Season of Love – Autumn

  1. Author : Lime
  2. Judul : Season of Love – Autumn
  3. Kategori : Romance, Oneshoot
  4. Cast :

-          Kim Hyelim/Lime Hello Venus

-          Park Chanyeol EXO

-          Byun Baekhyun EXO

-          Song Juhee/Alice Hello Venus

-          Park Jiyeon T-Ara

 

Nah… sebenarnya ni FF ketiga dari 4 FF ‘Season of Love’ tapi author minta digampar karena lebih dulu nyelesaiin yang ini T.T ini pairing favorit author. Rapper couple Chanyeol – Lime. Kenapa musim gugur? Author keinget aja rambut si Lime pernah ijo mirip daun dan rambut Chanyeol pernah cokelat juga mirip daun yang gugur hahahaa.. Maaf gaje dan banyak typo. Don’t like, don’t read. Do read, do RCL ^^ Happy reading, readers!

season-of-love-chanyeol-lime

Lime membanting tasnya ke meja, dengan sigap Alice langsung membongkar tas Lime. Lime hanya tertawa melihat sikap temannya yang mulai sibuk menyalin pekerjaan rumahnya. Dua gadis berambut blonde itu makin serius dengan buku tugas Lime yang penuh dengan deretan rumus.

 

“Aku tidak yakin kau bisa bertahan sampai lulus sekolah tanpaku.” Celoteh Lime.

 

Alice tidak mengindahkan perkataan Lime, ia harus cepat menyalin pekerjaan rumah Lime ke buku tugasnya.

 

Merasa terabaikan, Lime membuang pandangannya ke penjuru kelas. Hari masih sangat pagi, hanya ia dan Alice yang sudah berada di kelas. Kalau bukan karena rengekan Alice yang meminta contekan, Lime sangat enggan meninggalkan kasur empuknya dan berangkat sekolah sepagi ini.

 

“Kenapa kotor sekali.” Lime beranjak dari kursinya dan meraih sapu di pojok kelas. Ia mulai menyapu dari bagian belakang ruang kelas kemudian melanjutkannya sampai depan pintu. “Belajar bisa lebih nyaman kalau bersih begini.” Gumamnya.

 

BRAAKK!

Pintu kelas dibuka kasar oleh seseorang. Lime tersenyum kecut mengetahui bahwa seseorang itu adalah Park Chanyeol. Chanyeol melangkah santai masuk ke dalam kelas. Mata Lime terbelalak, lantai yang baru saja disapunya kembali kotor karena jejak sepatu Chanyeol.

 

“Yayayaa!! Sepatumu kotor sekali!” Bentak Lime.

 

Chanyeol menoleh sekilas, “Kau bawa apa? Sapu? Kau bisa membersihkannya lagi.”

 

Tidak ingin berdebat dengan Chanyeol, Lime melanjutkan kegiatannya. Meskipun ia terus mengeluh dan mencaci maki laki-laki hatinya.

 

“Lime!! Account sekolah kita membuat pengumuman!” Teriak Alice.

 

Lime menoleh, Alice sudah tidak berkutat dengan buku tugasnya, melainkan dengan netbook nya. “Wah kalau masalah menyalin tugas kau sangat cepat ya.” Seru Lime lalu duduk di samping Alice.

 

“Lihat! Ini status terbaru sekolah!”

 

“Wah sekarang semuanya serba gampang ya..” Kata Lime sambil membaca status di media sosial sekolahnya. Sangchu Social. Adalah media sosial yang hanya dimiliki oleh siswa di sekolah ini. Secara otomatis semua siswa memiliki account untuk mengakses media sosial ini dan juga semua siswa sudah ada di dalam friend list setiap account. Jadi satu sekolah sudah terhubung dengan media sosial yang disebut Sangchu Social. Dengan mudahnya sekolah bisa memberi pengumuman hanya dengan mengupdate status.

 

“Pesta siswa saat salju pertama turun….” Baca Alice.

 

“Salju pertama turun? Heh apa mereka bisa memprediksi kapan salju pertama turun setelah musim gugur? Itu akan sangat mendadak.” Semprot Lime sambil ikut membaca.

 

“Benar! Apa-apaan pengumuman seperti ini.” Keluh Alice. Ia merefresh accountnya. Kemudian kembali menemukan status terbaru account sekolahnya, “Terjadi kesalahan. Pesta untuk siswa akan diadakan setelah akhir musim gugur…”

 

“Yaaa! Apa bedanya akhir musim gugur dengan turunnya salju pertama? Apa para staff tidak bisa membuat pengumuman yang lebih jelas?” Gerutu Lime.

 

“Kita tunggu saja status selanjutnya.” Gumam Alice sambil terus mengutak-atik netbooknya. “Eh… Baekhyun meng-upload foto barunya.”

 

Lime melirik sebentar, sebuah selca lucu yang baru saja diunggah Baekhyun, salah satu siswa favorit idaman siswi-siswi lain. “Wah baru beberapa detik sudah 57 likers.”

 

“Bukankah kau juga menyukai Baekhyun? Hihihii…” Kata Alice sambil menyenggol lengan Lime.

