TIME

Hi! hm, ini ff haesica pertama yg saya share disini.udah lama juga nggak buat ff haesik yg baru, hehe (senyum paksa)

semoga yg baca bisa puas ya. soalnya buat ff ini cuma sehari dan ditengah-tengah kegalauan yg melanda😥

Tittle: Time

Gendre: Romance, Angst, Family

Cast: Jessica Jung (SNSD)

Lee Donghae (SUJU)

Other Cast: Krystal Jung f(x)

Choi Siwon (SUJU)

Lee Donghwa

etc

Author:-PrettyBoy- (@FaradindaR)

Untitledee4-1_副本

Jessica masih duduk menunggu di taman, mata foxy nya sesekali memandang ke seluruh taman. Anak-anak kecil yang sedang bermain terkadang membuat Jessica tersenyum dan menghilangkan rasa khawatirnya terhadap sang kekasih yang juga tak kunjung datang. Mereka janjian jam empat sore, tapi sekarang sudah jam lima sore, kekasihnya belum datang juga.

“JESSICA”

Wanita cantik itu mendongak, mendapati sang kekasih yang tersenyum senang sedang berdiri tak jauh dari hadapannya. Dengan menggengam sepuluh buah balon bermacam-macam warna, pria bernama lengkap Lee Donghae tadi berlari menghampiri Jessica.

“Maaf membuat mu menunggu. Ini untuk mu” Donghae memberikan balon yang di bawanya untuk Jessica

Jessica berdiri dengan senyumannya sembari mengambil balon itu. Sejak dulu, dia memang selalu senang melihat balon yang punya banyak warna, apalagi jika sudah terbang ke udara.

“Terimakasih” Jessica memeluk Donghae senang

“Eonnie” seorang gadis kecil menarik-narik kaos berwarna biru yang di kenakan Jessica

Donghae melepaskan pelukan Jessica, ia saling bertukar pandang, lalu mereka berdua berjongkok di depan gadis kecil itu.

“Laulen boleh minta balonnya?” pinta Lauren dengan matanya yang berbinar lucu

“Tentu saja. Lauren mau yang warna apa?” tanya Jessica

“Melah muda” jawab Lauren semangat

“Merah muda, ini dia” Jessica menyodorkan sebuah balon yang di inginkan Lauren

“Laulen, ayo main lagi”

Donghae tersenyum ketika melihat seorang anak laki-laki yang menarik tangan Lauren. Melihat kedua anak itu, mengingatkannya pada masa kecilnya dulu. Donghae mengambil balon berwarna biru dari tangan Jessica, lalu memberikannya pada anak laki-laki tadi.

“Leo tidak cuka main balon” tolak Leo

Donghae mencubit pipi gembul Leo. “Kaliankan berpasangan, kasihan balon Lauren jika dia juga tidak punya pasangan. Jadi Leo harus ambil balon ini”

Leo menatap Lauren dan balon yang di pegangnya, menimbang-nimbang ucapan Donghae. Tangannya terjulur secara perlahan, menerima balon yang di berikan Donghae setelah ia menimbang-nimbang bahwa yang di katakan Donghae mungkin benar.

“Gamcahamnida Eonnie, Oppa” seru kedua anak kecil itu bersamaan dan berlari menjauh

Jessica berdiri dan di ikuti Donghae, matanya memandangi sekumpulan anak yang ikut bermain dengan Leo dan Lauren. Donghae menatap Jessica bingung, wanita itu tersenyum, tanpa mengatakan apapun, ia malah berlari ke arah kerumunan anak-anak yang di lihatnya.

Donghae sama sekali tidak marah, ternyata, Jessica membagi-bagikan balon yang di bawanya untuk kerumunan anak-anak tadi. Setelah selesai, Donghae kembali menghampirinya dengan menenteng sebuah balon berwarna putih.

“Kenapa balon ini tidak kau berikan juga?” ucap Donghae bingung

“Aku mau, kita mengucapkan permohonan kita di balon ini” balas Jessica senang

Donghae tertawa mendengarnya. “Kau ada-ada saja. Mengucapkan permohonan itu pada Tuhan, bukan dengan balon”

“Putih itu suci dan bersih, sama dengan Tuhan. Jika mengucapkan permohonan kita, lalu menerbangkannya, aku percaya, balon ini pasti akan menyampaikannya pada Tuhan” jelas Jessica serius

Tak mendapatkan balasan apapun dari sang kekasih, Jessica merajuk, memeluk lengan Donghae dan menidurkan kepalanya di atas bahu lebar Donghae.

“Sekali ini saja, aku mohon” pinta Jessica

Donghae menghela nafas panjang, sebagai anak Tuhan yang taat, Donghae sebenarnya tidak benar-benar percaya dengan ucapan yang di lontarkan Jessica. Tapi ketika matanya bertemu dengan mata Jessica, Donghae akhirnya luluh, pasalnya, Jessica benar-benar memasang tampang memelasnya.

“Okok. Ayo kita lakukan”

Jessica melompat senang. Ia meletakkan balon tadi di hadapannya dan Donghae sembari duduk kembali di tempatnya.

“Kau duluan” pinta Jessica

“Apa? Kenapa harus aku?” protes Donghae

“Jangan banyak bertanya. Cepat katakan permintaan mu” paksa Jessica

Donghae lagi-lagi menghela nafasnya. Telapak tangannya yang besar menggapai balon itu dan mendekatkannya pada mulutnya.

“Semoga, hmm, semoga kita semua di berikan kebahagiaan”

“Itu saja?”

“Memang aku harus bicara apa?”

“Harusnya kau meminta agar bisa menikah dengan ku”

“Apa? Hahaha”

“Kau tidak mau menikah dengan ku ya?”

“Memang kau mau?”

“Tentu saja!”

Jessica benar-benar kesal, dia mengenal Donghae sejak mereka kecil, menjalin kasih hingga detik ini. Umur keduanya bahkan sudah cukup matang untuk membangung rumah tangga. Ok! Jessica memang tahu jelas jika Donghae bukan pria yang peka, bahkan terkesan sedikit bodoh, tapi ia lelah menunggu terus-terusan. Jessica memang berharap besar, pasalnya, ketika mereka kecil, Donghae selalu berjanji akan menikahinya.

“Kau marah?” Donghae tersenyum melihat Jessica yang malah membelakanginya. “Kau benar-benar ingin menikah dengan ku?”

“Kau sudah berjanji dengan ku!” sahut Jessica jengkel

“Tapi aku tidak yakin loh bisa membahagiakan mu” Donghae menatap ke atas, melihat langit berwarna biru cerah

Jessica semakin merasa kesal, ia pun memilih memakai tasnya, berdiri dan bermaksud meninggalkan Donghae. Tapi langkahnya terhenti ketika Donghae menggenggam tangannya dengan cukup erat.

“Aku akan menepati janji ku”

Donghae melangkah, memutar tubuh Jessica untuk menghadapnya, lalu mengeluarkan sebuah kotak cincin dari kantung celananya. Ketika Donghae membuka kotak itu, sebuah cincin berwarna putih yang cantik mampu membuat Jessica juga tersenyum dengan cantik.

“Menikahlah dengan ku, Jessica Jung” kata Donghae mantap

“Kau—” Jessica merasa terharu, dengan cepat ia menubruk tubuh Donghae, memeluknya dengan erat

“Jangan menangis. Ayo pakai cincinnya”

Jessica menahan tangisnya, perlahan tapi pasti, ia menerima uluran tangan Donghae. Jantungnya berdegup sangat cepat ketika Donghae mulai memasukkan cincin cantik itu ke dalam jari manisnya. Setelah selesai, Donghae mengecup tangan Jessica dan beralih mencium keningnya.

“Jadi kapan kita menikah?” sahut Donghae

“Hm, lima bulan lagi?”

Donghae memeluk bahu Jessica dengan sayang, membawanya kembali duduk di tempat mereka tadi.

“Apa waktunya cukup?”

Jessica memandangi Donghae sebentar, lalu mengangguk semangat. Ia mendekatkan balon yang sejak tadi di pegangnya. Menutup matanya dan mulai berucap.

“Tuhan, berilah kami waktu yang banyak untuk bisa terus bersama dan membangun rumah tangga yang sempurna. Amin”

“Jangan terbangkan dulu” tahan Donghae, tangannya mengambil balon yang di pegang Jessica. “Biarkan kami bersama selamanya dan mempunyai malaikat-malaikat kecil yang lucu”

Jessica menutup mulutnya untuk menahan suara tawanya. Senang juga jika akhirnya Donghae mau menuruti kemauannya. Jessica menggenggam tangan Donghae yang masih memegang balon, setelah menghitung sampai angka tiga, keduanya melepaskan pegangannya pada benang berwarna putih, membiarkan balon itu terbang semakin ke atas dan menembus awan.

