Heart Attack Part 3

  1. Author : Lime
  2. Judul : Heart Attack Part 3
  3. Kategori : Romance, Family, Chapter
  4. Cast :

–          Jung Jessica SNSD

–          Lee Donghae Super Junior

–          Kwon BoA

–          Jung Yunho TVXQ!

 

Part 3 sudah rampung. Part 4 berikutnya akan menjadi part terakhir. Maaf typo bertebaran dimana-mana, dipungutin aja ya. Semoga suka! Don’t like, don’t read. Do read, do RCL! ^^

heart attack

It’s just not fair

Pain’s more trouble than love is worth

I gasp for air

It feels so good, but you know it hurts

 

 

 

Hiruk pikuk kesibukan di pagi hari mulai ramai. Sebuah Mobil melaju sedang di jalan raya kota Seoul. Mobil itu meluncur lurus tanpa menyalip satu mobil pun. Kaca jendela mobil itu terbuka perlahan, angin masuk menyeruak ke dalam mobil. Perempuan si Pembuka kaca jendela mencondongkan kepalanya keluar, menghirup udara pagi yang sudah berpolusi. Pandangan perempuan itu tertuju pada bus kota yang sesak. Bahkan banyak wanita yang harus rela berdiri berdesakan di dalam bus. Perempuan itu menyimpulkan senyum, ia pernah merasakan sensasi seperti itu beberapa minggu yang lalu.

 

“Jessica, cepat tutup itu kembali. Udara pagi yang kotor tidak baik untuk kesehatan.” Jessica mengangguk setelah mendengar perkataan Eommanya. Cepat itu menutup kaca jendela.

 

“Sudah.” Ujar Jessica.

 

BoA mendesah ringan. Sudah 2 minggu putrinya menjadi sangat pendiam. Jessica lebih memilih mengurung diri di kamarnya setelah pulang kuliah. Ya. BoA memang tidak mengizinkan Jessica bergaul lagi dengan Tiffany sejak kejadian malam itu. Apalagi dengan laki-laki yang mengantar Jessica waktu itu, bahkan BoA sama sekali tidak tahu namanya.

 

“Kenapa kau menjadi pendiam seperti ini?” Tanya BoA. Dari kaca spion atas, suaminya bisa mengintip kedua ibu dan anak itu saling bertatapan dingin.

 

“Aku tidak tahu harus bicara dengan siapa lagi setelah Eomma melarangku bermain lagi dengan Tiffany.” Cetus Jessica.

 

“Ayolah sayang. Kau bisa menemukan teman yang lebih baik lagi dari dia.”

 

“Eomma, Tiffany sudah menjadi temanku sejak aku di bangku sekolah menengah atas. Kami berteman sudah bertahun-tahun. Dan sekarang Eomma memutuskan tali persahabatan kami? Itu tidak adil.”

 

“Sahabat macam apa yang mengajarimu untuk berbohong pada ibunya sendiri?!” Bentak BoA. “Kau sudah berani melawan ibumu sendiri, Jung Jessica!”

 

Jessica mengalihkan pandangannya ke arah jendela kemudian berkata lirih, “Jika Eomma ingin aku tidak berhubungan lagi dengan Donghae, aku sudah melakukannya. Aku sudah tidak pernah bermain dengannya selama berminggu-minggu. Jangan khawatir, Eomma.”

 

Yunho mulai kesal dengan perbincangan panas di jok belakang mobil. Tepat di depan kampus Jessica, ia me-rem mendadak mobilnya hingga istrinya hampir tercungkal ke depan.

 

“Ini masih pagi dan kalian malah melanjutkan perbincangan yang sudah basi itu?!” Kata Yunho tanpa menoleh kea rah anak dan istrinya.

 

“Terserah kau saja.” Kata BoA. “Turun.”

 

Jessica beranjak keluar dari mobil diikuti BoA. Seperti anak di taman kanak-kanak, BoA akan mengantar Jessica sampai di gerbang kampus.

 

“Dasar anak Eomma!”

 

“Huuuu Barbie kita sedang diantar sang Ratu….”

 

“Dia pikir ini taman kanak-kanak!”

 

Cemooh semacam itu sudah menjadi sarapan pagi yang mengenyangkan bagi Jessica selama 2 minggu terakhir ini. Ejekan dari teman-teman kampusnya terasa panas di telinga Jessica. Ia menggigit bibirnya dengan keras, berusaha menahan bulir cantik dari mata beningnya.

 

Jessica melempar pandangannya ke arah gedung. Ia menemukan sosok Tiffany yang melihatnya iba. “Sorry..” Jessica bisa membaca bibir Tiffany yang bergerak.

 

“Masuklah.” Kata BoA. Ia bersiap untuk mendaratkan kecupan di kening putrinya namun Jessica melangkah cepat.

 

BoA melangkah kembali di tempat suaminya menunggu di dalam mobil. Ia berhenti saat berpapasan dengan Donghae. BoA meraih telepon genggamnya dan menelepon, “Sayang, pulanglah lebih dulu. Ada hal yang harus aku selesaikan disini.”

