Heart Attack Part 1

  1. Author : Lime
  2. Judul : Heart Attack Part 1
  3. Kategori : Romance, Family, Chapter
  4. Cast :

–          Jung Jessica SNSD

–          Lee Donghae Super Junior

–          Kwon BoA

–          Jung Yunho TVXQ!

–          Tiffany Hwang SNSD

–          Choi Siwon Super Junior

 

Akhirnya setelah lama nggak nulis FF Haesica, lagu Heart Attack nya Demi Lovato menginspirasi FF ini. Maaf typo bertebaran dimana-mana, dipungutin aja ya. Semoga suka! Don’t like, don’t read. Do read, do RCL! ^^

heart attack

You make me glow, but I cover up

Won’t let it show

So I’m puttin’ my deffences up

‘cause I don’t wanna fall in love

If I ever did that

I think I’d have a heart attack

 

Jessica tersenyum renyah sambil menikmati segelas susu cokelat favoritnya. BoA dengan sabar menyisir rambut anaknya. Rambut pendek sebahu Jessica terlihat berkilau, Jessica menggerakan tubuhnya membuat rambut itu berguncang pelan.

 

“Terimakasih, Eomma.” Kata Jessica sesaat setelah meneguk satu tegukan terakhir susu cokelatnya.

 

“Anytime, my Barbie.” Balas BoA lalu mengecup pipi Jessica.

 

Jessica terkekeh pelan kemudian beranjak dari meja makan. Appa nya sudah memanggilnya untuk segera berangkat kuliah. BoA mengantar putrinya sampai di depan pintu, Jessica langsung masuk ke dalam mobil.

 

“Sampai kapan kau akan memperlakukannya seperti anak kecil?” Tanya Yunho sambil mendekati istrinya.

 

Dengan sigap BoA merapikan dasi yang melingkar di leher suaminya. “Aku tidak ingin kehilangan dia.”

 

“Tapi Jessica sudah berusia 20 tahun. Dia sudah dewasa….”

 

“Itu yang aku takutkan. Semakin ia beranjak dewasa, semakin aku merasa takut kehilangan dia. Dan sejauh ini aku sudah berhasil membuatnya tetap hidup.” Kata BoA. Sebenarnya ia sangat benci membahas tentang hal ini lagi.

 

“Dengan memperlakukannya seperti anak berusia 6 tahun?”

 

“Aku tidak ingin berdebat denganmu sekarang. Pergilah.” Kata BoA kemudian masuk rumah dan menutup pintu. Seperti membuka luka lama, hatinya kembali teriris. “Apapun akan aku lakukan untuk membuatnya tetap hidup.”

 

~***~

 

Jessica melangkahkan kakinya menuju gedung kampusnya. Tangannya erat memegang tali ransel ungu tuanya. Celana jeans dan T-Shirt ungu yang senada dengan warna ranselnya terkesan sederhana. Ia tidak memakai high heels atau semacamnya, hanya sepatu kets hitam. Rambut pendek sebahu yang tidak pernah dibiarkan panjang  bergoyang seiring langkah Jessica menuju gedung.

 

“Sica!”

 

Jessica menoleh ke sumber suara. Tiffany. Gadis dengan eyesmile itu berlari kecil ke arah Jessica.

 

“Tiffany kamu cantik.” Puji Jessica.

 

Tiffany memperhatikan sejenak penampilannya kemudian tersenyum, “Ah biasa saja.”

 

Jessica dan Tiffany menghabiskan hari mereka untuk setiap mata kuliah pada hari itu. Jessica sedikit bingung karena tidak biasanya Tiffany mengikuti semua mata kuliah. Terkadang Tiffany memintanya untuk membolos. Tentu saja Jessica menolak pada awalnya. Namun karena desakan Tiffany dan tawaran gadis dengan eyesmile itu untuk membelikannya es krim, Jessica pasti menerimanya dengan senang hati.

 

“Kau tahu, kau masih seperti anak kecil yang merengek meminta es krim atau susu cokelat.” Celoteh Tiffany saat mereka membeli es krim.

 

“Aku juga tidak mengerti. Aku suka saja.” Jawab Jessica enteng.

