Season of Love – Spring

1.    Author : Lime
2.    Judul : Season of Love – Spring
3.    Kategori : Romance, Oneshoot
4.    Cast :
-    Oh Sehun EXO
-    Lee Yooyoung Hello Venus

Hello! Author kembali dengan FF EXOVENUS featuring maknae couple, Sehun – Yooyoung. Ini FF pertama dalam 4 FF ‘Season of Love’ dan maknae couple kebagian musim semi. Kesannya seperti hmmm… cinta pertama yang bersemi di musim semi hahaa.. Maaf gaje dan banyak typo. Don’t like, don’t read. Do read, do RCL ^^ Happy reading, readers!

Sehun-Yooyoung-Season of Love-Spring


Yooyoung membuka jendela kamarnya pagi ini. Ia menghirup udara segar di hari pertama musim semi. Ia menatap ke arah luar, salju yang berbaris rapi di ranting pohon sudah mulai mencair. Cahaya matahari membuatnya mencair sedikit demi sedikit. Beberapa batang tumbuhan sudah mulai terlihat segar, tak membeku dingin karena cuaca ekstrim sebelumnya.

Yooyoung menutup kembali jendela kamarnya. Teringat hari ini ia harus sekolah. Sambil bersenandung ria ia menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi. “Awal musim semi yang indah.”

Setelah siap, ia segera berangkat sekolah. Ia berkaca pada kaca jendela rumahnya sebelum menutup pintu gerbang. Awal musim semi yang membahagiakan bagi Yooyoung. Entah kenapa suasana hatinya sedang sangat baik. Ia melangkah ceria menyusuri jalan menuju sekolah. Sesekali ia melompat ringan dan bernyanyi riang.

Tak berapa ia sampai di sekolahnya. Senyumnya mengembang, deretan gigi putihnya terlihat. Ia sudah membayangkan bagaimana ia dan teman-temannya akan bercerita tentang liburan musim dingin mereka. Memang Yooyong tidak melakukan hal yang bisa dikatakan “wah” saat liburannya, ia hanya bermain salju di halaman bersama tetangga. Namun itu tidak penting. Berkumpul bersama teman-temannya adalah yang terbaik.

Yooyoung melangkah pasti menuju halaman sekolah. Terlihat beberapa siswa berjalan beriringan diselingi gelak tawa, siswa laki-laki saling mengejar, dan beberapa lainnya sibuk dengan handphone masing-masing.

BRUKK!

Seseorang menabrak Yooyoung dari belakang. Gadis itu cukup terkejut. Ia merasa seragam bagian belakangnya dingin. Terasa seperti air es di musim dingin sebelumnya. Ia berbalik dan siap melontar kalimat tidak menyenangkan pada seseorang yang menabraknya.

“Apa?” Belum sempat Yooyoung berbicara seseorang itu sudah melontarkan kata.

Yooyoung meremas rok seragamnya, rasanya ingin mencakar wajah laki-laki itu. Laki-laki itu adalah yang paling menyebalkan bagi Yooyoung. Tatapan laki-laki itu dingin, tenang, dan bahkan tanpa ekspresi. “Kau membuat seragamku basah.” Runtuh Yooyoung.

“Aku? Yayayaa kau sendiri berjalan begitu lambat. Aku tidak memperhatikanmu begitu jelas karena kau gadis tak kasat mata.” Balas laki-laki itu kemudian meminum minumannya.

Bubble tea? Pikir Yooyoung dalam hati. “Gadis tak kasat mata?! Kau pikir aku hantu?! Dan..kau ini gila atau bagaimana, ini masih terlalu pagi untuk meminum minuman seperti itu. Kau bisa sakit perut. Dan….” Kata Yooyoung sambil menatap sebal laki-laki itu. “Kau seharusnya minta maaf. Kau menabrakku dan menumpahkan minuman itu ke punggungku.” Sambung Yooyoung.

“Sudah kubilang ini salahmu karena berjalan sangat lambat. Sebenarnya kau harus mengganti rugi bubble tea-ku yang tumpah. Hah, aku tidak ingin berurusan denganmu saat ini.” Sahut laki-laki itu kemudian berlalu.

“Yaaa!! Oh Sehun!” Teriak Yooyoung kesal. Laki-laki yang bernama Sehun itu hanya melambaikan tangannya.
***

Yooyoung melemparkan tasnya dan duduk sambil mengutuk dirinya sendiri. “Laki-laki itu membuat hari pertama di musim semiku buruk. Aku ingin mencekiknya.”