 

~***~

 

Sebelum mengikuti kelas, Donghae pergi menuju kantin kampus, tempat ia dan BoA, Eomma Jessica, berjanji untuk bertemu. Ada pembicaraan penting yang harus disampaikan. Begitu sampai, Eomma Jessica sudah duduk dengan sebuah jus lemon di hadapannya.

 

Donghae menganggukkan kepala dan menyapa BoA. “Annyeonghaseyo…”

 

BoA membalas dengan senyuman terpaksa sambil menyuruh Donghae duduk.

 

“Ada perlu apa, Ahjumma?” Tanya Donghae. Namun ia sudah menerka apa yang akan dibahas oleh BoA.

 

“Sudahlah aku tidak suka basa-basi. Dengar, aku sebagai orangtua Jessica, merasa terganggu dengan kehadiran kamu. Jadi mulai sekarang, kamu jangan pernah mendekati anakku lagi.” Kata BoA dingin.

 

“Sebelum Anda meminta, aku memang sudah tidak pernah lagi berhubungan dengan Jessica. Meskipun begitu, aku ingin tahu apa alasannya. Bahkan sahabat Jessica sendiri harus rela menjauhi putri Anda.” Balas Donghae tenang. Meskipun telinganya sempat serasa mendengar petir menggelegar.

 

“Kau bodoh atau bagaimana? Aku hanya tidak ingin anakku bergaul dengan orang sepertimu!”

 

“Kenapa? Anda harus tahu, aku dan Jessica saling mencintai.”

 

BoA semakin naik pitam dengan sikap tenang namun penuh tanda tanya dalam diri Donghae. “Kau tahu darimana Jessica mencintaimu? Cih…aku ini ibu kandungnya. Aku tahu segalanya tentang anakku.”

 

“Begitu pula dengan hatinya? Hati wanita itu sangat dalam, lebih dalam dari samudera. Bahkan sang pemilik hati pun belum tentu bisa mengetahui isi hatinya sendiri.” Balas Donghae.

 

BoA tersenyum dingin. Ia melemparkan sebuah cek dengan nominal yang besar ke arah Donghae. “Jika kau hanya mengejar uang, ambillah itu. Pergi dari Seoul dan jangan pernah kembali. Aah…aku dengar kau adalah mahasiswa miskin dari Mokpo yang beruntung bisa kuliah disini berkat beasiswa.”

 

“Aku mencintai putri Anda tanpa alasan apapun.” Tutur Donghae pelan. “Dan Anda boleh menghinaku, menghina laki-laki miskin ini. Tidak masalah bagiku. Hanya saja Anda tidak boleh menghina perasaan cintaku pada Jessica.” Donghae bangkit dari kursi untuk meninggalkan BoA tanpa menyentuh cek yang diberikan.

 

~***~

 

Jessica berjalan tergesa-gesa keluar dari ruangan. Ia sudah bosan mendengar cibiran teman-temannya sejak mengikuti perkuliahan. Rasanya ingin pergi dan memilih bolos…lagi.

 

Mendadak ia menghentikan langkahnya saat melihat Donghae berjalan tepat ke arahnya. Jantungnya berpacu cepat, jarak keduanya hanya beberapa meter lagi.

 

Donghae berhenti tepat di hadapan Jessica. Perempuan itu menundukkan wajahnya. “Aku masih tidak mengerti. Jika memang kau tidak memiliki perasaan yang sama seperti apa yang aku rasakan, katakan saja. jangan diamkan aku seperti ini. Aku akan melupakan perasaan cinta itu dan kita bisa kembali berteman seperti biasa.” Gumam Donghae.

 

“Donghae ssi.. There’s something you don’t know, there’s something you don’t understand.” Balas Jessica sambil masih terus menundukkan kepalanya.

 

“Aku memang tidak tahu dan tidak mengerti apa yang terjadi diantara kita. Jika aku menyebutnya cinta, mungkin hanya aku yang merasakan itu.”

 

Donghae berjalan meninggalkan Jessica yang mematung di koridor.

 

“Cinta…perasaan jenis apa itu?” Ujar Jessica lirih.

 

~***~

 

Dua hari setelah itu Jessica sudah kembali tak terlihat di kampus. Donghae mengira Jessica tengah menghindar darinya. Tanpa Jessica lakukankun itu pun, Donghae sudah tidak mengindahkan keberadaan Jessica. Meskipun Donghae sendiri masih memiliki perasaan yang mendalam padanya.

 

Sebenarnya tidak. Jessica jatuh sakit.

 

“Apa yang dikatakan dokter?” Tanya BoA pada suaminya. Jessica kini terbaring lemah di rumah sakit.

 

“Kalau terus dibiarkan, akan terus meluas dan….”

 

“Cukup!” Potong BoA.

 

Yunho menangkap kesedihan di wajah istrinya. Ia merangkul sayang seraya mengelus lembut pucuk kepala BoA. “Semuanya akan baik-baik saja, sayang.”

 

“Kita bisa membawanya keluar negeri dan berobat disana!” Usul BoA tiba-tiba.

 

“Keluar negeri? San Fransisco?”