 

“Dan kau terlalu gampang dirayu.”

 

Sebelum mereka meninggalkan area kampus, seorang pria memanggil Jessica dan Tiffany. Ya, Choi Siwon. Siwon tersenyum lebar, menampilkan lesung pipinya yang menawan.

 

“Jess, mau ku antar pulang?” Tawar Siwon pada Jessica.

 

Jessica melirik jam tangannya. 1 jam lagi Appa nya akan menjemput setelah pulang kerja. Kebetulan ada mata kuliah yang kosong pada jam terakhir, kemungkinan ia akan menunggu Appa nya. Jessica menimbang sejenak kemudian mengangguk.

 

“Tunggu disini, aku akan mengambil mobil.” Kata Siwon kemudian bergegas ke parkiran.

 

Tiffany memasang wajah masam pada Jessica. Jessica memandang polos sahabatnya kemudian berucap, “Kau kenapa? Mau ikut? Rumahmu tidak searah denganku dan Siwon.”

 

“Tidak! Kau pulang saja dengan Siwon itu!” Semprot Tiffany kemudian meninggalkan Jessica.

 

Jessica menghela nafas panjang. “Apa dia marah ya karena aku tidak bisa menghabiskan es krim bersamanya lagi.”

 

Tin..Tin..Tin..

 

Klakson mobil Siwon membuyarkan pikiran Jessica. Dengan cepat gadis itu membuka pintu mobil dan duduk manis di depan.

 

Selama perjalanan Jessica tidak terlalu mengindahkan perkataan Siwon. Ia lebih memilih menghabiskan es krim traktiran Tiffany dan memandang keluar jendela.

 

“Kau tahu apa alasanku mengajakmu pulang bersama?” Tanya Siwon.

 

“Apa? Kau mau es krim juga?”

 

“Bukan. Aku ingin bertanya soal Tiffany.”

 

“Fany? Kau suka Tiffany?” Tembak Jessica langsung.

 

Siwon cukup terkejut dengan kalimat Jessica yang langsung to the point. “Yah bisa dibilang begitu. Tapi aku tidak tahu apa yang dia sukai, apa yang dia benci.”

 

“Fany memang teman yang baik. Aku senang bermain dengannya.” Jawab Jessica seraya membersihkan es krim yang mencair di sela jari-jarinya.

 

“Jadi…kau tau apa yang disukai dan hal yang dibenci Fany?”

 

“Fany suka es krim. Fany benci dosen yang mengajar lama.”

 

“Bukan begitu…” Kata Siwon lemas. Ternyata menculik Jessica langsung tidak membantunya sama sekali. Tapi ia cukup puas melihat reaksi Tiffany yang terlihat sangat cemburu saat ia meminta Jessica untuk pulang bersama. “Boleh aku minta nomor teleponnya?”

 

“Boleh, biar aku catat untukmu.” Kata Jessica kemudian merobek secarik kertas, mengeluarkan handphone-nya, mencari kontak nama Tiffany, dan mencatat nomor Tiffany. Ia menyerahkannya pada Siwon. Siwon tersenyum, mungkin bicara langsung pada Tiffany adalah hal terbaik menurutnya.

 

Tak lama kemudian mobil hitam itu terparkir di depan rumah Jessica. Jessica menemukan mobil Appa nya di garasi. Untung saja ia sudah mengabari Appa nya bahwa ia pulang bersama seorang teman.

 

“Kau tidak mempersilahkanku masuk?” Celetuk Siwon.

 

“Kalau kau mau, ayo.” Ajak Jessica.

 

Belum sempat keduanya mengetuk pintu, pintu rumah Jessica dibuka dari dalam. Sosok BoA dengan tangan terlipat menatap tajam Siwon. Siwon hanya tersenyum geli, kecantikan ibu dan anak itu sudah menyebar di seantero kampusnya. Meskipun dengan wajah merah padam seperti itu, BoA tetap terlihat cantik.

 

“Sudah Eomma bilang, jangan pulang dengan siapapun kecuali dijemput Appamu, Jessica!”  Kata BoA geram.