Suasana kelasnya hiruk pikuk. Beberapa temannya sudah mengajaknya bicara dan bercanda. Namun gadis itu masih menekuk wajahnya. Sehun benar-benar sudah menghancurkan mood-nya.

Tak lama kemudian guru sudah masuk ke kelas. Semua siswa sudah kembali ke tempat duduk masing-masing. Yooyoung berusaha menghilangkan bayangan aneh wajah Sehun dari pikirannya dan fokus pada kegiatan belajarnya hari ini.

“Aku tahu kalian sudah melewatkan masa liburan yang menyenangkan. Tapi hari ini kalian sudah kembali sekolah, itu berarti tugas dan pelajaran sudah menunggu kalian.” Kata gurunya, seorang guru musik yang terkenal cukup killer di kalangan siswa.

Yooyoung menaikkan alisnya sebelah. “Ini hari pertama sudah akan ada tugas? Hari pertama musim semi yang benar-benar tidak menyenangkan.”

“Ini adalah tugas yang cukup mudah. Kalian hanya perlu bernyanyi. Kalian tidak perlu menciptakan lagu, hanya menyanyikan lagu orang lain. Aku memberikan waktu sampai lusa. Kalian silahkan menyanyikan lagu pada bagian yang singkat, durasi paling maksimal 2 menit.” Kata sang Guru. Beberapa siswa sudah berbisik tentang tugas yang diberikan. “Oh ya, kalian harus melakukan duet. Dua orang. Kalian bisa menambahkan instrumen untuk menampilkannya. Sekarang carilah pasangan kalian kemudian serahkan padaku dalam selembar kertas.”

Yooyoung segera berbalik ke arah teman di belakangnya. Tapi sepertinya temannya sudah menemukan pasangan. Yooyoung sadar ia tidak memiliki suara yang cukup bagus untuk menyanyi. Ia mencoba mengajak temannya yang memiliki suara emas, meskipun ia hanya akan menyanyikan bagian “lalalaa” tidak apa-apa baginya. Namuan temannya itu juga sudah memiliki pasangan. Tinggal dirinya sendiri yang tidak memiliki pasangan.

Sang Guru mulai menerima berlembar-lembar kertas bertuliskan nama-nama siswa yang berpasangan. Laki-laki berumur 40-an itu mengangkat kacamatanya, menemukan nama Yooyoung sendiri tanpa pasangan. “Lee Yooyoung!”

“Ah iya, seosang nim?” Jawab Yooyoung.

“Kau sendiri?”

“Ya. Semua sudah memiliki pasangan, hanya aku yang sendiri.”

“Tidak mungkin, jumlah siswa di kelas ini genap 30 orang. Tidak mungkin….”

Brakkk!! Tiba-tiba pintu dibanting keras seseorang.

“Oh, Seosang nim. Maaf aku terlambat.” Ucap seseorang yang baru datang itu.

Yooyoung menepuk jidatnya sendiri setelah tahu orang itu adalah Oh Sehun. ‘Tuhan, jangan sampai aku berpasangan dengan laki-laki itu’ ucap Yooyoung dalam hati.

“Ah kau lagi. mengapa datang terlambat?” Semprot sang Guru pada Sehun.

“Tadi di jalan macet, Seosang nim.” Jawab Sehun sambil menggaruk kepalanya.

‘Macet? Baru pagi ini ia menabrakku, bagaimana bisa macet? Dasar pembohong!’ Runtuk Yooyung makin kesal.

“Hah terserah kau saja.” Kata sang Guru. “Oh, karena sekarang Sehun sudah datang berarti Yooyung, kau berpasangan dengan Sehun untuk tugas ini.” Sambung sang Guru.

Sehun tidak mengerti apa yang dibicarakan. Ia hanya menurut ketika sang Guru memintanya duduk di samping Yooyoung. “Tugas apa?” Tanya Sehun pada Yooyoung.

“Bisakah kau membunuhku?”
***

Yooyoung merengut kesal di kamarnya. Dipandangi layar handphone yang menampilkan kontak Sehun. Laki-laki itu hanya memberinya nomor handphone saat ia menjelaskan tugas yang diberikan, kemudian Sehun mengambil posisi tidur di kelasnya pagi tadi.

