Heart Attack Part 4 – End

  1. Author : Lime
  2. Judul : Heart Attack Part 4 – End
  3. Kategori : Romance, Family, Chapter
  4. Cast :

–          Lee Donghae Super Junior

–          Jung Jessica SNSD

–          Kwon BoA

–          Jung Yunho TVXQ!

 

Akhirnya FF chapter ini selesai juga. Jujur ini FF chapter pertama yang author tulis jadi mungkin setiap partnya kurang panjang dan memuaskan. Terimakasih untuk reader yang mengikuti FF ini dari part awal sampai akhir ^^ oh ya, di part terakhir ini semuanya Donghae’s POV. Dan maaf jika endingnya tidak memuaskan dan terkesan ngebut karena author ada urusan mendadak selama 2 minggu dan gak mungkin pegang laptop buat selesein FF ini, author juga bingung bagaimana harus mengakhiri FF hina ini ._.v typo bertebaran, dipungut aja ya. Don’t like, don’t read! Do read, do RCL! ^^

heart attack

 

The feelings are lost in my lungs

They’re burning, I’d rather be numb

And there’s no one else to blame

So scared I take off in a run

I’m flying too close to the sun

And I burst into flames

Hari yang cerah. Aku melangkahkan kakiku dengan santai sambil membawa seikat bunga mawar merah yang masih segar. Kusungging senyum setelah menghela nafas panjang.

 

Aku sudah sampai di tempat itu. Tempat terakhir aku bertemu dengannya. Tepatnya tempat aku meninggalkannya. Jalanan kota Seoul yang ramai menjadi kenangan tersendiri bagiku. Aku berdiri di trotoar jalan, tempat gadisku berdiri dan menangis saat aku menurunkannya dari mobil.

 

Tak terasa sudah satu tahun.

 

Tepat satu tahun yang lalu menurunkan gadis itu disini dari mobil. Aku memintanya dengan kasar kemudian pergi meninggalkannya. Gadis itu menangis disini, di tempat aku berdiri saat ini. Saat itu aku hanya menatapnya pilu dari spion mobil, di tengah mobil yang kukendarai melaju cepat. Aku tak bias mendengar tangisannya saat itu, namun pasti itu menyakitkan.

 

Memang sudah satu tahun. Aku sudah tidak melihat Jessica. Entah dia pergi ke San Fransisco atau kemana. Aku tidak tahu. Yang kudengar ia sudah mengundurkan diri dari universitas kemudian menghilang sampai saat ini. Tak ada yang tahu kabarnya. Keluarganya pun tak terdengar lagi, mereka seperti hilang ditelan bumi.

 

Aku meletakkan bunga itu di trotoar jalan.

 

Aku tidak tahu apakah Jessica masih hidup atau tidak. Hal yang kulakukan ini benar-benar gila, menganggap jalan ini adalah makamnya, mungkin. Jika memang ia sudah tidak ada lagi di dunia ini, aku ingin melihat nisannya.

 

Ku tinggalkan bunga itu disana kemudian pergi. Mungkin ada yang akan memungutnya.

 

~***~

 

Tidak ada yang lebih menyenangkan selain menikmati es krim cokelat di kantin kampus selama setahun terakhir ini bagiku. Setiap aku merindukannya, hatiku memanas seakan ingin meledak. Dan es krim cokelat ini, favorit Jessica, selalu bisa mendinginkan hatiku. Selalu bisa mengobati rinduku barang sedikit.

 

Ku lihat Tiffany dan Siwon bergandengan mesra lewat di depanku. Sesekali mereka tertawa, tidak menghiraukan orang-orang di sekitar mereka. Seperti dunia milik berdua dan semua orang di dunia ini menyewa tempat pada mereka.

 

Aku iri.

