kawananku adalah serigala. Memang kami bisa berwujud seperti manusia, seperti wujudku, wujudmu, dan wujud manusia lainnya. Kami tinggal di sekitar manusia. Di sebuah tempat yang jauh namun disana masih ada manusia. Kami hidup damai dengan manusia.” Jelasku padanya. Gadis itu mengangkat wajahnya dan berani menatapku, lemah.

“Kawananku adalah serigala asli walaupun kami bisa berubah wujud menjadi manusia. Hanya aku berbau seperti manusia. Di dalam tubuhku terdapat dua jiwa, jiwa serigala dan jiwa manusia. Tidak seperti kawananku yang hanya memiliki satu jiwa, yaitu jiwa serigala.” Sambungku. Aku tidak mengerti kenapa sampai bisa menunjukkan wujud asliku pada gadis ini dan menceritakan semua tentangku. Sebenarnya sangat dilarang untukku untuk melakukan hal-hal ini pada manusia.

Aku meraih pelan boneka serigala miliknya, yang sebenarnya adalah milikku. “Karena aku memiliki dua jiwa, aku terkucilkan dari kawananku. Aku tidak berdarah serigala murni. Aku tidak sekuat serigala lainnya. Entah bagaimana bisa terjadi, dan aku sangat benci. Untuk itulah aku mengunci jiwa manusiaku ke dalam boneka ini. Menitipkan setengah jiwaku rasanya menyakitkan. Meskipun aku diterima kembali dalam kawananku, aku merasa lemah.”

Gadis itu hanya diam menatapku. Tatapannya masih ingin terus bertanya. Entah kenapa tatapan itu sangat tulus bagiku, aku ingin mempercayakan separuh jiwaku padanya. “Maaf karena aku membuatmu khawatir. Kau boleh mengambil boneka ini, ini adalah milikmu.” Katanya.

“Tidak! Jika aku mengambil jiwaku kembali, aku tidak akan pernah diterima kembali dalam kawananku. Aku percayakan separuh jiwaku padamu, tolong.” Aku menggenggam erat tangannya. Merasa terlalu kuat kulepas ringan kembali, tangannya bisa remuk.

“Aku…kenapa harus aku?” Katanya lemas. Tatapan matanya melemah, nafasnya sangat bisa kurasakan menderu. Ia ketakutan.

“Aku juga tidak mengerti. Hanya saja aku percaya padamu.” Kataku meyakinkan.

“Apa kau akan mengambilnya suatu hari nanti?”

“Aku tidak tahu. Aku hanya ingin jiwa manusiaku tetap aman bersamamu.” Pintaku.
[Chanyeol’s POV END]
~~~

[Lime’s POV]
Aku merasa sudah gila! Bagaimana bisa aku mengurus jiwa seseorang? Mengurus diriku sendiri saja aku sangat tidak tahan. Terlebih ini jiwa manusia seorang manusia serigala.

“Aku tidak tahu. Aku hanya ingin jiwa manusiaku tetap aman bersamamu.” Pintanya.

Jujur. Aku sangat takut padanya. Mengingat wujud serigala besar, tinggi, dan mengerikan semalam, membuatku bergidik. Aku hanya mampu menatap lemah bola matanya yang merah. Perlahan aku hanya bisa mengangguk. Toh aku hanya akan menjaga sebuah boneka biasa. Jika kusimpan di dalam lemari tidak akan terjadi hal apa-apa, bukan?

“Kau benar-benar bersedia?” Tanyanya. Kini ia mengukir senyum yang lebar, senyuman yang manis sekali.

“Ya. Tapi, tidak akan terjadi apapun padaku, bukan?” Gumamku.

“Tidak! Akan kupastikan kau dan separuh jiwaku baik-baik saja!” Serunya. Aku tersenyum lega. Meskipun masih merasa takut, aku yakin tidak akan terjadi apa-apa. “Aku belum tahu namamu.”

Ah benar. Sudah 2 malam kami bersama tapi tidak mengenal satu sama lain. “Aku Kim Hyelim, kau bisa memanggilku Lime. La – Im.” Ucapku.

“Chanyeol, namaku Park Chanyeol. Aku sangat senang memiliki nama seperti manusia. Yaah sebenarnya semua kawananku memiliki nama seperti manusia, entahlah aku sangat suka nama ini.” Katanya kemudian tertawa lepas.

“Baiklah, Chanyeol ssi. Aku akan menjaga jiwa manusiamu, asal kau berjanji tidak akan terjadi apa-apa padaku.”

“Itu hal yang sangat gampang untuk melindungi manusia lemah sepertimu, hahahaa…”

“Lemah? Yaaahh aku bukan gadis lemah!” Semprotku padanya. Chanyeol. Ya, namanya Chanyeol.

“Lalu mengapa kau terlihat sangat ketakutan semalam, hahhaa..”

“Siapa yang tidak takut melihat sosok serigala besar di dalam rumahku!”

“Tenang saja aku tidak akan berubah wujud di depanmu lagi. Sebenarnya aku sangat tidak bisa mengontrol diri saat berubah menjadi serigala, hanya saja aku sangat hebat semalam. Aku sudah mencium baumu, aku sudah sangat hapal aroma tubuhmu. Aku akan cepat mengetahui dimana kau berada, Lime.”

Aku merasa aman. Aku merasa tidak akan terlalu merepotkan menjaga sebuah boneka, walaupun di dalamnya terdapat  jiwa seseorang. “Percayakan padaku.”

Hari itu juga, Chanyeol pergi dari rumahku. Entah kemana, mungkin kembal dengan kawanannya. Aku hanya mengantarnya sampai di depan pintu, kemudian ia melesat hilang dari pandanganku. Benar-benar cepat.
[Lime’s POV END]
~~~

[Author’s POV]

Chanyeol berlari cepat, melesat di pagi hari buta. Kota Seoul masih lenggang, belum banyak kendaraan berkutat di jalan raya. Dengan leluasa ia berkelit, menyalip, dan berlari pulang.

Di sebuah daerah terpencil di pinggiran, ia berhenti. Bau tempat yang sangat dikenalnya sudah merebak. Chanyeol menyeka keringatnya, kemudian berjalan pelan memasuki daerah tempat kawanannya tinggal. Tempat itu terletak di pinggiran kota, tempat yang masih cukup alami dengan puluhan pohon besar dan tinggi berdiri kokoh. Aliran air sungai terdengar merdu diselingi semilir angin, aliran air sungai yang menuju hulu dan muara, kemudian berhenti di lautan. Itulah tempat tinggalnya. Sebuah tempat di tengah hutan sederhana di daerah pinggiran. Tidak banyak manusia yang tahu ada tempat seindah itu di Korea Selatan.

“Heyyo! Kau kemana saja?” Seseorang menerkam Chanyeol hingga tubuh laki-laki itu terhempas ke rerumputan. Kedua laki-laki itu saling bergulat kemudian tertawa lepas.

“Ada hal yang harus dikerjakan, bagaimana disini? Tidak terjadi apa-apa, kan?” Tanya Chanyeol balik. Kedua laki-laki itu kini hanya duduk berhadapan.

“Semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi.” Jawab temannya.

