Heart Attack Part 2

  1. Author : Lime
  2. Judul : Heart Attack Part 2
  3. Kategori : Romance, Family, Chapter
  4. Cast :

–          Jung Jessica SNSD

–          Lee Donghae Super Junior

–          Tiffany SNSD

–          Kwon BoA

–          Jung Yunho TVXQ!

 

Ini Part 2 dari Heart Attack. Dari part 1 konflik sudah mulai keliatan walaupun agak meraba (?). mungkin di part 2 ini juga masih belum jelas (??). Kalo bias bacanya sambil denger lagu Demi Lovato – Heart Attack hehe.. Maaf typo bertebaran dimana-mana, dipungutin aja ya. Semoga suka! Don’t like, don’t read. Do read, do RCL! ^^

heart attack

But you make me wanna act like a girl

Paint my nails and wear high heels

Yes, you

Make me so nervous

And I just can’t hold your hand

 

 

Donghae melangkahkan kakinya ke sebuah ruangan yang bertuliskan ‘Library’. Setelah melemparkan senyum pada petugas perpustakaan yang selalu ramah menyapa, Donghae memilih duduk di pojok bangku panjang yang menghadap langsung ke jendela. Donghae dapet melihat dengan leluasa area kampusnya, karena perpustakaan itu berada di lantai tertinggi.

 

Sebenarnya ia tidak berniat untuk membaca ataupun meminjam buku. Perpustakaan lantai teratas memang jarang dikunjungi mahasiswa, sebuah tempat sepi dan nyaman jika ingin menyendiri dan merenung.

 

Entah bagaimana awalnya, Donghae mendengar suara tangis perempuan dari sudut ruangan. Donghae menoleh, pandangannya tertuju pada toilet perpustakaan.  Suara tangis itu semakin meraung dari dalam toilet. Donghae beranjak mendekati toilet itu, tangannya menggenggam gagang pintu toilet. Perlahan ia memutar gagang pintu itu dan membukanya.

 

Srrreeettt….

 

Suara khas pintu bergema di dalam toilet. Lampu toilet yang remang-remang membuat suasana menjadi mencekam. Tiba-tiba ada suara air mengalir dari salah satu bilik. Meskipun sedikit merasa takut, Donghae berjalan mendekati setiap bilik. Semua bilik pintu tertutup, entah semuanya penuh atau bagaimana. Donghae sendiri tidak berani mendobrak pintu bilik satu per satu.

 

“Hah, apa yang aku pikirkan.”

 

Belum sempat sepenuhnya berbalik arah, Donghae terhenyak kaget melihat sesosok bayangan. Jantungnya berpacu cepat, kemudian tertawa akan kebodohannya sendiri. Itu adalah pantulan dirinya sendiri, ada cermin besar di dalam toilet.

 

Donghae mengutuk dirinya sendiri kemudian melangkah santai ke luar toilet.

 

Tiba-tiba sebuah pukulan keras mendarat di bahu Donghae. “Aaaaaahhh!”

 

“Hey, apa yang kau lakukan disini?”

 

Suara yang cukup familiar di telinga Donghae menghentikan teriakannya. Ia berbalik dan menemukan Jessica tengah menatapnya aneh.

 

“Kau sedang apa disini?” Tanya Jessica.

 

“Ah aku? Eng… sedang latihan vocal.” Jawab Donghae sekenanya.

 

“Oh..kalau mau buang air jangan disini, ini toilet perempuan. Kau tidak bisa melihat tandanya di pintu?”

 

Donghae menarik pintu toilet dan melihat sebuah tanda “Women” yang memang sudah mengelupas. “Aku mendengar suara tangis dari dalam dan air mengalir. Jadi aku berniat untuk memeriksanya.”

 

“Itu..itu aku yang menangis.” Ujar Jessica. “Aku juga yang membuka keran air supaya tidak ada yang mendengarnya. Tapi sayang ketahuan.”

 

“Mengapa menangis?”