 

“Ya, back to hometown. Sudah lama kita tidak kembali, dan disana Jessica pasti bisa mendapat pengobatan yang lebih baik.” Kata BoA bersemangat. Ia mengutuk dirinya karena hal itu tak pernah terpikirkan olehnya selama ini.

 

“Bagaimana dengan pendidikannya?”

 

“Pendidikan itu nomor keseratus yang harus kita pikirkan. Keselamatan putri kita itu yang terpenting.”

 

~***~

 

Kondisi tubuh Jessica yang masih lemah tak bisa menghentikan niat BoA untuk menerbangkan keluarganya menuju San Fransisco. Jessica sendiri hanya bisa menurut pada Eommanya, ia tidak ingin membuat kedua orangtuanya kecewa.

 

“Eomma, Appa dimana?” Tanya Jessica saat ia dan BoA sudah berada di bandara. Jessica pun belum sempat mengucapkan selamat tinggal pada Tiffany, bahkan Donghae sekalipun.

 

“Appamu akan mengurus pekerjaannya dulu dan juga semua dengan kepindahan kita. Secepatnya ia pasti akan menyusul.” Kata BoA sambil menarik koper. “20 menit lagi boarding pass. Kita harus menunggu Appamu dulu.”

 

Di tempat lain, di sebuah café, Donghae tengah duduk berhadapan dengan Yunho. Donghae sudah pernah berurusan yang BoA, dan kini ia harus berhadapan dengan suaminya.

 

“Apa yang harus kita bicarakan?” Tanya Donghae cepat.

 

“Ini masalah Jessica.” Jawab Yunho.

 

“Aku sudah menduga. Jika Anda hanya akan memintaku untuk tidak mengganggu putri Anda, itu sudah aku lakukan.”

 

“Jessica sudah berada di Bandara. Saat ini juga ia akan terbang ke San Fransisco dan tidak akan kembali.”

 

Donghae terhenyak dari kursinya. Sebuah kalimat tamparan yang begitu keras hingga ia harus menjaga keseimbangan tubuhnya.

 

“San Fransisco?”

 

“Ya.”

 

“Tapi…kenapa Anda memberitahuku?”

 

“Sebenarnya ada hal yang lebih penting dari itu dan kau harus tahu.” Kata Yunho lalu menghelas nafas panjang.

 

~***~

 

[FLASHBACK ON]

 

BoA menangis sambil merengkuh putri kecilnya yang tertidur lelap. Gadis kecil yang dipeluknya tidak menyadari bahwa ibunya tengah menangis sedih, gadis kecil itu memeluk erat boneka teddy bear kecilnya sambil sesekali mengemut jempolnya.

 

BoA sesenggukan, ia tak bisa mengatur nafas dengan baik. Tangisnya memecah kesunyian malam, tak ada yang mendengar suara histerisnya. BoA menatap lembut wajah putri kecilnya, berharap putrinya akan tetap menjadi anak kecil. Atau mungkin tetap menjadi bayi lucu selamanya.

 

Tubuh BoA kembali melemas. Tulang-tulangnya seakan rontok, otot-otot di tubuhnya sudah tak mampu lalu memikul beratnya tulang yang seakan dipenuhi rasa sesak dan beban yang begitu berat. Malam itu seperti malam terakhir bagi BoA. Bukan baginya, bagi putri kecilnya. Gadis kecil yang berusia 6 tahun itu.

 

“….Jessica didiagnosa menderita penyakit yang sangat langka dan berbahaya. Penyakit ini akan terus tumbuh seiring dengan tumbuh kembang Jessica. Dengan kata lain, semakin Jessica tumbuh dewasa diiringi perkembangannya, penyakit itu akan ikut tumbuh dan berkembang…”

 

Terngiang kembali pernyataan dokter yang membuat hati BoA hancur. Air matanya terus meleleh membasahi pipinya.

 

“… pada puncaknya, tubuh Jessica tidak bisa menampung penyakit yang terus menggerogotinya. Itu berarti, jika sudah menginjak usia dewasa, Jessica akan mati… “

 

BoA kembali histeris. Ia menjambak keras rambutnya sendiri. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa putri kecilnya menderita penyakit aneh seperti itu. “Aku akan kehilangan anakku saat ia beranjak dewasa… tidakk… TIDAAAAKKK!!!”

 

BRAKK!!

 

Pintu kamarnya di banting keras. BoA menoleh, sosok suaminya berdiri di ambang pintu. Yunho mendekati istrinya kemudian memberikan pelukan terhangat yang ia punya.

 

“Kenapa….kenapa hal ini bisa terjadi…” Tutur BoA lemah.

 

“Tolong sayang, jangan seperti ini. Kita pasti punya jalan keluar.”

 

“Apa kau tidak dengar apa yang dokter katakan?! Anak kita akan mati saat beranjak dewasa tanpa sebab yang jelas, mati dengan alasan penyakit aneh seperti itu!!”

 

“Dengar dulu…” Kata Yunho lalu melepas pelukannya. Ia menatap manik mata BoA, ada kekhawatiran yang luar biasa di mata istrinya. “kata dokter, kita bisa menghambat pertumbuhannya. Jessica kecil kita harus meminum obat penghambat hormon. Mungkin ia akan tumbuh dan berkembang seperti orang pada umumnya, namun dengan obat itu, sama saja ia masih seperti anak kecil.” Jelas Yunho.

