What Is Love?

wpid-what-is-love_soyeonai_melurmutia

What Is Love?
Main Cast:
Bang Yongguk
Choi Sulli

Poster: MelurMutia @cafeposterart.wordpress.com

Author: SoYeon_Ai

—————————

Seorang gadis berambut hitam panjang melangkah dengan penuh keyakinan menuju tempat-yang-tak-seharusnya-gadis-baik-tuju.
” Bang Yongguk, cinta itu apa? ” Lelaki berambut coklat ke hitaman dengan anting panjang menempel di kuping membelalakan matanya saat gadis yang ia tak tahu siapa menanyakan apa itu cinta. Apa gadis ini gila?
Hening. Suasana kantin di sebuah Sekolah Menengah Atas di Korea ini sangatlah hening tepat setelah Sulli, gadis tadi, menanyakan tentang cinta kepada Yongguk.
” Nona apa kau sedang sakit? ” Yongguk berdiri dari mejanya yang ia duduki dan menempelkan tangannya di kening Sulli untuk memastikan apakah gadis ini sedang baik-baik saja atau tidak.
” Nan gwechanna. ” Jawab Sulli mantap.
Yongguk melirik Sulli dari atas kepala hingga ujung kaki. Nampaknya gadis ini normal, lalu apa maksud tujuannya tadi? Mencari kehebohan?
” Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? ” Tanya Sulli mendesak Yongguk untuk menjawab.
” Apa kau gila nona? ” Tanya Yongguk lagi. Gadis itu menggeleng.
Oh great, jika bukan sakit dan gila lalu apa? Apa yang membuatnya sampai bertanya apa-itu-cinta pada seorang playboy maca Bang Yongguk?
” Apa kau baru saja menanyakan padaku apa itu cinta? ” Sulli mengangguk lagi.
” Apa kau tahu kepada siapa kau bertanya? ” Sulli mengangguk untuk kesekian kalinya.
” Lalu kenapa kau masih bertanya? ” Dengan frustasi Yongguk mencoba bertanya. Apa sih yang diinginkan gadis ini?
” Aku tidak tahu cinta itu apa jadi aku bertanya padamu. Karena kau sudah berpacaran dengam banyak gadis kau jadi pasti tahu kan cinta itu apa? ” Langsung saja kelima teman Yongguk yang sedari tadi hanya terdiam langsung memecahkan tawa mereka. Bahkan di antaranya ada yang sampai terjatuh ke lantai akibat terlalu banyak tertawa.
Yongguk hanya bisa menganga mendengar alasan Sulli yang tak masuk akal. Dia ini bodoh atau bagaimana? Tentu saja dia berpacaram dengan banyak wanita karena ia tak percaya cinta, karena itulaha ia disebut seorang playboy, lalu untuk apa gadis ini bertanya?
Untuk mempermalukan dirinya sendiri atau Yongguk?
” Nampaknya kau tidak bisa menjawab. Sepertinya aku salah bertanya. ” Gadis itu bergumam.
” Kau tidak bisa menyebut dirimu playboy kelas atas, bahkan cinta saja kau tak tahu, lalu kenapa kau memainkannya? ” Jleb. Perkataan Sulli tepat menancap di hati Yongguk. Woah gadis ini benar-benar.
Yongguk masih tak percaya dengan apa yang gadis itu lakukan padanya barusan.
Gadis itu sudah cukup melukai harga dirinya.
” Cinta itu tidak ada. ” Sulli berbalik saat Yongguk dengan senyuman bangga berkata padanya.
” Mwo? ”
” Bukankah kau bertanya padaku apa itu? Dan bagiku cinta itu tidak ada. Hanya orang-orang dengan kebahagiaan semu yang menganggap cinta itu ada. ” Dan itulah Bang Yongguk. Lelaki berhati dingin yang tak percaya pada apapun tentang cinta.
Sulli nampak terdiam mendengar jawaban Yongguk barusan.
Ia tahu pada siapa ia bertanya, ia juga tahu bahwa ia  pasti tidak akan mendapatkan jawaban yang mendebarkan hati.
Jadi ia tak kecewa, benar-benar sebuah kejujuran.
” Baiklah, terimakasih karena sudah mau menjawab pertanyaanku Bang Yongguk-ssi. ” Sulli menundukkan kepalanya formal dan berjalan pergi meninggalkan Yongguk.

” Choi Sulli apa ini! ” Sebuah laporan terlempar begitu saja dari tangan seorang guru. Tampaknya sang guru marah besar.
Sulli hanya bisa menundukkan kepalanya, tak berani mengangkatnya.
” Cinta itu tidak ada? Hanya orang-orang dengan kebahagiaan semu yang menganggap cinta itu ada? Apa kau menganggapku bodoh nona Choi? ” Sulli menggelengkan kepalanya. Sungguh hawa guru yang berada di hadapannya sangat mengintimidasi hingga ia bahkan tak berani untuk menjelaskan.
” Darimana kau bisa mendapatkan ide untuk menulis kata-kata seperti ini? ” Sulli menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba mengering sebelum menjawab.
” Seseorang yang kukenal memberi tahuku ini. ” Jawab Sulli pelan.
” Seseorang? Maksudmu ini adalah jawaban orang lain? ” Sulli menganggukan kepalanya ketakutan.
” Kenapa kau harus memakai jawaban orang lain? Ada apa dengan jawabanmu? ”
” I-itu a-aku- ”
” Jangan bilang padaku bahwa kau belum pernah jatuh cinta nona Choi. ” Kepala Sulli hanya tertunduk semakin dalam.
” Hah, pergilah berkencan lalu datang lagi dengan jawaban yang memuaskan, jangan datang padaku sebelum kau dapatkan hasilnya! ”
Sulli menghela nafasnya begitu keluar dari ruangan guru yang begitu membuatnya sesak nafas  akibat aura tak mengenakkan yang begitu mencengkram.
Ah Choi Sulli bodoh, bagaimana bisa ia hanya menulis perkataan Yongguk tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu?
Sebuah ide cemerlang keluar dari otak Sulli saat melihat Bang Yongguk berjalan sambil menggandeng wanita.