Chanyeol kembali mendorong sahabatnya itu dan bergulat di atas rumput. “Baekhyun ah! Aku akan menggigitmu, aumh!!!”

“Mereka bertingkah seperti anjing bodoh, cih!”

Chanyeol dan Baekhyun menghentikan kegiatan mereka, menemukan sosok Kris dan Tao, dua orang dari kawanan mereka, tengah tersenyum kecut.

“Kami hanya bermain-main saja.” Semprot Baekhyun sambil membersihkan bagian celananya yang kotor.

“Kemana saja kau selama dua hari ini, bermain dengan manusia? Seperti jiwamu yang kotor itu?” Cemooh Kris disambut cekikan Tao. “Aku tidak tahu bagaimana bisa kau melepas jiwa manusiamu, hanya saja kau tetap menjengkelkan bagiku. Kau setengah serigala, setengah manusia. Meskipun jiwa manusiamu entah kemana, kau tetaplah setengah serigala. Tidak seperti kami disini, berdarah murni.”

Chanyeol menggenggam erat tangannya yang siap meninju. Dengan cepat Baekhyun menarik lengan Chanyeol dan menenangkannya.

Semilir angin berhembus di antara mereka. Kris mencium aroma yang berbeda, aroma yang terbawa angin dari tubuh Chanyeol. Ini bukan bau biasa, pikirnya.

“Sudahlah, ayo kita pergi!” Seru Baekhyun, menarik tangan Chanyeol yang masih beradu tatapan dengan Kris.

“Aku mencium bau yang aneh. Sudah jelas itu bau manusia, hanya saja bukan manusia dari pedesaan ini.” Gumam Kris.
~~~

Lime menyeruput kopinya yang masih panas sambil terus memeluk boneka serigalanya. Jam 11 malam ia masih belum tidur. Tiba-tiba saja bosnya mengirimkan E-Mail files bertumpuk yang harus ia edit malam ini juga. Benar-benar melelahkan, sudah berapa gelas kopi yang diteguknya.

Knok…knok…
Pintunya diketuk seseorang. Dengan malas ia menuju pintu dan membukakan pintu untuk si Tamu jam 11 malam.

“Selamat malam.” Ucap laki-laki itu.

Lime yang masih membawa cangkir kopinya dengan boneka serigala di lengannya hanya mengangguk, “Anda siapa? Ada apa malam-malam bertamu begini?”

“Sudah jangan basa-basi, berikan aku jiwa manusia Chanyeol itu!”

“A..apa maksudmu? Aku tidak mengerti!” Lime mencoba menutup pintu, namun laki-laki itu membantingnya dengan keras hingga terlepas. “Hey Tuan! Kau merusak pintu rumahku!”

Laki-laki itu mengendus puncak kepala Lime. “Benar, kaulah pemilik bau itu. Apakah Chanyeol menemui? Kau sudah kenal dengan manusia setengah serigala itu, bukan?”

“Ahjussi! Apa maksudmu? Aku tidak mengerti sama sekali !” Gertak Lime. Tangan laki-laki itu mencengkram erat pergelangan tangan Lime hingga gadis itu mengerang sakit.

Laki-laki itu kembali menciumi bau tubuh Lime. Lime mengerang semakin keras, cengkraman tangan laki-laki itu kuat. “Ah, boneka ini? Ada bau busuk tubuh Chanyeol disini. Jadi dalam boneka terdapat jiwa manusia Chanyeol, begitu, Agassi?”

“Lepas…..sakit…” Lime berusaha kuat melepas cengkraman laki-laki itu, hingga kopi yang dibawanya tumpah ke boneka serigalanya.
[Author’s POV END]
~~~

[Chanyeol’s POV]

“Argghh!” Aku tersentak dari kursiku. Tubuhku terasa panas. Sehun dan Luhan segera menghampiriku, keduanya dengan sigap memeriksa setiap inci tubuhku.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Luhan dengan wajah khawatir.

“Aku tidak tahu, hanya saja tiba-tiba terasa panas.” Jawabku.

“Jiwamu…apa itu tidak apa-apa?” Seru Sehun.

Ah! Aku ingat, terakhir kali boneka serigala itu terbakar ujung ekornya membuatku meringis sakit. Aku yakin sekarang jiwaku dalam bahaya. Apa yang dilakukan gadis itu? Belum 24 jam aku meninggalkannya ia sudah membuat masalah dengan jiwaku. Apa dia tidak takut berurusan dengan manusia serigala sepertiku? Eng…maksudku manusia setengah serigala.

Aku bangun dan segera berlari. Kudengar jelas suara panggilan D.O dan Kai yang memintaku kembali, “YAAAAAA!!! Kami baru saja berburu domba!!!”

Aku melesat cepat ke tempat gadis bodoh itu. Separuh jiwaku dalam bahaya. Benar. Aku tidak bisa bertahan hidup tanpa jiwa manusiaku, akupun tak bisa hidup tanpa jiwa serigala. Aku membutuhkan keduanya. Hanya saja untuk saat ini aku harus melepas jiwa manusiaku, meskipun itu membuatku melemah. Dan sekarang jiwa itu dalam bahaya.

Langkahku terhenti di depan rumah gadis itu. Pintunya rusak.

“AARRRRRRGGGHHHH!!!” Itu suara teriakan Lime, dari arah kamarnya. Aku segera berlari kesana.

Kutemukan sosok gadis itu tergeletak lemas di lantai. Darah. Ada darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Ia mengerang sakit. Sedangkan tangannya memeluk erat boneka serigala itu, memeluk jiwaku.

“Limee!!!” Kurengkuh tubuhnya dalam pelukku. Ia malah semakin mengerang. Sial. Apakah sebuah pelukan bisa meremukkan tulangnya?

“Ah! Kau disini!” Suara itu. Suara yang kukenal, pemilik suara yang sangat kubenci.

“Apa yang kau lakukan disini? Mengapa kau lakukan ini pada Lime?!” Bentakku keras.

Kris. Pandangannya tajam seperti pedang yang siap menyayat apapun yang ada di depannya. “Jiwa manusiamu yang kotor itu. Hanya akan mengganggu kawanan kita. Hah….jika jiwa kotormu mati, bukankah kau juga akan mati? Menghilang seperti gelembung udara? Puffff…”

“Bangsat kau!!” kulepas Lime, menyerang laki-laki itu.

Kudorong tubuhnya ke tembok. Dengan kemampuannya yang lebih hebat dariku, Kris cepat membalikkan keadaan. Ia menghentakkanku ke lantai, meninju wajahku puluhan kali. Aku berusaha kuat melawannya, tapi tidak bisa. Manusia setengah serigala melawan serigala berdarah murni?

“Chanyeol ah….Chan….” Lirih kudengar suara Lime meskipun Kris dengan asyik mengoyak tubuhku. Gadis itu bergerak dengan posisi telentangnya, berusaha meraih tanganku yang lemas. Berhasil. Lime berhasil menggenggam tanganku.

Seperti mendapat kekuatan, aku mendorong keras tubuh Kris hingga ia tubuhnya terhempas ke ranjang. Sesaat ketika bogem mentahku mendarat di wajahnya, aku mencium bau teman-temanku. Dua diantara mereka menarik tubuhku dari Kris.