 

Aku ingin merasakan hal seperti itu dengannya. Dengan seseorang yang aku tidak tahu entah dimana sekarang. Kadang aku menyesal kenapa harus kutinggalkan ia begitu saja. Mengapa tidak kubawa kabur saja? Namun perasaan itu segera kutepis jauh. Aku tidak boleh egois.

 

Es krim cokelatku sudah habis. Aku beranjak pergi dan pulang.

 

Setibanya di rumah aku terkejut dari pintunya tidak terkunci. Apa aku lupa mengunci pintunya? Aku masuk dan betapa terkejutnya aku. Seorang wanita paruh baya tengah duduk manis di ruang tamuku. Gurat wajahnya yang mulai keriput menggambarkan kelelahan dan kecemasan selama hidupnya.

 

“Anda?”

 

“Ada yang ingin kubicarakan.” Katanya dengan suara parau.

 

Aku duduk di hadapannya. Ini kali ketiga aku berbicara empat mata dengan wanita ini. Ya. Wanita yang tak lain dan tak bukan adalah ibu dari perempuan yang sangat aku cintai. Kwon BoA.

 

“Bagaimana kabar Jessica?” Tanyaku langsung. Aku hanya ingin tahu tentangnya.

 

“Ini memang tentang Jessica.” Sahut BoA.

 

“Ada apa dengannya? Dia masih hidup, bukan?”

 

“Dia masih hidup. Namun sekarang sedang berjuang melawan maut.”

 

Aku tersenyum getir. Aku meninggalkannya agar ia bisa tetap hidup sehat dan bahagia. Kenapa malah seperti ini?

 

“Apa yang bisa aku lakukan untuknya?” Tanyaku.

 

Wanita itu menatapku penuh harap. Tatapan yang tak pernah aku lihat sebelumnya dari wanita ini. Dulu tatapannya sangat tajam seperti kilat yang siap menyambarku. “Dia sudah koma selama 3 bulan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan selain jantungnya berdetak lemah. Dokter mengatakan untuk merangsangnya, sesuatu yang akan menguatkan diri Jessica untuk hidup. Dan aku tahu itu adalah kamu, Lee Donghae.”

 

Aku terdiam. Tepat setahun yang lalu kami berpisah untuk menyelamatkan hidupnya. Dan sekarang aku harus kembali menyelamatkan hidupnya. Jessica, bukankah aku meninggalkanmu agar kau bisa terus hidup?

 

“Jessica keras kepala. Aku pikir dia akan berubah setelah kalian berpisah. Ternyata ia masih saja mencintaimu hingga menjadi seperti ini.” Sambung BoA.

 

“Aku ingin menemuinya.”

 

~***~

 

Aku masih tidak percaya. Aku akan menemuinya.

 

Aku mengiktui BoA yang berjalan di koridor rumah sakit. Ia berhenti tepat di depan ruangan berkelas. VIP. BoA memegang gagang pintunya, kemudian membuka pelan tanpa menimbulkan suara. Ia mempersilahkanku masuk terlebih dahulu.

 

Perempuan itu terbujur lemah di ranjang rumah sakit.

 

Aku mendekatinya dan duduk di kursi di samping ranjang. Banyak selang yang terhubung pada tubuh perempuan ini. Wajahnya begitu pucat. Ia tampak kurus. Rambutnya bahkan sudah memanjang, tidak pendek sebahu yang aku lihat satu tahun yang lalu.

 

“Berikan dia rangsangan apapun.”

 

Itulah perintah BoA. Aku mendekati wajah Jessica lalu mengusap pipinya. “Sudah lama kita tidak bertemu. Kenapa kau malah sakit seperti ini?” Bisikku lembut.

 

Aku terus membisikkan kata-kata cinta pada Jessica. Mengatakan bahwa aku sangat merindukannya, mencintainya, dan membutuhkannya dalam hidupku. Kubisikkan seluruh perasaan rinduku padanya. Namun Jessica masih diam. Tidak ada reaksi apapun.

 

“Dia selalu seperti itu selama 3 bulan. Selalu begitu.”