 

Lime tertawa renyah, “Hampir semua orang disini menyukainya.”

~~~

 

“Pesta diadakan sabtu malam ini…” Baca Alice dengan seksama, ia menatap lekat dekstop netbooknya.

 

“Dengan konsep menggunakan topeng…” Lanjut Lime. Seketika dua gadis berambut blonde itu saling pandang. Alice menggangguk mantap, Lime menggeleng pelan.

 

“Aku akan menyiapkan dress untuk kita!”

 

“Aku tidak akan datang!” Tolak Lime.

 

“Oh ayolah..siapa tahu kita bisa bertemu dengan laki-laki tampan!”

 

“Itu sangat aneh. Kita akan memakai topeng dan…bagaimana bisa kita tahu laki-laki itu akan tampan atau tidak. Tanpa memakai topengpun tidak ada yang menyadari kehadiran seorang Kim Hyelim.” Balas Lime kemudian berlalu.

 

Lime beranjak meninggalkan kelasnya. Alice mengekor di belakang Lime sambil terus menghasut sahabatnya untuk ikut dalam pesta. Tak sengaja Lime menyenggol lengan seorang gadis yang berjalan berlawanan dengannya.

 

“Kau pikir lorong ini punyamu?!” Bentak gadis itu.

 

“Maaf aku tidak sengaja. Aku terburu-buru, aku tidak ingin bermasalah denganmu.” Balas Lime, belum Lime melangkah gadis itu sudah menahan tangan Lime.

 

“Kau terburu-buru untuk mencari pasangan kencan ya? Hahahaa atau kau hanya berkutit dengan teman blonde mu yang satu ini?” Cemooh gadis itu.

 

Lime merasakan tangan Alice yang sudah mengepal, ia segera meredakan emosi sahabatnya. Lime menyilangkan kedua tangan di dadanya, memandang lucu gadis yang selalu membuatnya naik darah. “Aku lebih baik berkencan dengan Alice daripada mengumbar berita palsu tentang Baekhyun yang berpacaran denganmu, Park Jiyeon.”

 

“Setelah pesta besok, akan kujamin aku dan Baekhyun akan benar-benar berkencan!” Balas Jiyeon tak mau kalah. Kini keduanya bertatap mata dengan pandangan tajam.

 

“Kau pikir aku tertarik?”

 

“Jangan munafik. Aku tahu kau juga menyukai Baekhyun, bukan?” Cibir Jiyeon. Gadis itu tersenyum dengan sebelah bibirnya, menampakkan kesombongan yang bergejolak dalam jiwanya. “Tapi sayang Baekhyun tidak akan melirik gadis sepertimu. Dia bahkan tidak tahu bahwa ada siswi yang bernama Kim Hyelim di sekolah ini.”

 

Lime tersenyum getir, “Hampir semua siswi di sekolah ini menyukai Baekhyun. Lalu apa masalahmu denganku? Aku bahkan tidak berpikir untuk bicara denganmu.”

 

“Aku tidak suka denganmu. Auramu sangat menyedihkan. Nikmati saja hidupmu bersama temanmu satu-satunya ini. kalian berdua sudah seperti pasangan lesbi.”

 

Lime menyibak rambut Jiyeon, “Kalau pun aku lesbi, aku juga punya selera. Aku tidak akan pernah menyukai gadis sepertimu.” Kemudian Lime berjalan meninggalkan Jiyeon yang masih menggerutu.

 

~~~

 

THE DAY…

 

Lime menatap pantulan dirinya di depan cermin. dress hitam yang Alice pinjamkan sangat pas dengan tubuhnya. Wajahnya menyimpulkan senyum, sesekali ia berputar untuk memastikan bahwa dirinya memang terlihat cantik. Diraihnya sebuah topeng yang menutupi bagian atas wajahnya, kemudian mengenakannya.

 

“Kau sudah siap?” Tanya Alice yang muncul dari balik kamar mandi. Lime hanya tersenyum kemudian mengangguk. Ia memperhatikan penampilan Alice yang sudah menggunakan topengnya. Dress hitam yang senada dengan yang ia kenakan. Apalagi keduanya memiliki rambut blonde yang sama, hanya saja rambut Lime lebih pendek.

 

“Sudah. Perutmu bagaimana? Masih mulas?” Kata Lime lalu menghampiri Alice, memastikan keadaan sahabatnya.

 

“Masih. Hah benar-benar sial! Malam ini tidak boleh gagal!”

 

“Heh sudah jangan memaksakan diri. Aku tidak terlalu ingin pergi ke acara itu.” Gumam Lime.

 

“Sudah sejauh ini kau masih tidak ingin pergi? Ayo pergi!” Semprot Alice sembari menarik tangan Lime. Dengan menggunakan taxi mereka pergi ke sekolah.

 

Malam itu acara tahunan sekolah itu sudah dimulai. Di aula sudah lumayan banyak orang hadir. Hampir semua orang menggunakan dress warna hitam. Lime dan Alice saling melemparkan pandangan kemudian tertawa. Semua orang menggunakan topeng dan tidak ada yang mengetahui siapa dibalik topeng-topeng itu.

 

“Kau pikir kita bisa bertemu dengan laki-laki tampan disini?” Gumam Alice sambil melambaikan tangannya ke arah beberapa laki-laki.

 

“Haruskah kita mulai hunting? Hahahaa..”

 

Di sudut ruangan, seorang laki-laki dengan white suit-nya tengah berdiri sambil memperhatikan sekitar. Ia tampak bosan dengan suasana pesta yang itu-itu saja baginya. Beberapa pasangan sudah mulai berdansa diiringi alunan musik ringan, membuatnya semakin bosan. “Tsk..bagaimana bisa menemukan gadis cantik di tempat seperti ini.”

 

Laki-laki itu beranjak mendekati beberapa gadis yang tengah berkumpul, berharap ada yang menarik perhatiannya. Pesta topeng ini cukup menguntungkan baginya, karena tidak ada perempuan-perempuan aneh yang akan selalu mengikutinya kemana saja.

 

“Hey!” Sapa laki-laki itu pada seorang gadis berambut panjang.

 

Gadis itu menoleh lalu mencibir, “Kau bukan Baekhyun. Jangan pernah berani untuk menyapaku!”