Sulli berjalan ke atap sekolah dengan penuh keyakinan.
Oh tentu saja ia yakin bahwa rencananya ini pasti akan berjalan sesuai dengan keinginannya.
” Klek ” Sulli membuka pintu atap sekolah. Ups, benar saja Yongguk yang ia cari ada di atap sekolah bersantai dengan lima teman lainnya.
Senyum Sulli mengembang, senyum kemenangan.
Eits, bukankah ini terlalu dini untuk merasa senang?
Akhirnya Sulli pun cepat-cepat menghapus senyumannya dan menggantinya dengan ekspresi wajah datar.
” Bang Yongguk-ssi.” Sulli memanggil Yongguk yang sedang tiduran.
Wajah Yongguk yang semula malas-malasan langsung terkejut begitu melihat kehadiran Sulli.
Untuk apa lagi wanita aneh itu ke sini?
Sulli mendekat perlahan demi perlahan ke arah Yongguk.
Yongguk hanya terdiam melihat aksi Sulli, ia tak mengerti apa yang ingin gadis ini lakukan.
Tepat setelah Sulli sudah berada di hadapan Yongguk, bertatapan satu sama lain. Sulli berkata.
” Yongguk-ssi maukah kau berkencan denganku? ”
” Ohok-ohok.” Salah seorang teman Yongguk yang berada di situ, Youngjae namanya tersedak mendengar perkataan Sulli.
” Neo gwechanna? ” Sulli bertanya pada Youngjae, memastikan pria itu baik-baik saja. Youngjae hanya mengangguk sambil mencoba untuk menetralkan kerongkongannya di bantu oleh Junhong dengan menepuk-nepukkan pundaknya.
” Ya! Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? ” Yongguk mencoba mendapakan perhatian Sulli kembali kepada dirinya. Dan tentu saja berhasil.
” Aku hanya ingin berkencan denganmu. ” Jawab Sulli singkat namun berhasil membuat Yongguk menutup mulutnya.
” Sebenarnya kau punya sesuatu yang lain kan? Kau punya maksud tertentu kan? ” Tentu saja Yongguk akan curiga jika wanita yang sepertinya anak baik-baik datang padanya menanyakan apa itu cinta lalu mengajaknya berkencan. Bukankah itu aneh? Bukankah itu patut di curigai?
” Jika aku memberitahumu, maukah kau berkencan denganku? ” Otak Yongguk mulai berpikir.
Haruskah ia berkencan dengan gadis yang sedang tersenyum sombong ke arahnya ini?
Tapi bukankah itu hanya sebuah kencan? Yah itu adalah hal gampang bagi Bang Yongguk, segampang ia membalikkan kedua telapak tangannya.
” Katakan. ”
” Mwo? ”
” Alasan mengapa kau melakukan ini semua. ”
” Apakah itu artinya kau membantuku? ” Wajah Sulli kini mulai berbinar. Assa, rencananya benar-benar akan berjalan mulus.
” Aish hanya katakan. ” Yongguk memalingkan mukanya saat Sulli tersenyum sangat lebar ke arahnya.
” Jadi saem menyuruhku untuk menulis makalah tentang cinta, aku bertanya pada teman-temanku mereka malah menjawab dengan sesuatu yang tak kumengerti, lalu aku melihatmu. Kau adalah playboy kelas kakap jadi kupikir karena kau sudah merasakan pahitnya cinta jadi kau pasti mengerti apa itu cinta. Namun aku malah di marahi saat aku menulis cinta itu tidak ada seperti yang kau katakan oleh saem, ia berkata padaku jika aku tidak pernah berkencan dan jatuh cinta maka aku takkan pernah bisa menjawabnya. ” Sulli bercerita panjang lebar.
” Tapi kenapa harus diriku? ”
” Apanya? ”
” Orang yang kau pilih untuk eksperimenmu? Jika hanya berkencan aku yakin banyak pria yang bisa melakukannya. ”
” Karena hanya denganmulah aku bisa berkencan tanpa perlu jatuh cinta dan kau juga pasti tidak akan jatuh cinta padaku. ”
” Ya, bagaimana kau bisa menulis laporan tentang cinta jika kau tidak ingin jatuh cinta? ”
” Ah benar. ” Sulli memukul kepalanya pelan lalu mulai menggerutu. Yongguk hanya bisa geleng-geleng kepala melihat bagaiman bodohnya gadis ini hingga tak berpikir sampai ke situ.
” Tapi. ” Sulli menjerit.
” Kau bisa kan menceritakan padaku cinta itu apa, menjelaskan padaku. ” Wajah Sulli berbinar lagi.
Yongguk memandang Sulli tak percaya.
” Apa aku terlihat seperti tipe yang seperti itu? ” Sulli menggelengkan kepalanya.
” Tapi kau kan sudah janji membantuku. ” Yongguk mendekatkan wajahnya.
” Aku tidak pernah berjanji seperti itu seingatku, aku hanya menyuruhmu untuk mengatakannya. ”
” Tapi tetap saja. ” Wajah Sulli terlihat masam.
” Kecuali kau punya sesuatu sebagai imbalannya maka aku akan mempertimbangkannya. ” Yongguk berdiri tegak, melipatkan kedua tangannya di dada.
” Apa yang kau inginkan? ” Tanya Sulli
” Well, kau tahu kan akhir-akhir ada banyak pr yang menganggu