“I love you” bisik Donghae

“Love you more” balas Jessica tersenyum.

-Time-

Jessica membuka pintu kamar Donghae, melangkah dan membuka tirai jendela agar sinar matahari pagi masuk ke dalam ruangan. Donghae masih berbaring di atas ranjangnya, Jessica tahu, pria itu pasti sudah bangun. Tak mau menganggu Donghae, Jessica mengambil bunga matahari yang di belinya tadi dan menatanya ke dalam vas bunga.

“Jessica” panggil Donghae yang masih berbaring membelakangi Jessica

“Ya?” Jessica pun begitu, dia masih berdiri membelakangi Donghae

“Sudah sampai mana?” tanya Donghae

Jessica menghentikan sebentar kegiatannya, berpikir dan menjawab pertanyaan Donghae. “Aku sudah memesan tempat, memesan aksesoris, dan menata ruangannya. Tinggal memesan baju peng—”

“Maksud ku, sudah sampai mana waktu ku?” suara Donghae mulai terdengar dingin dengan menatap keluar jendela

“Tidak ada manusia yang tahu kapan waktu seseorang akan habis” Jessica meletakkan vas bunga di atas meja, lalu mulai merapikan ruangan Donghae yang berantakan

“Kau pasti tahu!” gertak Donghae

Jessica kembali berhenti membereskan ruangan Donghae, ketika membalikkan tubuhnya, ia sudah mendapati Donghae yang bangun dari tidurnya dan menatapnya dengan tajam, terlihat ada kemarahan dalam matanya.

“Aku tidak tahu karena aku bukan Tuhan” sahut Jessica mulai ikut emosi

“Tapi kau Dokter ku dan aku pasien mu! Bagaimana bisa kau tidak tahu? Setidaknya kau pasti punya perkiraan kan kapan waktu ku habis?” kata Donghae memaksa

Jessica mendengus kesal, hari ini Donghae benar-benar menyebalkan, pria itu seperti menguji kesabarannya saja.

“Jessica, katakan pada ku!!!” ujar Donghae mulai sedikit berteriak

“Aku bilang aku tidak tahu Donghae!” balas Jessica tak kalah kerasnya

“BOHONG! KAU SELALU SAJA SEPERTI ITU PADA KU!! SEDIKITPUN AKU TIDAK PERNAH BERBOHONG PADA MU! TAPI KENAPA? KENAPA KAU—”

“DUA BULAN LAGI! KAU PUAS?!”

BLAM

Tubuh Donghae melemas ketika mendengar teriakan Jessica yang sedikit bergetar. Di ruang rawat itu tinggal ia sendiri, di ruang rawat yang tadinya berantakan akibat ulahnya sendiri yang mengamuk hari kemarin kini sudah rapi lagi karena Jessica. Dengan air matanya yang sudah menetes, Donghae menatap pintu ruang rawatnya yang tadi di tutup dengan keras oleh Jessica.

Dua bulan ini? Bagaimana bisa? Hari pernikahannya bahkan lebih dari dua bulan. Apa mungkin dia bisa bertahan selama itu? Donghae menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjangnya, memandangi langit-langit kamarnya dengan kosong. Membiarkan air matanya terus mengalir tanpa henti.

-Time-

“Aku minta maaf” kata Donghae penuh penyesalan

Jessica tidak bisa marah, tidak akan pernah bisa marah pada pria yang di cintainya ini. Dia menerima dan membalas pelukan Donghae.

“Harusnya kau tidak keluar kamar. Keadaan mu belum pulih benar” Jessica melepaskan syal yang di pakainya dan memakaikannya pada Donghae. “Biar aku yang bawa Infus mu”

Donghae menggeleng, menggenggam erat infusnya, lalu melepaskan syal yang melilit di lehernya dan memakaikannya kembali pada Jessica. Dia pria, dan Jessica adalah wanita. Harusnya pria yang menjaga dan melindungi wanita, bukan sebaliknya.

“Sekali ini saja, jangan egois Donghae. Kau sedang sakit!” ucap Jessica, dia mulai sedikit kesal dengan penolakan Donghae

“Aku memang sakit tapi aku tidak lemah!”

Jessica menatap Donghae yang terlihat dari wajahnya jika pria itu juga sudah ikut kesal. Tapi ketika Jessica mendengus dan memakai syalnya kembali dengan kasar, Donghae lagi-lagi merasa bersalah. Baru beberapa menit yang lalu mereka baikan, dan sekarang harus malah bertengkar lagi. Donghae menyandarkan tubuhnya pada pohon di belakangnya, kakinya mulai terasa lemas karena berdiri terlalu lama. Tapi jangan harap ia akan mengeluh di depan Jessica, walaupun akhirnya, Jessica pasti akan tahu keadaannya.

“Harusnya aku yang kuat! Bukan sebaliknya!” sahut Donghae dengan suara yang mulai bergetar

Jessica menunduk, mengibaskan rambut panjangnya ke belakang, ia lalu mendekat ke arah Donghae, mengatupkan wajah Donghae melalui kedua tangannya. Ketika kedua mata itu bertemu, rasa emosi yang muncul tadi tiba-tiba menghilang, bergantikan dengan tatapan lembut yang membuat dada mereka berdesir, pancaran kelembutan itu membawa kedamaian kembali dari keduanya.

“Tak ada yang bilang kau tidak kuat! Kau pria yang paling kuat, kau harus tahu itu!” ujar Jessica lembut

Donghae tersenyum dalam harunya, menarik Jessica dalam pelukannya untuk meredam tangisnya. Sedangkan Jessica sendiri memilih menahannya, ia tak mau kedua matanya akan semakin membengkak. Jessica menatap jam tangannya, sudah jam sepuluh pagi, itu berarti jadwal kemoterapi Donghae akan di lakukan.

“Sudah waktunya kau terapi. Ayo” Jessica menggenggam tangan Donghae

“Baiklah” Donghae tersenyum, ia membalas genggaman Jessica, tapi tepat ketika ia akan melangkah, tubuhnya ambruk di atas tanah

“Gwenchana?” Jessica berjongkok di hadapan Donghae, mengambil infus milik Donghae untuk di pegangnya. “Mau ku ambilkan kursi roda?”

“T-tidak! Aku bisa jalan sendiri” tolak Donghae dan berusaha untuk berdiri walaupun lagi-lagi gagal

“Jangan paksakan diri mu. Ayo” Jessica membantu Donghae berdiri, melingkarkan salah satu tangan Donghae di bahunya dan mulai menuntunnya untuk berjalan.

Sepanjang perjalanan di lorong-lorong rumah sakit itu, tak ada yang mulai berbicara. Semuanya sibuk dengan diri masing-masing. Jessica yang sibuk menahan diri Donghae yang sejak tadi meronta untuk di lepaskan, dan Donghae, dia sibuk dengan tubuhnya, terutama kakinya, ia masih terus berusaha melangkah walaupun gagal, dan pada akhirnya, Donghae memilih menyeret kakinya saja, setidaknya, tidak terlalu membuat Jessica kesusahan.

“Aku titip dia, ya?” kata Jessica pada Siwon

“Pasti” balas Siwon dan memapah Donghae untuk masuk ke dalam ruangan kemoterapi

Jessica yang masih berdiri di depan pintu, masih menatap Donghae yang sudah di naikkan di atas ranjang. Siwon beserta asistennya sudah mulai menjalankan pekerjannya. Ketika Donghae tersenyum ke arahnya seolah berkata bahwa dia akan baik-baik saja, Jessica juga ikut tersenyum walaupun itu palsu. Sama seperti Donghae, pria itu tidak akan baik-baik saja, mengingat bagaimana sakitnya menjalankan kemoterapi.

Untuk yang terkahir kalinya, Jessica menatap Donghae dari balik kaca pintu dan pergi dari sana. Kepalanya dia naikkan keatas, berusaha dengan keras menahan air matanya yang akan mengalir. Wanita itu memilih masuk kedalam ruangannya, membuka laci dan mengambil sebuah balon yang belum di tiup berwarna putih.

Pipinya menggembung lalu menirus, menggembung menirus dan begitu seterusnya saat ia meniup balon tadi untuk membesar di sela-sela isakannya yang sesekali lolos dari bibirnya. Setelah balon itu membesar, Jessica membuka jendela yang berada dalam ruangannya, memegang balon itu dan memejamkan matanya.