“Jangan, jangan lakukan ini. Berhenti.” Aku meneteskan air mata merasakan dua sosok yang memelukku. Dua laki-laki yang sudah seperti ayah dan ibu bagiku, Suho dan Lay.

“Hah! padahal sangat seru. Aku ingin merasakan tinju manusia setengah serigala itu!” Sahut Kris seraya berdiri.

“Kris! Bagaimana pun juga dia bagian dari kawanan kita!” Seru Lay.

“Kawanan kita? Sejak dulu aku tidak pernah setuju manusia setengah serigala itu berada dalam kawanan kita! Dan sekarang lihat! Seorang manusia mengetahui keberadaan kita, semua karena Chanyeol yang berbau busuk itu!!” Balas Kris tak mau kalah.

Ah! Manusia yang dimaksud adalah Lime. Aku melirik gadis itu, ia masih tergeletak lemas. Ia pasti sangat takut dan syok.

“Biar kubantu!” D.O memapah tubuh Lime ke ranjang. Diantara kami semua meskipun aku yang terlemah, tapi D.O lah yang memiliki sifat paling lembut. Aku yakin tulang Lime tidak akan remuk karena digendong D.O.

“Waw! Sepertinya kawananku sendiri sudah seperti ini. Membela si manusia setengah serigala yang berbau busuk ini!” Geram Kris lalu membanting vas bunga di meja kamar Lime.

“HENTIKAN!!!!” Suara itu menggelegar ke seluruh sudut ruangan. Itu suara pemimpin kami, Park Jungsoo, diiringi Tao, Chen, Xiumin, Kai, Luhan, Baekhyun, dan Luhan di belakangnya.

“Syukur hanya kita berdua yang memiliki kemampuan mengendus paling tajam.” Celetuk Xiumin lalu ber high5 dengan Chen. “Kita bisa menemukan tempat ini.”

“Haruskah kalian bertarung karena hal ini?” Kata Jungsoo. “Kris, tidak bisakah kau membuang rasa bencimu pada Chanyeol? Ia sendiri sudah rela melepas separuh jiwanya agar bisa diterima di kawanan kita, kau tahu hal itu membuatnya lemah.” Sambung Jungsoo. Aku tak terlalu memperhatikan wajah Jungsoo, pandanganku hanya tertuju pada Lime yang masih lemas ditemani D.O di sampingnya.

“Kau tahu, darah kotor itu sudah mengungkap identitas kita pada manusia ini. Apakah masih bisa untuk dibela? Lebih baik kita bunuh darah kotor itu dan teman manusianya!” Seru Kris.

“Apa harus? Aku yakin Chanyeol memiliki alasan untuk semua ini. Dan aku yakin manusia ini dapat menjaga rahasia, kecuali ia ingin mati dicabik-cabik oleh 12 serigala lalu dibakar kemudian menjadi abu, benar kan, Agassi?” Kata Jungsoo sambil melirik Lime.

Aku yakin gadis itu sangat ketakutan. Aku ingin menenangkannya, namun tangan Suho menahanku. Aku hanya bisa menurut, aku tahu Suho tahu yang terbaik untuk saat ini.

“Park Jungsoo, pemimpin kami yang terhormat. Apa karena Chanyeol itu adalah anakmu sehingga kau terus membelanya?” Gumam Kris. Dengan cepat ia melesat keluar dari jendela. Hilang.

“Sudah selesai. Semua kembali pulang.” Kata Jungsoo. Teman-temanku hanya bisa mengikuti perintahnya, terasa ringan pelukan Suho dan Lay. D.O segera mengekor di belakang mereka. “Dan kau, Park Chanyeol, selesaikan masalah ini sebelum teman manusiamu menjadi korbannya.” Sambung Jungsoo.

Tak butuh waktu lama suara 11 pasang kaki itu menghilang dari rumah Lime. Aku menghampiri gadis itu dan berbaring di sampingnya. Ia terluka parah. Tangannya masih memeluk erat boneka serigala itu, memeluk jiwaku.

“Bodoh, kenapa kau mempertaruhkan nyawamu untuk melindungi boneka ini hah?!” Bentakku padanya.

Gadis itu hanya diam. Pelukannya makin erat pada boneka itu. “Aku sudah berjanji untuk menjaga separuh jiwamu.”

“Jika saja aku bisa memelukmu tanpa harus melukaimu…” Gumamku pelan.

Lime bergerak pelan dan memelukku. “Kalau begitu, biarkan aku yang memelukmu.” Bisiknya. “Tubuhmu hangat, lebih hangat dari tebalnya selimut musim dinginku.” Lanjutnya mempererat pelukan.

Aku hanya bisa mengelus punggungnya. Ingin rasanya kubalas pelukan gadis yang telah berani menggantung nyawanya sendiri untuk melindungi jiwaku. “Tidurlah, kau pasti sangat takut.”

“Tidak.” Ia melepas pelan pelukannya, menatap mataku lembut. “Aku ingin mendengar dongeng sebelum tidur.”

“Kau ingin aku mendongeng? Bukankah beberapa hari yang lalu kau tidak suka dengan dongengku?”

“Aku ingin tahu semuanya. Tenang saja, aku akan menutup mulut. Aku juga tidak berani mati tercabik oleh kawananmu. Tapi aku juga tidak mau mati penasaran.”

“Tidurlah, aku akan menceritakannya besok.” Kataku lalu mengacak rambutnya.