 

[FLASHBACK OFF]

 

~***~

 

“Kau tidak tahu bagaimana ia menderita selama ini. Ia harus hidup seperti seorang bocah kecil yang malang. Ia harus tetap mengkonsumsi obat yang terus menekan pertumbuhan hormonnya. Kau tahu, bahkan di usia seperti ini, semua giginya masih gigi susu…” Yunho mulai terisak dalam larut dalam ceritanya sendiri.

 

Tubuh Donghae melemas. Saat itu juga air matanya menetes. Tak peduli tatapan orang banyak yang melihat dua laki-laki di sudut café tengah terisak, seperti pasangan homo yang salah satu diantara mereka terinfeksi HIV/AIDS.

 

“Itulah mengapa BoA melarang keras Jessica bergaul dengan laki-laki. Ia tidak ingin Jessica kami jatuh cinta. Hal itu akan membuatnya semakin dewasa…dan kau tahu sendiri apa yang akan terjadi jika ia terus tumbuh…”

 

“Jessica akan mati.” Gumam Donghae.

 

“Benar.”

 

“Bisakah aku menemuinya?”

 

“Apa kau sudah lupa? Jessica sudah di bandara sekarang! Sudah terlambat…”

 

“Tidak ada kata terlambat untuk cinta!”

 

Donghae bergegas keluar dari café dan berlari. Setelah menghentikan taksi, ia melesat cepat.

 

 ~***~

 

“Eomma…kenapa Appa lama sekali?” Rengek Jessica manja di lengan BoA.

 

BoA mengelus lembut pipi Jessica, “Kau tidak sabar ingin segera tiba di San Fransisco ya, sayang?”

 

“Uhm..aku rindu.” Kata Jessica. ‘pada Donghae…’ dua kata yang diucapkan di dalam hatinya.

 

Jessica menatap lemah ke arah luar, berharap laki-laki yang dicintainya akan muncul darisana. Meskipun hanya sebuah fatamorgana, itu sudah cukup. “Bahkan aku tidak punya satu pun fotomu. Tidak apalah, sosokmu akan selalu terekam di dalam memoriku.” Kata Jessica sambil menutup matanya, seakan merasakan cinta yang amat teramat dalam.

 

“APA? DONGHAE SEDANG DALAM PERJALANAN KEMARI?!”

 

Jessica tersentak mendengar percakapan Eommanya di telepon. “Donghae…Donghae..” Jessica bersiap untuk berlari sambil menarik kopernya, namun dengan cepat BoA menahannya.

 

“Jangan pergi!”

 

“Eomma…Donghae…setidaknya izinkan aku mengucapkan selamat tinggal.” Pintu Jessica.

 

“TIDAK! Laki-laki itu sudah tahu tentang penyakitmu, Jessica! Kau pikir dia akan mau menerima dan mencintai perempuan sepertimu lagi?!”

 

Jessica tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca. “Jika ia dalam perjalanan kemari untuk menemuiku, bukankah Donghae bersedia menerimaku dengan semua keadaanku, Eomma?”

 

“JESSICA!” Bentak BoA.

 

“Eomma, aku tahu Eomma dan Appa sangat menyayangiku. Aku pun begitu. Kalian berdua tidak ingin kehilangan aku, tapi semua manusia pasti akan mati. Eomma, biarkan aku bahagia untuk kali ini saja.” Kata Jessica mulai terisak. “Tolong Eomma. Biarkan aku bahagia…aku..aku..”

 

“Kejar dia.”

 

“Hah? Eomma baru saja mengatakan…”

 

“Cepat tangkap dia sebelum dia berubah pikiran.” Ujar BoA dengan air mata yang mengucur deras.

 

Tanpa aba-aba, Jessica segera berlari keluar tanpa melepas kopernya.

 

~***~

 

Donghae berlari secepat mungkin memasuki area bandara. Ia menyebarkan pandangannya. Ia tidak menemukan Jessica. Lututnya melemah, ia terjatuh. “Sudah terlambat…”

 

“DONGHAEEEE!!” Suara cempreng yang sudah sangat dikenalnya itu memberikan kekuatan untuk kembali bangkit. Ditatapnya sosok Jessica yang masih jauh dari tempatnya berdiri. Perempuan itu berlari berhamburan ke arahnya.

 

Tepat di hadapannya, perempuan itu membuang koper yang ditarik sejak tadi kemudian memeluk Donghae erat.

 

“Maaf..maaf untuk meninggalkanmu…maaf…” Isak Jessica yang semakin mempererat pelukannya. Tangis perempuan itu pecah di keramaian. Tak peduli dengan tatapan orang, keduanya berpeluk mesra.

 

“Maaf karena tidak mengerti keadaanmu..aku terlalu egois…aku..” Donghae ikut hanyut dalam tangis perempuan yang dicintainya.

 

“Berjanjilah untuk selalu ada di sampingku sampai aku mati….”