“Dia kuat, tolong sembuhkan dia”

Itu lima kalimat yang di ucapkan Jessica sebelum menerbangkan balon yang di pegangnya. Mata yang sudah memerah dan semakin membengkak itu memandangi balon putih tadi yang sudah terbang ke udara. Jessica tersenyum kala mengingat balon itu pasti akan menyampaikan pesannya pada Tuhan.

-Time-

Donghae menatap keluar jendela, sudah beberapa hari ini dia terus-terusan melihat ada balon berwarna putih yang terbang melewati jendela ruangannya. Donghae tahu itu siapa, dia tahu siapa yang selalu mendo’akannya tiap hari tanpa mengenal waktu. Donghae mendudukkan tubuhnya dengan susah payah, ia mencengkram kepala tempat tidur, menurunkan kakinya untuk menapaki lantai Rumah Sakit yang dingin, lalu menggapai kursi rodanya yang tak jauh dari hadapannya.

Setelah berhasil duduk dengan baik di atas kursi roda, Donghae lagi-lagi harus berusaha mengambil selang infusnya yang berjarak cukup tinggi. Ia meletakkan infusnya di atas lutut, kedua tangannya mendorong roda itu dan mulai keluar dari ruang rawatnya. Sekarang masih jam sebelas pagi, Jessica pasti masih bekerja. Beberapa kali Donghae menolak tangan pegawai Rumah Sakit yang ingin mendorong kursi rodanya, lagipula siapa yang tak kenal dia? Sejak umur lima tahun hingga umurnya sekarang sudah mencapai dua puluh tiga tahun, Donghae sudah keluar masuk di Rumah Sakit ini, di tambah lagi, orang-orang yang sudah tahu bahwa dia adalah kekasih dari salah satu Dokter penyakit handal di Rumah Sakit ini.

KREEETTT

Suara pintu Gereja terdengar ketika Donghae membukanya. Tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang saja dalam sana. Donghae kembali mendorong kursi rodanya, menggapai-gapai kursi yang berada di baris paling depan lalu duduk di sana. Lama Donghae memandangi isi Gereja yang sama sekali tak berubah sejak ia kecil. Donghae menunduk, mengaitkan tangannya satu sama lain dan mulai memejamkan matanya.

Dalam do’a nya yang khusyuk, Donghae hanya meminta harapannya agar ia bisa di beri hidup yang lama. Untuk membahagiakan orang yang di cintainya, itulah harapan terbesarnya.

“Donghae”

Donghae berbalik kebelakang, mendapati Jessica yang melangkah kearahnya dengan wajah yang sedikit khawatir dan panik. Sampai di hadapan Donghae, Jessica malah mendudukkan dirinya di bawah tubuh Donghae.

“Aku mencari mu kemana-mana. Kenapa pergi tanpa bilang-bilang?” tanya Jessica

“Kau sedang kerja” jawab Donghae, jari-jarinya merapikan rambut indah Jessica

“Kenapa tidak minta di temani suster saja, hn?” ujar Jessica

Donghae menggeleng sebagai jawaban, tangannya menarik tubuh Jessica untuk berdiri dan menyuruhnya duduk di sebelah kanannya.

“Kau jangan terlalu sering menerbangkan balon, akan lebih baik jika kau berdo’a langsung di gereja” tegur Donghae sembari menatap ke depan

Jessica tersenyum, ada baiknya juga ia sering menitipkan Donghae pada Siwon, jadi, kealiman Pak Dokter itu tertular di calon suaminya ini. Jessica membaringkan kepalanya di atas bahu Donghae, memeluk lengan pria itu dengan erat. Sudah lama dia tidak bermesraan seperti ini dengan Donghae sejak keadan Donghae memburuk bulan lalu.

“Iya, aku tahu. Lagipula, aku menjalankan keduanya” balas Jessica

Donghae menggangguk, menyandarkan tubuhnya pada kursi dan menumpukan kepalanya di atas kepala Jessica.

“Aku sudah menghitungnya”

“Menghitung apanya?”

“Waktu ku dan waktu pernikahan kita”

“Huh?”

“Waktu pernikahan kita tinggal 72 hari lagi. Sedangkan waktu ku, tinggal, tinggal 45 hari. Ada 27 hari yang tidak bisa ku gapai”

Jessica yang tadi memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa lelahnya kembali membuka matanya mendengar perkataan Donghae. Ada hal yang tidak di sukai Jessica pada Donghae, hal itu adalah, jika Donghae mulai membahas masalah waktu.

“Pasti akan cukup! Jangan tanyakan itu lagi” suruh Jessica, ia berdiri dan membantu Donghae untuk duduk kembali di atas rodanya

“Aku mau pulang” pinta Donghae

“Nanti, setelah keadaan mu membaik” kata Jessica sembari terus mendorong kursi roda Donghae menuju ruang rawatnya

Donghae mengalungkan salah satu tangannya di bahu Jessica saat wanita itu membantunya untuk naik ke atas ranjang.

“Tapi aku sudah baikan!” seru Donghae

“Baikan apa? Wajah mu masih pucat” Jessica menyodorkan cermin genggam di depan muka Donghae

“Tapi aku tetap tampankan? Hehe” Donghae mengambil cermin itu dari tangan Jessica

Jessica hanya tersenyum, senang juga melihat sikap childish Donghae yang menyenangkan kembali lagi. Sementara Jessica yang sibuk mengganti infus dan menyiapkan obat-obatan Donghae, Donghae juga sibuk menatap wajahnya di depan cermin. Ketika jari-jarinya ia gunakan untuk menyisir rambutnya, beberapa helai tertinggal di tangannya. Rambut yang rontok, pasti karena kemoterapi.

“Sica, kemoterapinya, di hentikan saja ya?” ucap Donghae dengan kembali meletakkan cermin di atas meja

“Waeyo?” Jessica mendudukkan dirinya di samping Donghae

“Rambut ku rontok” kata Donghae dan memperlihatkan helian rambutnya. “Aku, tidak mau botak di hari pernikahan kita”

Wajah Donghae berubah sedih dengan menunduk. Jessica tersenyum, merasa geli dengan perkataan Donghae yang sedikit kekanak-kanakan. Jika Donghae mulai bersikap seperti itu, maka inilah saat di mana Jessica harus bersikap lebih dewasa di banding Donghae.

“Jangan pikirkan rambut, pikirkan saja kesehatan mu. Kalaupun kau botak, kita tetap akan menikahkan?”

Jessica membawa Donghae dalam pelukannya. Donghae tak menjawab apapun, sampai suara dengkuran halus terdengar dari Donghae. Jessica sekali lagi tersenyum manis dengan setetes air mata yang mengalir, ia membaringkan Donghae di atas ranjangnya, menyelimuti tubuh Donghae yang semakin hari menjadi kurus, ringkih dan lemah. Satu kecupan segera bersarang di kening Donghae dengan alunan kalimat cinta yang di lontarkan Jessica pada telinga sebelah kanan Donghae.

-Time-

“AMBIL SUNTIK, CEPAT!!!”

Teriak Jessica pada asistennya sembari membuang handuk kecil yang di pakainya untuk menyeka keringat yang tak berhenti bercucuran dari kening Donghae. Dengan cekatan, Jessica mengambil beberapa pil obat milik Donghae.

“AKKHH, akhh”

Suara Donghae yang kesakitan membuat Jessica semakin panik, ketika menoleh, tubuh Donghae semakin bergetar, kedua tangannya menarik-narik rambutnya dengan tetap suara lengkingan menyakitkan dan menyayat hati.

“Telan obat mu Donghae” Jessica tetap berusaha membuat tubuh Donghae berhenti bergerak dan memaksakan pil obat yang di bawanya agar di telan Donghae

Nafas Donghae mulai tak beraturan, Jessica masih berusaha menenangkan dirinya, dia tak boleh ikut panik. Wajah Donghae sudah memerah dengan lelehan air mata yang mengalir. Jessica memilih menahan kedua tangan Donghae agar pria itu tak menyakiti dirinya sendiri.

“DASOM, MANA SUNTIKNYA?!!” teriak Jessica mulai kesal

“Ini Dok” Dasom memberikan suntikan yang sudah dia isi dengan obat penenang dan penghilang rasa sakit

“Tahan tangannya” suruh Jessica

Dasom mengangguk, ia menahan tangan kanan Donghae untuk tetap diam sementara Jessica menyuntiknya. Perlahan, suara teriakan dan pergerakan Donghae mulai berhenti. Matanya yang teduh menatap Jessica dengan sendu, bibirnya terus mengucapkan ‘ini sakit’ ‘aku tak tahan’ dan ucapan lainnya yang membuat Jessica tak bisa menahan tangisnya.