juga ulangan yang tak kumengerti dan aku ingin membeli beberapa kebutuhan. ” Kini Yongguk memindahkan tangannya ke kantung celana.
” Baiklah aku akan mengerjakan prmu dan membantu ulanganmu dam memberikanmu beberapa uang. ” Sekarang Yongguklah yang tersenyum penuh kemenangan.
——————————–

Yongguk berjalan dengan gontai menuju ke arah Sulli yang sedang asik membaca buku tanpa memperdulikan sekitar.
Sembari terkadang ia akan mencoba melemparkan personanya pada setiap gadis yang meliriknya.
Khas playboy.
Yongguk menghela nafasnya saat ia semakin dekat dengan tempat dimana Sulli, gadis yang menunggunya duduk.
Haruskah ia membantu gadis ini?
Haruskah ia hanya pergi meninggalkan gadis ini?
Eiy, tapi gadis ini sudah mengerjakan prnya jadi yah, tidak ada salahnya kan hanya membantunya?
Mata Yongguk menangkap judul buku yang Sulli baca lalu mengejeknya dalam hati.
” Cinta. Apa kau membaca buku-buku seperti ini? ” Tangan Yongguk langsung menyambar buku yang di baca oleh Sulli lalu duduk di sampingnya dan melihat-lihat isi buku tersebut.
” Ya kembalikan! ” Sulli berteriak saat Yongguk mentertawakannya karena membaca buku yang katanya kampungan.
” Karena aku tak pernah mengerti apa itu cinta makanya aku membeli buku semacam itu. ” Sulli menunjukkan wajah sedihnya yang membuat Yongguk berhenti tertawa.
” Apa kau tak pernah sekalipun tertarik pada lawan jenis? ” Yongguk bertanya mencoba untuk mengerti Sulli.
Sulli menggeleng.
” Sekalipun? ”
Sulli mengangguk.
” Apa kau tak pernah merasakan jantungmu berdetak lebih cepat dan kau merasakan aliran darah di tubuhmu mengalir dengan cepat juga saat berada atau melihat seseorang? ” Sulli menggeleng lagi.
” Apa kau tak pernah merasa ingin menatap seseorang lebih lama dari biasanya, ingin selalu melihatnya, kau tak pernah merasakan seperti itu? ” Kembali Sulli menggeleng.
” Woah kau benar-benar daebak wanita. ” Yongguk memandang Sulli tak percaya, ia benar-benar tak percaya bahwa di era modern seperti ini gadis polos dan murni masihlah ada.
” Apakah itu aneh? Jika aku tidak pernah merasakan hal semacam itu? ” Sulli bertanya, Yongguk menggeleng.
” Tidak, hanya saja orang sepertimu sangatlah langka. ” Sulli tertawa kecil.
Langka gumamnya.
” Ngomong-ngomong kenapa kita harus bertemu di taman? Maksudku bukankah di kafe akan lebih baik? Kita bisa berbicara sambil makan. ” Yongguk bertanya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman.
” Disini akan lebih baik, kita akan leluasa memandangi orang tanpa ketahuan. Lagi pula banyak orang yang berpacaran di sini, kau lihat kan? ” Sulli menunjuk pada pasangan-pasangan manusia yang sedang kasmaran.
” Apa maksudmu kita akan menguntit mereka? ”
” Ani, tentu saja tidak. Kita hanya… ” Sulli terdiam, menutup rapat-rapat mulutnya. Ah babo.
” Memperhatikan mereka. ” Sulli hanya menyengir saat Yongguk berhasil melanjutkan kalimatnya yang tak sempat ia ucapkan.
” Lupakan, kita tidak akan melakukannya. ” Yongguk berdiri dari tempat duduknya.
Di susul oleh Sulli yang mencoba meminta penjelasan dari Yongguk.
” Waeyo? ”
” Apa aku terlihat seperti pria yang suka menguntit? Ya Choi Sulli, aku ini playboy, bahkan tanpa menguntit mereka aku sudah tahu dan sangat paham apa itu cinta. ” Nada bicara Yongguk sedikit ia tinggikan. Sulli memandang Yongguk sambil tersenyum setelah mendengar perkataan Yongguk.
” Mengapa kau memandangku dengan aneh seperti itu? ”
” Bang Yongguk-ssi kau sudah pernah jatuh cinta kan? Iya kan? ” Sulli menggoda Bang Yongguk dengan terus mengatakan bahwa Yongguk sudah pernah jatuh cinta.
” Ah molla, terserah, aku sibuk jadi pertemuan kita hari ini cukup sampai di sini. ” Yongguk pergi meninggalkan Sulli begitu saja.
” Bang Yongguk-ssi ” Sulli berteriak memanggil Yongguk.
Yongguk memutarkan kepalanya kembali menghadap Sulli.
” Sst ” Telunjuk Sulli menempel di bibirnya. Memberi isyarat bahwa ia akan menyimpan rapat-rapat fakta bahwa Yongguk pernah jatuh cinta.
Yongguk hanya menyungginhkan senyum masamnya. Tapi tetap saja, dia tersemyum.
” Annyeong ” Sulli melambaikan tangannya dengan senyuman yang tertarik hingga ke kupingnya.
Sedangkan Yongguk hanya mengangkat tangannya sebagai balasan.
Khas Bang Yongguk.
Sulli tertawa kecil saat melihat tangan Yongguk yang membalas lambaian tangannya.
——————————-