Yooyoung sangat tahu Sehun tidak memiliki suara bagus, sama seperti dirinya. Satu kesamaan. Kemudian ia menemukan kesamaan lain, ia dan Sehun hanya bisa melakukan gerakan dance.

Yooyoung semakin frustasi. Ia mengacak rambut panjangnya. Tanpa berpikir lagi ia segera mengirim pesan untuk Sehun.

To : Mr. Bubble Tea
From : 01044601xxx
Bagaimana dengan tugas kita? Kita hanya punya waktu sampai lusa. Kita bahkan belum menentukan lagunya.

Tak butuh waktu lama, handphone gadis itu bergetar. Sehun sudah membalas pesannya.

To : Giant Baby
From : Mr. Bubble Tea
Baiklah, kita bertemu di taman di dekat rumahmu malam ini. Cepatlah datang, aku sudah menentukan lagunya. Aku hitung sampai seratus!

Yooyoung terbelalak. ‘Bagaimana bisa Sehun melakukan ini?’ Yooyung segera bersiap menemui laki-laki di taman.
***

Yooyoung mengeratkan jaketnya, sesekali melempar pandangan ke penjuru taman. Sudah hampir 1 jam gadis itu menunggu Sehun, tapi Sehun tidak juga menunjukkan batang hidungnya. Meskipun begitu Yooyoung tidak terlalu merasa bosan. Seorang laki-laki yang duduk di sudut taman tengah asyik dengan gitarnya. Laki-laki itu tidak menyanyi, hanya alunan melodi gitar yang dipetik. Yooyoung tidak bisa melihat wajah laki-laki itu karena terhalang dahan pohon.

“Yoo?” Yooyoung cukup terkejut ketika seseorang menepuk pundaknya dan memanggilnya.

“Kamu? Sejak kapan kau disini? Aku sudah menunggumu sejak satu jam yang lalu!” Semprot Yooyoung, seseorang itu adalah Sehun.

“Aku sudah berada disini sejak satu jam yang lalu. Kau tidak mendengar suara gitar?” gumam Sehun lalu mengambil posisi duduk di samping Yooyoung.

“Jadi orang itu kau? Haaaa kau benar-benar menyebalkan!”

Sehun hanya tersenyum menyadari kebodohan mereka berdua. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan secarik kertas. “Ini lagu yang kumaksud. Aku tahu kita berdua tidak terlalu bagus dalam bernyanyi. Jadi lagu dengan part rapp lebih banyak sangat cocok. Karena durasinya maksimal dua menit, kita bisa menyanyikan satu part di awal dan reff nya.” Jelas Sehun sambil menunjukkan kertas berisi lirik lagu pada Yooyoung.

Yooyoung membaca judul lagu dan liriknya dengan seksama. Ia memicingkan matanya pada Sehun, “Lagu ini yang dinyanyikan untuk laki-laki kepada perempuan.”

“Bodoh, kau bisa menyanyikan bagian yang tidak menyebut ‘perempuan’. Hahahaa…” Tawa Sehun.

“Ah, terserah kau saja.”

“Baguslah, jangan banyak protes. Aku akan memainkan gitar untuk performance kita besok.” Sahut Sehun lalu bersiap dengan gitarnya.

“Lagu ini tidak terlalu sulit, aku sering mendengarnya.” Gumam Yooyoung kemudian mulai menyanyi pada part pertama.
***

Yooyoung memandang bangku kosong di sampingnya dengan lemas. Sehun belum muncul sama sekali hari ini. Sejak semalam ia terus berlatih bersama Sehun dan itu tidak terlalu buruk. Mereka berdua sudah berjanji akan berlatih lagi sepulang sekolah. Namun Sehun tidak terlihat sama sekali.

Yooyung menghela nafas panjang seraya berjalan meninggalkan kelasnya. Ia berjalan gontai di lorong kelas, sesekali tubuhnya tertabrak siswa yang berlarian pulang.

Sesampainya di rumah gadis itu lebih memilih meniduri ranjangnya. Ia memandangi handphonenya, tak mendapat satu kabar pun dari Sehun. “Aku harus bagaimana? Manusia bubble tea itu benar-benar menyebalkan. Aku belum terlalu lancar untuk lagu itu.” Keluh Yooyoung lalu menenggelamkan wajahnya ke sela-sela bantal.

Are you busy? You got message!