 

“Bodoh, kau akan selalu hidup!” Bentak Donghae.

 

“Kau sudah tahu bukan tentang aku dan hidupku yang sungguh malang ini?”

 

“Ya. Aku sudah tahu dan aku tidak ingin kau mengatakan itu lagi.”

 

“Bawa aku pergi! Aku hanya menghabiskan sisa waktuku bersamamu!” Pinta Jessica seraya melepas pelukannya perlahan.

 

“Aku bilang jangan katakan hal itu…..”

 

~***~

 

“Kau melakukan hal yang benar, istriku.”

 

“Dia harus bahagia..untuk sementara ini.”

 

“Maksudmu, kau ingin membawanya kembali? Jessica sudah cukup menderita selama ini…”

 

“Ya. Tapi kali ini, laki-laki itu sendiri yang akan membawa Jessica kembali padaku.”

 

~***~

 

Donghae menyingkap tirai jendela dan membiarkan sinar mentari masuk ke ruang kamarnya. Jessica menggeliat karena sinar itu menyilaukan matanya. Donghae berdiri di dekat jendela, menghalang sinar mentari agar Jessica tidak silau lagi. Sesekali ia menggerakkan kedua lengannya. Terasa kaku kaku karena ia tidur di lantai beralaskan alas tidur yang tipis semalam, sementara Jessica sendiri menguasai ranjangnya.

 

Jessica tidur lebih dari 10 jam sejak kemarin Donghae mengajak perempuan itu pulang ke rumahnya. Ia tampak pucat dan lelah. Jessica memang tidak sempat membawa obat-obatannya, BoA yang menyimpan semuanya.

 

Donghae beranjak dan bersiap untuk berangkat kuliah. Ia cukup khawatir jika Jessica ia tinggalkan sendiri. Apalagi di tempat tinggal kecil yang sempit ini.

 

“Kau mau kemana?”

 

Donghae tersenyum kemudian berbalik saat ia siap melangkah keluar rumah. “Aku harus kuliah. Mungkin aku akan pulang telat, aku harus bekerja part time.”

 

“Dan kau membiarkanku sendiri disini? Aku takut.” Rengek Jessica lalu berlari kecil ke arah Donghae.

 

“Disini tidak ada hantu yang akan menangkapmu.”

 

“Bagaimana kalau bukan hantu yang menangkapku, melainkan Eomma? Eomma lebih mengerikan daripada sosok hantu apapun.”

 

“Eomma mu kan tidak tahu tempat ini.” Kata Donghae menenangkan.

 

“Baiklah.” Ujar Jessica. “Apa kau sudah sarapan?”

 

“Nanti saja, itu urusan gampang.” Donghae mengecup puncak kepala Jessica kemudian berlalu.

 

Jessica melambaikan tangannya sembari menutup pintu. Tiba-tiba ia memekik, perutnya meraung minta diisi. Ia memeriksa dapur Donghae, tidak ada yang bisa dimasak.

 

Jessica memerika kopernya. Senyumnya mengembang, syukurlah ia sempat menyelamatkan dompetnya. Isinya cukup banyak dengan lembaran-lembaran uang.

 

Perempuan itu meninggalkan rumah Donghae untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Ia tertegun melihat keadaan di sekitar rumah Donghae. Perumahan penduduk yang cukup padat namun tertata rapi dan teratur. Ia melihat anak-anak kecil berlarian karena dikejar ibunya, sambil sang ibu berteriak mengajak anaknya makan. Jessica mendelik ke arah kanan jalan tempat sang ibu mulai berlari, beberapa orang tengah berkumpul disana. Jessica berjalan ke tempat keramaian itu.

 

“Wah…ddeobbokkie!” Tempat itu adalah kedai makanan. Jessica ikut mengantri, ia menginginkan ddeobbokie untuk sarapannya. Setelah mendapat giliran, ia segera memesan 1 mangkuk sedang penuh dan menikmatinya di bangku panjang, tempat orang-orang lain makan disana.

 

“Kenapa harus seenak ini…” Kata Jessica nikmat. “Hah bagaimana bisa aku makan enak sedangkan Donghae belum sarapan sama sekali. Hmm..I gotta do something.”

 

~***~

 

 Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Donghae mengetuk pintu dengan cepat. Ia mengumpat dirinya sendiri karena tidak meninggalkan apapun yang bisa dimakan untuk Jessica selama ia pergi. Bahkan ia baru mengingatnya saat ia sedang lapar.

 

“Kau sudah pulang?” Suara Jessica dari dalam rumah.

 

Pintu rumah terbuka dan senyum lebar Jessica menyambut kedatangan Donghae.

 

“Kau sudah makan? Maaf aku begitu bodoh…”

 

“Tidak apa-apa. Aku membeli makanan di kedai depan. Disana makanannya sangat enak!” Seru Jessica.

 

“Syukurlah.” Kata Donghae tenang. Ia segera masuk ke dalam rumah. Ia tertegun saat tiba di ruang tamu. Berbagai macam makanan lengkap dengan snack tertata di atas meja kecilnya. “Kau memasak semua ini?”