 

“Aku akan cerita, tapi tidak di dalam toilet.”

 

“Baiklah, ayo kita keluar. Aku dengar kau langganan tetap penjual es krim di kantin, kali ini biar aku yang traktir.” Kata Donghae.

 

Jessica mengekori Donghae keluar toilet. Setelah keluar dari perpustakaan, Jessica menekan dadanya sendiri. Jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Memang setiap bersama Donghae jantungnya akan mengalami gejala yang aneh. Berdetak lebih kencang. Memikirkan laki-laki itu saja membuat jantungnya berdetak kencang, apalagi bersama laki-laki itu. Hal yang masih misteri bagi seorang bernama Jessica Jung.

 

“Kau kenapa?” Tanya Donghae yang baru saja menyadari ia sudah berjalan jauh meninggalkan Jessica.

 

Perempuan itu masih menekan jantungnya, kadang terasa begitu sesak dan sakit. Namun ada perasaan bahagia di sela-sela rasa nyeri pada jantungnya. “Tidak apa-apa. Aku ingin es krim yang besaaaaaaaarrr!”

 

“Hmmm kalau begitu, ayo!” Ajak Donghae kemudian menarik tangan Jessica.

 

Di kantin Donghae membeli sebuah es krim cokelat dengan ukuran jumbo untuk Jessica. Meskipun ia harus merogoh kocek lebih dalam untuk es krim seukuran ember kecil.

 

Jessica menikmati es krim nya sambil terus berkomentar, “wah, ini benar-benar enak!”

 

“Kau suka?” Tanya Donghae, ia tak berniat meminta es krim dari Jessica. Perempuan itu benar-benar menikmati traktirannya.

 

“Uhm! Ini sangat enak! Kau tahu, makan es krim selalu membuatku merasa lebih baik!”

 

“Kalau begitu kau jangan menangis lagi.”

 

Jessica meletakkan sendok es krimnya. Ia kembali teringat alasan mengapa ia menangis. Jessica menunduk lesu sambil menjilati sisa es krim di sekitar bibirnya.

 

Merasa sudah merusak mood perempuan itu, Donghae segera meminta maaf. Jessica menggeleng pelan lalu mulai membuka suara, “Aku sedih. Aku menangis karena Tiffany sudah tidak mau bermain denganku lagi.”

 

“Maksudmu? Jadi benar ya, Tiffany sudah berkencan dengan Siwon.” Tutur Donghae.

 

“Mereka tidak berkencan, mereka hanya teman bermain. Tiffany menemukan teman yang lebih baik dariku, ia hanya ingin bermain dengan Siwon.”

 

Donghae mendengus kesal, bagaimana bisa Jessica menyebut bahwa Tiffany dan Siwon itu ‘bermain bersama?’

 

“Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. kau masih punya aku.” Kata Donghae menenangkan.

 

“Aku memang menyukaimu….” Kata Jessica. Donghae terhenyak dengan penuturan Jessica. “Tapi aku lebih menyukai Tiffany. Aku lebih senang bermain dengan Tiffany.”

 

Donghae menghela nafas lega. “Bisa-bisa nya kau berambigu seperti itu. Membuatku jantungan saja. Jess, mungkin aku tidak bisa sebaik Tiffany yang menjadi temanmu. Tapi kita bisa berteman lebih, eng maksudku bermain bersama.” Ya, sepertinya Donghae harus mengikuti aturan main ‘bermain’ ala Jessica.

 

“Benarkah? Kalau begitu aku ingin pergi bermain denganmu!”

 

“Lalu apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?”

 

“Hmmm….” Jessica mulai berpikir tempat-tempat yang ingin ia kunjungi. “Donghae ya, aku ingin pergi ke taman kota saja. Kata tetanggaku ayunan lamanya sudah diperbaiki dan dicat cantik. Tapi kalau pergi saat weekend, Eomma pasti tidak mengizinkan. Bagaiamana kalau besok kita bolos kuliah?”