” Kau tahu kemarin dia mengambil inisiatif untuk memegang tanganku pertama kali. Seperti ini. ” Mata Sulli langsung bergerak ke arah para wanita yang sedang bergosip di dekatnya.
Ia dapat melihat betapa bahagia wajah gadis yang baru saja berkata bahwa ia habis berpegangan tangan.
Wajah berseri, berbinar-binar. Sebahagia itukah?
” Eiy, kau tahu baru saja kekasihku memelukku dengan erat seperti ini. ” Wanita yang lain lagi bercerita tentang ia dan kekasihnya yang baru saja berpelukan, ia bahkan mempraktekannya dengan temannya.
” Itu semua tidak ada apa-apanya jika kalian belum berciuman. ” Wanita yang sedari tadi diam saja mulai angkat bicara. Membuat kedua temannya memandangnya.
” Apakah kau sudah berciuman? ” Itu yang mereka tanyakan. Wanita itu hanya menjawab dengan menyentuh bibirnya dengan jarinya.
Heol, mengapa mereka semua seperti itu?
Sulli menggelengkan kepalanya. Tak mengerti kenapa wanita bereaksi berlebihan saat pria menggengam tangan mereka atau memeluk mereka apalagi mencium mereka. Bukankah mereka juga melakukan itu kepada sesama teman?
Tentu saja Sulli takkan memgerti apa itu cinta. Hal-hal seperti itu saja terdengar tak masuk akal di dirinya.
Senyumnya mengembang saat melihat enam siswa memasuki kantin dengan penuh percaya diri.
Oh tentunya ia tahu siapa yang akan berbaik hati menjelaskannya.
Bang Yongguk.

Yongguk berdiri di depan pagar sekolah sambil sesekali melirik murid-murid yang berhamburan pulang sekolah.
” Kau menungguku? ” Akhirnya setelah cukup lama menunggu sosok yang ia tunggu datang juga.
” Apa maksudnya ini? ” Tangan Yongguk mengeluarkan secarik kertas yang bertuliskan ‘ Ayo bertemu ‘.
Sulli, gadis ini hanya tersenyum.
” Aku tak tahu bagaimana cara menghubungimu jadi ku taruh saja pesan di atas mejamu. ” Yongguk memutar bola matanya mendengar penjelasan Sulli.
” Jika orang melihat, mereka bisa salah paham. Mereka akan berpikir kau sudah jatuh ke dalam pesonaku. ” Sulli hanya mengangguk-angguk kecil mendengar perkataan Yongguk, tak memperdulikannya.
” Kaja. ” Sulli menarik seragam Yongguk, memaksanya pergi.

” Apalagi sekarang? ” Yongguk menatap Sulli, meminta penjelasan mengapa mereka sekarang berada di taman, lagi.
” Bukankah kau sudah sepakat untuk membantuku? ” Yongguk membuang nafasnya berat.
” Baiklah apa? ”
” Aku punya pertanyaan, banyak. ” Senyum kemenangan terpampang di wajah Sulli saat Yongguk mengeluhkan tentang betapa merepotkannya dirinya.
” Mwo? Katakan? ”
” Kenapa orang bereaksi berlebihan pada hanya sebuah pegangan tangan? ”
” Hanya? ” Yongguk tak percaya dengan apa yang ia dengar.
” Dengar, mungkin bagi orang sepertiku pegangan tangan adalah hal sepele. Tapi bagi kebanyakan orang itu tidak. ”
” Wae? ”
Langsung saja tangan Yongguk menggengam tangan Sulli.
” Katakan apa yang kau rasakan? ” Sulli memutarkan bola matanya, bepikir.
” Tidak ada. ” Yongguk kembali menarik nafasnya.
Yongguk berjalan sambil tetap berpegangan tangan dengan Sulli. Intinya, mereka berjalan sambil bergandengan tangan.
” Mungkin kau tidak merasakan apapun karena kau tidak tertarik denganku. Tapi, saat kau menyukai orang suatu hari nanti, saat orang itu mengenggam tanganmu seperti ini, kau akan merasakan  kebahagiaan tak terhingga, kau seperti mendapatkan hadiah. Dan tubuhmu, mereka akan bereaksi, tanganmu gemetar, jantungmu berdebar kencang, kau menjadi gugup, namun satu, kau tak bisa tak tersenyum. ”
Sulli mengangguk, tanda mengerti.
” Ah begitu. ”
” Tapi Yongguk-ssi, apa alasan mereka untuk mengenggam tangan satu sama lain? ”
Langkah Yongguk terhenti. Dia berpikir.
” Entahlah aku tak tahu, biasanya aku menggandeng karena ingin saja. ”
” Eiy, apa itu. ”
” Tapi mungkin, ada beberapa orang yang melakukan itu untuk menunjukkan bahwa orang yang berjalan di sampingnya adalah miliknya. Atau, untuk memberikan perlindungan. ”
” Perlindungan? ” Sulli bertanya, Yongguk mengangguk.
” Saat orang mengenggam tanganmu dengan hangat, kau bisa merasakan bahwa ia akan melindungimu, menjagamu dan kau bisa percaya padanya. ” Genggaman di tangan Yongguk menghangat.
” Atau untuk memberikan kekuatan. ”
Sulli mengernyitkan alisnya tanda tak mengerti.
” Terkadang ada beberapa orang yang ingin memberikan kekuatan lewat genggaman, jadi saat kau terjatuh orang yang peduli padamu akan datang, mengulurkan tangan mereka dan menggengam tanganmu dengan penuh keyakinan. ” Yongguk menatap mata Sulli yang bingung.
” Ada banyak yang tak kau ketahui, tantanglah dirimu sendiri untuk mencoba sesuatu. ” Suara berat Yongguk mengusulkan.
Sulli hanya mendesis.
” Sudah puas? Apalagi? ”
” Pelukan! Katakan padaku tentang pelukan! ”
” Aish kau jinca, memangnya aku ini dokter cinta apa? ”

