Time Machine

timemachine

Time Machine
Main Cast :
Choi So Yeon
Henry Lau

Cast :

Lee Gikwang

Poster : so @ sohwaart.wordpress.com

Author: SoYeon_Ai
——————————–


-Author Pov-

Gadis berambut pendek itu terdiam, dia hanya menopangkan dagunya sambil mengaduk-aduk minumannya acak
Matanya lurus menatap ke sebuah panggung kecil tapi pandanganya kosong
Tak sampai berapa menit kedua bola matanya sudah meneteskan air mata
Dia membiarkan air matanya itu terjatuh tanpa menghapusnya. Mungkin bisa mengurangi rasa sakit pikirnya
Gadis itu menunduk tangannya meremas-meremas dadanya. Badanya bergetar hingga meja yang ia tempati juga ikut sedikit bergetar
Dia mengigit bibir bagian bawahnya tidak membiarkan sedikitpun suara keluar namum sayang dia gagal isakannya terdengar walau sangat kecil dan parau
Tak ada satupun staf maupun pelanggan yang datang menghiburnya atau sekedar bertanya apa dia baik-baik saja
Karena para staf maupun pelanggan di sini sudah tahu apa penyebab gadis itu menangis
Karena dia….
-FlashBack-

” oppa neo odiya? ” gadis itu sedang celingak-celinguk kebingungan tangannya kanannya memegan telpon dan tangan kirinya bebas
” mianhe nampaknya oppa sedikit terlambat, jalanan macet parah ” kata laki-laki di seberang sana
Gadis itu menggembungkan pipinya wajahnya nampak kesal
” arasso, aku akan menunggumu ” tutup gadis itu
Dia menghela nafasnya, menyandarkan badannya pada sandaran kursi yang ia duduki
Disinilah dia sekarang di depan sebuah taman menunggu kekasihnya datang kemari
” yeon-ah mianhe ” seorang laki-laki datang dengan nafas tersenggal-senggal
Gadis itu hanya terdiam menatap kekasihnya berdiri di hadapannya dengan nafas tak beraturan
” kau marah? “
” mianhe oppa tidak tahu kalau jalanan akan sangat macet ” laki-laki tadi mencoba menjelaskan
” gwechanna, duduklah ” sang gadis menepuk bangku di sebelahnya yang kosong
Laki-laki tersemyum, syukurlah kekasihnya itu tidak marah
-FlashBack End-

Kenangan masa lalunya berhenti sampai di situ, dia takut jika di teruskan akan membuatnya terluka lagi
Gadis itu berjalan tanpa energi, seolah-olah nyawanya telah hilang melayang
Irama yang indah mengalun lembut di sisi kiri jalan
Seorang pengamen jalanan sedang memainkan saxophonenya dengan indahnya
Dia terus melihat ke arah pengamen tersebut, sebuah senyuman pahit terlukis di bibirnya
Airmatanya kembali keluar lagi di matanya yang sudah bengkak
Akhirnya gadis itu memilih kembali melanjutkan perjalanannya
” jami wa, jami wa, i jiteun nunmul kkeute kkeuti wa
nae bang, changmun bakk, gwanshim bakk
deung dollin chaero myeochil bami ga, ni gieoki “