 

“BOLOS?!” Seru Donghae kaget. “Yayaya…bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu.”

 

“Aku dan Fany sering melakukannya. Itu cukup menyenangkan. Bagaimana?” tawar Jessica, kali ini ia mendekatkan diri pada Donghae.

 

“Baiklah, tapi untuk besok saja, ya? Kau tidak tahu bagaimana susahnya aku mendapat beasiswa untuk masuk ke perguruan tinggi.”

 

Jessica tersenyum lebar bersamaan dengan suapan besar es krim ke mulutnya. “Baiklah, kita bertemu disini besok!”

 

~***~

 

Jam 9 pagi Jessica dan Donghae sudah dalam perjalanan menuju taman yang berada di pusat kota. Sebuah taman yang cukup luas untuk sekedar berjalan-jalan. Mereka pergi menggunakan bus. Jam kantor bus memang sangat sesak dan penuh. Jessica dan Donghae tidak mendapat tempat duduk, mereka harus berdiri di dalam bus.

 

“Wah ini menyenangkan!” Seru Jessica sesekali berjingkrak menikmati perjalanan pertamanya menggunakan bus kota.

 

“Kau tidak pernah naik bus ya?” Celetuk Donghae.

 

“Uhm iya. Appa akan mengantarku kemana saja. Aku sering melihat di TV bagaimana orang di bus, kesannya melelahkan sekali. Tapi aku rasa tak seburuk itu.”

 

Donghae tersenyum mendengar penuturan Jessica. Jessica tidak pernah merasakan bagaimana kehidupan nyata di luar rumah, naik bus saja baru kali pertama.

 

“Kita sudah sampai.” Kata Donghae. Donghae menarik tangan Jessica dan membawa perempuan itu turun dari bus.

 

Donghae masih menggandeng tangan Jessica dan Jessica tidak merasa risih sama sekali. Mereka menapaki trotoar menuju taman kota. Jessica benar-benar tidak terkendali ketika memasuki area taman. Ia berjingkrak gembira dan lari terbirit-birit menuju ayunan yang dimaksudnya.

 

“Ayo, ayun yang keras!” Pinta Jessica pada Donghae. Dengan senang hati Donghae mengayun keras dan cepat. Jessica tertawa lepas, seperti merasa sedang terbang di udara.

 

“Lakukan sendiri.” Kata Donghae, ia duduk di bangku taman sambil memperhatikan Jessica yang asyik bermain. Jessica bahkan akrab dengan anak-anak kecil yang kebetulan ada di taman. Mereka saling mengayun satu sama lain, terkadang Jessica merengek minta diayunkan pada anak-anak kecil itu. Tentu saja anak-anak kecil itu tidak mampu mengayun untuk Jessica.

 

Donghae mendongakkan kepalanya ke langit sambil menutup mata. Gelak tawa Jessica terngiang lembut di telinganya, berhasil mengukir senyum di wajah Donghae.

 

“Aku lapar.”

 

Donghae membuka matanya dan mendelik, Jessica sudah berdiri depannya sambil terus berkata “Aku lapar.”

 

“Ini baru 20 menit dank au sudah lapar?”

 

“Ini sudah jam 11 dan aku harus makan.”

 

“Baiklah nona cantik. Kau mau makan apa?”

 

“Steak!”

 

Donghae menelan ludahnya. Makanan seperti itu tidak bisa dibeli dengan isi dompetnya yang hampir menipis. “Aku tahu makanan yang lebih enak dari steak.”

 

“Oh ya? Apa?” Tanya Jessica penasaran.

 

“Ikut aku!”

 

~***~

 

Matahari sudah semakin tinggi. Setelah puas bermain di taman kota, Donghae mengajak Jessica makan di tempat makan yang menjual Ddeokbokki. Donghae benar-benar kaget mendengar pengakuan Jessica bahwa ia belum pernah makan Ddeokbokki sebelumnya. Bahkan gadis itu memesan banyak untuk dimakannya sendiri. Untuk ukuran Ddeokbokki Donghae masih sanggup membelinya.