” Ah palli ” Sulli menggoyangkan tangan Yongguk. Dan mulai merengek layaknya anak kecil yang meminta di belikan balon.
Yongguk menatap Sulli dengan malas dan sedetik kemudian… Sulli sudah berada di pelukan Yongguk.
Tubuh Sulli terdiam kaku saat Yongguk memeluknya.
” Pelukan biasanya di lakukan untuk mengekspresikan perasan rindu, untuk memberikan kekuatan atau menunjukkan kelemahan dan ekspresi kasih sayang. Puas? ” Sulli mengangguk.
Sulli mencoba untuk lepas dari pelukan Yongguk, namun Yongguk menahannya untuk tetap berada di dalam pelukannya.
” Di saat seperti ini, apa yang kau rasakan? Apakah kau merasa canggung? ” Sulli mengedipkan matanya, mencoba mengembalikkanya indranya. Wah, ada apa ini? Kenapa kali ini perkataan Yongguk benar? Kenapa ia merasa canggung?
Yongguk menyeringai sebelum akhirnya ia melepaskan pelukannya.
Ia bisa melihat bagaimana Sulli mencoba untuk tidak terlihat kaku dan canggung di hadapan.
” Itu normal, kau pasti merasa tidak nyaman kan? ” Sulli hanya mengangguk.
” Apa ada lagi? ”
Hening, cukup lama Sulli berpikir.
” Choi Sulli apa ada lagi? ” Yongguk melipatkan tangannya di dada. Menunggu jawaban Sulli.
” Itu sebenarnya ” Sulli menggigit bibir bawahnya. Haruskah ia mengatakan?
Yongguk memasang wajah tanya-saja. Yang semakin membuat Sulli gugup.
Ah kenapa ini? Pasti karena pelukan bodoh tadi.
” Kau tahu, ci-um-an. ” Mata Sulli tak berani menatap wajah Yongguk.
Ia bahkan tak tahu kenapa ia harus menanyakan hal seperti itu?
Bagaimana jika Yongguk menciumnya?
Itu bukan masalah, hanya saja, bukankah setiap orang ingin ciuman pertama kita dengan orang yang kita sukai? Bukan karena eksperimen seperti ini.
Yongguk tertawa kecil.
” Untuk ini aku tak bisa. Mungkin bukan sekarang, mungkin suatu hari nanti akan ku tunjukkan padamu. Sampai saat itu simpan saja rasa penasaranmu tentang bagaimana bibirku dan bibirmu bertemu. ” Yongguk menunjukkan senyuman liciknya.
” MWO? Kau byuntae- ”
” Mungkin bukan ciuman, tapi aku bisa menunjukkan padamu apa hal yang harus di lakukan saat berkencan yang membuat gadis menggila. ” Sekarang wajah Yongguk berganti dengan wajah penuh kemenangan.
” Apa itu? ”
” Mengantar pulang. ”
——————————–
” Ini yang kau sebut gadis akan menggila? ” Sulli bertanya dengan wajah tak percaya.
Yongguk hanya mengangguk.
” Heol, hanya menaiki bus, apanya yang menarik? ”
” Diamlah, bahkan di drama-drama hanya menaiki bus bersama bisa menjadi adegan romantis. ” Tanpa meminta izin kepada sang pemilik tubuh, Yongguk langsung saja menaruh kepalanya berasandar di bahu Sulli. Beristirahat.
” YA APA YANG KAU LAKUKAN? ” Sulli berteriak kaget, mencoba menjauhkan Yongguk dari dirinya namun terlembat. Tangan Yongguk sudah menahan Sulli untuk menjauh.
” Sstt diamlah. Kita bisa di usir karenamu. ” Yongguk malah hanya memejamkan matanya, masih beristirahat pada bahu Sulli.
Sulli melihat sekeliling. Walaupun tak banyak penumpang, tetap saja para penumpang itu melihat ke arah mereka dengan tatapan terganggu. Sulli hanya tersenyum sopan santun lalu mengembalikan pandangannya, ke arah jendela.
” Kau tahu berapa banyak gadis yang memohon agar aku bisa seperti ini kepada mereka? ” Tanya Yongguk yang bahkan tak membuka matanya sedikitpun malah melipat kedua tangannya.
Sulli tidak menjawab, hanya memasang muka masam walaupun Yongguk tak akan melihatnya.
” Bangunkan aku jika kita sudah sampai. ”
” Aku tidak akan membangunkanmu. ”
” Kau tidak akan tega meninggalkanku. ” Sulli ikut melipat kedua tangannya, sebal.
” Ya Bang Yongguk bangun atau kau kutinggal. ” Sulli menggerak-gerakan bahunya, membangungkan Yongguk.
Dengan malas-malasan Yongguk berjalan, mengikuti Sulli.
” Apakah kau akan begini? ” Sulli berbalik menatap Yongguk yang berjalan di belakangnya.
” Mwo? ”
Yongguk tersenyum untjk kesekian kalinya dalam hari ini. Melangkahkan kakinya mendekati Sulli.
Sulli hanya bisa menyerah saat Yongguk menggandeng tangannya.
Apa yang bisa ia lakukan? Toh Yongguk pasti akan memaksanya.
” Bagaimana caramu pulang? Kau kan tidak bawa kendaraan? ”
” Kenapa? Kau ingin mengantarkanku pulang? ”
” Gila. ”
” Tenang saja aku bisa pulang. Apa kau lupa kau sedang bertanya pada siapa? ” Sulli hanya mengangguk terpaksa mendengar pernyataan Yongguk.
” Tapi kenapa kau harus mengantarkanku pulang sampai ke rumah? Aku sudah besar aku bisa pulang sendiri. ”
” Itulah yang pria lakukan, mengantar wanita pulang ke rumahnya dengan selamat. Lagipula jika sesuatu terjadi padamu aku akan di panggil karena aku yang terakhir bersamamu. ”
” Itu rumahku sudah kelihatan, kau bisa pergi. Jika terlalu malam tidak akan ada bus lagi. ”
” Apa kau begitu mengkhawatirkanku? Apa kau mulai tertarik padaku? ”
” Gila. Lupakan. ”
Yongguk tertawa kecil.
” Ini rumahku, terimakasih atas hari ini. ”
” Apa kau hanya akan seperti ini? ” Langkah Sulli tertahan lagi.
” Apa lagi? ”
” Biasanya para wanita akan mencari kesempatan ini untuk memelukku atau menciumku, kau hanya masuk begitu saja? ” Sulli menghela nafasnya.
” Lalu aku harus apa? ”
” Kau harus mempraktekan apa yang kau pelajari hari ini. ” Yongguk melebarkan tangannya. Sinyal untuk sebuah pelukan.
Sulli memutar bola matanya, tak percaya dengan apa yang Yongguk coba lakukan.
Kembali Yongguk melakukan sesuatu tanpa izin.
Yongguk memeluk Sulli.
” Jalja. ” Bisik Yongguk di kuping Sulli.
” Tapi Yongguk-ah, bagaimana kau pulang? ”
Yongguk melepas pelukannya.
” Kenapa kau begitu penasaran dengan bagaimana caraku pulang? Kenapa? Apakah jika aku tak bisa pulang aku boleh menginap di rumahmu? ” Sulli tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Menginap? Apa lelaki ini gila?
Menyesal Sulli telah mengkhawatirkannya.
Yongguk mengeluarkan ponselnya.
” Jika kau begitu penasaran. ” Lalu Yongguk mendial sebuah nomor.
” Ya Kim Himchan jemput aku. ” Yongguk bahkan tak repot-repot untuk menunggu jawaban dari Himchan. Ia langsung mematikannya begitu saja.
” Puas? Masuklah. Atau kau masih ingin bersamaku? ”
Sulli menggelengkan kepalanya lalu masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Yongguk sendirian.
——————————–