 

“Oh, okay..” Kata laki-laki itu kemudian melangkah pergi. “Syukurlah dia tidak tahu bahwa aku adalah Baekhyun.”

 

Di tempat lain, hanya berjarak beberapa meter dari tempat Baekhyun berdiri, seorang laki-laki berambut cokelat agak keriting menggaruk tengkuknya heran. Banyak gadis yang menghampirinya saat ini. bisa dikatakan penampilan Chanyeol benar-benar sangat maskulin. Black Suit yang ia kenakan sangat cocok dengan tubuhnya, ditambah lagi dengan postur tubuhnya yang tinggi. “Apa-apaan mereka. seandainya aku lepas topeng ini, semua gadis ini pasti akan kabur.”

 

Chanyeol menghindar dari kerumunan perempuan-perempuan yang terus menggodanya itu. Ia memilih untuk duduk di sofa, membiarkan orang-orang menikmati pesta yang menurutnya aneh.

 

“Kau juga bosan?” Tanya seseorang yang langsung duduk di sampingnya. Chanyeol memperhatikannya sejenak, ia benar-benar tidak bisa mengenali laki-laki itu. Laki-laki yang menggunakan suit dengan warna berbanding terbalik dengan miliknya. Laki-laki itu adalah Baekhyun. Namun keduanya tidak mengetahui identitas satu sama lain. Terkadang menggunakan topeng itu perlu, sehingga kita bisa tahu orang menyukai diri kita apa adanya, bukan karena ada apanya.

 

“Sepertinya begitu. Pestanya terlalu membosankan. Musik dan dansa, tidak bisakah kita melakukan hal lain.” Keluh Chanyeol.

 

Baekhyun meneguk minumannya, lalu tersenyum ke arah Chanyeol. “Aku ingin bernyanyi.”

 

“Aku tidak percaya diri dengan suaraku, aku lebih suka melakukan rapp.” Balas Chanyeol.

 

“Kalau begitu ayo kita berkolaborasi!” Ajak Baekhyun lalu menarik tangan Chanyeol, membawa laki-laki itu ke arah DJ.

 

Baekhyun berbisik pada DJ, lalu mengalihkan pandangannya pada Chanyeol. “Kau bisa menyanyikan lagu Haru-haru dari Big Bang?”

 

“Tentu. Hanya saja itu membutuhkan 2 rapper.” Jawab Chanyeol lalu mendekati DJ, memberikan instruksi untuk membuat sedikit pengumuman.

 

DJ mengecilkan volume musiknya kemudian berbicara menggunakan mic, “Hellow!! Apa disini ada rapper selain pria jakung ini tentunya huh?”

 

“AKU!!” Seorang gadis blonde mengajukan dirinya, Lime. Alice mendorong punggung Lime untuk maju ke tempat DJ.

 

“Haru-haru?” Tanya Chanyeol pada Lime sambil memberikan mic. Lime menggangguk dan mulai mengecek mic-nya. “Kau lakukan rapp bagian TOP, okay?” Sambung Chanyeol.

 

Baekhyun sudah siap dengan mic nya, ketiganya saling menatap sebentar kemudian mengangguk. Sang DJ mulai memutarkan musik, intro lagu Big Bang sudah terdengar. Semua orang yang hadir dalam pesta menghentikan aktifitas mereka, mulai menaruh perhatian pada 2 orang laki-laki dan 1 orang perempuan yang siap untuk bernyanyi.

 

[CHANYEOL] Tonaga
Yeah, finally I realise, that I’m nothing without you
I was so wrong, forgive me

[BAEKHYUN] Ah
Lime dan Chanyeol berpandangan sambil melakukan bagian rapp mereka. Sebuah kontak mata yang lebih dari sekedar informasi, “ayo kita mulai!”
[LIME] Padochorom buswejin ne mam
[CHANYEOL] Baramchorom hundurrinun ne mam
[LIME] Yongichorom sarajin ne sarang
[CHANYEOL] Munsinchorom jiwejijiga anha
[LIME] Hansuman tangi kojira shijyo~O~O
[CHANYEOL] Ne gasum-sogen monjiman sahijyo~O (Say goodbye)

[CHANYEOL] Nega obsin dan harudo mos salgoman gatadon na
Sengakgwanun darugedo gurokjorok honjajal sara
Bogosipdago bullobwado non amu dedabobsjanha
Hodwen gide golobwado ijen soyongobsjanha
[LIME] Ne yeope inun gu sarami mwonji hokshi nol ullijin anunji
Gude nega boigin sag da ijonunji
JogjonChanyeolwe dagagagijocha malulgol su jocha obso eteugo
Na holo gin bamul jiseujyo subegbon jiwenejyo

 

Baekhyun melirik gadis yang usai melakukan rappnya. Gadis itu melakukannya dengan sangat baik menurut Baekhyun. Rambut blonde gadis itu memikat hatinya, sangat cantik.
[BAEKHYUN] Dolabojimango tonagara to narul chajimalgo saragara
Norul saranghetgie huheobgie joatdon kiogman gajyogara
Gurokjorok chamabulmanhe gurokjorok gyondyonelmane
Non gurolsurok hengbokheyadwe haruharu mudjyogane
[CHANYEOL] Oh girl, I cry cry
You’re my all (Say goodbye)
[BAEKHYUN] Girul goda nowana uri majuchindahedo
Mot bonchog hagoso gudero gadongil gajwo
Jakuman ye sengaki toorumyon amado
Nado mule gudel chajagaljido mula

[CHANYEOL] Non nul gu saramgwa hengbokhage non nul nega darun mam an moge
Non nul jagun milyondo an namkekum jal jinejwo na borandushi

[LIME] Non nul jo hanulgati hayage dun gurumgwado gati saparage
Non nul gurege usojwo amu il obsdusi