 

Seketika senyuman Siwon luntur. “Maaf , aku hanya mengantarnya pulang.” Cepat-cepat Siwon berbalik dan berjalan ke mobilnya. Kemudian mobil hitam itu melaju cepat meninggalkan rumah Jessica.

 

“Eomma, Siwon hanya temanku.” Kata Jessica.

 

“Teman? Teman macam apa yang mengantarmu pulang hanya berdua seperti itu?!” Balas BoA.

 

“Teman bermainku, Eomma.”

 

“Jangan pernah kau bergaul dengan laki-laki sembarangan, sayang. Kita tidak tahu dia baik atau tidak.”

 

Jessica mengangguk lemah. Dalam hatinya ia meringis, apa tidak boleh bermain dengan laki-laki?

 

“Ada apa ini?” Yunho muncul dari dalam rumah, Jessica bergerak memeluk Appa nya. Dengan lembut Yunho mengelus rambut putrinya. “Kau jangan memarahinya seperti itu. Laki-laki yang mengantarnya pasti hanya bermaksud baik.”

 

“Aku tidak peduli, pokoknya Jessica tidak boleh bergaul sembarangan!” Semprot BoA kemudian berlalu.

 

Jessica masih bisa mendengar ocehan Eommanya. Ia menatap Appanya, Yunho hanya mengangguk seakan berkata, ‘semuanya akan baik-baik saja’.

 

~***~

 

“Fany, aku marah padaku?” Tanya Jessica. Ia tengah menelpon Tiffany.

 

Tiffany sendiri masih diam tidak menjawab apa-apa meskipun ia menerima telepon Jessica.

 

“Mianhae… aku tidak bisa makan es krim bersamamu.”

 

“…..”

 

“Aku janji kita akan makam es krim bersama. Aku yang akan membelinya, ukuran besaaaar.”

 

“..…”

 

“Bicaralah.”

 

“Ini bukan masalah es krim.”

 

“Lalu apa?”

 

“Kau suka Siwon?”

 

“Suka. Kita kan sering bermain dengannya.”

 

“Bukan itu, Jessica.” Keluh Tiffany.

 

“Ah aku ingat. Tadi Siwon bilang dia yang menyukaimu. Dia bilang dia mengantarku pulang karena ia ingin bertanya tentangmu.”

 

“Apa yang dia katakan?!”

 

“Hmmm…apa yang kau suka dan kau benci.” Jawab Jessica.

 

“Lalu kau jawab apa?”

 

“Kau suka es krim dan kau benci dosen.”

 

Tiffany tertawa, Jessica memang terlalu polos untuk ditanya hal-hal seperti itu. “Hanya itu?”

 

“Tidak, ia juga meminta nomor teleponmu. Aku berikan saja.”

 

“Benarkah? Tapi dia belum menelpon atau mengirimiku pesan.” Titt…titt… sebuah pesan masuk. Tiffany meminta izin untuk membuka pesannya sebentar.

 

Fany? Aku berusaha menelponmu tapi sepertinya sedang sibuk. Besok ada pertandingan futsal antar fakultas dan aku salah satu dalam tim. Aku berharap aku bisa melihatmu duduk di bangku penonton besok.

Choi Siwon

 

“Siapa?” Tanya Jessica penasaran.

 

“Hehe kau mau tahu saja.”

 

“Jadi, kau mau memaafkanku, ya?”

 

“Tidak. Ada syaratnya.”

 

“Apa? Apapun akan aku lakukan.”

 

“Hmmm temani aku menonton pertandingan futsal besok. Mengerti?”

 

“Oh baiklah. Kalau aku pergi bersamamu, Eomma pasti mengizinkan.” Kata Jessica senang.

 

~***~

 

Jessica menghela nafas untuk kesekian kalinya. Ia sudah merasa bosan dengan pertandingan futsal yang sedang ditontonnya bersama Tiffany. Tiffany sendiri hanya fokus dan berteriak menyerukan nama Siwon. Jessica sama sekali tidak tertarik dengan pertandingan itu.

 

“GOOOOLLL!!” Seru Tiffany lalu berjingkrak. Jessica tidak peduli sama sekali, ia asyik memainkan ujung bajunya.