 

“Tidak, aku membelinya. Meskipun makanan di kedai itu enak, aku ingin makan daging. Kali ini saja, yayaa?”

 

“Baiklah, aku memang sudah lapar sekali. Sampai ingin memakanmu, hahahaaa…”

 

~***~

 

“Bagaimana makanan yang aku beli, enak?” Tanya Jessica. Sesaat setelah makan ia dan Donghae, mereka duduk di lantai kamar. Jessica menemani Donghae belajar. Meskipun tidak bisa fokus karena semua ocehan Jessica, Donghae selalu membalas dengan anggukan.

 

Jessica kesal karena tidak diperhatikan. Ia merampas buku yang dibaca Donghae dan menyembunyikan di balik punggungnya. “Jangan acuhkan aku!”

 

“Ayolah Jessica! Aku harus belajar!”

 

“Semalam saja, ya?” Pinta Jessica.

 

Donghae mengalah. Ia bersandar di tepi ranjang dan menatap langit-langit kamar. Jessica melakukan hal yang sama. Cukup lama keduanya tenang dalam diam.

 

Jessica memberikan kembali buku itu pada Donghae, “Maaf. Kau lanjutkan saja belajarnya. Aku tidur saja.”

 

“Jess, kau tidak tahu bagaimana perjuanganku agar bisa terus bersekolah.” Gumam Donghae.

 

“Aku memang tidak tahu.” Ujar Jessica polos.

 

Donghae tertawa ringan, “Appaku meninggalkan dunia saat aku masih kecil. Aku hidup berdua dengan Eomma ku. Aku harus sekolah sekaligus bekerja agar bisa bertahan hidup berdua. Sampai akhirnya aku mendapat beasiswa untuk kuliah dan harus meninggalkan Eomma ku yang tua sendiri.”

 

Jessica tertegun, ia menoleh ke arah Donghae iba. Ada gurat kelelahan di wajah tampan Donghae. Jessica mengusap pipi laki-laki itu, “Maafkan aku.”

 

“Tidak apa-apa. Setidaknya kau lebih beruntung karena masih memiliki dua orangtua yang menyayangimu.”

 

“Beruntung? Aku tidak tahu menderita penyakit langka seperti ini adalah sebuah keberuntungan.” Decak Jessica. “Aku bisa mati kapan saja. semakin aku dewasa, semakin aku tumbuh besar, semakin besar pula resiko kematianku. Penyakit itu tumbuh, penyakit itu terus berkembang.”

 

“Semua orang bisa mati kapan saja, Jess. Jika Tuhan berkehendak, sekarang juga aku bisa mati. Hanya dengan satu tarikan nafas dan aku tidak bisa melepasnya lagi, aku sudah mati.”

 

Jessica menyandarkan kepalanya di bahu Donghae. Pandangan lurus menatap kosong dinding kamar. “Donghae, bagaimana rasanya mati?”

 

“Mati? Aku belum pernah merasakannya. Tapi aku pasti mati. Sebelum aku mati, aku ingin selalu melakukan hal yang baik. Agar bisa bertemu Appa ku di surga sana.”

 

“Termasuk menyelamatkanku dari Eomma? Hihi…”

 

Donghae mengacak rambut Jessica pelan, “Kau pikir Eomma mu apa hah?”

 

“Yaa sudah kubilang Eomma ku itu lebih mengerikan daripada hantu.” Kata Jessica sewot.

 

Donghae menarik hidung Jessica, Jessica menatap sebal Donghae.

 

Kini kedua mata mereka beradu pandang. Entah siapa yang memulai dan bagaimana diawali, bibir mereka bertemu dan saling mengecup. Donghae merengkuh Jessica dalam peluknya. Decak ciuman hangat mereka menyeruak di ruang kamar yang sepi.

 

Jari-jari lentik Jessica bergerak perlahan ke dada Donghae, membuka satu persatu kancing kemeja laki-laki itu. Donghae tersadar dengan apa yang mereka lakukan, tepatnya apa yang akan mereka lakukan. Ia segera melepas ciuman nafsu itu dan mendorong Jessica.

 

“Jangan begini.”

 

Jessica terdiam. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia bisa melakukan hal bodoh itu. Tak ada yang mengajarinya, hanya naluri yang menuntunnya melakukan itu. ‘apa karena aku tidak pernah minum obat lagi?’

 

“Maaf.” Gumam Jessica sambil menunduk malu.

 

“Sudahlah, sana cepat tidur.”

 

“Donghae…ayo kita lakukan saja.”

 

“APA?!” Semprot Donghae kaget.

 

“Aku tidak tahu apa aku bisa menikah atau tidak. Aku tidak tahu apa aku bisa melakukan itu. Aku hanya ingin melakukannya denganmu. Aku ingin menikah denganmu. Aku ingin memiliki anak darimu. Aku ingin kita membesarkan anak-anak kita bersama. Aku akan mengurus anak-anak kita di rumah sedangkan kau pergi bekerja. Aku akan menunggumu pulang untuk bercinta. Tapi aku tidak tahu apa bisa aku lakukan semuanya….hidupku…tak akan selama itu…” Jessica terisak. Air matanya tumpah.