[BAEKHYUN] Dolabojimango tonagara to narul chajimalgo saragara
Norul saranghetgie huheobgie joatdon kiogman gajyogara
Gurokjorok chamabulmanhe gurokjorok gyondyonelmane
Non gurolsurok hengbokheyadwe haruharu mudjyogane

[BAEKHYUN] Narul tonaso mam pyonhejigil ([LIME] Narul itgoso salagajwo)
Gu nunmulun da marulteni, yeah ([LIME] Haru haru jinamyon)

 
[BAEKHYUN]Chari manaji anhadoramyon dol apultende, hmm~
Yongwonhi hamkehajadon gu yagsog ijen
Chuoge mudodogil bare baby nol wehe gidohe

[All] Dolabojimango tonagara to narul chajimalgo saragara
Norul saranghetgie huheobgie joatdon kiogman gajyogara
Gurokjorok chamabulmanhe gurokjorok gyondyonelmane
Non gurolsurok hengbokheyadwe haruharu mudjyogane

 

Belum Sempat mereka menyelesaikan lagunya, Alice menarik tangan Lime dan berlari. Terlihat gadis itu memeluk perutnya, perut Alice kembali berulah. Suara mic yang dijatuhkan Lime berdengung sehingga membuat semua orang spontan menutup telinga mereka, kecuali Chanyeol.
Chanyeol belum menyelesaikan partnya namun Lime sudah pergi. Ia meraih mic yang dijatuhkan Lime dan melanjutkan part terakhir dalam lagu itu. “Oh girl, I cry cry. You’re my all, say goodbye bye… Oh my love, don’t lie lie.. You’re my heart, say goodbye…”

~~~

 

“YAAAAAA!!!” Lime menendang keras pintu toilet sambil berteriak. “Bagaimana biasa kau menghancurkan semuanya?!”

 

Yang diteriaki malah semakin meringis menahan rasa mulas di perutnya, kemudian tersenyum lega merasakan sesuatunya berhasil keluar. Alice segera menyelesaikan kegiatan menjijikannya kemudian keluar dari bilik toilet dengan senyum lebar. “Pestanya pasti belum selesai. Ayo kita kembali.”

 

“Aku tidak mau.” Semprot Lime lalu melepas topengnya, “Kita pulang saja.”

 

Alice menangkap raut kecewa di wajah Lime. Semua ini karena kesalahannya, seharusnya ia ke toilet sendiri tanpa harus menarik Lime yang tengah bernyanyi. “Maaf.”

 

“Sudah tidak apa-apa. Aku sudah bilang aku tidak nyaman untuk acara seperti itu.” Kata Lime sembari melepas topeng milik Alice. “Kita pulang saja, ya?”

 

Alice mengangguk lalu memeluk Lime sesaat.

 

Setelah keluar dari toilet, ternyata pesta sudah usai. Terlalu cepat untuk pesta semacam ini. Alice membuka telinganya lebar-lebar mendengar desas-desus dua perempuan yang berjalan berpapasan dengannya.

 

“Jadi laki-laki berjas putih itu Baekhyun?!”

 

“YA! Gadis blonde itu benar-benar bodoh! Siapa yang berani berlari dari Baekhyun?”

 

Lime memijat kepalanya sendiri sesaat setelah mendengar pernyataan dua perempuan tadi. Kepalanya pusing. Aku berlari dari Baekhyun, gumamnya dalam hati.

~~~

 

 

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam setelah Alice dan Lime tiba di rumah Alice. Lime memang akan menginap di rumah sahabatnya itu. Ia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang, mencoba mencerna kejadian yang baru saja dialaminya. “Aku bernyanyi bersama Baekhyun.”

 

“Lime! Lime! Baca ini, baca!!” Sontak Lime kaget karena Alice menarik lengannya untuk duduk. Sambil meraih netbook lucu milik Alice, Lime berusaha membaca sebuah status dari media social sekolahnya itu.

 

BYUN BAEKHYUN : Gadis berambut blonde tadi sangatlah berbeda. Dia sangat istimewa. Aku tidak pernah melihat gadis sehebat dia. Andai saja aku bisa menemukan gadis blonde itu di sekolah besok. Aku akan mencarinya…

 

“Dia akan menemukanmu!” Seru Alice, melompat girang ke ranjang dan memeluk Lime.

 

“Aku mau muntah.” Keluh Lime.

 

“Kau ini! Dia menyukaimu, Lemon! Baekhyun terpesona padamu!”

 

“Aku tidak yakin…” Balas Lime lalu berbaring. Ia menatap langit-langit kamar, sekilas seperti wajah Baekhyun terpampang di atasnya. “Tapi, apa benar dia tertarik padaku? Hihihii…” Kata Lime terkikik pelan.

 

“Huuuuu!!!” Seru Alice kemudian melempar bantal ke wajah Lime.

~~~

 

Tidak seperti biasanya, Lime sudah bangun lebih pagi. Ia terus tersenyum sendiri mengingat status Baekhyun semalam. Apa dia akan menemukanku? Apa dia akan benar-benar mencariku? Dua kalimat itu terus berputar di kepalanya.

 

“Tunggu dulu..” Kata Lime, berusaha menghentikan pikirannya yang penuh dengan Baekhyun. “Siapa laki-laki yang melakukan rapp semalam. Dia…terlihat lebih menarik.”

 

Lime kembali menimbang. Ia memang suka pada Baekhyun, dan hampir seluruh siswi di sekolahnya menyukai laki-laki itu. Namun partner rappnya semalam membuat gadis itu bimbang. “Rappnya sangat bagus. Dia juga tinggi dan mungkin ada wajah tampan di balik topeng itu. Siapa dia?” Gumam Lime lagi. “Kenapa aku jadi tertarik pada rapper bertopeng itu. Dan hah! Baekhyun pasti hanya bercanda!”