 

“Kau tidak lihat? Tim Siwon menang!!” sambung Tiffany.

 

Jessica melirik ke arah lapangan, beberapa orang tengah berjingkrak ria. “Siwon mencetak gol lagi?”

 

“Bukan. Aku tidak tahu siapa yang mencetak gol terakhir, yang jelas itu gol kemenangan mereka!”

 

“Baguslah, aku ikut senang.” Kata Jessica.

 

Siwon segera menghampiri Tiffany dan memeluk sebentar gadis itu. Dengan cepat Jessica menutup kedua matanya, ia tidak suka adegan seperti itu.

 

“Tidak salah tim kami meminta Donghae untuk bergabung.” Kata Siwon senang. Tiffany tersenyum lalu menghapus peluh di kening Siwon dengan tissue. Jessica sudah bisa memastikan bahwa sahabatnya itu dan Siwon memiliki hubungan yang dekat.

 

“Donghae? Jadi itu pemain baru di tim kalian?” Sela Fany.

 

Jessica menyebarkan pandangannya ke penjuru lapangan. Ia memperhatikan setiap pemain yang duduk di bangku tim Siwon. Meskipun tidak menyukai futsal ia cukup hafal wajah para pemainnya. Mata foxie Jessica menemukan seorang laki-laki yang belum pernah ia lihat bermain di lapangan sebelumnya. Ia yakin bahwa itulah Donghae, yang dimaksud Siwon.

 

Jessica masih asyik memperhatikan Donghae dari kejauhan. Jessica memang susah menghapal wajah seseorang. Butuh waktu yang cukup lama untuk bisa mengingat seseorang jika bertemu untuk kali kedua.

 

Jessica beranjak ketika melihat Donghae meninggalkan area futsal. Cepat ia mengikuti laki-laki itu. Tiffany memanggilnya berulang kali namun Jessica tetap berjalan. Seperti ada magnet yang menariknya, ia mengikuti Donghae.

 

“Donghae ssi…” Panggil Jessica. Menyadari kebodohannya, Jessica cepat berbalik dan menutup wajahnya sendiri.

 

Donghae menoleh dan menemukan seseorang memunggunginya. “Kau memanggilku?”

 

Jessica kembali berbalik dan tersenyum, “Ya.”

 

“Ada apa?”

 

“Ah… selamat! Untuk kemenangan tim mu!”

 

“Ini kemenangan pertamaku bersama tim Siwon, terimakasih.”

 

“Aku dengar kau mencetak gol kemenangannya, ya?”

 

“Kau dengar? Kau tidak melihatnya?”

 

Jessica tersenyum miris. Ia sendiri tidak mengindahkan dari awal pertandingan. “Aku tidak memperhatikan pada akhir pertandingan.”

 

“Oh. Lain kali kau harus menontonnya dengan baik. Aku harus pergi, bye!”

 

Jessica mendengus sambil melihat punggung Donghae yang perlahan menghilang saat menuruni tangga. “Kenapa aku harus menyapanya. Bodoh.”

 

~***~

 

Hari masih sangat pagi namun Donghae sudah berjalan menyusuri jalanan di kota Seoul. Ia meninggalkan flat sederhananya menuju kampus. Memang memungkinkan untuknya menggunakan bus, namun berjalan kaki bisa menyehatkan badan dan tentunya berhemat bagi Donghae.

 

Kota Seoul sudah cukup ramai meski matahari belum meninggi. Cuaca yang bersahabat membuat Donghae semakin mempercepat langkahnya dan menikmati udara pagi meskipun sudah berpolusi.

 

Kampusnya sudah di depan mata, hanya tinggal menyebrang jalan. Sebelum menyebrang, mata Donghae menangkap sosok perempuan yang menyapanya kemarin sore. Perempuan itu berdiri tak jauh darinya, ia berusaha menyebrang namun sepertinya gagal, mungkin karena ramai dan takut.

 

Donghae bergegas mendekati perempuan itu lalu menyapanya ramah, “Hey!”

 

Perempuan itu cukup kaget, “Donghae ssi?”