Yooyoung mendengar handphone-nya menangis, ia berharap itu dari Sehun. Yooyoung meraih handphone-nya dan benar, itu pesan dari Sehun.

To : Giant Baby
From : Mr. Bubble Tea
Maaf aku tidak bisa latihan hari ini. Aku demam karena semalaman menunggumu di taman. Aku yakin  kita sudah siap. Sampai jumpa di sekolah, Yooyoung ah!

“Hah! benar-benar menyebalkan!” Teriak Yooyoung serta merta melempar handphone pink miliknya ke tembok.

Gadis itu merangkak turun dari ranjang dan memeriksa handphone-nya. “Ish syukur saja tidak bermasalah. Ini semua gara-gara Sehun! Kalau sampai rusak aku minta ganti rugi, huhu…”
***

Sehun memandang geli wajah Yooyoung yang berkeringat pucat. Laki-laki itu tertawa melihat ekspresi grogi Yooyoung. Setelah satu kelompok lagi adalah giliran mereka.

Sehun sudah siap dengan gitarnya, namun Yooyoung masih terlihat takut. Tangannya gemetaran. Dengan santai Sehun meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya. Yooyoung cukup terkejut dengan tindakan Sehun. Sehun hanya tersenyum seakan berkata, “Tenang, semuanya akan baik-baik saja.”

“Oh Sehun dan Lee Yooyoung!” Panggil sang Guru.

Sehun menarik tangan Yooyoung untuk melangkah maju ke muka kelas. Sehun mengambil kursi dan duduk dengan gitarnya. Yooyoung berdiri sambil meremas tangannya sendiri. Sebenarnya Sehun sudah sangat kesal dengan sikap Yooyoung, namun kali ini ia harus bersabar dan melakukannya dengan lembut. Ia tidak mau mengulang tugas ini lagi jika gagal.

“It’s Special Girl…” kata Sehun sambil memandang Yooyoung. Tepuk tangan serentak dari teman-teman kelasnya. Beberapa siswi sudah berbisik-bisik tentang dua kata ‘special girl’ yang ditujukan pada Yooyoung.

“It’s Special Girl by Infinite H.” Lanjut Sehun.

“Whuuuuuuuuu!!!” Seru siswa-siswi dengan gaduh. Yooyoung hanya tertunduk malu dan menunggu Sehun memainkan gitarnya.

Sehun memberi kerlingan mata pada Yooyoung, memberi isyarat bahwa ia sudah siap. Kemudian mulai memetik senar gitar.

YOOYOUNG
Amudo nunchi mot chaegekkeum neoreul humchyeo boneun ge nae beoreusi doeeotgo
[Stealing glances at you without anyone noticing become my habit]
Gakkeum neowa nuni majuchil ttaemyeon
[When we do lock eyes sometimes]
Amureochi anheun yeongil haneun baeuga doeeosseo
[I become like an actor who acts as if nothing’s wrong]
Action, daetteum neoege gaseo Mareul geonnaeneun sangsangdo yeoreo beon haebwa
[Action, sometimes I suddenly imagine going to you and talking to you]
Geunde wae nan neul neoga nae apeman omyeon eoreo beorineun geolkka?
[But why do I always freeze up whenever I’m in front of you?]

SEHUN
I don’t know why, girl
O nae heeoseutaildo Dareun namjadeulboda gwaenchanko
[My hair style is better than other guys]
Eoje saero san syeocheu saeksangdo pureun haneulgwa wanbyeokhan dekalkomani
[The brand new shirt I bought yesterday is perfect decalcomanie of the blue sky]
Oneureun nae jajonsimeul kkeokkgo neoege gobaekhago
[I will throw away my pride and confess to you]
Sipjiman swipji anchi nan geujeo meonghani dareun goseul barabwa
[It’s not easy though because I’m just blankly staring at some place else]

Beautiful girl nae gyeoteseo utgo inneun niga neomu joha
[Beautiful girl you’re smiling next to me, I like you so much]
Nuni busin geol areumdaun neol
[You’re dazzling, you’re beautiful]
Humchil su itge neoreul wonhae
[I want you so I can’t steal you]
Cause you are my

(ooh) Special, (ooh) special
(ooh) Special, special, special girl
(ooh) Special, (ooh) special
(ooh) Special, special, special girl

***

Malam ini Yooyoung kembali terpaku pada handphone-nya. Berharap seseorang memberi kabar berita. Setelah tampil bersama di muka kelas bersama Sehun, ia merasa laki-laki itu tidak terlalu buruk. Bahkan Sehun menenangkannya. ini kali pertama bagi Yooyoung, seorang laki-laki selain Appanya, menggenggam lembut tangannya. Darahnya seperti berdesir mendapat sentuhan tangan Sehun pagi tadi.