 

“Aku kenyaaang! Wah ini benar-benar enak!” Seru Jessica sesaat setelah sepotong Ddeokbokki terakhirnya dilahap.

 

“Apa benar kau tidak pernah makan ini?” Tanya Donghae heran.

 

“Uhm iya. Eomma bilang ini junk food, makanan cepat saji. Oh ya, rahasiakan ini ya dari siapapun? Hehee…”

 

“Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang. Kita bisa pakai bus lagi.” Kata Donghae kemudian tersenyum.

 

Jessica beranjak dari kursinya. Tiba-tiba jantungnya kembali berdetak kencang.  Ia suka senyum Donghae dan entah mengapa perasaan itu membuat jantungnya berdekat lebih kencang. Ada perasaan indah disana, namun rasa sakit terselip diantaranya.

 

“Aku minum obat dulu.” Kata Jessica lalu mengeluarkan botol yang berisi pil.

 

“Itu obat apa?”

 

“Mungkin semacam vitamin, warnanya pink dan aku suka!”

~***~

 

Sudah sebulan sejak Donghae dan Jessica berteman baik, mereka sering menghabiskan waktu bersama. Jessica sudah tidak sendirian lagi jika Tiffany meninggalkannya untuk bermain dengan Siwon. Setidaknya itu yang dipikirkan Jessica. Berkencan, cinta, pacaran, tidak pernah ada di dalam pikiran Jessica.

 

Entah bagaimana kehadiran Donghae di dalam hidup Jessica membuat perempuan itu bahagia. Sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Perasaan yang selalu membuat jantungnya berdekat cepat. Seakan jantungnya akan jatuh berguling-guling setiap saat ia bersama Donghae.

 

“Aku pikir Donghae menyukaimu.” Kata Tiffany usai mengikuti salah satu mata kuliah.

 

“Tentu saja ia menyukaiku. Kalau tidak Donghae tidak akan mau bermain denganku.” Sahut Jessica.

 

“Kau ini….”

 

“Fany, Donghae mengajakku bermain  lagi malam ini. Tepatnya di Sungai Han, bagaimana?”

 

“Date? Ia memintamu untuk berkencan!!” Seru Tiffany.

 

“Bukan, ia bilang hanya bermain.” Bantah Jessica.

 

“Yaa yaa terserah kau saja. lalu apa masalahnya?”

 

“Eomma pasti tidak akan mengizinkanku.”

 

“Hmm…bagaimana kalau malam ini aku yang menjemputmu? Aku bisa mengantarmu pulang juga. Haa aku tidak tahu bagaimana perasaanku tahu kau akan pergi berkencan!!”

 

“Bermain!”

 

~***~

 

Malamnya Tiffany menjemput Jessica. Orangtua Jessica mengizinkan anak satu-satu pergi bersama Tiffany. Jessica merasa bersalah karena berbohong pada Eommanya. Meskipun BoA memang sama sekali tidak curiga.

 

“Fany, langsung saja antar aku ke Sungai Han. Aku takut Donghae menunggu lama.” Kata Jessica saat dalam perjalanan.

 

“Dengan pakaian seperti ini? Ayolah Jess, ini akan menyenangkan.” Seru Tiffany.

 

Tiffany membawa Jessica ke rumahnya. Di kamarnya sendiri Tiffany meng-make over sahabatnya. Ia meminjamkan dress pink yang pas pada Jessica. Tiffany juga membubuhkan make up di wajah Jessica. Jessica sempat menolak keras, namun ia teringat film Barbie yang sering ditontonnya di rumah. Ia jadi tertarik apa dia bisa secantik Barbie.

 

“Kau itu Barbie hidup, Jess.” Puji Tiffany.

 

“Apa aku cantik?” Tanya Jessica sambil memandangi pantulan dirinya di cermin besar.

 

“Sangat cantik.”