Lime memajukan bibirnya, lucu sekali. “Baiklah, selamat malam!” Katanya lalu berbalik membelakangiku. Ia masih memeluk erat boneka itu. Aku tidak salah memilih orang untuk menjaga jiwaku, jiwaku lebih aman bersamanya daripada harus digantung di etalase toko. Boneka itu memang tua, bahkan jelek. Tidak ada satupun pelanggan toko itu yang mau membeli bahkan menyentuhnya. Itu sebabnya aku menjadikannya media tempat penyimpan jiwaku. Entah kenapa gadis bodoh ini membeli boneka usang itu. Namun satu hal yang kusesali, mengapa ia harus terjebak dalam masalahku.
~~~

Aku terbangun karena sinar matahari menyilaukan mataku. Lime masih tertidur pulas, masih dalam posisinya. Semoga pinggangnya tidak sakit.

“Kau sudah bangun?” Tanyaku pelan sambil menyentuh lengannya. Mungkin ia terganggu, ia terjaga dan menggosok matanya. Lucu sekali.

“Oh kau bangun lebih dulu.” Katanya lalu menguap kecil.

“Kau masih punya daging kan? Hummm aku bisa mencium baunya dari sini. Aku akan masak untuk kita.”

“Tunggu!” Lime menarik lenganku. “Ceritakan aku dongeng dulu.”

“Kau harus makan dulu. Kau masih lemah karena semalam, Kris pasti menghajar dan membantingmu dengan keras.”

“Aku tidak mau.” Katanya manja. Ia terlihat lucu dengan wajah bangun tidurnya, membuatku tidak tega untuk menolak untuk kedua kalinya.

“Kalau begitu, buka telingamu lebar-lebar dan siapkan dirimu!”

“Hahahaa…baiklah.”

Aku memposisikan tubuhku bersandar di tembok, Lime duduk manis sambil menungguku mulai mendongeng untuknya. “Ratusan tahun yang lalu, suku kami, tepatnya serigala, memiliki banyak kawanan. Bukan hanya laki-laki tapi juga perempuan. Sayangnya, serigala perempuan akan mati jika melahirkan bayi serigala. Sedikit demi sedikit kaum perempuan berkurang dan habis. Hanya tersisa serigala laki-laki, semuanya laki-laki. Pada saat itu juga, suku kami mempunyai musuh yang sangat kuat.”

“Vampir? Seperti film itu? Wah hal-hal seperti memang benar ada ya?” Celoteh Lime memotong ceritaku.

“Bisa dibilang seperti itu. Suku kami harus bertarung untuk melawan kumpulan monster penghisap darah itu. Dan kau tahu? Kami semua bisa membunuh semua vampir, tidak ada yang tersisa. Namun tentu saja dari pihak kami banyak yang menjadi korban. Yang tersisa hanyalah 12 orang. Mereka adalah orang-orang yang kau temui semalam, termasuk Kris dan pemimpin kami, Park Jungsoo.” Jelasku.

Lime menghitung jari-jarinya. Sudah bisa kutebak pertanyaan yang akan dilontarkannya, “Jika mereka 12 orang, ditambah denganmu, bukannya yang tersisa adalah 13 orang?”

“Kau benar. Yang tersisa memang 12 orang, yaitu mereka. Aku adalah serigala baru. Usiaku tak setua mereka, tak berumur ratusan tahun. Hmmm…kira-kira usiaku 21 tahun.”

“Heh? Kenapa bisa begitu? Kau datang dari lubang mana? Bukannya semua serigala perempuan sudah mati?” Tanya Lime sambil menatapku lekat.

“Itulah sebabnya aku menjadi manusia setengah serigala, tidak berdarah murni seperti 12 orang lainnya. Pemimpin kami, Park Jungsoo, adalah ayahku. Ya, dia mengawini seorang manusia. Tidak ada yang tahu tentang semua itu. Menurut cerita ayahku, sesaat setelah ibuku melahirkan, aku tidak seperti bayi manusia. Melainkan bayi serigala. Ibuku sendiri sudah tahu kalau ayahku adalah serigala, namun ia tetap mencintainya. Kemudian ayah membawaku ke kawananku, meninggalkan ibuku yang mati. Sama seperti wanita lainnya, meskipun ibuku adalah manusia, ia mati karena melahirkan manusia serigala. Setelah tahu semuanya, kawananku merasa sangat dikhianati, sempat terjadi pertempuran diantara mereka. 11 melawan 1 orang, bukankah sudah jelas siapa pemenangnya?” Sambungku lalu menghela nafas panjang. “Ayahku tidak ingin terus berseteru, ia membuang hati dan perasaannya. Semua perasaan cintanya. Ia mengerahkan seluruh kekuataannya itu untuk membuang perasaan cintanya. Ia tidak bisa merasakan cinta kasih lagi.”

Lime mengerutkan dahinya. Mungkin baginya dongeng ini terlalu fiksi. “Lalu, kenapa kau berbohong padaku? Kau bilang kau tidak tahu bagaimana bisa menjadi manusia setengah serigala. Dasar penipu.”

“Aku belum sepenuhnya percaya padamu waktu itu. Tapi sekarang aku sangat percaya bahwa kau bisa diandalkan untuk menjaga separuh jiwaku.”

“Ah, aku tidak mau lagi mempertaruhkan nyawaku lagi. Kau harus menjagaku, tetaplah tinggal disini.” Pintanya. Kuanggukkan kepalaku pasti, ia tersenyum lebar. “Hmmm…ada satu yang ingin aku tahu, apa kau tahu siapa ibumu?”

“Tidak.” Jawabku sambil menggeleng. “Aku tidak tahu. Melihat fotonya saja tidak pernah. Bagaimana aku bisa mengenalinya.”

“Kau ingin aku membantumu mencarinya? Ayo kita cari bersama!”

“Bodoh! Bagaimana caranya? Apa kau akan bertanya pada seluruh wanita di penjuru negeri ini apakah mereka pernah menikahi serigala? Lagipula ibuku sudah mati.”

“Ah kau benar. Maaf. ” Kata Lime.

“Itu bukan masalah. Aku juga tidak ingin tahu siapa wanita itu.” Gumamku. “Lime, apa kau tidak takut padaku?”

“Awalnya memang begitu. Aku sangat takut padamu. Hanya saja sekarang aku tidak takut sama sekali. Kau serigala berhati manusia.”

“Tentu saja! Aku punya hati manusia hahahaa walaupun disimpan disini.” Ucapku sambil meraih boneka serigala abunya. “Aku belum pernah menyimpan jiwa serigalaku sebelumnya. Aku ingin merasakan rasanya memiliki jiwa manusia, walaupun hanya separuh.”

“Kalau begitu lakukan saja!” Serunya sambil bertepuk tangan.

“Baiklah, apa salahnya mencoba.”

“Tapi bagaimana caramu menukar jiwamu?” Tanya Lime penasaran, matanya bulat membesar.

Kudekatkan wajahku pada boneka itu. Perlahan kuletakkan ujung bibir boneka serigala itu pada bibirku. Aku menutup mata dan berkonsentrasi. Seketika juga tubuhku terasa panas. Energi dalam tubuhku mengalir keluar, bertukar dengan energi dari dalam boneka. Aku tahu pasti ada seberkas cahaya diantara ujung bibir boneka itu dan bibirku, dan Lime melihatnya.

Perlahan tubuhku terasa lebih ringan. Bisa kupastikan jiwa manusia dan jiwa serigalaku bisa tertukar dengan sempurna. Kuletakkan kembali boneka itu ke meja.

“Waahh aku belum pernah melihat hal seperti itu. Kau benar-benar keren!” Kata Lime sambil mengacungkan jempolnya.

“Aku sudah menjadi manusia, walaupun setengah.” Kataku bangga. Terasa lebih menyenangkan memang, tubuhku ringan. Tidak ada kekuatan yang harus kukontrol. Ini kali pertama aku menggunakan jiwa manusiaku, hanya satu jiwa.

“Nah kalau sudah begini aku tidak takut sama sekali. Eng…mau keluar?”
[Chanyeol’s POV END]
~~~

[Lime’s POV]

“Kau akan membawaku kemana? Dagingku belum habis!!” rengek Chanyeol lalu menggigit sepotong daging dari sumpitnya.

“Ayo kita jalan-jalan! Aku sangat bosan di rumah. Kita rayakan jiwa manusiamu, hahahahaa..!” Seruku sambil menarik tangannya. Hebat. Tangannya terasa ringan.

“Oke oke, tapi biarkan aku melakukan ini!” Chanyeol menggenggam tanganku lembut. “Tidak sakit kan?”

“Emhh ya! Tanganku tidak terasa sakit sama sekali!”

Ia menggenggam tanganku semakin erat, “Bagaimana?”

“Enghh…tidak! jari-jarimu tidak akan meremukkan tanganku lagi!”

“Kalau begitu ayo kita pergi. Ada satu tempat yang ingin aku kunjungi.” Kata Chanyeol. Kini kami berdua sudah melangkah keluar rumah.