“Haruskah aku menelponnya duluan? Ah tidak-tidak! Tapi kalau begini terus…” Runtuk Yooyoung.

Di tempat yang berbeda, sekitar 3 kilometer dari rumah Yooyoung, di dalam kamarnya Sehun menarik ulur handphone-nya. Memandangi nomor kontak Yooyoung. “Telpon tidak ya?”

‘Boom shakalaka… boom shakalaka…’

Sehun tersenyum lebar mendengar handphonenya berdering dan menampilkan kontak Yooyoung. Ia berdehem sebentar, kemudian menerima telepon dari orang yang ditunggu.

“Yoboseyo?” Kata Sehun memulai pembicaraan di telepon.

“Ah.. Sehun..” Yooyoung terdengar grogi di ujung sana. Sehun berusaha menahan tawanya.

“Ya? Ada apa kau menelponku?” Sahut Sehun, ia ingin terdengar cool dan sedikit jual mahal.

“Tidak ada, aku hanya ingin menelponmu.” Balas Yooyoung. Sementara gadis ini sudah keringat dingin.

“Yooyoung ah…kau menyukaiku bukan?” Tembak Sehun.

“Ah? Apa yang kau bicarakan, aku tidak mengerti.”

“Bilang saja kau menyukaiku. Sebab itulah kau menelponku, kau rindu kan, huh?” Sehun semakin jahil menggoda Yooyoung.

“Apa-apaan kau.”

“Hahahahaa.. sebenarnya aku suka padamu, tapi sepertinya kau tidak menyukaiku.” Kata Sehun lemas, namun ia masih ingin menggoda Yooyoung.

“Bukan! Bukan begitu maksudku!!” Teriak Yooyoung pada teleponnya.

Sehun memeluk perutnya menahan tawa, “Kalau begitu, katakan saja kau suka padaku.”

“Ya…eng….”

“Ayo cepat!”

“Ya! Aku suka padamu!”

“Hahahaa kalau begitu kau suda resmi menjadi pacarku sekarang.” Kata Sehun sumringah. Sehun merubah posisi tidurnya menjadi telentang. Ia menatap langit-langit kamarnya, membayangkan wajah tomat Yooyoung karena malu.

“Oh…Okay..aku tidur dulu, bye!” Kata Yooyung lalu mengakhiri telepon mereka.

Sehun masih diam dengan posisi handphone masih menempel di telinganya. “Yooyoung pasti sangat malu. Tak apalah, aku juga tidak tahu cara berpacaran.”
***

Sehun tidak segan-segan menarik tangan Yooyoung masuk ke dalam kebun binatang. Yooyoung sendiri malu-malu mengikuti langkah Sehun yang membawanya berkeliling.

Ini adalah kencan pertama mereka. sudah hampir 2 minggu mereka berpacaran. Tidak ada hal yang special yang sudah mereka lakukan. Mereka hanya bertemu di sekolah dan duduk bersebelahan si ruang kelas. Tidak ada yang akan berani membuka suara, mereka hanya saling melirik kemudian tertawa. Yooyoung merasa sangat gugup, ini kali pertama baginya untuk berpacaran. Begitu pula dengan Sehun.

Malamnya mereka akan menghabiskan waktu ditelepon dengan bercanda dan ngobrol semalaman suntuk. Sehun akan menggoda Yooyoung habis-habisan dengan mengatakan, “aku suka wajah tomatmu.” Sehun sendiri tidak mengerti bagaimana bisa ia merayu Yooyoung seperti itu, ini cinta pertama baginya. Semua mengalir begitu saja.

Satu kalimat panjang yang selalu diucapkan Sehun pada Yooyoung, kalimat panjang yang selalu membuat gadis itu tersenyum malu. “Banyak yang lebih cantik darimu di sekolah. Wajahmu bulat dan gampang memerah, mirip seperti tomat. Aku bisa saja mendapatkan gadis yang lebih cantik darimu, gadis yang lebih spesial. Kau mungkin tidak spesial, tapi kau berhasil membuat dirimu spesial di mataku, Yooyoung ah.”