~~~

 

“You’re kidding me, right?” Kata Lime sebelum melewati gerbang sekolahnya.

 

“This is real, Lime.” Jawab Alice sambil menutup mulutnya sendiri.

 

Sebuah pemandangan aneh dan mungkin satu-satunya di dunia. Hampir seluruh siswi yang datang ke sekolah hari ini sudah berambut blonde. Tidak peduli itu rambut pendek, sebahu, atau panjang, semuanya blonde. Alice menatap ngeri siswi-siswi itu, melihat Lime yang mengikuti style rambutnya saja sudah membuatnya kesal. Sekarang hampir satu sekolah berambut blonde.

 

“Kau harus mengajakku ke salon setelah pulang sekolah.” Kata Lime sambil berjalan tergesa-gesa menuju kelasnya. Pandangannya sudah seperti di kuburan karena puluhan siswi blonde itu.

 

Bruukk! Tak sengaja Alice menabrak tubuh seseorang, dan lagi-lagi itu adalah Jiyeon. Benar. Rambut Jiyeon juga sudah blonde sama seperti yang lainnya.

 

“Aku baru tahu ada salon 24 jam yang siap memirangkan rambut puluhan manusia di sekolah ini.” Kata Alice heran sambil memperhatikan Jiyeon. Jiyeon cukup cantik dengan rambut cokelatnya. Tapi sekarang lebih mirip nenek lampir menurut pandangan Alice.

 

“Sebenarnya gadis dalam pesta semalam adalah aku. Aku hanya menggunakan rambut palsu, dan sekarang Baekhyun akan menemukan gadis blonde yang ia cari.” Kata Jiyeon bersemangat dengan senyum mengembang. Kemudian berlalu meninggalkan Lime dan Alice yang masih takjub.

 

~~~

 

“Baekhyun! Akulah gadis yang kau cari!” Seru salah satu siswi. Baekhyun hanya duduk sambil memperhatikan gadis tersebut. Ia sangat yakin ia bisa mengenali gadisnya semalam meskipun sudah ada antrian panjang gadis blonde di depannya.

 

“Aku bisa mengenali gadis blondeku, tapi seperti kau bukan. Next!” Kata Baekhyun santai. Gadis tersebut merengek lalu berlari.

 

Lime hampir memuntahkan rotinya melihat antrian panjang dengan deretan gadis blonde yang mengantri untuk bertatap muka dengan Baekhyun. “Dia benar-benar serius.”

 

“Ayo, katakan padanya bahwa kau adalah gadis blonde itu. Dia pasti bisa mengenalimu. Ayolah, dia sangat menyukaimu, Lime.” Kata Alice berbisik. Beberapa gadis blonde lainnya menatap sinis mereka, menganggap Alice dan Lime akan ikut mengantri.

 

“Mungkin Baekhyun menyukaiku, tapi setelah dia tahu gadis blonde itu adalah aku, dia akan langusng berubah pikiran.” Sahut Lime kemudian berlalu. Alice mendengus kesal sambil mengejar Lime.

 

Tak sadar seseorang mendengar percakapan mereka. Laki-laki itu terdiam sambil mencerna percakapan Alice dan Lime. “Rambut blonde pendek…rapp.. Lime? Dia yang melakukan rapp denganku semalam?”

~~~

 

Chanyeol menopang dagunya sambil memperhatikan Lime yang tertidur pulas di kelas. Ia bisa mengenali rambut pendek itu, hanya saja ia belum yakin apa benar Lime bisa melakukan rapp sebagus itu. Ia juga belum bisa memastikan apakah Lime benar-benar gadis semalam karena sekolahnya sudah menjadi sarang perempuan berambut blonde.

 

Dengan cepat Chanyeol mengalihkan pandangannya ketika Alice datang membawa headset dan memasangkannya ke telinga Lime. Sedikit melirik, Chanyeol menemukan Lime sudah terbangun kemudian tersenyum ke arah Alice.

 

“Kau tahu aku selalu bersemangat dengan lagu ini!” Seru Lime. Chanyeol bisa mendengar jelas percakapan keduanya, karena memang tempat duduk mereka berdekatan.

 

“Boomshakalaka! Boomshalaka!” Gumam Lime dengan suara berat ala TOP.

 

Chanyeol terbelalak, jantungnya hampir meloncat ke luar. ‘Kau memang gadis itu.’ Chanyeol memperhatikan Lime yang bersenandung ria menikmati lagu Big Bang. Gadis itu sempat membuatnya tidak bisa tidur semalam. Lime. Untuk kali pertama ia bertemu dengan gadis seperti Lime. Lime terlihat sangat cuek akan penampilannya, bahkan Lime hanya ikut-ikutan dengan style rambut Alice. Namun di pesta semalam, Lime terlihat sangat cantik meskipun berbalut topeng. Chanyeol segera menggeleng, membuang perasaan kagumnya pada gadis itu.

 

Chanyeol kembali menatap gadis itu. Lime masih asyik dengan lagunya. Sudah berkali-kali ia rewind lagu itu, ia terus bersenandung. Chanyeol semakin yakin bahwa gadis semalam adalah Lime saat Lime melakukan part rapp-nya TOP.