 

Donghae terdiam melihat sikap Jessica. Ia menarik Jessica ke dalam lengannya.

 

“Aku mencintaimu, Jessica.”

 

“Aku lebih mencintaimu, Donghae.”

 

Perlahan Donghae menidurkan tubuh mungil Jessica di atas lantai kamar yang hanya beralaskan alas tidur tipis.

 

Dari jendela sang bulan malu-malu mengintip dua insan yang tengah memadu cinta. Dahan pohon bergoyang tertiup angin mesra, yang membelai malam penuh cinta.

 

~***~

 

Jessica terjaga. Ia bangkit dan duduk sambil menutupi bagian depan tubuhnya dengan selimut. Tubuhnya benar-benar polos tanpa sehelai benangpun. Ia melirik sosok Donghae yang tidur membelakanginya, Donghae masih tertidur pulas di sampingnya. Terlihat bekas cakaran kukunya di punggung putih Donghae akibat kegiatan yang mereka lakukan semalam. Jessica tertawa geli. Ia bangun dan membersihkan dirinya.

 

Donghae belum terjaga saat Jessica selesai mandi. Ini kesempatan bagus baginya. Ia berniat memasak sarapan pagi untuk Donghae. Meskipun tidak pernah masak sama sekali, ia sering memperhatikan Eomma nya memasak.

 

Dan sarapan sedeharna yang berhasil dimasaknya tanpa menimbulkan kebakaran adalah telur dadar dan nasi putih hangat.

 

“Aku mencium aroma yang aneh.”

 

Donghae terjaga dan menghampiri Jessica yang sudah siap dengan sarapan paginya di ruang tamu. Donghae hanya mengenakan celana pendek dengan dada terbuka. Topless.

 

Jessica segera menunduk dan menyembunyikan pandangannya. “Makanlah. Ini cukup enak.” Kata Jessica sambil mengunyah nasinya.

 

Donghae duduk di samping Jessica dan mulai makan. “Kau malu? Bukannya kau pernah melihat semuanya?”

 

Pipi Jessica merona merah. Ia semakin menunduk.

 

Donghae benar-benar lapar. Meskipun telur dadar buatan Jessica sedikit asin, ia melahapnya dengan nikmat dan cepat. “Aku akan mandi lalu berangkat kuliah.” Kata Donghae. “Oh ya, kau harus bersihkan kamarnya. Ada bercak darah disana.” Sambung Donghae kemudian berlalu ke kamar mandi.

 

Tubuh Jessica melemas. Jessica menyandarkan kepalanya di atas meja.

 

~***~

 

Donghae berjalan dengan santai menuju kampusnya. Ia tersenyum malu jika mengingat hal yang ia lakukan semalam. Sesekali ia bersenandung ria dan melompat girang.

 

Langkahnya terhenti ketika sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Ia mengintip seseorang yang menyetir mobil, itu adalah BoA. BoA menginstruksikan Donghae untuk masuk ke dalam mobil. Donghae mengikuti perintah BoA, apapun yang akan dikatakan wanita itu, Donghae sudah siap.

 

“Bagaimana keadaan Jessica?” Tanya BoA mengawali pembicaraan dingin mereka.

 

“Dia baik-baik saja. sangat baik.” Jawab Donghae.

 

“Apa kau mencintainya?”

 

“Tentu saja. Aku sangat mencintainya.”

 

“Tapi sayang, kau sangat egois.” Kata BoA.

 

Donghae tidak menjawab. Ia masih menunggu kalimat apa yang akan dilontarkan BoA.

 

“Jessica tidak membawa obatnya. Tanpa obat itu dia tidak akan bertahan lama. Tapi kalau pun ia tetap mengkonsumsi obat, itu tidak akan pernah membantu. Kau, kau adalah alasan utama jika ia mati.” Sambung BoA.

 

“Aku? Jangan bercanda.” Cetus Donghae.

 

“Bersamamu akan membuatnya semakin tumbuh dewasa, begitu pula dengan penyakit biadab yang menggerogoti tubuhnya. Jika ia terus bersamamu, waktunya tidak akan lama lagi. Namun jika ia tidak bersamamu dan tidak punya keinginan untuk terus bersamamu, masih ada harapan hidup yang lebih lama untuk Jessica.”

 

“Kami bisa hidup bersama sampai kapanpun kami mau…” Kata Donghae.

 

“Kau tidak boleh bersamanya! Jika kau meninggalkannya, Jessica bisa menerima situasi dan akan bertahan hidup. Terlepas dari keputusan untuk hidup bersama, kau memilih keputusan dengan nekat. Kau pikir itu melegakan? Cara ini yang kau pilih agar kalian hidup bersama? Aku berharap kau membuat keputusan yang tepat saat ini. Pikirkan apa yang bisa kau lakukan untuk Jessica, sebagai seseorang yang kau cintai.” Kata BoA panjang lebar. Wanita itu menghapus air mata yang mengalir di pipinya.

 

“Jika kau meninggalkannya agar ia bisa terus hidup, aku akan sangat berterimakasih padamu. Kembalikan ia padaku.” Sambung BoA.