 

“Ini baru awal. Kita masih punya banyak waktu untuk membuatnya bangun dan pulih.” Kataku.

 

“Tapi Jessica tidak punya banyak waktu.” Sahut BoA.

 

Aku tersenyum pada wanita paruh baya itu. “Kita tidak boleh pesimis.”

 

Hari itu kuhabiskan waktuku untuk menemani Jessica. Semua tugas kuliah dan kerja part time aku tinggalkan. Aku sudah lelah, aku ingin selalu di samping perempuan yang kucintai.

 

“Kau tidak pulang? Ini sudah hampir larut.” Suara Jung Yunho membuyarkanku.

 

Aku melirik jam tanganku. Sudah pukul 11 malam. “Aku disini saja.”

 

Laki-laki itu mendekat dan duduk di ranjang, membuat suara berdecit yang khas. “Jessica semakin cantik ya dengan rambut panjangnya.”

 

“Dia selalu cantik bagiku.” Balasku tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Jessica.

 

“Syukur saja penyakit aneh ini tidak menurun.”

 

Aku terperangah. “Menurun?”

 

“Kau tidak tahu Jessica sudah memilik anak? Aku kira istriku sudah memberitahumu.” Kata Yunho.

 

Aku mengelus pipi Jessica dengan lembut lalu berucap parau, “Beruntung sekali suami dari Jessica. Tapi aku membenci laki-laki itu karena tidak bisa membahagiakan perempuan yang sangat kucintai.”

 

Tiba-tiba Yunho memukul kepalaku. Aku terkejut sakit dan mengusap kepalaku kesal. “Bodoh. Jessica belum menikah!” Tegasnya. “Jessica bilang padaku kalau ia pernah melakukan hal layaknya suami istri. Kandungan Jessica lemah saat itu, ditambah lagi dengan kondisi Jessica yang sudah sakit-sakitan setiap waktu. Tapi putri bersikeras untuk terus mengandung sampai melahirkan anaknya. Setelah melahirkan ia mengalami pendarahan yang hebat kemudian koma sampai sekarang.”

 

Tak satupun kata yang bisa kuucap. Lidahku kelu mendengar semuanya. Jessica melewati hal yang paling sulit sepanjang hidupnya. Tanpa disadari air mataku menetes. Aku menangis. Kugenggam erat tangan Jessica dan kuciumi penuh kasih. Begitu berat beban yang telah dipikulnya.

 

“Sebenarnya kami tidak pergi dari Korea. Kami memilih tinggal di resort kami di Pulau Jeju yang sepi. Untuk menjauhkan Jessica dari dunia luar, untuk membuatnya tetap tenang.” Sambung Yunho. Laki-laki itu mengusap punggungku. Aku sendiri masih menangis pilu.

 

“Jessica sangat merindukanmu. Ia juga selalu berdoa untukmu. Ia bahkan lupa untuk mendoakan dirinya sendiri.”

 

Kami saling merindukan meski kami tak tahu dimana satu sama lain. Kami saling mendoakan meski tanpa kabar. Manis tapi miris.

 

~***~

 

Esok harinya aku meminta BoA untuk membawa serta anakku. Aku ingin melihatnya. Wanita itu sempat menolak dengan alasan rumah sakit tidak baik untuk bayi, namun aku terus memaksa. Yunho juga membantuku untuk membujuk istrinya yang sungguh luar biasa keras kepala itu. Akhirnya wanita itu luluh dan mau.

 

Sekarang aku masih di tempat yang sama. Duduk di kursi dan memandangi Jessica. Ia masih betah bermimpi. Aku terus membisikkan kata cinta untuknya.

 

“Sayang, hari ini aku akan bertemu dengan anak kita. Aku dengar dari Appamu kau juga belum sempat memeluk anak kita. Hah, tidak kusangka perbuatan kita malam itu akan menghasilkan buah cinta.”