 

“I found you but..have you ever felt like you’re curious about the guy who did rapp with you last night?” Gumam Chanyeol

~~~

 

Alice mendorong Lime ke arah Baekhyun yang sedang membuka pintu mobilnya. Alice sudah meyakinkan Lime bahwa Baekhyun pasti akan mengenalinya.

 

Lime menghela nafas panjang sebelum akhirnya ia menepuk pundak Baekhyun, “Hi.”

 

Baekhyun yang cukup terkejut segera menoleh dan tersenyum ramah. “Ada apa ya?”

 

“Aku hanya ingin mengatakan…..” Belum sempat Lime menyelesaikan kalimatnya, Baekhyun sudah memotong.

 

“Dengar, aku tahu kau juga akan mengatakan bahwa kau adalah gadisku semalam. Tapi gadis ini benar-benar berbeda, dia istimewa. Aku mengenalinya dan…” Sejenak Baekhyun memperhatikan Lime kemudian melanjutkan, “Kau bukan gadis itu.”

 

Deg… seperti ada ratusan jarum yang menancap di wajah Lime. Matanya panas, Lime berusaha menahan butiran bening yang akan keluar dari matanya. Baekhyun kemudian mengangguk dan masuk ke mobilnya, melesat pergi dari parkiran sekolah.

 

Beberapa menit sebelumnya, sebelum Lime mengucap kata “Hi” pada Baekhyun, Chanyeol melihat mereka. Ia tersenyum sinis melihat Lime berbicara pada Baekhyun. Ia berlalu tanpa melihat gadis itu ditinggalkan begitu saja oleh Baekhyun.

~~~

 

Malam yang dingin di kota Seoul. Musim gugur akan segera tergantikan oleh musim dingin yang panjang. Angin malam sudah terasa hawa dinginnya, cukup dingin untuk menusuk tulang hingga ke sumsum. Di sudut taman, seorang gadis menangis terisak. Gadis itu meraih handphone-nya dan berusaha menghubungi seseorang. “Juhee.. carikan aku salon 24 jam. Aku ingin mewarnai rambutku dengan warna cokelat. Uhm…iya…hubungi aku kalau sudah kau temukan. Uhmm…ne..”

 

Lime menghapus air mata di pipinya. Hatinya benar-benar sakit. Baekhyun sangat yakin bahwa ia bisa menemukan Lime, namun kenyataannya Baekhyun juga sangat yakin bahwa Lime bukan gadis yang dicarinya.

 

“Bodoh, kau gadis bodoh!” Lime tersentak kaget mendengar seseorang dengan suara berat bergumam. Ia menoleh ke arah belakang, seorang laki-laki yang sangat di kenalnya jalan sempoyongan kemudian duduk di bangku taman yang juga diduduki Lime.

 

“Bodoh…kau bodoh…” Kata laki-laki itu lagi.

 

“Chanyeol ah~ kau mabuk? Baumu aneh!” Gerutu Lime. Ia memperhatikan Chanyeol, laki-laki itu masih lengkap dengan seragam sekolahnya. Aroma tidak enak terhirup saat Chanyeol terus menggerutu. “Yaah…kau benar-benar mabuk? Bagaimana bisa siswa sepertimu mabuk masih menggunakan seragam!” semprot Lime.

 

Chanyeol hanya terkikik. Tiba-tiba tubuhnya melemas dan oleng, langsung mendaratkan kepalanya di paha Lime. Ingin rasanya Lime mendorong tubuh Chanyeol dan membiarkannya berguling di rumput. Chanyeol malah menggeliat pelan memperbaiki posisi tidurnya di pada Lime, ia tidur telentang.

 

Lime jadi tak tega meninggalkan teman sekelasnya itu. Ia membiarkan Chanyeol menggunakan pahanya sebagai bantal. Lime memperhatikan wajah Chanyeol yang tertidur, polos sekali. “Kau terlihat tampan, seandainya kau selalu diam seperti ini di kelas.”

 

Lime memperhatikan Chanyeol lebih dekat, tanpa sadar tangannya memainkan rambut keriting Chanyeol. “Kau punya bibir yang manis, kenapa aku baru sadar sekarang. Kau juga tinggi, baju apapun sangat cocok untukmu. Rambutmu lucu, warna cokelat keriting….”

 

Seperti sebuah flashback di otaknya, sanjungannya itu mengingatkannya pada laki-laki yang menjadi partner rapp-nya di pesta itu. Ia memperhatikan Chanyeol sekali lagi. Ia mulai gelisah, tak sadar ia menggerak-gerakkan kakinya ke rerumputan.

 

Suara gesekan sepatunya dengan daun yang berguguran memberinya ide. Ia meraih sebuah daun yang gugur, daun gugur berwarna cokelat. Lime member dua lubang pada daun itu, seperti topeng yang ia kenakan di pesta. Perlahan ia meletakkan topeng dari daun itu ke wajah Chanyeol, tepat di bagian yang tertutup oleh topeng.

 

Lime terhenyak dari bangku, tidak salah lagi. Chanyeol adalah laki-laki di pesta itu. Sebenarnya Lime tidak terlalu tertarik dengan Baekhyun lagi, apalagi sejak “sayembara rambut blonde” Baekhyun. Lime merasa Baekhyun benar-benar sombong. Ia tak bersimpati lagi. Ia lebih tertarik pada laki-laki yang melakukan rapp dengannya.