Suara yang tak asing lagi di telinganya bersenandung
Gadis itu mengangkat kepalanya mencari sumber suara tersebut berasal
TV yang di gantung di display toko CD menampilkan sebuah pertunjukan laki-laki yang bisa kita ketahui adalah kekasihnya ini terpampang
Laki-laki itu sedang memegang gitar akustik dengan jaket baseball warna merah yang ia kenakan
Di hadapan ribuan orang laki-laki itu bernyanyi
Suaranya yang lembut dan menenangkan membuat hati gadis ini semakin terasa tercabik-cabik
Kembali dia menangis, entah untuk yang keberapa
Dia terdiam di depan toko CD, matanya menatap lekat ke arah TV, pandangannya tak bisa lepas dari lelaki itu
” andante ” laki-laki itu menutup penampilannya dengan sebuah senyum yang menghadap ke arah kamera
Isakan yang selama ini dia tahan pecah, dia meraung-raung seperti orang aneh. Air matanya terus berjatuhan dan hatinya seakan mau pecah karena rasa sakit yang luar biasa tak tertahankan
Bayangan demi bayangan lelaki itu satu persatu datang menghampiri gadis itu
Sebuah senyuman, permainan alat musik, nyanyian, tarian semuanya melebur menjadi satu dalam ingatan gadis itu
——————————–
Soyeon menggerakan tubuhnya aneh di depan belasan cermin yang mengitarinya
” butuh bantuan nyonya choi? Atau harus kupanggil nyonya lau? ” seorang laki-laki berdiri di depan pintu dia terkekeh dengan ucapannya sendiri
Soyeon hanya menatap laki-laki itu sekilas lalu kembali sibuk dengan dirinya sendiri
Merasa terabaikan lelaki itu berjalan mendekati soyeon, memegang lengannya dari belakang dan menuntun gadis itu untuk bergerak
” like this mrs.lau ” bisik lelaki itu yang berhasil membuat soyeon tersipu malu
Kini mereka tengah asik berputar-putar melakukan gerakan demi gerakan
” kenapa tidak memberitahuku jika ingin latihan? ” laki-laki itu membuka percakapan
” kau terlalu sibuk dengan persiapan konsermu mr.lau ” sindir soyeon
Henry tersenyum simpul dia mengehentikan gerakannya dan memeluk soyeon dari belakang
” kau merindukanku huh? Apa itu bentuk protes darimu? ” tanya henry menyandarkan kepalanya di bahu soyeon
” kau benar-benar sibuk hingga kau bahkan tak punya waktu untukku ” keluh soyeon
” i’m sorry, aku berjanji setelah konser kita akan berkencan ” kata henry tepat di kupingnya yang membuat jantung soyeon berdetak tak karuan
-FlashBack End-

Soyeon menghapus air matanya, tangannya memeluk kakinya dan sebuah biola menenggelamkan kepalanya di biola tersebut
Sebuah poster besar bergambar henry terletak di hadapannya soyeon
Berbagai bingkai foto yang berisikan dia dan henry memenuhi kamarnya
Telponnya bergetar
Dengan lunglai soyeon mengangkat telpon
” neo gwechanna? ” sebuah suara panik di ujung sana langsung bertanya
Soyeon tidak menjawab, dia sedang tidak baik-baik saja
” aku merindukannya, sangat merindukannya ” dua kalimat dari hati soyeon yang paling dalam meluncur begitu saja
Orang di sebrang sana terdiam dia tidak tahu harus berkata apa
” apa yang harus kulakukan? ” tanya soyeon lirih airmatanya kembali terjatuh
” besok kita akan menemuinya ” kini orang sebrang sana berbicara mencoba membuat soyeon sedikit tenang
” aku tidak mau, bagaimana jika ia marah kepadaku? Bagaimana jika ia menolak kehadiranku? ” tangan soyeon bergetar dia benar-benar takut henry tidak akan mau menerima kehadarinnya
” tidak akan, dia akan menerimamu dengan senyum mengembang, percayalah padaku ” kata-katanya cukup membuat soyeon yakin jika henry pasti akan menerimanya
Perlahan soyeon tersenyum
” tidurlah besok kita akan pergi ” soyeon mengangguk walaupun orang di sebrang sana tak akan mengerti dia mengangguk
” jalja ” kata orang itu lembut
Soyeon meletakan handphonenya, mengelus pelan biola yang berada di pelukannya
Airmatanya sudah turun banyak ke biola ini
——————————–

Soyeon terus mengigit kukunya dia gugup, takut jika henry benar-benar menolak kehadirannya
Gikwang menarik pelan tangan soyeon, dia mengenggam lembut tangan soyeon
” tenanglah henry pasti akan menerimamu ” gikwang tersenyum manis, matanya menegaskan bahwa ia tidak berbohong
” kau yakin? ” tanya soyeon
Gikwang tersenyum semakin lebar menadakan bahwa ia yakin henry akan menerima soyeon
Soyeon terdiam, kata-kata gikwang menghilangkan kegugupannya. Dia membiarkan tangannya berada dalam genggaman gikwang