Yooyoung tersenyum mengingat kalimat itu. Tangannya menggenggam erat tangan Sehun yang masih asyik menariknya. Sehun bilang ia sangat ingin melihat gajah. Menurut Sehun, Yooyoung seperti bayi raksasa. Besar, tinggi, namun menawan.

“Nah, ini gajahnya!” kata Sehun. Ia mendongak memperhatikan seekor gajah yang sedang asyik menarik beberapa daun dengan belalainya.

“Kau akan bilang gajah ini sepertiku, kan?” Runtuk Yooyoung.

“Hahaha…kau sangat pintar, giant baby!” Sahut Sehun lalu mengacak sayang rambut Yooyoung.

“Kalau aku jadi gajah, kau adalah jerapah! Tinggi tapi kurus tak berisi!” Balas Yooyoung tak mau kalah.

Sehun tak mengindahkan perkataan Yooyoung. Ia malah berjalan lebih dekat di arah gajah itu. “Hey gajah, ini adalah pacarku. Namanya Lee Yooyoung.”

“Yayaya! Haruskah kau mengenalkanku pada gajah?!” Semprot Yooyoung.

Sehun tertawa geli. Ia melirik seorang gadis kecil yang juga sedang melihat gajah berkata, “Anak kecil, ini pacarku, namanya Yooyoung.” Kata Sehun. Gadis kecil itu menoleh ke arah Yooyoung kemudian tersenyum.

Selama mereka berkeliling di kebun binatang, Sehun akan memperkenalkan Yooyoung sebagai pacarnya kepada siapa saja. Yooyoung hanya mengangguk dan terkadang tertunduk malu. Hal ini sangat memalukan bagi Yooyoung. ‘Apakah cinta harus diumbar seperti ini?’

“Sudahlah! Jangan lakukan lagi! ini memalukan!” Bentak Yooyoung. Sehun terkejut melihat reaksi kekasihnya. Yooyoung meminta pulang dan berjalan cepat keluar dari kebun binatang.
***

Sehun diam memandangi wajah Yooyoung yang tertidur di kursi bus. “Kau pasti sangat lelah.”

Sejak pulang dari kebun binatang Yooyoung mendiamkannya. Gadis itu hanya diam, tak mau bicara satu kata pun meski Sehun mengajaknya bercanda. Bahkan sampai tertidur di dalam bus, Yooyoung tidak mau membuka mulutnya.

Sehun masih asyik memandangi wajah Yooyoung. Mata, hidung, pipi, hidung, dan bibir Yooyoung tak lepas dari pandangan Sehun. Entah setan apa yang merasukinya, pelan namun pasti Sehun mengecup ringan bibir Yooyoung. Namun ciuman itu membuat Yooyoung terbangun.

“Kenapa kau menciumku?” Tanya Yooyoung polos, wajahnya dengan wajah Sehun hanya berjarak beberapa senti.

“Kau pacarku. Apa tidak boleh aku menciummu?” Kata Sehun lalu menarik diri.

“Apa kita harus berciuman?”

“Mungkin. Hal itu sangat wajar.”

“Aku tidak suka.”

“Kau harus suka dan terbiasa.”

Yooyoung menggigit pelan bibirnya. Ia tidak tahu ciuman itu seperti apa, rasanya bagaimana, perasaannya akan seperti apa. Gadis itu kembali bungkam. Keduanya diam tak bergeming hingga bus berhenti di tempat pemberhentian selanjutnya.
***

To : Mr. Bubble Tea
From : Giant Baby
Jangan pernah cium aku lagi. aku belum siap untuk hal seperti itu. Kau adalah yang pertama, kau sangat spesial untukku. Aku tidak tahu berpacaran itu harus apa dan bagaimana. Tapi aku benar-benar belum siap jika harus berciuman. Maaf.

Sehun mendengus kesal.

To : Giant Baby
From : Mr. Bubble Tea
Aku minta maaf. Sepertinya kita tidak cocok. Kita akhiri saja semuanya. Maaf.

Seketika juga air mata Yooyoung tumpah. Tangannya bergetar hebat. “Sehun ah, kau membuatku menjadi orang yang merasa paling bahagia di dunia ini. Namun kali ini kau membuatku menjadi orang yang merasa paling menderita di dunia ini.”