“Tempat apa itu? Untuk merayakan hari manusiamu apapun akan kulakukan!” Sahutku.

“Kebun binatang!”

“Hah? darimana kau tahu ada hal seperti itu?” Tanyaku heran. Dan kenapa harus kebun binatang.

“Aku penasaran saja. Hahahaa…”

“Baiklah kita akan pergi kesana. Asal kau berjanji tidak akan memangsa hewan jenis apapun disana!” Ancamku padanya.

“Sekarang yang ada di dalam tubuhku adalah jiwa manusia, tidak usah khawatir!”
[Lime’s POV END]
~~~

[Chanyeol’s POV]

Seharian kuhabiskan waktuku bersama Lime di kebun binatang. Biasanya aku akan sangat bernafsu jika melihat banyak binatang sebanyak itu. Namun karena jiwa manusia yang kini ada dalam diriku, semuanya baik-baik saja. Sungguh hari yang sangat menyenangkan. Ternyata menjadi manusia lebih membuatku nyaman.

“Aku lapar.” Keluh Lime. “Aku ingin kue ikan disana.” Sambungnya. Sebenarnya aku juga lapar, dari pagi sampai malam kami hanya bermain-main.

“Apa itu kue ikan? Aku tidak bisa makan makanan manusia.” Tolakku. “Meskipun aku memiliki jiwa manusia, selera makanku masih menyukai daging.”

“Aku akan membelikanmu daging. Kali ini kita tidak perlu memasaknya, akan kubeli yang sudah matang. Satu bungkus besar dan penuh! Tapi kau harus mengantri untuk membeli kue ikan itu, aku malas berdiri disitu.” Rengeknya sambil menunjuk sebuah kedai kecil. Memang antriannya cukup panjang.

“Lalu kau akan kemana?”

“Ke restoran itu. Aku akan membeli sup daging sapi kelas 1, daging terlezat dari sapi pegunungan. Hahahaa… ini uangnya.” Lime menyerahkan uang padaku, kemudian melesat menuju restoran yang dimaksud. “oh! Ahjumma penjual kue ikan itu mengenalku, bilang saja kau membelinya untuk Lime. Kalau tidak Ahjumma itu tidak akan menabur rata kacang merahnya.” Teriaknya.

Aku segera menghampiri kedai yang dimaksud Lime. Syukurlah antriannya cukup berkurang. Kurang dari 3 menit aku sudah berdiri di depan ahjumma si penjual kue ikan itu.

“Berapa banyak yang akan kau beli?” Tanya Ahjumma.

Ah aku lupa menanyakannya. “Seberapa banyak yang Lime sering beli? Aku membeli kue ikan ini untuknya. Aku tidak tahu seberapa banyak yang biasa ia beli.” Kataku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

“Biasanya Lime hanya membeli sebungkus.” Balas ahjumma kemudian membuatkan pesananku. “Kau dekat dengan gadis itu?”

“Ah? Kami hanya teman biasa.” Baru kali ini aku mendapat pertanyaan seperti itu.

“Sepertinya kalian cukup dekat. Aku sangat mengenal gadis itu. Satu tahun belakangan ini, bisa dibilang hampir setiap malam ia keluar untuk membeli kue ikan.”

“Heh? Apa dia tidak merasa bosan?” Tanyaku heran.

Ahjumma itu masih sibuk, namun terus berbicara padaku. “Katanya hal ini yang menyembuhkan rasa rindunya kepada orangtuanya. Dulu, sebelum orangtuanya bercerai, mereka bertiga sering membeli kue ikan di tempatku ini. Kata gadis itu, jika ia sering kesini, itu mengobati rasa rindunya.”

Aku hanya diam mendengar cerita ahjumma. Pantas saja selama ini dia tinggal sendiri. Tidak seperti orang-orang yang berada di dekat tempat tinggalku yang memiliki keluarga untuk tinggal bersama.

“Kau jalan-jalan kemana bersama Lime?” tanya Ahjumma itu lagi.

“Kami hanya bermain-main di kebun binatang. Aku sangat ingin pergi kesana.” Jawabku.

“Kebun binatang? Kau tahu…kebun binatang adalah tempat yang sangat dibenci Lime. Katanya, itu adalah tempat wisata terakhirnya bersama kedua orangtuanya. Itu berarti kau orang yang spesial bagi Lime, dia membuang rasa benci dan takutnya pada kebun binatang untukmu.”

Aku tertegun. Aku tahu pasti sangat menyakitkan bagi Lime untuk menemaniku ke kebun binatang. Apakah aku orang yang spesial? Seperti apa perasaan spesial itu? Aku tidak pernah merasakannya. Ku sentuh dadaku, jantungku berdetak cepat. Seperti inikah rasanya perasaan spesial itu?

“Got chaa!!” Seseorang menepuk pundakku. Gadis itu tersenyum meledek karena melihatku kaget. “Sudah? Kue ikannya sudah?”

“Sudah, ini untukmu.” Kata Ahjumma itu. “Ambilah, kali ini gratis.”

“Benarkah ahjumma? Wah…ahjumma, kau tidak tahu betapa aku mencintaimu?” Celoteh Lime. Ahjumma itu hanya tersenyum melihat tingkahnya. “Kalau begitu aku kita pulang. Semasih sup dagingmu masih panas, humm pasti akan sangat lezat. Annyeong ahjumma!” Seru Lime sambil menarik tanganku. Aku melemparkan senyuman pada ahjumma itu.
[Chanyeol’s POV END]
~~~

[Lime’s POV]

“Tunggu!” Chanyeol menghentikan langkahnya. Ia menatapku. Bola matanya sudah tidak berwarna merah, kini berwarna hitam.

“Apa? Cepatlah aku ingin makan!” Seruku tak sabar.

Tiba-tiba ia memposisikan tanganku di lengannya. Sekarang aku menggandeng lengannya. “Sakit?”

Aku berpikir sejenak. Dasar bodoh, tentu saja tidak sakit. “Tidak.”

Chanyeol memeluk bahuku, sudah tidak ada jarak di antara kami. “Bagaimana sekarang?”

“Sejauh ini…biasa saja.” Jawabku.

Dan sekarang Chanyeol malah memelukku erat. Kulirik beberapa pejalan kaki yang senyam-senyum melihat kami berpelukan. “Kalau yang ini?”

Aku mendorong tubuhnya pelan. Memang tidak terasa sakit, nyaman. Hanya saja aku tidak suka pandangan orang-orang yang melihat kami. “Yah sedikit, lebih baik jangan terlalu begitu.”

“Yah…kalau begitu begini saja.” Ia meraih tanganku dan menggenggamnya. Kami kembali berjalan pulang di malam yang dingin ini. “Apa kau mendorongku, karena aku orang yang spesial?”

“Heh? Spesial apa?” Tanyaku heran.

“Ah tidak ada, mungkin memang sakit.”

Spesial? Aku belun pernah merasakan jatuh cinta, mencintai diriku sendiri saja sudah menyebalkan bagiku. Bagaimana bisa mencintai orang lain. Tapi Chanyeol, sedikit berbeda. Bukan karena ia manusia setengah serigala, hal itu tidak membuatnya spesial sama sekali, malah mengerikan. Hanya saja ia mampu membuat dirinya menjadi spesial di mataku.