Disinilah gikwang dan soyeon sekarang di sebuah pemakaman
Angin berhembus dengan sejuknya
” lihat henry menerimamu kan? ” tanya gikwang
Soyeon hanya tersenyum, henry benar-benar menerimanya
Soyeon maju setapak mendekati kuburan henry
” oerinmaniya oppa ” kata soyeon lirih
Soyeon menghela nafas sejenak
” bogoshipposo oppa, jeongmal bogoshipppso, mani-mani bogoshipda “
Soyeon menahan airmatanya agar tidak terjatuh
” oppa bagaimana kabarmu? Baikkah? “
” oppa maafkan aku jika bukan karena aku semuanya takkan jadi begini, jika bukan karena aku kau tidak akan pergi meninggalkanku ” kini airmata yang sedari tadi ia tahan telah tumpah
” maafkan aku oppa aku memang kekasihmu yang membawa sial, karenaku kau kehilangan banyak fans dan karenaku juga kau… kehilangan nyawa “
-FlashBack-

Soyeon sedang sibuk bermain ke belakang panggung. Dia sedang asyik bermain dengan peralatan-peralatan konser
Sebuah tali-tali menarik perhatian soyeon, dia menyentuh satu persatu tali-tali itu

” yak turunkan lampunya ” kata henry memerintahkan lampu panggung untuk di turunkan
Dan ” brak ” henry meninggal di tempat karena lampu yang di turunkan jatuh tepat mengenai dirinya
Tak ada penyebab pasti namun menurut polisi ini di akibatkan karena tali-tali penyangga sudah tua. Tapi menurut soyeon…
-FlashBackEnd-

” maafkan aku oppa aku adalah kekasih yang jahat yang membunuh kekasihnya sendiri ” soyeon bersimpuh di tanah matanya sudah amat sangat bengkak karena terlalu sering menangis dan hatinya… Ia rasa sudah hancur berkeping-keping
” seandainya aku tidak menyentuh tali-tali itu, seandainya aku tidak kebelakang panggung, seandainya aku tidak hadir dalam hidupmu… Pasti semuanya tidak akan jadi seperti ini ” soyeon mengeluarkan kata-kata yang selama ini ingin ia ucapkan, kata yang selalu ia simpan sendiri
Gikwang terdiam sungguh ia ingin berkata kepada soyeon kalau kematian henry bukan kesalahannya namun ia tidak bisa mulutnya terlalu kaku untuk mengucapkan kata-kata itu
Tik. Sebuah air jatuh dari langit menyetuh tangan soyeon
Tetesan air itu lama kelamaan menjadi banyak. Menjadi hujan deras
” soyeon kita harus segera berteduh ” perintah gikwang
” aku masih ingin di sini ” tolak soyeon lirih
Gikwang mendesah dia segera berlari meninggalkan soyeon yang masih bersimpuh

” oppa kau menangis? Kau bersedih karna aku datang? ” tanya soyeon
” oppa… Aku membawakan ini untukmu ” soyeon menaruh sebuah miniatur biola yang ia letakan di samping bunga yang ia bawa
” karna aku ingin menyimpan biolamu, jadi aku hanya memberikan ini, bisakah aku menyimpan biolamu? ” tanya soyeon
” tentu saja bisa ” kata gikwang dari arah belakang
Dia memayungi soyeon agar tidak kehujanan
” apa kau tidak tahu seberapa besar cinta henry padamu? Dia mencintaimu lebih dari yang kau tahu, lebih dari yang siapapun tahu, lebih dari semua orang di muka bumi ini ” gikwang memeluk soyeon
Soyeon terdiam dalam pelukan gikwang dia tidak tahu harus berkata apa
” karna itu berhentilah menyalahkan dirimu sendiri yeon, henry meninggal karna sudah takdir tanpa kau memegang tali itu jika itu sudah takdirnya maka hari itu juga ia akan meninggal, dia tidak menyalahkanmu yeon-ah “
” hiduplah dengan bahagia yeon, jalani hidupmu, berhenti menyalahkan dirimu sendiri ” kata-kata gikwang membuat soyeon tersadar bahwa ini bukan sepenuhnya kesalahannya
Gikwang menghela nafas lega kata-kata yang selama ini terkunci rapat dalam bibirnya akhirnya terbuka juga, seulas senyum mengembang di bibirnya
Soyeon menatap kearah kuburan henry
” oppa mianhe… Saranghae “
——————————–