” Pagi Sull, apa tidurmu semalam nyenyak? ” Sapa Yongguk begitu ia bertemu dengan Sulli di lorong sekolah.
Sulli memandang Yongguk sebentar dari atas hingga bawah.
Seperti ada yang salah dengan tingkah Yongguk.
Tapi yah karena dia sudah menyapa.
” Pagi untukmu juga, aku tidur dengan baik dan aku jamin kau juga tidur dengan sangat baik. ”
” Aku selalu tidur dengan baik. ” Sulli mengangguk kecil mendengar jawaban Yongguk.
” Kalau begitu sampai jumpa. ” Yongguk tersenyum sambil menggerakkan tangannya, berdadah ria dengan Sulli.
Sulli mengangkat pundaknya tak tahu menahu dengan apa yang terjadi dengan Yongguk pagi ini.
” Kupikir ia tidak mau kita menyapa satu sama lain di sekolah. ” Gumam Sulli.

Sulli memandangi pemandangan di lapangan sekolah yang sedang di penuhi anak laki-laki yang sedang bermain bola.
Karena tempat duduknya di samping jendela itu membuatnya mudah untuk melihat apa yang terjadi di luar sana.
Mata Sulli menangkap seorang laki-laki yang melambaikan tangan ke arahnya.
Bang Yongguk rupanya.
Jari telunjuk Yongguk menunjuk ke arah Sulli.
” Aku? ” Sulli bertanya sendiri.
Lalu jari telunjuk dan jari tengah Yongguk menunjuk ke arah dirinya.
Ah Yongguk menyuruhnya untuk melihat aksinya.
Jari Sulli membentuk simbol OK. Dan Yongguk pun memberikan kedipan pada Sulli yang masih bisa ia lihat.
Kenapa sih namja ini hari ini?
Sulli menopangkan dagunya, menonton Yongguk yang sibuk mengoper bola ke sana kemari dengan seksama.
Kepala dan mata Sulli nampak sibuk ke sana kemari sesuai dengan arah bola. Ia benar-benar lupa bahwa ia sedang berada di kelas saat ini.
” Nice. ” Pekik Sulli girang saat rupanya Yongguk berhasil mencetak gol.
Sulli bahkan mengepalkan tangannya, ekspresi kegembiraan.
Sulli tersenyum lebar sambil mengacungkan kedua jempolnya pada Yongguk yang sedang tersenyum ke arahnya sambil mengatur nafasnya.
” Pelajar Choi Sulli, apa kau tahu kau sedang dimana sekarang? ” Ekspresi gembira Sulli lenyap seketika saat ia mendengar guru memanggil dirinya.
Sulli menatal guru sambil tersenyum canggung lalu merutuki Bang Yongguk dalam hati.