“Chanyeol!” Sebuah suara menghentikan langkah kami. Bersamaan kami menoleh ke belakang. Itu mereka. Dua orang teman Chanyeol tengah berdiri tepat di belakang kami.

“Baekhyun? Sehun?” Gumam Chanyeol.

Seseorang bertubuh kurus dan tinggi itu mendekati kami. Chanyeol menggenggam tanganku semakin erat.

“Ada yang harus kami bicarakan. Ikutlah pulang malam ini.” Ucapnya.

“Sehun, aku tidak bisa. Jiwa manusiaku sedang bersamaku. Ada di dalam diriku.” Balas Chanyeol.

“Itulah masalahnya. Segera ambil jiwa serigalamu, gunakanlah keduanya untuk kali ini saja. Jungsoo sudah menunggumu disana.” Sahut satunya, aku yakin namanya Baekhyun.

“Kalau begitu, biarkan aku mengantarnya pulang. Sebentar saja.” Kata Chanyeol. Ia menarikku pulang ke rumah. Tepat di depan pintu rumahku –yang sudah diperbaikinya pagi ini-  ia berhenti.

“Apa ada masalah?” Tanyaku padanya.

“Entahlah. Aku akan pergi dan segera kembali.” Jawabnya. “Sebelumnya aku harus mengambil jiwa serigalaku.”

Aku segera mengambilkan boneka itu untuknya. Dan ia melakukan hal yang sama lagi, menyentuhkan bibirnya pada bibir boneka itu. Kali ini dua jiwa itu menyatu dalam tubuhnya.

“Aku akan kembali, secepatnya.” Kata Chanyeol. Ia segera berlalu dari hadapanku.

“Chanyeol! Kau akan kembali?” Teriakku.

“Tentu saja!!!” Balasnya.

“Cepatlah kembali ke rumah kita!!!!” Teriakku makin kencang. Namun ia sudah melesat hilang bersama dua temannya.

Rumah kita? Aku baru saja menyebutkan rumah kita?
[Lime’s POV END]
~~~

[Chanyeol’s POV]

Hah…aku kembali ke tempat ini. Rasanya aku ingin segera kembali ke tempat Lime. Sesampainya disana beberapa pasang mata itu menatapku tajam, tak terkecuali ayahku, maksudnya pemimpin kami, Park Jungsoo. Mungkin mereka mencium bau manusiaku lagi, setelah lama tidak menciumnya.

Jungsoo berjalan ke arahku. Aku berdiri mematung di depannya. “Berani sekali kau melepaskan jiwa serigalamu dan menukarnya dengan jiwa manusiamu! Itu sebuah penghinaan bagi kawanan kita!”

“Aku hanya melepasnya untuk sehari. Selanjutnya aku akan hanya menggunakan jiwa serigalaku.” Jawabku enteng.

“Hanya jiwa serigalamu? Aku rasa kau sangat menikmati rasanya menjadi manusia. Aku tidak yakin kau hanya akan melakukan ini sekali.”

Aku terdiam. Benar. Menjadi manusia sangatlah menyenangkan, namun melelahkan bagiku jika hanya setengah manusia. “Jadi apa yang harus kulakukan jika aku memang menikmatinya?”

“Akan kuberi kau pilihan. Menjadi serigala seutuhnya, atau menjadi setengah manusia?” Kata Jungsoo. Aku bisa melihat kilat di matanya. Itu ayahku. Ayah yang sudah tidak memiliki rasa cinta. Dan ia melakukannya untukku.

“Aku tidak bisa memilih.” Cetusku.

Tiba-tiba Jungsoo menggigit pergelangan tangannya sendiri. Darah dengan cepat mengucur. Ia meraih sebuah wadah seukuran gelas untuk menampung darahnya. Setelah wadah itu penuh, darah itu berhenti mengalir.

“Aku lupa, kau memang tidak bisa memilih. Sekarang di dalam tubuhmu ada dua jiwa. Jika kau meminum darah ini, dengan perlahan darah ini akan membunuh salah satu dari jiwamu. Jika ini membunuh jiwa manusiamu, kau akan menjadi serigala seutuhnya karena ini adalah darah serigala murni. Namun jika darah ini membunuh jiwa serigalamu, kau akan menjadi manusia. Tepatnya setengah manusia, manusia yang lemah.” Jelas Jungsoo.

Ia menyodorkan wadah yang berisi darahnya.  Aku masih enggan untuk menerimanya. Aku tidak ingin kehilangan salah satu jiwaku. Aku ingin bisa menukarnya kapan saja. Menjadi serigala berdarah murni adalah impianku memang. Namun sejak bersama gadis itu, aku ingin menjadi manusia. Manusia yang tidak perlu takut untuk memeluknya tanpa harus melukainya.

“Aku sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi. Ini tuntutan kawanan kita, kami sangat benci jiwa serigala itu kau permainkan seperti itu.” Sambung Jungsoo.

Aku segera meraih wadah itu dan meminum darahnya. Tidak ada reaksi apa-apa. Namun dapat kurasakan darah itu mengalir lembut di dalam tubuhku.

“Kita bisa tahu hasilnya besok, besok malam. 24 jam setelah kau meneguk darahku.” Kata Jungsoo kemudian pergi. Tatapan tidak mengenakkan kuterima dari kawananku, bahkan dari Suho dan Lay. Aku tahu mereka menginginkanku tetap disini bersama mereka. Entahlah, aku sendiri bingung.
~~~

Aku memandangi Lime tertidur di sofa. Dia pasti menungguku hingga tertidur di ruang tamu. Kuperhatikan setiap lekuk wajahnya. Ia terlihat sangat cantik.

“Jangan bernafas di pipiku, itu membuatku merasa geli.” Katanya pelan. Ternyata dia menyadari kehadiranku.

“Kau berpura-pura tidur!” Semprotku padanya. Gadis ini malah tertawa lalu duduk.

“Apa yang terjadi?” Tanyanya. Aku tidak punya pilihan lain selain menceritakan semuanya. Lime termenung mendengar penjelasannya. Ia menggenggam ujung sofa dengan keras, entah apa yang dipikirkannya. Aku takut ia akan kecewa.

“24 jam lagi. Aku akan menjadi serigala seutuhnya atau setengah manusia. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Atau aku terlalu cepat mengambil keputusan.” Kataku.

“Jika kau menjadi manusia dengan setengah jiwa, apa kau akan tetap berada di sisiku?” Tanyanya pelan. Matanya menerawang jauh ke langit-langit.

“Tentu saja. Aku akan tetap bersamamu disini.”

“Jika kau menjadi serigala seutuhnya, apa kau tidak bisa berada di sisiku lagi?”

“Aku rasa begitu. Kawananku berencana akan berpindah jika aku menjadi serigala seutuhnya, untuk menjauhkanku darimu.” Jawabku. Itu jawaban terlalu jujur. Aku tahu itu melukainya. Tapi aku tidak bisa berbohong. Tidak bisa berada di sisi Lime lagi? Menjauh darinya? Itu akan terasa sakit. Tunggu… jantungku berdebar kencang. Memang. Sekarang kuakui. Aku takut kehilangan Lime.