 

“…”

 

“Sayang, aku memutuskan untuk tetap menemanimu sampai kau terjaga dari mimpimu. Urusan kuliah bisa aku kesampingkan, bukankah aku begitu baik?”

 

“…”

 

“Kau sungguh perempuan hebat. Kau bisa melewati masa-masa sulit di saat keadaanmu sendiri sudah sangat memprihatinkan. Kau tahu betapa aku mencintaimu, Jessica?”

 

“…”

 

Aku menghela nafas panjang. Masih belum ada reaksi apapun.

 

Kreekk… pintu kamar terbuka. Seorang wanita dengan bayi dalam gendongannya tersenyum manis padaku. Aku melemparkan senyum kembali. Aku mendekati wanita itu. Tanganku gemetar melihat bayi mungil tertidur pulas dalam pelukan BoA. Lagi-lagi air mataku menetes. Aku sudah tidak peduli dengan harga diriku sebagai laki-laki yang terus menerus menangis. Biar saja.

 

“Kau ingin menggendongnya?”

 

Aku mengangguk. BoA membantuku dengan sangat hati-hati. Akhirnya aku bisa menimang bayiku, bayi Jessica, bayi kami berdua.

 

Aku mencium kedua pipi anakku. Dengan gemas kucium berulang kali hingga membuatnya beringsut kemudian menguap lucu. Aku terus menciuminya, air mataku bahkan meleleh di pipi bayiku.

 

“Kau membuatnya bangun! Dia pasti akan menangis!” Hardik BoA.

 

Aku tidak peduli. Kumainkan jari-jari mungilnya dan kuciumi lembut. Ia sangat cantik. “Siapa nama bayi cantikku ini?”

 

“Engg…sebenarnya dia laki-laki.” Kata BoA.

 

Laki-laki? Aku menangis sambil tertawa. Bodoh. Ayah macam apa aku ini, mengetahui jenis kelamin anaknya saja tidak. “Begitukah? Kalau begitu siapa nama jagoan kecilku ini?”

 

“Jung Baekhyun.”

 

“Bukankah ia harus memakai margaku, Lee?” Tanyaku heran.

 

“Kau dan Jessica belum menikah. Baekhyun harus mengikuti marga keluarga ibunya dulu.”

 

“Kalau begitu aku akan menikahi Jessica langsung saat ia terbangun. Baekhyun ah~ Appa janji akan membuat Eomma mu terjaga dari tidur panjangnya.”

 

~***~

 

Sudah 1 bulan berlalu. Sudah 1 bulan pula aku disini menemani Jessica. Aku hanya pulang untuk mengambil beberapa pakaian dan kembali lagi ke rumah sakit. Baekhyun tidak kuizinkan terlalu sering berkunjung ke rumah sakit, meskipun terkadang aku merindukan putra kecilku itu.

 

Baekhyun kecil sudah bisa tersenyum. Manik matanya selalu mengikuti gerakan mataku. Ia bahkan sudah mengenal aroma tubuhku. Kalau aku memakai parfum yang berbeda merk ia pasti akan menangis. Mungkin itu yang disebut ikatan batin? Atau memang penciuman Baekhyun yang tajam?

 

Hari ini BoA menitipkan Baekhyun padaku. Katanya ada hal yang harus ia selesaikan bersama suaminya. Dengan senang aku menerimanya.

 

“Jessica, kau lihat bayi kita? Dia tumbuh sehat. Dia bahkan sudah bisa tersenyum lebar. Mungkin jika kau bangun ia bisa tertawa.” Bisikku.

 

Tiba-tiba Baekhyun menangis. Kuingat apa yang dikatakan BoA. Tidak semua tangisan bayi diartikan bahwa ia lapar. Bisa saja ia bosan dan ingin main. Ku gendong Baekhyun dan berjalan-jalan di dalam kamar. Ku sodorkan botol susu namun ia mendorong ujungnya dengan lidah. Bagaimana bisa bayi ini melakukan hal itu. Aku tersenyum geli kemudian memeluknya.