Setelah Donghae mulai benar-benar terlelap, Jessica jatuh terduduk di samping ranjang Donghae, menangis dan terus menggenggam tangan sang kekasih. Dasom yang melihatnya ikut sedih, ia memilih keluar dari sana, meninggalkan keduanya.

“Aku ada di samping mu” bisik Jessica lirih

KREET

Suara pintu ruangan Donghae yang terbuka tak membuat Jessica bangkit dari duduknya, ia masih saja menangis. Sedangkan Siwon yang sudah masuk ke dalam ruang rawat dan mendapati beberapa barang yang jatuh di atas lantai dan tempat tidur Donghae yang berantakan hanya bisa menggeleng miris, apalagi melihat Jessica yang menangis.

“Kita perlu bicara” ucap Siwon

Jessica menatap Siwon, seolah enggan meninggalkan Donghae.

“Aku akan memanggil perawat untuk menjaga Donghae” seru Siwon dan keluar dari ruangan bernuansa putih itu

Tak perlu waktu lama, Siwon telah kembali dengan membawa seorang perawat pria dan seorang lagi perawat wanita. Dengan masih tak rela, Jessica akhirnya berdiri dan mengikuti langkah Siwon.

“Bicara di sini saja. Aku tidak mau meninggalkannya terlalu lama” tutur Jessica yang menghentikan langkah Siwon

“Baiklah” Siwon menyerah, tangannya mengambil hasil ronsen yang di bawanya pada Jessica. “Kankernya sudah menyebar sampai ke saraf tubuhnya. Mungkin, akan mengganggu pergerakan tangan dan kakinya”

Jessica masih saja bungkam, salivanya mulai sulit dia telan. Matanya tetap fokus dengan hasil ronsen otak Donghae.

“Rasa sakit yang dia rasakan akan berkali lipat dari biasanya. Seperti yang kita bicarakan dulu, dia hanya mampu bertahan dalam kurun waktu 2 bulan, dan sekarang, sudah melewati 1 bulan. Dia bisa bertahan sampai hari ini pun adalah sebuah keajaiban. Ku pikir, hm, tentang rencana pernikahan kalian, akan lebih baik jika di laksanakan lebih cepat” jelas Siwon panjang lebar

Jessica duduk di bangku yang ada di sebelahnya, meredam tangisnya, tak perduli dengan Siwon yang menatapnya. Jessica mulai benci jika ada yang mengungkit masalah waktu, yah, dia membencinya mulai detik ini!

Melaksanakan pernikahan lebih cepat, seperti yang di katakan Siwon mungkin ada benarnya. Bukannya putus asa jika Donghae tak bisa bertahan sampai 2 bulan ke depannya, tapi, berhati-hati juga tak salahkan?

“Aku akan membicarakannya dengan Donghae” balas Jessica dan kembali masuk ke dalam ruang rawat Donghae.

-Time-

Donghae berhenti memainkan boneka nemonya, setelah kejadian penyakitnya yang kambuh dua hari yang lalu, kini keadannya mulai membaik. Donghae menatap Jessica dengan kesal, ia bahkan menolak suapan dari Jessica.

“Kau bilang aku tak boleh berhenti berusaha! Tapi nyatanya kau menjilat ludah mu sendiri!!”

“Bukan seperti itu Donghae. Aku percaya kau mampu bertahan sampai waktu pernikahan kita, hanya saja, maksud ku memajukan pernikahan kita agar kita bisa menghabiskan waktu lebih banyak lagi sebagai sepasang suami istri”

Jessica mengenyampingkan sarapan Donghae. Terkadang, sikap kekanak-kanakan Donghae tak selamanya membuatnya tersenyum. Seperti sekarang. Pria itu mulai menyebalkan di mata Jessica.

“Bohong! Aku tidak mau pernikahan kita di majukan! Aku akan buktikan jika aku mampu bertahan sampai hari pernikahan kita!” Donghae menidurkan dirinya dan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut

Jessica membuang nafas berat melihat kelakuan Donghae. Jika sudah begini, ia tak bisa memaksa Donghae. Memaksanya, sama saja akan membuat penyakit pria itu kambuh. Jessica menggapai ponselnya yang berbunyi, tertera nama sang adik di layar ponselnya.

“Ya, Krystal?”

“Eonnie, apa tidak lebih baik aku membawakan setelan pakaian pernikahan kalian ke Rumah Sakit saja?”

“Apa tidak merepotkan mu?”

“Tidak, lagipula, keadaan Donghae Oppa pasti belum memungkinkan untuk meninggalkan Rumah Sakit kan?”

Jessica melirik Donghae sebentar. “Yah, kau benar. Dia bahkan sekarang marah pada ku”

“Tunggu aku, 15 menit lagi aku sampai”

Jessica kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jas berwarna putihnya. Jessica melangkah, bermaksud membuka pintu, tapi suara Donghae menghentikannya.

“Kau mau kemana?” Donghae mulai bangkit terduduk

“Ke gereja” jawab Jessica

“Aku ikut” pinta Donghae. “Kau tidak bisa melarang orang yang mau berdo’a” lanjut Donghae ketika melihat wajah Jessica yang kurang setuju

“Baiklah”

Jessica mengambil kursi roda milik Donghae, menuntun Donghae untuk duduk di sana. Ia memakaikan jaket tebal dengan syal di tubuh Donghae, angin malam tak baik untuk kesehatannya. Setelah selesai dan mengambil infus Donghae, Jessica mulai mendorong kursi roda Donghae menuju Gereja.

“Aku minta maaf jika perkataan ku tadi terdengar kasar” sesal Donghae

“Tidak apa. Lupakan saja. Itu memang salah ku” balas Jessica. “Kau mau duduk di kursi mu atau di sebelah ku?” tanya Jessica setelah mereka masuk ke dalam gereja

“Di sini saja” jawab Donghae dan di balas anggukan oleh Jessica. “Ayo mulai berdo’a nya”

Di dalam gereja yang di terangi dengan lampu yang menyala itu hanya ada mereka berdua saja. Menyampaikan harapan mereka pada sang Tuhan. Berdo’a dengan khusyuk dalam heningnya malam, berahap bahwa Tuhan akan mengabulkan permintaan keduanya.

“Untuk yang kesekian kalinya, aku terduduk di hadapan mu. Dan yang untuk kesekian kalinya pula, aku masih memanjatkan do’a yang sama. Tuhan, beri aku waktu yang lebih sampai hari yang aku tunggu-tunggu tiba. Beri aku waktu agar aku bisa membahagiakannya. Amin”

“Aku tidak akan pernah bosan mengucapkan ini. Tolong, tolong beri dia waktu. Biarkan kami bersama dalam waktu yang lama. Amin”

Keduanya telah selesai menyelesaikan do’anya. Jessica kembali mendorong kursi roda Donghae setelah sebelumnya merapikan jaket dan syal yang di pakai Donghae.

Setelahnya kembali ke ruang rawat Donghae, mereka sudah mendapati Krystal yang menunggu dengan membawa kantungan pakaian pengantin untuk Jessica dan Donghae.

“Oppa, lama tidak bertemu” ujar Krystal dengan memeluk Donghae

“Ya. Bagaimana kabar mu? Kau semakin cantik saja” kata Donghae

Krystal tertawa kecil. Sementara Jessica kembali membaringkan Donghae di atas ranjangnya, Krystal mengeluarkan pakaian pengantin yang di bawanya.

“Ini pesanan kalian” kata Krystal

“Wah, bagus sekali” sahut Donghae semangat dan menerima pakaian pengantin yang di berikan Krystal

Jessica tersenyum melihat gaun pengantinnya. Ia tak sabar memakai gaun ini nanti.

“Ku pikir kalian harus mencobanya dulu” usul Krystal

“Kalau begitu, aku akan mencobanya di kamar mandi. Donghae, kau bisa sendirikan?”

“Hng”

“Krystal, ayo” ajak Jessica dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi bersama Krystal

Donghae menatap tuxedo nya dengan senyuman yang mengembang. Ia makin tak sabar mengenakannya di altar nanti. Tapi, apakah benar waktunya cukup? Ah sudahlah! Lebih baik dia cepat mencoba pakaiannya saja.

-Time-

“Apa? Prewedding di Rumah Sakit?” seru Donghae terkejut

“Iya. Prewedding kalian pasti akan berbeda dari yang lainnya. Menurut ku ini unik” Yesung yang sebagai fotografer sekaligus teman Donghae dan Jessica, tersenyum lebar

“Yesung Oppa benar. Tidak salahkan memakai konsep dokter, pasien dengan latar Rumah Sakit?” kata Jessica menerima usul Yesung

“Tapi, sayang sekali jika baju pengantinnya tidak di pakai”

Yesung tersenyum. “Kalau begitu, kita pakai dua konsep. Satunya tetap dengan konsep tadi, dan konsep kedua, kita lakukan di taman Rumah Sakit. Sederhana saja, dengan beberapa balon dan anak-anak kecil yang membantu kita. Bagaimana?”