 

“Aku Lee Donghae. Cukup panggil Donghae.”

 

“Aku Jessica. Jung Jessica.” Jawab Jessica menjabat tangan Donghae.

 

“Kau ingin menyebrang?”

 

“Ya. Appa ku terburu-buru jadi tidak sempat memutar. Aku diturunkan disini, aku harus menyebrang jalan.” Keluh Jessica.

 

“Baiklah, kita bisa menyebrang bersama.”

 

“Oke.” Sahut Jessica senang. Tanpa ragu Jessica meraih lengan Donghae. Laki-laki itu cukup tersentak dengan sikap Jessica, namun ia membiarkannya hingga mereka sampai di seberang jalan.

 

“Nah, sudah sampai!” Seru Jessica lalu berlari masuk ke dalam area kampus. “Dadaah!”

 

Donghae melihat tingkah Jessica dengan tatapan aneh.

 

~***~

 

“Fany… Fany…” Jessica merengek sambil terus menarik lengan Tiffany.

 

“Kau menunggu Appamu sendiri ya? Aku pulang dengan Siwon.” Tolak Tiffany.

 

“Kau mau bermain kemana bersama Siwon? Ajak aku juga!”

 

Tiffany mengacak ringan rambut Jessica lalu mencubit pipi sahabatnya itu, “Aku akan bermain di tempat yang sangaaaaaaat menyenangkan bersama Siwon. Tapi itu hanya untuk kami berdua, kau tidak boleh ikut.”

 

“Tapi satu jam lagi Appa akan menjemputku. Ayolaaah…biarkan aku ikut.” Rengek Jessica lagi. Beberapa pasang mata memperhatikan Tiffany dan Jessica, namun mereka tak mengindahkannya.

 

“Maaf kali ini aku tidak bisa. Maaf.” Kata Tiffany menyesal.

 

“Baiklah.” Jessica mengalah dan melepaskan lengan Tiffany. Tiffany segera berlalu sebelum Jessica berubah pikiran. Ya. Tiffany sudah resmi berpacaran dengan Siwon. Namun ia belum menceritakannya pada Jessica.

 

Jessica berjalan lesu sesaat setelah Tiffany pergi. Ia memilih membeli es krim dan menunggu Appanya di kantin kampus.

 

“Kau lagi?” Seseorang menepuk pundak Jessica. Perempuan hampir saja menjatuhkan es krimnya.

 

“Donghae?”

 

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Donghae lalu duduk di samping Jessica.

 

“Es krim.” Kata Jessica kemudian menunjukkan es krim cokelatnya. “Kau mau?”

 

“Tidak terimakasih. Kau pulang dengan siapa?”

 

“Appa akan menjemputku. Biasanya Tiffany akan menemaniku menunggu Appa. Tapi dia pergi dengan Siwon.”

 

“Mereka berkencan?”

 

“Tidak. Mereka hanya pergi bermain.” Bantah Jessica cepat.

 

“Bermain? Bagaimana bisa?” Tanya Donghae penasaran.

 

“Tiffany bilang mereka berdua akan bermain di tempat yang sangaaaat menyenangkan, bahkan akupun tidak boleh mengganggu mereka.”

 

“Itu namanya kencan!”

 

“Bukan! Mereka hanya bermain!” Semprot Jessica keras.

 

“Okeoke bermain.” Kata Donghae mengalah. Ia memperhatikan wajah Jessica yang kecut sambil terus meracau tak jelas. “Jadi, kita berteman?”

 

“Kita? Berteman?” Tanya Jessica heran.

 

“Ya. Kita berteman.”

 

“Baiklah. Aku sangat senang bisa berteman dan bermain denganmu!” Seru Jessica.

 

“Hahahaa….”

 

Waktu cepat merambat.

 

Jessica melirik jangan tangannya. Ia tersentak, sudah lebih satu jam ia makan es krim di kantin sambil berbincang dengan Donghae. “Aku harus pulang. Appa pasti sudah menunggu. Aku senang bermain denganmu Donghae. Bye!”

 

Jessica berlari tergesa-gesa tanpa mengindahkan teriakan Donghae, “Hati-hati Jess!!!”