 

“Mimpi ini benar-benar terlihat nyata.”

 

Suara itu terdengar begitu lemah. Aku menoleh dan memastikan sumber suara itu. Jessica. Jessicaku tengah menatapku dengan tatapan kosong.

 

Hening. Aku hanya menatapnya tak percaya. Aku benar-benar yakin itu suara Jessica dan kini ia tengah memandangku. Cukup lama kami bertatapan kemudian ia tersenyum.

 

“Aku sering memimpikan Donghae. Tapi ini terlihat lebih nyata.”

 

Aku mendekatinya dan duduk di ranjang. Aku masih diam. Baekhyun yang sedari tadi rewel juga ikut diam.

 

Jessica menggerakkan tangannya. Jemari kurusnya menyentuh wajahku, menelusuri setiap lekuknya. “Aku bahkan bisa menyentuhmu, Donghae. Ini mimpi yang berbeda dari semua mimpiku.”

 

“Kau tidak sedang bermimpi.” Balasku lalu menyentuh tangannya dan menempelkan di pipiku.

 

“Wah benar-benar ajaib! Donghae di mimpiku bisa bicara!” Seru Jessica.

 

Posisi tanganku yang memegang tangan Jessica dan sebelahnya menggendong Baekhyun, Baekhyun beringsut tak bisa diam karena tak nyaman. Kemudian ia menangis. Aku segera menenangkannya.

 

“Ini aneh. Aku sering memimpikan bayiku. Tapi ini kali pertama aku mendengar tangisan bayi.” Kata Jessica heran. Ia menatapku sekali lagi, kali ini begitu dalam. Ia berhasil menyelami bulir bening yang jatuh dari mataku. Air mata yang sudah kesekian kalinya mengalir dari mataku.

 

“Donghae mimpiku, kenapa kau menangis?” Tanyanya khawatir.

 

“Kau tidak bermimpi, sayang. Ini nyata. Kau sudah kembali ke alam nyata, Jessica.” Kataku pelan.

 

Jessica tersenyum lebar. “Benarkah? Tapi kenapa banyak selang disini? Aku takut Donghae! Apa aku akan mati?”

 

“Tidak! Kau akan tetap hidup. Tetaplah hidup untuk aku dan anak kita.” Kataku menenangkannya.

 

“Anak kita?”

 

Aku meletakkan Baekhyun di samping Jessica. Baekhyun sama sekali tidak berontak. Biasanya ia akan menendang atau menggeliat protes, namun kali ini ia diam. Jessica mengelus rambut Baekhyun, Aku membantunya untuk mencium bayi kami itu.

 

“Dia tampan bukan?” Ujarku.

 

“Sangat tampan, sepertimu. Siapa namanya?”

 

“Jung Baekhyun.”

 

“Jung? Kenapa bukan Lee?”

 

“Karena kita belum menikah.” Jelasku.

 

“Kalau begitu ayo kita menikah!”

 

Aku mengecup kening Jessica penuh cinta, “Aku akan memanggil dokter dulu kemudian kita bisa menikah setelah kau sembuh benar.”

 

~***~

 

Aku mengintip dari pintu kamar yang sedikit terbuka. BoA memeluk mesra suaminya sambil bercanda dengan Jessica. Jessica tersenyum manis, sesekali ia tertawa. Jessica duduk di ranjang sambil menimang Baekhyun di lengannya. Sungguh pemandangan yang sangat mengharukan. Aku ingin ikut bergabung, namun kuurungkan niatku. Aku kesini hanya untuk membuat Jessica sembuh.

 

“Kau sudah pulih. Aku akan pergi.” Ujarku.

 

Yunho mendengar ucapanku. Ia beranjak ke tempatku berdiri. “Kau mau pergi kemana? Yang Jessica butuhkan adalah kamu. Baekhyun juga membutuhkan ayahnya. Bukankah kau ingin sekali mengganti marga anakmu?”