Jessica mengangguk setuju, Donghae terlihat berpikir sebentar lalu ikut mengangguk. Siwon bersama kakak Donghae mulai membantu persiapan Donghae, sedangkan Krystal sibuk membantu kakaknya. Setelah hampir setengah jam, keduanya selesai dengan Jessica yang mengganti baju kerjanya dengan yang lebih rapi lagi, Donghae pun demikian.

Pemotretan mulai di jalankan, berbagai macam gaya juga telah di lakukan. Ketika melihat hasilnya, mereka cukup puas. Benar! Memakai konsep itu tidak mengecewakan. Selanjutnya, konsep kedua yang akan di laksanakan. Sementara semuanya mulai sibuk, Donghae masuk ke dalam kamar mandi di ikuti Donghwa.

“Gwenchana?” tanya Donghwa melihat wajah adiknya yang meringis

“Tidak apa-apa, kepala ku sedikit pusing” jawab Donghae dan bersandar pada wastafel kamar mandi

“Hyung ambilkan obat dulu” Donghwa keluar dari kamar mandi, mengambil obat Donghae dengan segelas air putih di tangannya

Donghae tersenyum, mengucapkan terimakasih dan mulai meneguk obatnya. “Aku akan memakai tuxedo ku”

“Tapi kau benar-benar tidak apa-apa?” tanya Donghwa sekali lagi

“Iya, aku baik-baik saja. Hyung keluarlah dulu” Donghae mendorong tubuh sang kakak, bersandar pada tembok sebentar dan melanjutkan pekerjaannya.

Sedangkan di sisi lain, Krystal menatap kagum sang kakak. Tubuh rampingnya yang di balut dengan gaun putih begitu cantik. Wajahnya yang memang sudah cantik di tambah dengan polesan make up sederhana makin membuat Jessica semakin cantik.

“Donghae pasti senang melihat mu” kata Siwon, Yesung mengangguk setuju

Jessica hanya tersenyum sebagai balasan. Sembari menunggu Donghae selesai, Jessica duduk di salah satu bangku taman, sesekali ada para dokter, suster, pasien dan pengunjung yang memberinya selamat. Walaupun Jessica tersenyum, tapi ketakutannya kembali datang. Ini sudah hari ke 25, 1 bulan 6 hari sudah terlewati oleh Donghae, sementara acara pernikahan mereka masih berjarak cukup jauh.

“Astaga Jessica. Kau cantik sekali” seru Donghae senang

Jessica terkejut, ia berbalik dan tersenyum melihat Donghae. Tapi, tuxedo yang di pakainya sedikit kebesaran, itu berarti, ukuran tubuh Donghae terus mengurus tiap harinya. Rambutnya yang hitam tebal dan cukup panjang, kini mulai terlihat menipis, mungkin karena kemoterapi. Wajahnya juga mulai semakin menirus. Donghae-NYA, telah berubah sedemikian banyak tanpa Jessica sadari.

“Kenapa kau menangis?” Donghae menghapus air mata Jessica

“I-ini tangisan kebahagiaan” elak Jessica

“Aku juga bahagia tapi tidak sampai menangis. Kau jangan menangis, nanti make up mu luntur” kata Donghae

“Sudah bisa di mulai?” seru Yesung

Donghae mengangguk, menarik tangan Jessica untuk ke tempat pemotretan mereka. Seperti yang di katakan Yesung, taman Rumah Sakit ini sudah di sulap menjadi lebih baik. Ada banyak balon dan bunga-bunga yang di tata, juga beberapa anak kecil yang memakai gaun dan jas putih menambah keramaian dan keindahan pemotretan mereka.

Krystal dan Siwon tersenyum melihat pemotretan ini. Sebagai orang yang paling dekat dari keduanya, mereka juga ingin melihat Donghae dan Jessica bisa hidup bahagia tanpa harus memikirkan kapan berakhirnya waktu dari salah satu mereka. Melihat pasangan kekasih itu tersenyum bahagia, Krystal maupun Siwon jadi terharu, Donghwa bahkan sudah meninggalkan taman sejak beberapa detik yang lalu tepat ketika air matanya mengalir melihat sang adik.

“Aku mencintai mu” bisik Donghae ketika ia berpose memeluk Jessica

“Aku lebih dan lebih” balas Jessica sembari tersenyum ke arah kamera.

Sekarang, biarkan mereka merasa bahagia untuk beberapa saat saja.

-Time-

Jessica hanya duduk merenung di kursi tunggu depan ruangan Donghae. Dari dalam sana, masih terdengar jeritan kesakitan Donghae. Jessica bukannya tak mau menolong, hanya saja, Siwon menyuruhnya keluar dari ruang rawat untuk mengistirahatkan dirinya dan mempersilahkan Siwon mengambil alih pekerjaannya. Kemarin, setelah mereka menyelesaikan foto prewedding, Donghae tumbang dengan aliran darah yang mengalir dari hidungnya. Dan ketika sadar, Donghae malah menerima kenyataan bahwa tangannya menjadi susah bergerak, dan ketika ia meminta pulang ke rumah dengan keadannya yang masih memburuk, Jessica menolak. Donghae mulai marah dan mengamuk lagi hingga penyakitnya kambuh.

“Emosi Donghae mulai tak terkontol. Ku sarankan, berikan saja apapun yang dia minta”

Jessica benar-benar lupa akan kalimat Siwon saat itu hingga berakibat menyakiti Donghae. Jessica menangis lagi untuk kesekian kalinya, baru kemarin mereka bersenang-senang, hari ini, semua luntur dan berubah menjadi isak tangis dan suara kesakitan.

“Jessica” panggil Siwon dan menutup pintu ruang rawat Donghae. “Donghae sudah tenang, masuklah”

“Kau memberinya obat tidur?” kata Jessica

“Tidak, hanya obat penenang. Aku tidak tega dengan tubuh Donghae yang terus-terusan menerima obat tidur. Lebih baik kau temui dia” terang Siwon

“Eng, Siwon?” seru Jessica

“Ya?”

“Bagaimana jika Donghae meminta pu–”

“Bawalah dia pulang. Rawat dia di rumah kalian. Aku akan mempersiapkan beberapa alat yang akan di pakai Donghae di sana” jelas Siwon

“Terimakasih. Ah, bagaimana dengan tangannya?”

Siwon menghela nafas berat. “Tangan kiri mulai sedikit tidak berfungsi. Mungkin ke depannya, tangan kanan dan kakinya akan lebih sering kesemutan. Juga, dia harus tetap memakai infusnya selama di rumah”

“Begitu? Baiklah, terimakasih Siwon-ah” ujar Jessica dan masuk kedalam ruangan Donghae

Donghae masih membaringkan tubuhnya, melihat Jessica masuk, dengan suaranya yang serak, Donghae mulai mengeluarkan suaranya yang melemah.

“Aku mau pulang” kata Donghae

“Iya, kita akan pulang nanti sore” Jessica menarik kursi dan duduk di samping ranjang Donghae

“Kau tidak bohong?” ujar Donghae

“Iya, sekarang kau lebih baik tidur saja” Jessica menyelimuti tubuh Donghae dan menatapnya hingga Donghae mulai terlelap. “Kita harus berusaha lebih keras lagi untuk mencapainya. Semangat ya!” bisik Jessica pada Donghae sembari mengecup bibirnya.

-Time-

Mata Donghae berbinar senang, ia melepaskan lingkaran tangannya dari bahu Jessica. Berjalan sedikit demi sedikit dengan memegang selang infusnya. Donghae benar-benar merindukan rumah ini, sudah hampir 2 bulan ia pergi meninggalkan rumah yang cukup mewah itu.

“Donghae, kamar kita di pindahkan ke bawah saja ne?” Jessica meletakkan tas milik Donghae di atas meja

“Kenapa?” bingung Donghae

“Jika tetap di atas, akan merepotkan mu untuk naik turun tangga, aku juga jadi lebih gampang mengawasi mu jika di lantai bawah” jelas Jessica dengan menatap Donghae, bermaksud agar pria itu mau mengerti kali ini saja

“Tidak, aku tidak mau” tolak Donghae

Jessica mendengus. “Donghae, tolonglah, turuti perkataan ku kali ini”

“Tapi aku suka kamar kita di atas. Aku kuat untuk naik turun tangga, aku, aku juga tidak akan merepotkan mu lagi”

DEG

Jessica tertegun mendengar ucapan Donghae. Akhir-akhir ini, Donghae memang lebih sensitif dan sering menyalah artikan ucapan yang di lontarkan untuknya. Jessica menarik dan membuang nafasnya untuk membuat dirinya lebih tenang, setelah di rasa cukup, Jessica menghampiri Donghae dengan menggengam tangannya.