 

~***~

 

Donghae merebahkan tubuhnya di ranjang. Badannya cukuplah hari ini. Berkecimpung sebentar di dunia air membuatnya merasa segar kembali. Donghae beringsut menarik selimut tebalnya. Berusaha memejamkan mata dan tertidur.

 

Bukannya tidur pikiran laki-laki itu melayang entah kemana. Ia gusar, kemudian menendang selimutnya. Tangannya bergerak ke balik bantal, meraih selembar foto yang selalu membuatnya nyaman ketika ingin tidur.

 

Donghae tersenyum tipis. Jemarinya meraba gambar potret yang ada di foto. Appa, Eomma, dan dirinya. Sebuah foto klasik yang diambil 6 tahun lalu.

 

Donghae teringat masa-masa bahagia bersama keduaorangtuanya. Di sebuah kota kecil bernama Mokpo, ia habiskan waktu bersama mereka. Hidup mereka sangat bahagia meski dalam kondisi yang berkecukupan.

 

Namun hidup tak selamanya bahagia. Appa Donghae meninggal akibat sakit jantung yang diderita sejak lama. Sejak saat itu Donghae dan Eomma nya berjuang hidup hanya berdua saja.

 

Donghae ingat bagaimana ia harus bekerja di liburan musim panas sebagai pekerja di pombensin, di saat semua teman-temannya berlibur. Ia melakukan itu untuk membantu Eommanya yang hanya bergantung pada kedai kecil di rumahnya. Bahkan Donghae kecilpun pernah bekerja paruh waktu di sebuah tempat pemandian mobil selama beberapa bulan. Pekerjaan yang selalu ia lakoni setelah pulang sekolah. Namun ia berhenti bekerja disana karena ketahuan Eomma. Bahkan saking marahnya, Donghae diikat di tiang dapur oleh Eomma nya sendiri.

 

Donghae kecil hanya ingin membantu meringankan beban ekonomi keluarganya. Tapi Eomma Donghae tidak mengizinkan putra nya untuk bekerja. Ia ingin Donghae terus belajar dengan giat dan rajin, tetap bersekolah.

 

Mulai saat itu Donghae memantapkan diri untuk terus belajar. Dengan susah payah ia mengejar beasiswa ke perguruan tinggi setelah lulus sekolah menengah atas. Setelah mendapatkan beasiswa, ia sempat ragu karena ia harus meninggalkan Eommanya di Mokpo untuk melanjutkan studi ke Seoul.

 

“Eomma tidak apa-apa disini. Eomma akan baik-baik saja. kau harus terus belajar dan berjuang untuk meraih mimpimu. Yakinlah, Appa mu akan sangat bangga dari atas sana.”

 

Kata-kata Eomma nya terngiang kembali. Tanpa disadari air mata jatuh dari pelupuk mata Donghae. Donghae meletakkan selembar foto itu di dadanya, memeluk erat, seakan memeluk kedua malaikat yang Tuhan kirimkan untuknya.

 

“Eomma, Appa. Aku merindukan kalian.” Bisik Donghae.

 

Matanya lelah. Perlahan menutup dan beristirahat di malam yang panjang.

 

~***~

 

Di tempat lain, Jessica masih belum bisa tidur. Ia menekan dan mengganti channel TV nya. Tidak ada acara yang menarik bagi perempuan itu. Dengan kesal ia mematikan TV, meraih susu coklat hangatnya dan meneguk dalam satu tegukan.

 

Ia menghela nafas panjang kemudian tersenyum. Ia tidak bisa tidur karena memikirkan seseorang. Seseorang yang baru saja menjadi temannya. Jessica menekan dadanya sendiri, jantungnya akan berpacu cepat jika memikirkan laki-laki itu, Lee Donghae.

 

“Kau kenapa, sayang?”

 

Jessica menggeser tubuhnya lebih dekat pada laki-laki yang sangat dicintainya, Yunho. Jessica memeluk manja Appa nya. “Tidak ada-apa, Appa.”

 

“Kau sakit lagi?” Tanya Yunho khawatir.