 

“Aku ingin mewarnai kuku ku. Sepertinya bagus.” Pinta Jessica.

 

Tiffany mewarnai kuku Jessica dengan warna yang senada dengan dress yang dikenakan. Dengan sabar Tiffany melakukannya, terkadang Jessica tidak bisa diam seperti anak kecil.

 

“Apa bisa kering dengan cepat?” Tanya Jessica sambil meniup kuku tangannya.

 

“Bisa.”

 

“Ada satu lagi yang aku ingin pakai. Tapi aku takut jatuh.”

 

“Apa itu?”

 

“High heels. Entah kenapa aku ingin memakainya.” Pinta Jessica.

 

“Jangan ditanya, aku sudah menyiapkan yang terbaik untukmu!”

 

Tiffany mengeluarkan high heels berwarna putih dari lemarinya. High heels yang masih baru, belum pernah ia kenakan sama sekali. Tiffany membantu memakaikannya. Jessica sempat oleng. Dengan sabar Tiffany membantunya berjalan menggunakan high heels. Setelah merasa cukup mereka segera berangkat menuju Sungai Han.

 

~***~

 

“Doakan aku.” Kata Jessica pada Tiffany. Tiffany tersenyum puas kemudian meluncur setelah menurunkan Jessica di sungai Han. Satu jam lagi ia akan menjemput Jessica pulang.

 

Jessica berjalan pelan menuju tepi sungai Han, tempat ia dan Donghae berjanji untuk bertemu. Lagi, jantung Jessica berpacu. Semakin dekat jaraknya dengan Donghae, jantungnya semakin tak terkendali. Ia mengatur nafasnya, terasa sesak. Namun ia tetap melangkah ke tempat Donghae. Donghae sendiri tidak menyadari kehadiran Jessica.

 

“Donghae ya..” Panggil Jessica pelan.

 

Donghae menoleh, ia tertegun. Jessica benar-benar terlihat berbdea, ia sangat cantik. Dress pink menjuntai indah, proposional dengan tubuh mungil Jessica. High heels cantik membuat kaki panjang nan mulus Jessica semakin sempurna.

 

“Aneh ya…ini terlalu dewasa.” Runtuk Jessica.

 

“Tidak.” Kata Donghae cepat. “Kau cantik, sangat cantik.”

 

Pipi Jessica merona merah. Ia tak bisa menyembunyikan rasa malunya. Jessica menunduk sambil memainkan ujung dress, memandang high heels yang ia gunakan.

 

“Aku tidak tahu kau akan berdandan seformal ini. Aku pikir kita hanya akan berjalan-jalan biasa.”

 

“Fany yang memintaku begini. Entah kenapa aku juga mau melakukannya.”

 

Donghae berjalan mendekati Jessica dan meraih tangan perempuan itu. Ia menggenggam mesra, kemudian menariknya untuk sekedar berjalan-jalan di sekitar sungai Han.

 

Jessica sendiri tak berani bicara. Baginya ini cukup menyesakkan dadanya. Jantungnya semakin berdetak cepat, ada perasaan indah yang baru pertama kali ia rasakan sepanjang hidupnya.

 

Jessica melirik Donghae sebentar, memandang setiap detail wajah laki-laki yang kini berjalan mesra dengannya. Mata, hidung, mulut, pipi, tak satupun luput dari pandangan Jessica. Ada rasa kagum yang menyeruak dalam dirinya. Rasa indah yang lebih dari sekedar suka. Mendengar nama Donghae saja sudah membuat Jessica kelabakan karena jantungnya akan berpacu lebih cepat.

 

“Kau suka tempat ini? Cukup romantis, ya?” Kata Donghae, jemari Donghae semakin erat menggenggam milik Jessica.

 

“Uhm, tempatnya indah untuk….”

 

“Bermain?” Potong Donghae cepat.

 

“Aku rasa begitu. Tempatnya luas, kita bisa bermain apa saja disini.” Sahut Jessica.