 

Donghae sudah tidak tahan dengan semua perkataan BoA. Ia turun dari mobil berlari pergi.

 

~***~

 

 Jessica membuka pintu rumah sesaat setelah pintu itu diketuk. Donghae berdiri di ambang pintu . “Kenapa kau pulang? Ada yang ketinggalan?”

 

“Aku ingin berjalan-jalan denganmu. Cuaca sedang cerah.” Jawab Donghae datar.

 

“Tapi kuliahmu bagaimana?”

 

“Itu urusan belakang. Kau sudah siap?”

 

Jessica memandangi dirinya sendiri kemudian mengangguk. Donghae menarik Jessica keluar rumah tanpa menutup pintu. “Pintu belum dikunci, Lee Donghae!”

 

Donghae tidak mengindahkan perkataan Jessica. Ia terus menarik Jessica. Jessica terdiam ketika melihat sebuah mobil putih terparkir di depan rumah.

 

“Ini…”

 

“Aku menyewa mobil untuk kita, aku ingin berjalan-jalan denganmu menggunakan mobil ini. Jangan salah, meskipun aku mahasiswa miskin, tapi aku bisa menyetir dan mampu menyewa mobil.”

 

Donghae membukakan pintu untuk Jessica. Jessica tersenyum manis dan duduk di kursi depan. Donghae segera masuk ke dalam mobil dan mulai mengendarai mobil putih sewaannya itu.

 

Mobil putih itu melaju sedang. Jessica sangat menikmati perjalanannya. Tidak dengan Donghae. Hati laki-laki itu bergejolak.

 

“Donghae yaa…ini kali pertama kita pergi bermain mengendarai mobil. Sebelumnya tidak menggunakan bus kota. Aahh sangat menyenangkan! ” Seru Jessica. “Tapi kita mau kemana? Ke taman lagi? Atau sungai Han?”

 

Donghae diam. Ia terlihat fokus menyetir.

 

“Kau seharusnya bilang kalau kita akan pergi bermain. Aku bisa menyiapkan bekal untuk kita nanti. Aku sangat ingin membuat kimbap. Aku pernah melihat ahjumma yang di kedai itu membuatnya…”

 

“Kita tidak akan pergi bermain. “ Potong Donghae cepat.

 

“Lalu kita mau kemana?”

 

“Mengantarmu pulang.”

 

“Eh? Mengapa? Aku tidak mau pulang…”

 

“Jessica, aku tidak bisa melakukan hal ini. Apa aku harus di sisimu, hah? Kau hanya akan menjadi beban hidupku jika kau terus berada di sisiku. Aku tidak tahan lagi. Aku juga terlalu sibuk kuliah dan bekerja, sedangkan aku harus terus menjagamu setiap waktu. Aku muak, aku merasa terganggu.” Kata Donghae dingin.

 

“Aku tidak akan seperti itu lagi! Aku…aku akan bekerja. Aku juga akan belajar masak dan melakukan pekerjaan rumah.” Ujar Jessica penuh kecemasan.

 

“Pulanglah.”

 

“Aku tidak akan membuatmu khawatir. Aku pasti bisa menjaga diri. Tolong, jangan antar aku pulang…”

 

Donghae menahan emosi jiwanya. Ia membanting stir dan memarkirkan mobil ke tepi. “Kalau kau tidak mau diantar pulang, turun. Sekarang. Dan jangan pernah kembali padaku.”

 

“Tidak!” Bentak Jessica.

 

Donghae bergegas turun dari mobilnya. Ia membuka pintu mobil untuk Jessica dan memaksa perempuan itu turun. “Turun!”

 

Jessica keluar dari mobil dan memandang Donghae bingung. “Kau kenapa? Bukannya kau bilang kau mencintaiku?”

 

“Kehadiranmu hanya akan membuatku repot. Dan aku sangat marah.” Ujar Donghae kemudian masuk ke dalam mobil.

 

“Donghae yaa…Donghae yaa…” Panggil Jessica memelas.

 

Donghae tidak peduli. Dan kemudian mobil putih itu pun melaju cepat. Meninggalkan seorang perempuan yang menangis meraung.

 

TBC

 

12 thoughts on “Heart Attack Part 3

  1. huaaa sedih😥
    donghae kasian,dia jd serba salah😥
    ayo mba, lanjutinnya jgn lama2 ya🙂
    makin seru nih ceritanya!🙂

  2. Bener ternyata jessica penyakitan. Baca part romancenya, jadi inget scene bellaward di eclipse *jiwatwihardkeluar.
    Apapun yang terjadi, untuk cerita ini aku serahin ke author.. Nexxt..!!!😀

  3. oh ternyata jessica ngidap penyakit yg brkembang seiring pertumbuhannya.
    sama minum obat buat ngehambat pertumbuhannya. baru ngerti.
    next thor,buat haesica bersatu ya thor~
    keep writing!
    HaeSica Jjang!!

  4. huahhh,,donghae jahatttt!!! ._.
    pingin sica nya sembuh masa u.u kasian qan eonniku sakit teruss😦
    next chap update son,Ne Hwaiting😉

Kritik, Saran dan lain-lain DISINI

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s