***

Sehun menemukan sosok Yooyoung menangis di sudut perpustakaan. Beberapa teman Yooyoung meminta Sehun untuk menenangkan gadis itu. Sudah hampir satu jam Yooyoung di perpustakaan. Ia bahkan tidak mengikuti kegiatan belajar-mengajar.

“Berhenti menangis.” Kata Sehun lalu duduk di samping Yooyoung. Keadaan perpustakaan sedang sepi. Hanya mereka berdua dan seorang wanita pengawas perpustakaan. Memang tempat yang tepat untuk menangis.

Yooyoung sesenggukan melihat Sehun duduk di sampingnya. “Apa maumu?”

“Aku minta kau berhenti menangis.” Kata Sehun, laki-laki itu menatap jauh ke luar jendela. Tak berani menatap Yooyoung.

“Tanpa perlu kau minta aku akan berhenti.” Balas Yooyoung pelan.

“Kapan? Kapan kau akan berhenti?”

“Sampai aku tahu alasan kita putus.”

“Sudah kubilang kita tidak cocok lagi.” Kata Sehun dingin.

“Karena aku belum siap untuk dicium?”

“Entahlah.”

“Sehun, ini hal baru untukku. Kau adalah yang pertama. Kau orang pertama yang menggenggam tanganku, kau orang pertama yang menjadi pacarku, kau adalah cinta pertamaku. Aku tidak tahu cinta itu seperti apa, aku tidak tahu cara berpacaran. Aku hanya…aku belum berani..untuk menciummu.” Tangis Yoooyoung pecah lagi.

Sehun mengusap pelan punggung Yooyoung dan menenangkan gadis itu. Ia sadar, tak seharusnya ia memutuskan hubungan hanya karena hal sepele seperti itu. Namun ia berpikir lagi, bukannya itu hal yang wajar? Ia seorang laki-laki, perasaan seperti ingin mencium bahkan lebih pasti ia rasakan. Sah-sah saja, bukan?

Sehun kembali memutar otaknya, sangat lucu jika ia memutuskan Yooyoung karena nafsu konyol seperti itu. Ia harus mengerti perasaan Yooyoung.

“Sudah jangan menangis. Kita tidak jadi putus.”
***

EPILOG

Yooyoung mengayunkan tangannya yang digenggam Sehun. Kali ini bukan kencan kedua, hanya sebuah wisata bersama teman-teman kelasnya untuk mendaki di sebuah tempat di desa terpencil. Keduanya sudah jauh dari rombongan, namun tidak akan tersesat karena sudah ada jalur setapak yang bisa diikuti.

Tiba-tiba Yooyoung berhenti berjalan, Sehun memandang gadis itu heran. “Kenapa berhenti?”

“Aku ingin tahu kenapa kita tidak jadi putus.” Kata Yooyoung.

“Kau terlalu banyak bertanya, kita jalani saja seperti ini.” Sahut Sehun lalu menjitak ringan kepala Yooyoung.

“Aku serius, Oh Sehun!” Paksa Yooyoung.

Sehun terdiam sebentar. Ia tidak pernah mengatakan bahwa ia mencintai Yooyoung. Selama ini ia hanya mengatakan bahwa ia sangat menyukai gadis itu dan mengatakan bahwa Yooyoung adalah gadis yang spesial.

“Karena…aku sayang padamu.”

“Apa? Aku tidak dengar.” Kata Yooyoung.

“Aku sayang padamu, heh.” Gumam Sehun.

“Apa? Apa?! Katakan sekali lagi?”

Sehun menghela nafas panjang lalu tersenyum, “Aku mencintaimu, Lee Yooyoung.”

Sedetik kemudian Yooyoung menarik kerah baju Sehun dan mencium bibir laki-laki itu.
END

5 thoughts on “Season of Love – Spring

  1. Bagus thor FFnya’-’ Sehun yooyoung sweet banget/.\ oh iya thor lain kali post ff Baekhyun Yoonjo dong :D lagi lope lope(?) Ama ntuh couple XD

  2. acuaaa!! so swiiitttt!!! XD
    sehun yooyoung bikin gue menggila!!!
    manis gilaaaa!!
    keren thor, penulisannya rapi kok :)
    please cepetan buat musim yg lain doonngg!! :)
    keep writing (y)

Kritik, Saran dan lain-lain DISINI

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s