 

Donghae tersenyum. Keduanya masih asyik berjalan sambil menikmati pemandangan sungai Han di malam hari. Beberapa pasang mata memperhatikan mereka, Jessica mulai risih dengan orang-orang yang membicarakan mereka.

 

“Donghae…” Jessica menghentikan langkahnya.

 

“Ya?”

 

“Orang-orang ini terus membicarakan kita.”

 

“Benarkah? Aku tidak memperhatikan hal itu.” Ya. Karena saat ini Donghae hanya fokus pada perempuan yang ada di sampingnya.

 

“Hmmm…apa itu pacaran? Mereka bilang kita pacaran.” Tutur Jessica.

 

“Jadi kau ingin tahu bagaimana ‘pacaran’ itu?”

 

“Uhm..” Kata Jessica sambil mengangguk tiga kali.

 

Donghae menarik bahu Jessica, membuat jarak mereka semakin dekat. Ia menatap dalam manik mata Jessica, berusaha menyelami bening mata indah itu. Ia sedikit menunduk, membuat ruang jarak wajah mereka hanya sekitar beberapa sentimeter. Dan sebuah kecupan ringan nan lembut mendarat mulus di bibir Jessica. Sebuah ciuman singkat.

 

Jessica mematung. Bibir hangat Donghae menghangatkan bibirnya yang dingin, bibir yang penuh dengan rasa kikuk dan grogi. Terasa manis meski begitu singkat. Jessica mengukir senyum di wajahnya, ia sudah tidak peduli dengan rona merah di pipinya.

 

“Pacaran yang tadi….bisakah kita mengulanginya sekali lagi?” Pinta Jessica.

 

Kali ini Donghae mengelus pipi Jessica. Perlahan mendekatkan wajahnya, bersiap untuk memberikan ciuman yang lebih nikmat. Mungkin kali ini lebih lama dan dalam.

 

Belum sempat mereka melakukan ciuman, tubuh Jessica ambruk ke dada Donghae. Panik. Donghae panic sambil memeluk Jessica, mengguncang tubuh perempuan itu.

 

“Jessica! Bangun!! Jessicaa!”

 

Donghae meraih tas tangan Jessica. Mencari telepon genggem perempuan itu.

 

‘”Fany…Fany… Tiffany….”

 

~***~

 

“Bagaimana bisa sebuah ciuman bisa membuat Jessica pingsan seperti ini? Kau minum racun dulu?!” Bentak Tiffany sambil menyetir. Di jok belakang, Donghae mematung sambil menatap tubuh Jessica yang lemah, bahkan wajah perempuan mendadak pucat pasi.

 

Mobil Tiffany melesat cepat di jalanan kota Seoul.

 

Setelah sampai di rumah Jessica, Donghae segara membopong Jessica. Tiffany sendiri merasa sangat takut, dengan sisa keberanian yang dimiliknya Tiffany memencet bel.

 

Tak kurang dari satu menit, pintu rumah pun terbuka. Tampak seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di ujung pintu.

 

“Tiffany? Bukannya kau bersama Jessica? Mana putriku?” Tanya BoA.

 

“Ah..itu…sebenarnya…ahjummaa….” Kata Tiffany terbata-bata.

 

“APA? APA YANG TERJADI?!” Semprot BoA.

 

Tubuh wanita paruh baya itu sejenak melemas melihat sosok putrinya dalam gendongan seorang laki-laki, Jessica terlihat tak berdaya.

 

“APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA ANAKKU??!!”

 

“Ahjumma dengar dulu..kami hanya…”

 

“Ada apa ini?” dari dalam rumah sang suami, Yunho, keluar tergopoh-gopoh. “Jessica?!”               cepat Yunho mengambil Jessica dari Donghae dan membopong putrinya.

 

“Ahjumma…maafkan kami.” Kata Donghae.