 

“Bagaimana bisa?”

 

“AYO KITA MENIKAH!” Seru Jessica girang.

 

Meskipun usianya sudah tidak bisa dikatakan remaja lagi, Jessica masih bersikap seperti anak kecil. Obat penghambat pertumbuhan hormone itu benar-benar manjur.

 

“Menikah bukan perkara mudah. Aku tidak punya….”

 

“Uang yang cukup?” potong BoA cepat. “Jika itu yang diinginkan Jessica dan itu akan membuatnya bahagia. Kenapa tidak?”

 

“Yaaa Lee Donghae. Apa aku yang melamarmu, huh?” Keluh Jessica.

 

~***~

 

“Aku bersedia.” Kata Jessica mantap.

 

Aku memandangnya tak percaya. Perempuan cantik berbalut gaun putih ini suda menjadi istriku. Aku berlutut di hadapannya, mensejajarkan posisi kami. Jessica menggerakkan kursi rodanya agar lebih dekat denganku.

 

Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupku. Sebelum aku mencium Jessica, kulirik Eommaku yang menangis bahagia. Setelah pembicaraan singkatku dengan keluarga Jessica di rumah sakit dan rencana menikah kilat, aku mengabari Eomma. Kuceritakan semuanya pada Eomma. Bagaimana aku dan Jessica bertemu kemudian terpisah, bagaimana kondisi Jessica, dan akhirnya kamu bertemu kembali. Eomma langsung setuju dan hari itu juga ia pergi ke Seoul.

 

“Silahkan mencium mempelai wanita.”

 

Aku mengangguk. Aku mendekati wajah Jessica, Jessica sudah menutup matanya dengan senyuman terindah menghiasi wajahnya. Dan bibir kamipun bertemu. Hanya sebuah kecupan singkat. Kemudian seruan dari semua orang menggema di dalam gereja.

 

~***~

 

Tak ada malam pertama, kami langsung memboyong Jessica kembali ke rumah sakit. Kondisi melemah setelah pesta pernikahan. Sesuai permintaannya, Jessica berbaring lagi ranjang rumah sakit masih mengenakan gaun pengantin.

 

BoA dan Yunho yang sekarang adalah mertuaku tengah mengurus administrasi. Baekhyun kutidurkan di kereta bayinya dan aku sendiri duduk di samping Jessica. Baekhyun sesekali rewel minta digendong, namun hanya dengan nyanyian indah dari Jessica bayiku itu akan terdiam kemudian tersenyum.

 

“Kau tidur saja. Ini sudah malam. Biar aku yang mengurus Baekhyun. Setelah orangtuamu kembali aku meminta mereka membawa Baekhyun pulang. Biar aku yang menjagamu disini.” Kataku.

 

Jessica menggeleng. Ia malah minta dicium dengan manjanya. Aku mengecup pipinya sekilas kemudian memaksanya untuk tidur lagi.

 

“Aku ingin tahu apa yang kau lakukan selama satu tahun ini. Ceritakan semuanya.” Pinta Jessica.

 

“Malam ini tidak cukup. Hmmm itu membutuhkan waktu 10 tahun atau mungkin lebih untuk menceritakan semuanya.” Ujarku.

 

“10 tahun? Bagaimana bisa? Kita hanya berpisah selama 1 tahun.”

 

“Karena berpisah denganmu, menjalani hidup tanpamu, benar-benar melelahkan. Dan setiap detik berlalu begitu lama sehingga 1 tahun menurut perhitungan manusia biasa, sangat jauh berbeda dengan perhitungan laki-laki yang mencintaimu ini.”

 

“Ah, kau bisa saja.” Kata Jessica malu. Aku sangat suka wajah tomatnya. Pipinya memerah.

 

“Baiklah aku akan menceritakan semuanya. Asal kau janji kau akan mendengarkannya dengan seksama tanpa satu pun terlewatkan.”