“Kau tidak pernah merepotkan ku. Hanya saja yang ku maksud, aku takut kau kelelahan jika naik turun tangga”

“Aku akan baik-baik saja. Coba lihat, sekarang aku sudah bisa berdirikan? Tangan kiri ku juga sudah bisa di gerakkan sedikit” ujar Donghae semangat

Jessica tersenyum lembut lalu mengangguk. “Ya sudah, ayo naik”.

-Time-

Seminggu telah berlalu, keadaan Donghae benar-benar berangsur mulai membaik sedikit demi sedikit. Dia menepati janjinya bahwa dia akan baik-baik saja. Walaupun seperti itu, Jessica tetap saja merasa khawatir dengan keadaan Donghae.

“Sica, kenapa diam saja?” tanya Donghae

“Ah, tidak apa-apa” elak Jessica

“Setelah dari sini, kita akan jalan-jalankan?”

“Iya. Jika begitu, ayo cepat berdo’a”

Donghae mengangguk dan mulai memanjatkan do’a-do’anya yang masih sama dari sebelumnya. Begitupun dengan Jessica, do’a nya masih sama, tak ada yang berubah. Mereka hanya berharap, agar Tuhan juga masih sama, memberikan waktu yang lebih untuk kebahagiaan keduanya.

“Ayo pergi” ajak Donghae. “Sica, infus ku tidak bisa di buka saja ya?”

Jessica melirik Donghae sebentar dan mengambil alih untuk membawakan infus yang tadi di pegang Donghae.

“Tidak bisa. Itu jugakan demi kebaikan mu” seru Jessica

Donghae menunduk, sedikit kecewa dengan jawaban Jessica. “Aku, benar-benar tak sabar dengan pernikahan kita”

“Kalau begitu, bagaimana jika hari pernikahan kita di majukan saja?” terang Jessica semangat

“Tidak! Akukan belum membuktikan pada mu jika aku bisa bertahan sampai hari pernikahan kita”

“Tapi dengan kau ada di sisi ku sampai sekarangpun aku sudah tahu kau mampu”

“Tapi ini 20 hari menuju kematian ku. Kau dan Siwon memvonis ku hanya mampu bertahan selama 2 bulan”

Jessica terdiam, menyesal sudah memberitahu mengenai vonis itu. “Tolong jangan bahas itu. Aku dan Siwon hanya memperkirakannya, bukan berarti hari itu benar-benar akan datangkan?”

Kali ini Donghae berbalik terdiam. Waktu habisnya seseorang memang hanya Tuhan yang tahu, tapi Donghae hanya berjaga-jaga saja. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menjadi pria yang kuat, Donghae akan kuat sampai hari pernikahannya tiba. Karena itu, tak satupun kemoterapi dan obat-obatan yang dia lewatkan. Semoga Tuhan bisa melihat perjuangannya ini.

“Kau akhir-akhir ini sering marah” seru Donghae mengalihkan pembicaraan

“A-apa? Kau yang memancing emosi ku” balas Jessica tak terima

“Huh? Benarkah? Tapi akukan anak polos”

Jessica tertawa melihat wajah Donghae yang sok polos, Donghae ikut tertawa dan memeluk Jessica dengan penuh kasih sayang.

“Hanya berikan aku semangat dan kirimkan do’a pada Tuhan, maka, aku pasti akan bertahan” kata Donghae

“Tanpa kau suruhpun, aku sudah melakukannya sejak lama”

“Terimakasih. Aku mencintai mu”

Donghae mengecup kening Jessica dan memeluknya sekali lagi.

-Time-

Donghae mengaduh, tubuhnya yang tadi berdiri dia dudukkan kembali di atas tempat tidur. Tangan dan kakinya ia coba gerakkan beberapa kali, pasalnya, kedua anggota tubuhnya itu mulai menegang dan susah bergerak.

“DONGHAE, AYO TURUN, SARAPAN SUDAH SIAP”

Keringatnya mulai bercucuran semakin banyak setelah kepalanya semakin menimbulkan rasa sakit dan semuanya terasa berputar. Mendengar teriakan Jessica, Donghae berusaha membalasnya dengan suara yang serak. Untuk kesekian kalinya pula, Donghae memaksa dirinya untuk berdiri, dia tidak mungkin menggunakan kursi roda untuk turun tangga bukan?

“Shh, haahhh”

Setiap langkah yang di buatnya, Donghae akan meringis sakit lalu membuang nafas panjang. Kakinya bergetar karena tak bisa lagi menahan topangan dirinya. Kaki kirinya sudah tidak bisa lagi di gerakkan, terpaksa, Donghae harus memegang infus dan tembok untuk tetap bisa melangkah.

“DONGHAE, KAU BAIK-BAIK SAJAKAN?” teriak Jessica yang masih merapikan meja makan

“I-IYA” balas Donghae, berteriak malah membuat kepalanya terasa sakit

Donghae sudah berhasil melewati anak tangga ke tiga dari atas, pandangannya mulai berputar-putar, tapi ia terus memaksakan diri untuk bisa melewati anak tangga lainnya.

“Aku pasti bisa” katanya untuk menyemangati dirinya sendiri

Satu dan dua anak tangga, Donghae berhenti sebentar untuk beristirahat, rasanya tak sanggup lagi. Tapi sudah tanggung, dia hanya tinggal melewati setengah anak tangga saja untuk bisa sampai di lantai bawah.

“Tuhan, kuatkan aku”

BRUKK

“DONGHAE!!”

-Time-

“Dia berbohong!”

“Tidak mungkin!”

“Kau lihat tubuhnya yang di penuhi dengan lebamkan? Dia memang meminum obatnya secara teratur dan menjalankan kemoterapi, tapi, saat penyakitnya kambuh dan kau harus memberikan obat penahan rasa sakit dari suntikan, di sanalah Donghae menyembunyikannya, berkata bahwa dia baik-baik saja pada mu”

“Tapi—tapi, dia—”

“Donghae sudah koma hampir seminggu Sica. Memang benar, dia berhasil membuktikan pada kita bahwa hasil vonis 2 bulan itu salah! Tapi, bukan dengan begini! Dia bertahan karena alat-alat yang menunjang hidupnya itu”

“Dia pasti akan sadar!”

“Mau sampai kapan lagi kita menunggu? Dengan tetap memasangkan alat-alat penunjang hidupnya, Donghae hanya akan semakin tersiksa dalam rasa sakitnya. Kau tak kasihan padanya? Harus berapa lama lagi dia menanggung rasa sakitnya?”

“Tapi dia sudah berjanji pada ku akan tetap bertahan sampai hari pernikahan kita tiba”

Siwon mengusap wajahnya kasar, Jessica sudah terduduk di atas kursi tunggu dengan mulai menangis.

“Dengarkan aku Jessica. Kau harus pikirkan ini baik-baik. Melepaskan alat-alat itu tapi Donghae akan pergi dengan tenang, atau, tetap memaksakan tubuhnya hidup dengan alat-alat itu tapi dengan kesakitan yang terus menerus”

Siwon tidak jahat, ia tidak bermaksud membunuh Donghae. Hanya saja, melihat keadaan Donghae yang bahkan sudah terlihat seperti mayat hidup membuat Siwon merasa miris. Belum lagi, Donghwa yang juga berkata bahwa ia sudah ikhlas jika memang adiknya akan pergi tanpa menanggung rasa sakitnya lagi.

“Tapi kau juga harus mengerti. Jika Donghae pergi, itu sama saja aku sudah gagal merawatnya. Aku jadi dokter hanya untuk dia, berharap bahwa aku bisa menyembuhkannya. Dan sekarang? Kau malah menyuruh ku untuk menyerah?”

“Tak ada yang menyuruh mu untuk menyerah Jessica, aku juga tak menyerah. Tapi ini untuk Donghae, demi kebaikannya!” sahut Siwon sedikit keras

Jessica menggeleng, menghapus air matanya sembari berdiri menghadap Siwon. “Beri aku waktu 3 hari lagi, jika memang Donghae tak sadar, aku, aku akan melepaskannya”

“Pegang janji mu!”

Itu kalimat terakhir yang di dengar Jessica sebelum pria itu pergi. Dengan gontai, Jessica membuka pintu ruangan Donghae dan masuk ke dalam. Selama seminggu ini, baru sekarang Jessica sadar bahwa keadaan Donghae memang benar-benar menyakitkan.