 

“SEBENARNYA APA YANG TERJADI?!” BoA sudah tidak bisa mengendalikan diri. Tatapannya begitu tajam seperti pedang yang siap menebas dua manusia yang kini di hadapannya.

 

“Kami berdua sedang berjalan-jalan di sungai Han dan Jessica tiba-tiba pingsan.” Jelas Donghae.

 

“KALIAN BERDUA?! BUKANNYA TIFFANY BILANG JESSICA AKAN PERGI DENGANMU, HAH?!

 

Tiffany menunduk takut sambil menggigit bibirnya. “Maaf ahjumma..aku dan Jessica berbohong padamu.”

 

BoA mencengkram bahu Tiffany, mengangkat kasar wajah Tiffany dan menatap mata perempuan itu dengan penuh amarah. “DAN KAU MENGAJARI ANAKKU UNTUK BERBOHONG?!”

 

“Maaf…maafkan aku ahjumma…ini salahku…”

 

BoA sudah kehilangan kesabarannya. Ingin rasanya ia menampar wajah Tiffany sekarang juga, namun tangannya begitu kaku. “PERGI KALIAN DARI SINI, SEKARANG!”

 

~***~

 

BoA menangis, menatap sedih Jessica yang terbaring lemah di ranjangnya. BoA memang menginginkan Jessica tidur bersamanya malam ini.

 

“Bagaimana bisa kau berpikir untuk berkencan dengan lelaki.” Rintih BoA.

 

“Bagaimana mungkin kau berpikir untuk menggunakan pakaian seperti ini…mengecat kukumu…menggunakan high heels…dan bermake-up seperti badut bodoh begini… bagaimana mungkin?!” BoA kembali terisak. Ia merasa semua usahanya selama bertahun-tahun sia-sia.

 

“Tidak bisa dipungkiri, sayang. Ia akan tetap tumbuh dewasa, bagaimanapun kita mencegahnya.” Kata Yunho yang tiba-tiba memeluk istrinya. “Tenangkan hatimu.”

 

BoA menangis dalam pelukan suaminya. Nafasnya tersenggal, ia sesegukan dan meronta. Tepat seperti yang ia lakukan pada saat itu, bertahun-tahun yang lalu. Perasaan sakit, terluka, dan amarah itu kembali ia rasakan.

 

“Jangan menangis. Biarkan anak kita istirahat. Ayo tenangkan dirimu di luar, ya?” Ujar Yunho.

 

~***~

 

Tangan itu meraba apa yang ada di sekitarnya. Cover bed yang hangat dengan aroma khas menusuk hidungnya, ia sudah bisa memastikan ia berada di kamar yang berbeda. Perlahan matanya terbuka, pandangannya masih blur. Sinar lampu menyilaukan matanya, namun berhasil membuat pandangannya jernih.

 

Jessica terjaga. Ia berusaha duduk dan menyandarkan punggungnya pada bantal yang ia gunakan untuk menjangga tubuhnya.

 

“Apa yang terjadi? Kenapa aku di kamar Eomma?”

 

Jessica belum bisa mengingat jelas. Ia masih mereka-reka kejadian yang dialaminya.

 

“Astaga! Ini sudah jam 3 pagi dan aku belum minum obat sama sekali!”

 

Jessica beranjak dan membuka lemari pakaian Eomma nya. Ia tahu Eomma nya selalu menyediakan obat lebih di dalam lemari. Setelah menemukan obat berwarna pink kesukaannya, ia segera meneguk dengan air yang sudah ada di atas meja.

 

Tanpa sengaja ia menyenggol sesuatu dari dalam lemari. Sebuah berukuran sedang namun terlihat cukup manis dengan warna pink cokelat.

 

“Apa ini?”

 

Iseng Jessica meraih buku itu. Ia membuka setiap lembar dan membaca isinya. Lehernya tercekat, matanya memanas. Setiap kata yang tertulis di buku itu membuatnya sakit. Itulah diary milik Eomma nya. Tempat Eomma nya menuangkan seluruh rasa sesaknya selama ini. Buku yang tebal dan terlihat usang memang, buku yang sudah diisi sejak bertahun-tahun. Buku yang berisi setiap curahan hati Eomma nya.