 

Handphone Lime bergetar, ia segera membuka pesan. Ternyata dari Alice, berisi alamat salon 24 jam yang dimaksud. Perlahan Lime bangun dan meletakkan kepalanya Chanyeol dengan hati-hati. Sebelum meninggalkan Chanyeol Lime berbisik pelan, “I found you. Do you know that it was me?”

~~~

 

Lime cukup percaya diri dengan rambut barunya yang berwarna cokelat di tengah lautan para siswi berambut blonde. Hari ini masih berlanjut “sayembara rambut blonde” Baekhyun. Lime juga berpikir ini cara terbaik agar Baekhyun menganggap kejadian sebelumnya tidak terlalu serius.

 

Lime masuk ke kelasnya dengan santai setelah makan siang, Alice tidak bersamanya karena Alice kembali bermasalah dengan perutnya. Beberapa mata menatapnya aneh karena memang ia satu-satunya makhluk jenis perempuan yang tidak berambut blonde. Ia duduk kemudian menatap meja Chanyeol yang kosong.

 

“Chanyeol kemana…” Keluh Lime. Entah perasaan apa yang dirasakannya, ia khawatir. Setelah tahu bahwa Chanyeol adalah laki-laki di pesta itu, ia menjadi gelisah. Sejarahnya ia dan Chanyeol sangat jarang akur di kelas. Mereka berdua akan saling berbalas untuk mengerjai satu sama lain. Dan untuk perasaan lebih dari sekedar “teman”, Lime masih menampiknya.

~~~

 

Alice keluar dari toilet sambil menggerutu, perutnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Sesaat setelah keluar dari toilet, seorang laki-laki masuk ke dalam toilet perempuan. Sontak Alice kaget, namun lebih mengejutkan lagi ketika banyak gadis blonde berlari melewatinya.

 

“YAA! Kau laki-laki kan huh? Cepat keluar!” Bentak Alice. Laki-laki berbalik kea rah Alice. Alice ternganga karena laki-laki itu adalah Baekhyun.

 

“Selamatkan aku sebentar saja, ya? Tolong! Mereka mengejarku terus.” Pinta Baekhyun.

 

“Terserah kau saja.” Sahut Alice. Cukup lama mereka berdua di dalam toilet itu. Setelah merasa aman, Alice meminta Baekhyun untuk keluar.

 

“Sebentar saja, ya?”

 

“Baiklah tapi jangan terlalu lama!” Balas Alice sinis. Ia sudah tidak menyukai Baekhyun sejak laki-laki itu meninggalkan Lime begitu saja.

 

Baekhyun memperhatikan Alice sebentar kemudian berkata, “Kau merubah rambutmu menjadi blonde juga ya.”

 

“Aku? Tidak. Bahkan jauh sebelum pesta itu aku dan sahabatku sudah berambut blonde.” Cetus Alice. “Kau pikir aku sama seperti perempuan di luar sana, begitu? Cih!”

 

“Aku hanya mengira.” Kata Baekhyun. “Tunggu, kau bilang rambutmu blonde sebelum pesta dan..temanmu juga?”

 

“Tentu. Kami berdua bukan tipe perempuan yang mengejar-ngejar laki-laki sepertimu. Dan aku juga bukan gadis yang kau maksud.” Jawab Alice ceplas-ceplos.

 

“Jika kau bukan gadisku di pesta itu berarti…”

 

“YA! Temanku itulah yang sebenarnya kau cari. Tapi sayang kau mengabaikannya. Kau ingat gadis di parkiran itu, huh?!” Semprot Alice. Ia sudah tidak tahan dengan sikap sombong Baekhyun. Dan jika itu menyangkut sahabatnya, Alice tidak bisa menahan diri.

 

“Panggil dia sekarang! Aku…harus minta maaf. Dan siapapun dia, dia sangat istimewa!” Pinta Baekhyun sambil menggoyangkan bahu Alice.

 

“Oke oke, akan kutelpon Lime.” Kata Alice. Alice berbicara dengan Lime dan meminta Lime untuk menemuinya di lapangan basket seperti yang Baekhyun instruksikan.

~~~

 

Lime sudah menunggu Alice di lapangan basket. Beberapa siswa sedang melakukan latihan sehingga Lime memilih duduk. Ia menemukan sosok Chanyeol yang tengah asyik bermain basket bersama yang lain.

 

Chanyeol menyadari kehadiran Lime yang memperhatikannya dari pinggir lapangan. Ia menjadi sedikit grogi. Sebenarnya Chanyeol tidak terlalu mabuk semalam. Ia sadar bahwa gadis yang meminjaminya paha itu adalah Lime, ia hanya ingin tahu bagaimana reaksi Lime. Chanyeol yakin Lime sudah tahu dialah laki-laki di pesta yang melakukan rapp bersamanya.

 

Sambil terus bermain, Chanyeol melirik Lime yang masih memandanginya. Pandangannya terusik dengan kehadiran Baekhyun yang mendekati Lime.

 

“Kau?” Kata Lime pada Baekhyun.

 

“Maaf, aku tidak mengenalimu saat itu. Kau mencoba memberitahuku tapi aku malah meninggalkanmu.” Kata Baekhyun menyesal. Raut sesal terlukis di wajah Baekhyun. Lime melihat Alice mengekor di belakang Baekhyun, ‘dia pasti sudah memberitahu Baekhyun’ gumam Lime dalam hati.

 

“Kau bilang kau akan mengenaliku, kau bahkan sangat yakin akan mengenali gadis yang kau maksud. Tapi ternyata tidak. Kau malah meninggalkanku.” Cetus Lime sinis.

 

“Okay itu salahku. Aku minta maaf. Lime…aku tidak menyangka. Gadis itu adalah kamu.” Kata Baekhyun lalu meraih tangan Lime. “Kau sangat special di malam itu….”

 

BRUKK!! Seseorang ambruk ketika bola basket mengenai kepalanya. Chanyeol. Ia tidak focus lagi pada permainannya sehingga bola itu melayang mengenai kepalanya. Refleks Lime membuang jauh tangan Baekhyun dan berlari ke tempat Chanyeol tersungkur. Beberapa siswa membopongnya ke ruang kesehatan. Lime mengekor tanpa peduli Baekhyun yang masih menatapnya pilu.