 

“Oke, aku siap dan aku tidak akan tidur!”

 

Malam itu kuhabiskan waktuku untuk mendongengkan cerita hidupku tanpanya selama satu tahun ini. Bagaimana aku merindukannya, bagaimana aku menghabiskan waktu dengan makan es krim cokelat setiap hari, bahkan kegiatan kecilku seperti mandi atau mencuci baju.

 

Aku sama sekali tidak tidur. Bahkan aku meminta mertuaku untuk pulang saja ke rumah. Aku akan mengurus Jessica dan Baekhyun sendiri malam ini.

 

~***~

 

Malam cepat merambat menjadi pagi.

 

Sinar mentari menerobos masuk melalui celah tirai jendela. Aku masih mengoceh bercerita pada Jessica. Meskipun si pendengar sudah tertidur sejak semalam.

 

“Dan akhirnya… aku berhasil menikahi gadis bodoh yang bersikap seperti anak kecil itu. Kini aku menatap perempuan yang sudah menjadi istriku itu, namanya Jessica Jung. Entah mimpi apa yang tengah dialami, namun kali ini ia akan bermimpi sangat lama. Lama sekali. Ia akan tertidur dengan damai dan bermain dengan mimpi indahnya…”

 

Aku meneteskan air mata. Aku sudah tahu sejak semalam Jessica sudah tertidur. Tidur untuk selamanya.

 

Di tengah isak tangisku, Baekhyun terjaga dan menangis. Tak kuindahkan tangisnya, aku malah ikut menangis.

 

“Kenapa kau biarkan Baekhyun menangis? Sudah kubilang biar dia kubawa pulang saja!” Hardik BoA yang langsung masuk. Ia menggendong Baekhyun dan menenangkan bayiku. Kemudian ia memandangku heran.

 

“Kenapa kau juga ikut menangis?”

 

Aku meraih tangan Jessica. Dingin. Tangan dinginnya kuciumi beberapa kali hingga BoA mengerti. Wanita itu juga ikut menangis. Kami bertiga menangis pilu hingga Yunho datang dan menarik selimut yang digunakan Jessica. Kemudian selimut itu menutupi seluruh tubuh Jessica.

 

END

17 thoughts on “Heart Attack Part 4 – End

  1. huwaaa knpa jess nya mningga,hiks hiks ga rela jess nya mninggal bru jg bhagea ekh dh sdih”an lg ,huwaaaaa ksian baekhyun nya ,huwaaaa

  2. Hai, sLam kenaL….😀

    ff kmu bgus… Sukaa kereen
    aduh endnya nyesek, ksian uri sica….
    G reLa sica metong aduh….
    Ksian itu donge ama baek…

    Critanya pas kok, g kcepatan, pkoknya perfecto kkk~

    Keep writing n FIGHTING !!

  3. huahhhh sica nya meninggal u.u
    miris bgt,,, bca ff ini sambil dengerin lagu Love hurts ost nya Gu Family Book,,bkin aku nangis thorr😥 tpi ff nya keren thorrr,di tunggu ff haesicamu yg lainnya thor,hwaiting😉

  4. Sempat shock!!
    author pintar bgt, bkin aku kget..
    knp gk Happily Ever After?? T.T
    sdih biiiingiiit nih thor..
    SEQUEL Please.. keep writing!! jjang!!

  5. Aahhhhh ini kenapa jadi sad ending begini sih:( dikirain bakalan happy karna mereka udah bersatu ternyata enggak;(;(

  6. hwaaaaaaaaa… author, aku kira happy ending, ternyata, hwaaaaa.. sad ending😥
    daebak thor!!! keren banget ceritanya..

    sempet nangis loh thor, gara2 feelnya dapet banget u,u

    bikin ff haesica family yang banyak lagi yahh thor *Hoho😀

Kritik, Saran dan lain-lain DISINI

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s