 

“Tidak. Hiihii…”

 

Menangkap gelagat aneh putrinya, Yunho terus mendesak Jessica. Akhirnya Jessica membuka suara tentang apa yang ia rasakan. “Aku berteman dengan seseorang, Appa. Aku senang bermain dengannya. Anehnya, jantungku berdetak sangat kencaaaaaang dan cepaaaaaat tidak seperti biasa.”

 

Yunho terhenyak mendengar pengakuan putrinya, ia mengukir senyum di wajah lalu mencubit hidung Jessica. “Dia seorang laki-laki?”

 

“Humm iya. Dia teman yang baik dan aku senang bermain dengannya.”

 

“Kau menyukainya?”

 

“Tentu saja!” Jawab Jessica polos. “Tapi Appa, aku rasa ini sedikit berbeda. Aku lebih menyukai Tiffany, tapi tidak pernah aku rasakan jantungku berdekat seperti gendering. Aku juga menyukai Siwon, tapi rasanya biasa saja.”

 

“Berarti gadis kecil Appa sudah mempunyai seseorang yang special!” Celetuk Yunho.

 

“Tidak! Yang paling special itu Eomma dan Appa. Dia hanya teman bermain, aku juga lebih menyukai Tiffany. Aku hanya bingung kenapa jantungku bisa seaneh itu, hihiii…”

 

Tanpa sepengetahuan mereka berdua, seorang wanita mendengar ayah dan anak itu bercengkrama akrab. Wanita itu meremas keras gagang pintu kamarnya. Cepat ia mendatangi Jessica dan Yunho.

 

“Jessica, cepat minum obatmu lalu tidur!” Gertak BoA.

 

Jessica dan Yunho terkejut. Jessica menunduk kemudian pergi ke kamarnya. Meminum obat rutinnya dan pergi tidur.

 

“Kau tidak lihat aku sedang bercanda dengan anak kita?” Keluh Yunho.

 

“Dan kau tidak lihat ini sudah jam berapa?” Balas BoA tak mau kalah.

 

“Baiklah sayangku. Aku juga akan tidur.” Kata Yunho lalu mengecup pipi istrinya, beranjak masuk ke kamarnya.

 

BoA berbisik pelan pada dirinya sendiri, “Aku akan membuatnya tetap hidup. Meskipun ia harus tetap menjadi bayi kecilku.”

 

TBC

 

Bagaimana? Kurang panjang kan? Part selanjutnya akan segera rampung ^^

12 thoughts on “Heart Attack Part 1

  1. tante BoA knpa sih? over protective bgt? -_-
    kyak jessie unnie msh anak tk aja u_u
    pnasaran sma alasannya tante BoA😀

  2. hohoho ternyata ff ini toh yg ada yunboanya wakakak
    kerenlah mba!🙂
    kirain oneshot, ternyata berchapter..
    cepetan ya dilanjutinnya, jangan lama2..

    oh iya, gimana nasib ff season of lovenya mba?
    belum dilanjutin juga ampe skrg u.u
    cepet diselesaiin ya mba, please..

    keep writing😉

  3. lah ituh boa nya knpa ,koq over bangettt sih k jessie nya ,hduhhh jessie sayangg kmu polos bangett sih😀 ,donge smpe bingung tuh😀 ,kyaaa yunho kaianya takut yah sm istrinya😀 next part ak tggu😉

  4. Lanjut thor..
    Penasaran kenapa Boa eonni memperlakukan Sica eonni kayak anak kecil gitu??

    Keren banget, dan sempet ketawa sendiri gara2 Sica eonni kayak anak kecil *hoho
    Nggak bisa ngebayangin kalau Sica eonni kayak gitu di kehidupan nyata..😀

    Cepet lanjyt ya thor🙂

  5. kayaknya Jessica ada penyakit deh..?? kalau masalah perlakuan BoA ke Jessica yang masih anggap jessica anak kecil, Jessica nggak bakalan sepolos ini. kencan aja nggak tau..?? orang kelewat polos pun tau kencan. kalimat terakhir BoA itu makin memperkuat asumsi aku..?? tunggu kelanjutannya aja deh.

Kritik, Saran dan lain-lain DISINI

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s