” lagu ini kupersembahkan untuk kekasihku yang bahagia di alam sana… Henry ” soyeon duduk dengan piano di depannya dia berhadapan dengan beberapa pengunjung kafe
” itsumo yori sukoshi hiroi heya tada hitori
It’s over, guess it’s over
futari de tsukuri ageta sutoorii mo munashiku
konna ni kantan ni kuzurete shimau nante

One mistake, got a one regret
“daremo kanpeki janai” tte
sou iikika sete mite mo
nani wo shitemo kizu wa iyasenakute

ima time machine ni norikonde
anata ni ai ni yuku koto ga dekita nara
mou nani mo negawanai
hakanakute tooi kioku ni naru mae ni

I need a time machine, oh
I need a time machine, oh

hitori de sugosu jikan wa oso sugite
ayamachi no batsu wa amari ni mo omoi
anata ga saigo ni nokoshita words
ima demo zutto rifurein tomaranai mada mune ga itamu

Just one mistake, just one regret
wagamama mo ima wa itoshikute

ima time machine ni norikonde
anata ni ai ni yuku koto ga dekita nara
mou nani mo negawanai
hakanakute tooi kioku ni naru mae ni

I need a time machine

jikuu tobikoete anata ni aetara
tatoe onaji
ketsumatsu mukaeta toshite mo kitto
kui wa nokoranai hazu dakara

ima time machine ni norikonde
anata ni ai ni yuku koto ga dekita nara
mou nani mo negawanai
hakanakute tooi kioku ni naru mae ni (kioku ni naru mae ni)

Yeah futari no omoide wasurete shimau mae ni
Gimme a time machine
Oh, Gimme a time machine
Oh, Gimme a time machine “

Soyeon menghentikan permainan pianonya. Sorak sorai penonton pun menggema. Soyeon tersenyum

” aku berharap mesin waktu itu benar-benar ada, aku berharap aku bisa memutar ulang waktu… mengubah kenyataan, tapi aku bukan tuhan aku tak bisa memainkan waktuku ” soyeon melirik ke arah gikwang, gikwang tersenyum – soyeon pun tersenyum

” seseorang pernah berkata kepadaku, kita tak akan pernah bisa mengulang waktu jadi hanya jalani saja sisa waktu yang tersisa sebaik mungkin, dan ya aku akan berusaha sebaik mungkin “

-The End-

hua gimana bagus kah? sumpah ngerasa ending.a kurang greget gimana gitu iya gak sih?

oiya penjelasan… disini aku emang gak ngegambarin sosok soyeon yang bener” ngebet pgen bngt punya mesin waktu

tapi sebenernya jauh di lubuk hatinya soyeon di menyesali semua perbuatannya walaupun emang itu gk sepenuhnya salah dia

dan ini ff perdana yang di publish disini hope you like and keep RCL🙂

okey itu jangan lupa tinggalin jejak

2 thoughts on “Time Machine

  1. aduh nyesek bacanya thor😥
    pas baca bagian henry kejatuhan(?) lampu, gak kebayang itu gimana o.o pasti serem hiiiii

    ceritanya bagus, tapo emang endingnya kurang greget wkwkwk😄

    keep writing (y)😉 ^^

Kritik, Saran dan lain-lain DISINI

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s