~~~

 

Chanyeol mengusap matanya, pandangannya masih kabur. Kepalanya masih terasa berat karena hantaman bola basket. Ia memandang langit-langit ruang kesehatan sebentar, membiarkan otaknya kembali pada posisi semula. Namun otaknya memberi ingatan akan sesuatu yang membuatnya tidak focus bermain bola basket. “Lime…”

 

“Kau memanggilku?” Tanya Lime. Chanyeol menoleh kaget melihat sosok Lime yang duduk di samping ranjangnya.

 

“Menurutmu?” Chanyeol balik bertanya seraya mencoba untuk bangun, dengan cepat Lime membantunya untuk duduk.

 

“Ah mungkin aku saja yang salah dengar.”

 

Hening. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Tidak tahu harus memulai dengan apa dan bagaimana.

 

“Ehm…kau sudah lama disini?” Tanya Chanyeol membuka suara.

 

“Sekitar 1 jam. Kau pingsan cukup lama.” Jawab Lime seperlunya.

 

Lime merasa tubuhnya panas dingin berduaan dengan Chanyeol di dalam ruang tertutup seperti ini. Jika saja tidak ada perasaan apapun mungkin ia akan menghajar Chanyeol habis-habisan. Namun sepertinya perasaan yang dimaksud sudah membuncah indah di hatinya. Mungkin rasa gugup yang ia rasakan, namun itulah indahnya.

 

“Kau…rapper di pesta itu ya?” Tanya Chanyeol lagi.

 

Dengan mantap Lime mengangguk dan balik bertanya, “Dan kau partnernya?”

 

“Ah iya, itu aku. Tidak kusangka ternyata kau bagus juga.” Jawab Chanyeol sambil mengelus bagian kepalanya yang terkena bola.

 

Refleks Lime bangkit dari duduknya ikut mengelus kepala Chanyeol, “Masih sakit? Seharusnya aku kompres saja tadi.”

 

“Tidak apa-apa, ini sudah baikan.” Kata Chanyeol, tangannya kini tak mengelus bagian kepalanya, namun mengelus punggung tangan Lime. Jarak keduanya sangat dekat, Chanyeol bisa merasakan deru nafas Lime di pipinya. Pandangan Chanyeol beralih pada manic mata Lime, mata bening namun penuh kekhawatiran. “Sudah, aku akan baik-baik saja.”

 

Lime tidak mengindahkan perkataan Chanyeol, tangannya masih aktif mengelus kepalanya Chanyeol. Dan chuu~ sebuah kecupan manis mendarat di pipi Lime. Lime mematung menatap Chanyeol, tidak menyangka laki-laki itu akan mencium pipinya. Tangannya beralih mengelus pipinya sendiri.

 

“Kenapa kau menciumku?” Tanya Lime malu-malu.

 

“Aku suka, ya maksudnya aku suka padamu.” Jawab Chanyeol.

 

“Lalu?”

 

“Kau sudah resmi menjadi pacarku.”

 

“Heh? Bagaimana bisa seperti itu!” Protes Lime sambil memajukan bibirnya.

 

“Jadi kau tidak mau?” Tanya Chanyeol sambil menatap Lime.

 

“Aku tidak suka, kau terlalu tinggi! Akan sangat susah untuk menciummu.” Gumam Lime sambil menunduk malu.

 

Chanyeol tertawa keras lalu merangkul bahu Lime, “Hanya gara-gara itu? Kalau begitu aku tidak akan membiarkanmu berjinjit untuk menciumku, aku akan menunduk.”

 

“Jangan! Itu akan sangat memalukan!”

 

“Hmmm…kalau begitu aku akan menggendongmu. Hahahaa….”

 

Lime menjitak keras kepalanya Chanyeol. Tepat di bagian yang terkena bola. Chanyeol berpura-pura kesakitan dan pingsan lagi.

 

“Yayayaa! Jangan pingsan lagi!” Semprot Lime sambil mengguncang tubuh Chanyeol.

 

Dengan nakal Chanyeol membuka matanya, “Sepertinya cupid menembakkan panah cintanya tepat di kepalaku, bukan di hatiku.”

 

“Yaaaaaaa!” Lime berteriak keras, kemudian Chanyeol bangun lagi dan menyumpal mulut Lime dengan ciuman.

~~~

 

EPILOG

 

“Jadi sekarang Lime berpacaran dengan Chanyeol?” Tanya Baekhyun pada Alice. Keduanya tengah duduk di bangku perpustakaan yang lenggang.

 

“Sudah hampir 2 bulan. Kau masih belum bisa melupakan temanku juga? Dia bukan gadis blonde lagi.” Kata Alice santai.

 

“Aku tidak bisa melupakannya, tapi aku sudah tidak menyukainya lagi. Aku menyukai gadis blonde yang lain.”

 

“Siapa? Aku rasa seminggu setelah sayembara gadis blonde mu ditutup, sudah tidak ada lagi siswi

yang berambut blonde. Bahkan Jiyeon. Sepertinya nenek lampir itu sudah tenang di alamnya.”

 

“Ada, satu orang lain.”

 

“Siapa?” Tanya Alice penasaran.

 

Baekhyun meraih cermin yang ia sembunyikan dari balik jaketnya. Kemudian meminta Alice untuk bercermin. “Itu. Dialah gadis blonde yang sebenarnya aku inginkan.”

 

END

4 thoughts on “Season of Love – Autumn

  1. KYAAAA SUMPAH SERU BANGET NI FF!!! XD *menggila*
    tapi kok aku ngerasanya kependekan ya?? kurang panjang ceritanya gitu wkwkwkwk

    gak tau deh tadi ada typo atau gak, aku terlalu hanyut sama ceritanya wkwkwk XD

    good job, mba!! :)
    ayo cepetan post season berikutnya!

    keep writing (y)

Kritik, Saran dan lain-lain DISINI

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s