“Kalau begitu ayo kita habiskan waktu untuk bersama seharian besok! Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, lebih baik kita manfaatkan waktu 24 jam besok.” Katanya sambil mengukir senyum.
[Chanyeol’s POV END]
~~~

[Lime’s POV]

Aku terjaga lebih awal. Aku memperhatikan sosoknya yang tertidur pulas di sampingku. Aku sudah gila membiarkan laki-laki ini tidur di sampingku untuk beberapa malam sebelumnya. Aku menatapnya dalam, ia tidak terlihat mengerikan. Ia seperti manusia seutuhnya bagiku. Ia bukan serigala, ia adalah manusia. Park Chanyeol.

Jujur, aku sangat takut kehilangan Chanyeol. Chanyeol mampu mengukirkan senyum di wajahku. Sudah lama aku tidak pernah tersenyum dan tertawa lepas sejak perceraian orangtuaku. Bahkan aku membuang rasa benci dan takutku pada kebun binatang untuknya. Sepertinya aku jatuh hati pada manusia setengah serigala ini.

Apa yang harus kulakukan pagi ini. Waktunya sangat singkat. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Aku tidak tahu bagaimana kami selanjutnya. Apa ia akan tetap disisiku atau pergi dariku selamanya.

Aku memutuskan untuk memasak makanan kesukaannya, daging. Kupanaskan sup daging yang belum disentuhnya semalam dan memanggang beberapa potong daging segar. Chanyeol pasti sangat suka.

“Enak sekali.” Kata Chanyeol yang tiba-tiba sudah bersender di tembok dapur.

“Ayo kita sarapan!” Ajakku.

Kami sarapan dalam diam. Meskipun selera makannya tidak berkurang, kami hanya diam. Sibuk dalam lamunan masing-masing. Chanyeol juga tidak mengajakku bicara.

“Lalu apa yang akan kita lakukan?” Tanyanya membuka suara.

“Ada tempat yang ingin kau kunjungi lagi?” Kataku.

“Aku sangat suka kebun binatang. Aku ingin kesana lagi.”

“Baiklah, ayo kita pergi.” Seruku.

Kami pergi lagi ke kebun binatang. Ternyata hari ini kebun binatangnya tutup. Ada masalah yang terjadi sehingga harus ditutup untuk hati itu. “Agassi, kembalilah besok. Aku yakin semuanya sudah normal kembali.” Kata petugas kebun binatang.

“Lalu bagaimana?” Tanya Chanyeol padaku. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana. “Ayo kita beli kue ikan. Yang semalam pasti sudah tidak enak, kita beli yang baru.” Sambungnya.

Ternyata kedai kue ikan tempat itu juga tutup. Biasanya ahjumma sudah stand by sejak pagi hingga larut malam. Salah satu pelanggan mengatakan pada kami bahwa ahjumma ada kesibukan jadi tidak bisa berjualan. Ahjumma akan kembali berjualan kue ikan besok.

“Lalu bagaimana?” Pertanyaan yang sama dilontarkan lagi.

“Kenapa harus besok…apa tidak bisa hari ini saja?!” Bentakku padanya.

“Kita bisa melakukan hal lain. Ehmm…”

“Kita pulang saja.” Kataku kemudian berlalu. Ia mengejarku, berusaha menghentikanku dengan menarik tanganku. Aku meringis sakit. Benar. Ada jiwa serigala di dalam diri Chanyeol sekarang. Dan apakah jiwa itu akan membuatnya jauh dariku?
~~~

Kami hanya menghabiskan waktu di rumah. Aku membiarkan pekerjaanku terbengkalai. Tidak ada niatku untuk menyentuhnya. Dalam otakku hanya berkutat namanya, Park Chanyeol.

“Kemarilah!” Chanyeol mengajakku duduk di depan jendela. Ia membuka lebar jendela kamarku beserta tirainya. Kami hanya duduk memeluk lutut, mengalir dalam pikiran masing-masing.

Hingga malam menjelang posisi kami tidak berubah. Sesekali aku menoleh ke arahnya, ia masih terus menatap keluar jendela. Wajah itu, senyum itu, tatapan itu, aku tidak ingin kehilangannya.

“Apa yang akan kau lakukan jika aku menjadi manusia dengan setengah jiwa, humm?” Tanyanya tiba-tiba.

“Aku ingin kau terus bersamaku. Menghabiskan waktu bersamamu, itu menyenangkan. Aku akan selalu ada di sisimu.” Jawabku.

“Dan jika aku menjadi serigala seutuhnya? Aku tidak bisa menemuimu lagi, selamanya.”

Tenggorokanku tercekat. Selamanya…apakah selamanya itu sangat lama? “Aku tidak tahu.” Lirihku. “Kau tahu, hatiku ini adalah rumahmu. Apapun yang terjadi, kemanapun kau pergi, dan dimanapun jiwamu berada. Ingatlah, kau akan selalu bisa pulang ke dalam hatiku, Park Chanyeol.”

Ia tersenyum tanpa menatapku, “Aku ingin tinggal di hatimu. Aku sudah lelah berlari. Aku hanya ingin tinggal di sisimu.”

Tangisku pecah. Aku tidak bisa memendung perasaanku lagi. Aku tidak ingin kehilangan dia.

“AAAARGGHH!!” Tiba-tiba tubuh Chanyeol mengejang. Ia terhempas ke lantai. Sudah 24 jam. Darah itu pasti sudah membunuh salah satu jiwanya. Aku menggenggam tangannya erat.

Dan itu kesalahanku. Chanyeol yang tidak bisa mengontrol dirinya, ia membalas genggamanku dengan sangat kuat. Jari-jari tanganku terasa remuk. Chanyeol berteriak sambil mengelus dadanya, suara dalam dan beratnya terdengar mengerikan, dia kesakitan. Akupun menjerit sakit merasakan genggamannya.

Perlahan Chanyeol melemas. Ia tak menggenggam tanganku lagi. “Chanyeol!! Bangun!! Bangun!” Aku berusaha membuatnya sadar. Wajahnya pucat. Bibirnya biru.

“Lime….” Ia memanggilku lirih. Chanyeol membuka kedua matanya, bola matanya hitam. “Darah itu membunuh jiwa serigalaku.”

Serta merta aku langsung memeluknya. Bahunya basah karena air mataku.

“AAARRGGHH!!” Ia mengejang lagi. aku panik. Jika ia menjadi manusia dengan setengah jiwa, ia akan menjadi manusia terlemah.

“Dia akan mati.” Seseorang melompat dan masuk ke kamarku melalui jendela yang terbuka. Dia pemimpin Chanyeol, Park Jungsoo. “Dia manusia yang lemah. Meskipun darahku berhasil membunuh jiwa serigalanya, ia akan tetap mati. Ia tidak bisa hidup dengan setengah jiwa.”

“AAHHHH…ARGHH!” Chanyeol terus mengejang. Aku memeluknya erat, tubuhnya terus memberi penolakan.

“Katakan! Apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkannya?!” Bentakku sambil terus memeluk Chanyeol. Ia semakin mengejang. Peluh mengucur deras dari pori-pori kulitnya.

“Berikan separuh jiwamu padanya.” Seru Jungsoo.