” Hai. ” Yongguk berjalan mendekati Sulli yang sedang duduk di kantin dengan baju seragam yang basah dan kotor juga berantakan akibat bermain bola tadi.
Sulli memandang sebal Yongguk yang masih bisa menyapa dirinya dengan santainya.
” Hai katamu? ” Yongguk mengangguk polos.
” Memangnya aku harus berkata? Jagi? ” Goda Yongguk yang malah mendapat pukulan keras dari Sulli.
” Ya kenapa kau memukulku? ” Tanya Yongguk sambil memegangi lengannya yang sakit akibat di pukul Sulli.
” Kau tahu gara-gara siapa aku di hukum? ”
” Siapa? ”
” Tentu saja kau bodoh. ”
” Aku? ”
” Iya gara-gara kau memintaku untuk melihatmu bemain aku jadi mendapatkan hukuman kau tahu? ”
” Memangnya siapa yang menyuruhmu sangat serius melihatku? ”
” Ish. ” Sebelum Sulli sempat memukul Yongguk untuk kedua kalinya. Yongguk mengeluarkan sebuah roti yang tak tahu darimana asalnya dan memberikannya pada Sulli, menyuruhnya untuk makan.

Walaupun masih merutuk sebal namun Sulli tetap memakan roti pemberian Yongguk.
” Tetapi Choi Sulli, itu… Aku ada pr yang belum kukerjakan? ” Dengan hati-hati Yongguk mengucap berharap bahwa Sulli tak akan marah.
” MWO? ” Bentakkan Sulli berhasil membuat seisi kantin bergidik ngeri di buatnya. Tak terkecuali Bang Yongguk.
” Setelah apa yang kau lakukan padaku kau masih berani meminta padaku? Kau sungguh mencari mati. Ke sini kau Bang Yongguk!!! ” Dengan berapi-api Sulli mengejar Yongguk yang sudah mencoba menyelamatkan dirinya sendiri.
Kaki Sulli berusaha sekuat tenaga untuk bisa mengejar Yongguk. Saat ia pikir jarak antara ia dan Yongguk sudah dekat Sulli mencengkram kemeja Yongguk, menahannya untuk pergi.
” Ya Bang Yongguk- ” Tak bisa mata Sulli menangkap apa yang terjadi namun yang bisa mata Sulli tangkap adalah adegan saat ini. Dimana Yongguk menahan tubuhnya agar tak terjatuh.
Tangan kiri Yongguk memeluk pinggang ramping Sulli, menahan badan Sulli agar tak mencium tanah. Tangan kanan Sulli masih mencengkram kemeja Yongguk dengan erat. Tanpa ia sadar tangan kanannya mencengkram lengan Yongguk secara otomatis.
Apa ini? Mengapa jantungnya berdebar dengan cepat secepat kereta bawah tanah?
Momen di saat matanya bertemu dengan mata Yongguk membuat Sulli ingat satu dari perkataan Yongguk.
Pernahkah kau merasa jantungmu berdetak cepat saat kau menatap atau berada di dekat seseorang?
Ya Sulli pernah. Dan ini adalah waktu kejadiannya.
Sulli merasa seperti jantungnya adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja jika ia semakin lama memandangi kedua bola mata Yongguk.
Namun apa ini? Bagian dari diri Sulli menolak untuk melepaskan pandangannya. Menolak untuk menghancurkan momen indah ini.
Ada apa ini?
Detik saat Sulli mengedipkan matanya ia mendapati Bang Yongguk tengah tersenyum ke arahnya. Kepadanya.
Yongguk membantu Sulli agar bisa berdiri dengan benar.
” Tapi bagaimana? Janji adalah janji bukan? ” Perkataan Yongguk membuat Sulli sadar.
Sulli memalingkan wajahnya saat Yongguk tersenyum ( lagi ) ke arahnya. Lalu menarik nafasnya, mencoba untuk menenangkan jantung bodohnya yang tak bisa berhenti berdebar semenjak tadi. Juga pipinya yang tidak bisa untuk tidak merona.
——————————–
Sulli membolak-balikan halaman buku pelajarannya. Namun sebuah tangan dengan tegas menahan Sulli membalikan halamannya.
” Jiyoung. ” Sulli memanggil wanita yang kini sudah duduk di hadapannya dengan wajah serius.
” Ya Sulli-ya itu tidak benar kan? ” Sulli mengernyitkan alisnya tak mengerti dengan pertanyaan Jiyoung.
” Apanya yang tidak benar? ”
” Rumor tentang kau dan Yongguk berkencan. Katakan padaku itu tidak benar, iya kan? ” Ada sedikit nada pemaksaan di kalimat Jiyoung.
Sulli mengangguk.
” Syukurlah. ” Jiyoung bernafas lega.
” Kau tahu aku sedikit takut karena akhir-akhir ini kau dan dia sering terlihat bersama bahkan ada yang bilang kalian jalan bersama sehabis pulang bersama. ”
” Yah itu benar. ” Kata Sulli cuek sambil membaca bukunya.
Jiyoung menggebrak meja Sulli. Membuat perhatian Sulli kembali pada Jiyoung.
” Ya apa yang kau lakukan? ”  Sulli sedikit meninggikan nada bicaranya.
” Kau… Bukankah tadi kau bilang kalian tidak berkencan? ”
” Memang tidak. Tapi tentang aku dan dia jalan bersama itu juga kebenaran. Memangnya tidaklah boleh kami jalan bersama? Kami ini teman. Teman. Arasso? ” Dengan sedikit bentakkan Sulli menjawab pertanyaan Jiyoung.
Dengan penuh curiga Jiyoung menatap Sulli.
” Sull… Mungkinkah kau suka padanya? Bang Yongguk, kau menyukainya? ”
” KAU MAU MATI? MANA MUNGKIN AKU MENYUKAINYA. ” Sulli berdiri dan kali ini ia benar-benar membentak Jiyoung.
Jiyoung hanya mendengus sebal dan Sulli kembali pada aktivitasnya yang semula. Membaca buku.
Sulli mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Entahlah, semua pertanyaan Jiyoung tadi membuatnya sedikit resah.
” Jika kau tidak menyukai Yongguk, mungkinkah dia yang menyukaimu? ”
Untuk sementara Sulli terdiam, kaku.
Ia dapat merasakan jantungnya kembali berdebar tak karuan.
” Aniya, itu tidak mungkin. ” Sulli mencoba untuk terlihat biasa saja di depan Jiyoung. Walau kenyataannya ia tidak biasa saja.
” Ya mungkin saja. ” Gumam Jiyoung.
Sulli mencoba untuk menahan senyum dan rasa bahagianya. Pemikiran bahwa mungkin Yongguk menyukai terdengar bagus untuknya.
” Tapi berbicara Yongguk. Kau tahu hari ini ia kembali membuat siswi menangis lagi. ”