Berbagai macam alat sudah di pasangkan dalam dirinya. Tubuhnya menjadi lebih dan sangat kurus, wajahnya juga, bibirnya kering dengan memucat, tangannya seperti tak berdaging lagi, dan rambutnya, rambut indah itu sudah nyaris menghilang semuanya.

BRUK

Tubuh Jessica jatuh terduduk di samping ranjang Donghae. Di genggamnya tangan kanan Donghae, Jessica menenggelamkan kepalanya pada telapak tangan Donghae.

“Kau—-kau harus bangun bodoh! Tepati janji mu pada ku!!” ucap Jessica dengan terisak

Sebanyak apapun Jessica membangunkan Donghae, tetap saja tak ada balasan dari pria itu. Walaupun suara tangis Jessica semakin terdengar pilu, tapi nyatanya, Donghae masih enggan bangun dari tidurnya.

-Time-

“Aku akan mengambil jurusan kedokteran”

“A-apa? Kau sedang bercanda? Haha”

“Tidak! Aku serius!”

“Tapi, bukannya kau benci darah?”

“Itu dulu. Aku akan tetap mengambil jurusan itu”

“Tapi, apa kau mampu? Ku dengar, untuk menjadi Dokter, itu sangat susah”

“Aku akan melaluinya. Setelah aku menjadi Dokter, aku akan menyembuhkan mu”

“Jadi kau mau Dokter karena aku?”

“Tentu saja! Aku akan melenyapkan kanker otak sialan mu itu!”

Suara kicauan burung dan sinar matahari yang masuk melalui jendela membangunkan Jessica. Ketika ia membuka matanya, pemandangan taman melalui balik jendela segera membangunkannya. Tapi, Jessica terkejut. Bukannya, dia tidur di atas lantai dengan bertumpu lututnya? Kenapa sekarang dia malah ada di ranjang Donghae?

Jessica mengedarkan pandangannya, ia tak menemukan Donghae, dengan inisiatifnya, Jessica turun dari ranjang dengan tergesa-gesa, membuka kamar mandi, tak ada seorangpun di sana. Lalu, kemana Donghae?

“Oh, kau sudah bangun Sica?”

Jessica membalikkan tubuhnya, ia terkejut setengah mati mendapati Donghae yang sudah rapi dengan tuxedo yang di pakainya, tanpa harus menggunakan infus lagi. Pria itu tersenyum, wajahnya tak lagi pucat, bahkan, dia lebih terlihat sehat.

“Kau? Bagaimana bisa? Bukannya—”

“Tuhan menerima do’a kita. Apa kau pernah mendengar kalimat yang mengatakan bahwa ‘Tuhan bisa melakukan apapun yang tak bisa manusia lakukan” jelas Donghae, ia tersenyum dengan manis

“Ini—ini bukan mimpikan?” Jessica mencubit lengannya, meringis ketika merasakan sakit

“Ini kenyataan sayang ku”

Jessica tersenyum bahagia, berlari dan memeluk Donghae dengan erat. “Ya tuhan, terimakasih”

“Sekarang, kau pakai gaun mu” Donghae menyerahkan gaun yang di bawanya pada Jessica

“Kita akan menikah hari ini? Tapi, hari pernikahan kita 16 hari lagi”

“Tapi aku ingin menikah sekarang. Aku sudah tak sabar menjadi suami mu, hehe. Sudahlah, ayo cepat pakai gaun mu”

“Tapi bagaimana dengan dekorasinya?”

“Krystal sudah mengurusnya”

“Pastor?”

“Itu urusan Siwon. Cepat ganti baju”

-Time-

Jessica menatap dirinya di depan cermin. Dia masih belum percaya sampai sekarang, walaupun dia sudah mencubit dirinya, memeluk Donghae, bahkan setelah Krystal menamparnya pun Jessica masih belum percaya jika ini nyata. Seingatnya, baru kemarin dia menangis dengan meraung-raung agar Donghae bangun. Tapi sekarang? Pria itu bahkan bisa berdiri dengan sehat, tak tampak seperti orang sakit.

“Eonnie, kenapa masih di sini?” Krystal menyembulkan kepalanya dari balik pintu. “Sebentar lagi acaranya akan di mulai”

“Ah? Baiklah” Jessica mengangkat gaun bawahnya agar tidak kotor, ia mengikuti langkah Krystal menuju parkiran

“Kau sangat cantik” Donghae mengulurkan tangannya untuk Jessica

“Terimakasih” Jessica menerima tangan Donghae dan masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka ke Gereja

“Kau senang jika ternyata apa yang kita tunggu-tunggu telah tiba?” tanya Donghae

“Tentu saja, ini impian ku” Jessica menyandarkan kepalanya pada bahu Donghae

Donghae tersenyum dengan mengelus pipi Jessica. “Impian kita yang akan terwujud”

“Tapi, aku masih belum mengerti. Bukankah, kau menolak melaksanakan pernikahan kita lebih cepat?” ujar Jessica, kini ia menatap Donghae

Donghae pura-pura berfikir, walaupun ia tak melakukannyapun, Donghae sudah tahu harus mengucapkan apa. Pria itu menggengam tangan Jessica, mengecup kening Jessica dan memandanginya.

“Ku pikir, lebih cepat akan lebih baik. Lagipula, aku ingin lama-lama merasakan jadi suami mu, hehe”

Jessica menyikut perut Donghae, merasa geli dengan jawaban yang di lontarkannya.

-Time-

Jessica turun dari mobil setelah Donghae membukakan pintu untuknya. Dia menatap Gereja itu dengan mata yang berbinar, Jessica melepaskan pegangannya dari Donghae, berlari ke arah keluarganya yang berdiri di sisi kiri, sedangkan Donghae menghampiri Ibu dan kakaknya yang berada di sisi kanan.

Tidak terlalu banyak tamu yang datang, hanya keluarga dan beberapa teman dekat saja. Acara pernikahan merekapun terlihat sederhana tapi indah. Gereja itu telah di padu tiga warna, merah muda, biru dan putih. Juga bunga dan balon yang sebagai hiasannya.

“Aku minta maaf jika Eonnie dan Oppa tidak suka desain gerejanya” kata Krystal ketika keluarga Donghae menghampiri keluarganya

“Jangan minta maaf, desainnya sangat bagus. Terimakasih” Donghae mengusap kepala Krystal

“Donghae benar. Eonnie benar-benar berterimakasih pada mu” Jessica memeluk sang adik dengan sayang

“Apa semuanya sudah siap? Acaranya akan di mulai” seru Siwon

Mereka semua mengangguk, Donghae memeluk Ibu dan Kakaknya, berterimakasih hingga membuat keduanya terharu, setelahnya, Donghae mengikuti langkah Siwon yang menuju altar. Sudah menunggu seorang pastor di sana.

“Jess, semoga kau bahagia sayang” kata Ibu Jessica

“Pasti Umma” balas Jessica

“Jessica” panggil Umma Donghae

Jessica melepaskan pelukan sang Ibu, tersenyum dan segera memeluk Ibu Donghae yang kembali menangis. Di peluknya wanita berumur itu seperti ia memeluk Ibu nya dengan hangat.

“Donghae, dia pasti bahagia dengan mu” ujar Ibu Donghae sedikit terisak

“Kami akan bahagia asal kami selalu bersama” balas Jessica

Ibu Donghae mengangguk. “Maafkan Donghae jika dia punya salah, ne?”

“Dia tak punya salah apapun pada ku, Umma”

“Jess, ayo. Donghae sudah menunggu” sahut Ayah Jessica

Jessica memandang keluarganya dan keluarga Donghae untuk terakhir kalinya. Jari-jarinya yang lentik menerima uluran tangan sang Ayah. Di tapakinya karpet merah yang akan membawanya ke ujung kebahagiaan. Alunan musik yang indah mulai mengalun, Jessica mengucapkan terimakasih tanpa suara ketika melewati Siwon. Dan ketika memandangi wajah Donghae yang tersenyum ke arahnya, itu berarti, kebahagiaannya akan semakin dekat.

“Ku titipkan putri ku pada mu” Ayah Jessica menyerahkan tangan Jessica pada Donghae

“Terimakasih sudah mempercayai ku, Appa”

Ayah Jessica mengangguk sebagai balasan ucapan Donghae. Sebelum meninggalkan altar, beliau lebih dulu mengecup kening dan kedua pipi putri sulungnya.