 

Pada lembar terakhir, Eomma nya membubuhkan tanggal. Tanggal, bulan, dan tahun untuk hari ini. Lembar terakhir yang basah. Dengan air mata bercucuran Jessica membaca kalimat terakhir pada lembar itu.

 

“Tuhan, aku ingin dia tetap hidup.”

 

~***~

 

Donghae tersenyum senang mendengar kabar bahwa Jessica sudah masuk kuliah dari Tiffany. Sudah satu minggu semenjak kejadian itu Jessica tak pernah menampakkan batang di hidungnya di kampus dengan keterangan sakit. Donghae sendiri tidak mengerti bagaimana ciuman bisa membuat Jessica pingsan bahkan sampai sakit.

 

Donghae berlari menyusuri lorong, berlari menuju kelas yang diikuti Jessica pada jam itu. Tiffany memberinya kode untuk menemui Jessica karena kelas sudah sepi, hanya Jessica yang masih berada di ruangan.

 

Perlahan Donghae mendekati Jessica dan langsung duduk di samping perempuan itu. Jessica yang sudah curiga dengan gerak-gerik Tiffany sejak awal jam perkuliahan sudah tahu bahwa sahabatnya itu mengatur sesuatu.

 

“Maaf aku tidak berani menemuimu. Eomma mu sepertinya sangat marah.” Kata Donghae menyesal.

 

“…”

 

“Kau pingsan karena masuk angin, kan? Aku sudah tahu dress seperti itu hanya akan membuatmu masuk angin.”

 

“…”

 

“Lalu bagaimana keadaanmu sekarang?”

 

“Donghae ssi…mulai sekarang, kita tidak akan bertemu lagi.” Ujar Jessica datar.

 

Donghae tertegun. “Tapi, kenapa?”

 

“Aku hanya tidak mau bermain denganmu lagi.”

 

“Jadi maksudmu, kita putus? Kau ingin kita mengakhiri semuanya?”

 

Jessica tersenyum dingin. Ia beranjak pergi. Donghae diam menatap punggung Jessica yang semakin dekat dengan pintu keluar.

 

Jessica menoleh, menatap dingin Donghae kemudian berucap, “Apa yang harus diakhiri? Memulai saja belum.”

 

 

TBC

 

 

Bagaimana? Simak kelanjutannya di part berikutnya ^^

10 thoughts on “Heart Attack Part 2

  1. Alah makin rumit aja ni cerita..
    sebenernya boa kenapa sih? kok over protect bgt sama sica??
    penasaran sama alasan boa itu..
    trus kenapa sica mutusin hae??😦

    ayo ayo ditunggu lanjutannya ^^
    keep writing😉

  2. Suka sm sikap kekanakan jess disini. . . Tp kcian jg kLo gk bs deket or pcran seumur hdpnya. Sica skit ya disini kyk kelainan syndr0m gtU jd gk bs jd dwasa. . . .cpt dilnjuT th0r,pnsran. . .

  3. baca tengahnya ketar ketir jantung rasanya. pas baca akhirnya malah ngakak. Jessica minta berhenti berteman sedangkan Donghae ngira mereka putus. benar juga sih kata Sica (kalau menurut sudut pandang sica). Mulai aja belum gimana mauk berakhir. lanjuttt…

  4. aduhh sica polos nya kpolosan neh😀 pany kencan sm siwon dblang bermain mulu😀 hae hrus ekstra sbar neh ngdpin nya ,huwaaa knpa sica nya jd pingsan bgtu ,ishhh boa nya galak bngtt,ksian fany nya mpe dibentak bgtuu,huaaaa sica knpa mnta hae jauhin sih,ishh pst gegara bca bku diary nya boa neh,huwaaaaaaaaaa

Kritik, Saran dan lain-lain DISINI

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s