“Caranya?!” Teriakku pada laki-laki itu.

“Kau tahu sendiri.” Balasnya kemudian melesat hilang. Apa-apaan dia!!

Aku ingat, saat menukar jiwanya, Chanyeol seperti mencium boneka seriga itu. Tanpa pikir panjang segera kurengkuh tubuhnya dan mencium bibirnya. Kutekan kepalaku agar semakin dalam menciumnya. Tubuhku memanas dari dalam, rasa panas yang seperti akan membakarku. Namun Chanyeol mulai memberi reaksi sebaliknya. Tubuhnya tidak mengejang lagi. Meskipun rasa panas ini seperti membunuhku, aku terus menciumnya.

Hingga puncaknya, aku tergeletak lemas di sampingnya. Samar-samar pandanganku melihat wajah Chanyeol di hadapanku. Dan kemudian mataku berat.
[Lime’s POV END]
~~~

[Chanyeol’s POV]

Rasanya aku ingin membunuh gadis ini. Bagaimana ia bisa memberikan separuh jiwanya untukku? Saat gadis ini terjaga pagi ini, aku tidak mau mengajaknya bicara. Dia benar-benar bodoh. Sama saja dengan membunuh dirinya sendiri.

“Kau tidak apa-apa?” Tanyanya.

“Bodoh. Seharusnya aku yang bertanya!!” Bentakku.

“Kau manusia seutuhnya sekarang. Jangan memarahiku seperti kau masih serigala, kau mengerikan.”

“Dasar bodoh! Siapa yang memintamu melakukan ini? Kau tahu akibatnya hah?!”

“Tidak ada yang memintaku, aku melakukannya karena keinginanku. Aku sangat tahu akibatnya, aku bukan manusia sempurna lagi. tapi bersamamu, membuatku hidupku sempurna, kau membuat hidupku terasa lengkap.” Gumam Lime. Gadis ini masih berbaring lemas. Masih sempat mengatakan hal-hal seperti itu.

“Akan kukembalikan jiwamu.” Tanpa aba-aba aku langsung menciumnya. Ia mencoba mendorongku namun tak bisa. Aneh, aku tidak bisa merasakan apapun. Kemudian kulepas ciumanku. “Kenapa tidak bisa?!”

“Jangan kembalikan. 20 tahun bagiku sudah cukup menjadi manusia semp…pumm…” Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, aku menciumnya lagi.

“Ya yaa yaaa! Sudah cukup!” Suara itu menghentikan ciuman kami. 12 orang itu berjejer rapi di dalam ruangan ini. 12 serigala berdarah murni.

“Jiwa Lime sudah tercampur sempurna dengan jiwamu. Tidak bisa kau kembalikan atau pun diambil kembali.” Kata Jungsoo lalu jalan ke arahku. “Kau sudah menjadi manusia seutuhnya.”

“Tapi bagaiman dengan Lime?” Tanyaku.

“Dia memiliki jiwa manusia yang kuat. Meskipun separuh jiwanya bersamamu, dia akan baik-baik saja. Asalkan kau tetap bersamanya.” Celetuk Baekhyun dari arah belakang.

“Kami akan pergi dari tempat ini dan menemukan tempat tinggal yang baru. Aku tidak perlu mengendus bau busukmu lagi.” Kata Kris. Aku tahu dia sangat bahagia karena aku tidak akan berada dalam kawanan lagi, selamanya.

Suho dan Lay menghampiriku dan kemudian memelukku. Aku akan sangat merindukan orangtuaku ini. Teman-temanku yang lain juga menghampiriku, memberikan salam perpisahan mereka. Dan Kris, dia hanya bersalaman denganku tetap dengan senyum sombongnya. Selamanya dia akan selalu begitu.

Aku ingin memeluk ayahku. Namun ia melangkah mundur. Benar. Ia sudah tidak punya hati dan cinta untuk dirasakan. Hitungan detik kemudian mereka semua pergi. Selamanya. Meskipun aku bahagia bisa menjadi manusia seutuhnya, aku akan merasa kehilangan mereka. Mereka tetaplah keluargaku.

“Apa kau tidak menyesal meninggalkan semuanya?” Tanya Lime. Aku berbalik dan menemukannya duduk manis. Wajahnya sudah tidak sepucat sebelumnya. Ia memang memiliki jiwa yang kuat.

“Tidak sama sekali.” Kataku lalu duduk di sampingnya.

“Jika kau menjadi serigala, aku akan tetap hidup selamanya. Menjadi manusia sepertiku, kau akan menjadi tua kemudian mati. Apa kau tidak menyesal?”

“Tidak. Aku ingin menjadi tua bersamamu. Hidup bersamamu dan tua bersama. Aku akan memasak, mencuci, menyapu, bahkan membiarkanmu menguasai remote TV, asalkan aku bisa terus bersamamu.”

“Karena disinilah rumahmu.” Kata Lime sambil menunjuk dadanya. “Hatiku adalah rumahmu.”

“Dan aku lelah berlari. Aku sudah lelah. Aku ingin istirahat di rumahku bersamamu.”

“Kau manis sekali, serigala kecilku.” Seru Lime lalu mengacak rambutku. “Jadi, apa aku tidak akan mati jika melahirkan anakmu nanti?”

“Anak? Aku tidak berpikir begitu. Aku hanya berpikir untuk hidup bersamamu. Rencana hidup seperti itu, belum pernah terbesit.” Jawabku sambil menggaruk tengkuk. Sedetik kemudian, Lime menarikku ke dalam pelukannya.
[Chanyeol’s POV END]

END~!!

bagaimana? gajekah?

7 thoughts on “My Wolf Boy

  1. Halo kaka’-‘)/
    Haduh Happy end
    Tapi waktu diawal pertemuan agak kecepetan.
    Chanyeol?kalo pas liat di MV dia kagak pantes jadi serigala terlalu unyu sih Aaauuuu :3
    Aku tunggu next ff EXOVENUSnya apalagi Lime nya.

  2. Kyaaaaaa!!! akhirnya! akhirnya! akhirnya! *oke ini lebay*
    huaa akhirnya ada ff Chanyeol-Lime juga :’)
    susah nyari ff yg castnya mereka..
    ihh romantis masa.. aku kira chanyeol bakal jd serigala yg utuh tapi tetep sama lime wkwk ternyata nggak..
    feelnya sumpah dapet bgt! senyam senyum sendiri bacanya wkwkwk XD
    ahh sequel sequel sequel!!
    keep writing (y)

  3. Ya ampun thor.. Ini bgs bgt.. Feelnya dpt bgt… Bahasanya jga bgs… Gk byk pk bahasa koreanya… Seneng deh klo baca ff yg ky gni…typo pun jarang trdeteksi… Thor sequel dong.. Nangung nihhh… *puppyeyes *authormules ㅇㅅㅇ

  4. kyaaaa… thoooor ini lucu banget >,<
    suka banget ama yeol-lime.. aduh shipperin mereka juga nih/?
    ffmu ceritanya unik thor.. beda sama yang lain.. aku baru nemu nih yg kaya gini.. nice ff..
    ditunggu ya tulisan2 yang lain ^^

Kritik, Saran dan lain-lain DISINI

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s