“Baiklah, mari kita mulai acara saklar ini” sahut sang Pastor

Kedua tangan itu mengenggam satu sama lain. Jessica sedikit tersenyum melihat buliran keringat di kening Donghae dan wajahnya yang sedikit memucat. Kata Ayahnya, jika pria berlaku seperti itu menandakan bahwa pria tadi sedang gugup. Jessica semakin mengeratkan pegangannya pada Donghae, berusaha menenangkannya.

“Tuan Lee, ayo” bisik Pastor tadi

Donghae mengangguk, ia menelan salivanya dengan gugup, matanya menatap lurus ke arah Jessica.

“Saya, Lee Donghae, menyebut engkau, Jessica Jung sebagai istri ku dan berjanji bahwa saya tetap setia kepada mu dalam untung dan malang, bahwa saya akan memelihara engkau dengan setia sebagaimana wajib di perbuat oleh seorang yang beriman kepada Yesus Kristus”

Jessica tersenyum, setelah menerima aba-aba dari Pastor, Jessica mulai mengucapkan kalimat yang persis di katakan Donghae.

“Saya, Jessica Jung, menyebut engkau, Lee Donghae sebagai suami ku dan berjanji bahwa saya tetap setia kepada mu dalam untung dan malang, bahwa saya akan memelihara engkau dengan setia sebagaimana wajib di perbuat oleh seorang yang beriman kepada Yesus Kristus”

Para tamu yang datang mulai tersenyum setelah keduanya mengucapkan janji suci itu. Krystal maju dengan membawa dua kotak cincin dan menyerahkannya pada Donghae.

“Aku mencintai mu” Donghae memasangkan cincin pernikahan mereka ke dalam jari manis Jessica

“Aku terlebih mencintai mu” Jessica memasangkan cincin untuk Donghae dengan tersenyum

Krystal turun dari altar dan kembali ke tempatnya. Suara tepukan dan sorak sorai mulai terdengar setelah Pastor berucap bahwa Donghae dan Jessica telah resmi menjadi sepasang suami istri.

Donghae tersenyum lebar, matanya mulai berkaca-kaca, kepalanya ia majukan untuk mengecup bibir Jessica. Menerima kecupan dengan lembut itu membuat air mata Jessica mengalir. Di rasakannya juga ada cairan yang mengalir dari pihak Donghae, dan Jessica bisa menebaknya itu adalah air mata Donghae.

“Saranghae”

BRUKK

Tubuh Donghae jatuh dengan menimpa sebagian tubuh Jessica. Para tamu mulai panik dan ikut naik ke atas altar. Jessica membenahkan posisi Donghae, di usapnya wajah pucat pasi yang tertidur di atas pahanya itu. Cairan yang tadinya dia kira adalah air mata nyatanya adalah darah yang mengalir dari hidung dan mulut Donghae.

“Haaahhh”

Hanya helaan nafas yang bisa Donghae keluarkan, tangan kanannya yang bergetar dia gunakan untuk menghapus air mata Jessica. Walaupun tanpa suara, Jessica tahu, bahwa Donghae telah kembali mengucapkan ‘saranghae’ ‘terimakasih’ dan ‘aku bahagia’ sebelum mata teduh itu terpejam selamanya.

Jessica menangis, di angkatnya kepala Donghae dan memeluknya. Suara jeritan Ibu Donghae mulai terdengar, isakan tangis juga ikut mewarnai. Jessica tak tahu harus berkata apa, yang hanya bisa ia lakukan, menciumi seluruh wajah almarhum Suami nya.

“Aku mencintai mu Donghae, aku mencintai mu” Jessica kembali memeluk Donghae dengan erat, bersamaan hembusan angin yang menerpanya, Jessica sudah ikhlas dengan kepergiaan sang Suami.

-Time-

“Waktu, waktu dan waktu. Aku selalu memikirkannya setiap hari, dalam tidur dan mimpi ku, juga dalam alam sadar ku, hanya ‘waktu’ saja yang selalu terpikirkan. Kapan waktu ku akan berakhir? Berapa lama lagi waktu pernikahan kita? Sampai waktu kapan kau bisa mencintai ku? Aku tahu, kau juga kesal dengan ‘waktu’ kan? Aku juga! ‘Waktu’, dia selalu saja menghantui ku, di manapun dan kapanpun. Tapi, waktu yang kita gunakan di sisa waktu ku, pada akhirnya berbuah hasil. Terimakasih Tuhan, walaupun waktu ku tak banyak, tapi kau tetap memberikan waktu yang paling berharga, waktu di mana aku bisa membahagiakan orang yang mencintai ku. Jessica Jung, bahkan aku sekarang bisa memanggil mu Jessica Lee. Maaf, maaf untuk yang sebesar-besarnya karena aku tak bisa menepati janji ku untuk bertahan dalam waktu yang lama. Kau menemani ku sejak kita masih kanak-kanak hingga di akhir hidup ku, itu semua membuat ku bisa pergi dengan tenang. Waktu, waktu dan waktu, ya, hanya waktu yang mampu memisahkan kita. Tapi, waktu tak bisa membuat ku berhenti mencintai mu. Tidak akan pernah Jessica Lee!

Dari yang mencintai mu, Lee Donghae”

Untigyutled-1

END

21 thoughts on “TIME

  1. sad ending ..
    huaaa ..#nangis

    pasti sakit bgt jd donghae oppa hrus mnhan skit

    ff nya bagus ..buat yg lain dong
    #elap_ingus

  2. Ada typo nya, awalnya bingung kenapa bisa ada nama yoona dan kibum. Eh ternyata typo. Hehe

    Tapi ini bagus banget, keren (y). Ide ceritanya menarik. Sayangnya sad ending😥
    Overall it’s great :)) keep writinggggg

  3. Jessi jadi janda, oaaaaa itu kesian dongek uda sakit dr kecil, jika seperti itu memang lbh baik qlo pergi 😐
    itu ad penampakn nm kibum hahahha
    NIce ff

  4. huahhh authorr,, kau sukses membuat ku menangis .. Sumpah ini FF ter Sad yg pernah aku bcaa,,rasanya kena bgt ke hatii tho :’)
    Pokoknya FF nya keren Sekeren Kerennyaaa😀 ditunggu FF mu yg lainnyaa thor,hwaiting😉

  5. (╥_╥) hiks.. hiks.. hiks.. air mtaq gak bisa brhenti nangis..
    ayoooo tnggung jwab author bkin anak orang nangs pagi2..
    authornya kereeeen…
    tulisannya mash ad sdikit salah td ad yoona ma kibumnya…
    dtnggu FF slanjutnya…
    Gomawo

  6. sumpah, sedih banget😥
    dapet banget feelnya..
    tadi ada typo dikit hehe.

    sad ending huaaaa sedih banget😥
    aku bisa ngerasain penderitaan haesica disitu *alah*
    good job (y)

  7. ahhh nangis nih😥 aduhh ini kenapa nyelekit banget yaa T.T
    salutttt sama sica, dia nerima apa adanya hae, meskipun hae punya penyakit mematikan sekalipun. sampe cita2 sica waktu kecil jadi dokter demi nyembuhin penyakitnya hae.

    oiya sempet ngira pas sica bangun ituu pas mereka mau nikah, nah hae itu kirain udah sembuh total maksudnya kanker dia teh udah ilang tapi ternyata belumm T.T
    yahhhh padahal kan mereka belum bikin baby tpi kenapa haenya…..😥

    next bikin yang happy ending ya far hehehe kerennnnn

  8. Sad ending or happy ending..??
    Alur ceritanya pas banget..
    Feel masing” karakter juga kuat..
    Nggak tau kenapa, sepertinya marga Jung itu hanya cocok diganti jadi Lee. Pas banget gitu, Jessica Lee atau Lee Sooyeon. Semoga jadi Ny. Lee Donghae beneran. Amin. Keep writing..!!

  9. ceritanya bikin nangis…
    kenapa harus sad ending??
    tapi keren kok, feel nya dapat..
    keep writing ya author!!!

  10. Ya allah ni demi ap yg gue mewek bombay bca nya.huwaaa nyeseg bngt jd mrka psti nyeseg bngt jd njess yg hrus ngsh tau mslh wktu nya hae.huwaa ak kra ps hae sdar ith dya dh bnrn smbuh ekh tnyta.huwaaa😦
    Jessica Lee perpaduan nama yg bgus🙂

  11. nice ff thor, btw bikin ff yang pairingnya haesica dong:( yang ceritanya rame terus ada konflik yang ending ceritanya ga ketebak tapi happy ending * oke ini ribet* he makasih:-)

  12. huuuuuaaaaaa sedih bgt thor. feelnya dpt bgt thor bikin sedih beneran. perjuangan mereka patut diacungi jempol. keren thor🙂

Kritik, Saran dan lain-lain DISINI

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s