Sesaat setelah Sulli berhasil menemukan Yongguk yang tengah duduk di meja menggoda ( atau terlihat seperti itu ) seorang murid perempuan yang Sulli tak tahu siapa. Ia memanggil dan menghampirinya.
” Oh Sull. ” Yongguk langsung tersenyum dan melambaikan tangannya begitu ia melihat Sulli.
Tanpa di beri aba-aba pun siswi itu berjalan pergi dengan sendirinya.
” Duduklah. ” Yongguk menyuruhnya untuk duduk di kursi sedang Yongguk duduk di meja. Berhadapan satu sama lain.
” Ada apa kau mencariku? ” Tanya Yongguk sambil menatap Sulli.
” Kudengar kau membuat siswi menangis lagi. ”
” Ya begitulah. ”
” Tapi kenapa kau menanyakannya? ”
” Aku hanya bingung, kenapa gadis itu menangis. ” Yongguk tertawa tertahan mendengar pertanyaan Sulli.
” Itu karena dia sakit hati. ”
” Sakit hati? ” Yongguk mengangguk.
” Sakit hati adalah saat dimana kau merasa sakit yang teramat sakit terutama di bagian hatimu. Saat itu juga kau merasa bahwa kau adalah manusia tersakit di dunia. Kau merasa ini semua tidak adil. ”
” Kenapa bisa terjadi sakit hati? ”
” Bila saatnya tiba kau juga akan mengerti. ” Sulli hanya mengangguk.
” Apa kau ke sini hanya untuk menanyakan itu? ” Kembali Sulli mengangguk.
” Eiy, kau mulai menyukaiku kan? Kau cemburu kan? ” Sulli memandang Yongguk tak percaya.
” Oh jangan bilang kau juga tidak tahu apa itu cemburu. ”
” Ara. Cemburu adalah perasaan tidak suka saat orang yang kau suka dengan orang lain. Iya kan? ” Sulli tersenyum bangga.
” Kau sudah berkembang Choi Sulli. ”
” Ah mumpung kau ada di sini. Sull, bagaimana jika akhir pekan ini kita berkencan? ”
” Kencan? ” Yongguk menganggukan kepalanya.
” Jika di pikir-pikir kita belum pernah berkencan kan? Bagaimana? ”
” Odi? ”
” Kemanapun yang kau inginkan? Asal bukan taman hiburan. ”
” Wae? ”
” Itu terlalu biasa. ”
Sulli berpikir sejenak. Kemana seharusnya ia pergi?
” Ah ke mall. ”
” Mall? ” Yongguk memandang Sulli tak percaya.
” Aku ingin tahu seperti apa kebahagiaan membelikan pakaian untuk lelaki. Itu banyak di drama kan? ”
” Jangan-jangan kau ingin membeli barang pasangan? ” Selidik Yongguk yang rupanya benar.
Yongguk tertawa kecil.
” Childish. ” Lalu mengacak-acak rambut Sulli.
——————————–

Yongguk melipat kedua tangannya seraya berjalan mengekori Sulli kemanapun ia pergi.
Bahkan Yongguk tidak bisa berhenti tersenyum melihat Sulli sibuk memilih barang-barang.
Terkadang Yongguk akan tertawa melihat barang-barang pilihan Sulli yang menurutnya aneh.
” Yongguk-ah ke sini, kau harus mencoba ini. ” Dengan nyaman Sulli menarik tangan Yongguk mengajaknya ke tempat yang ia tuju.
Yongguk memandang baju yang Sulli pamerkan kepadanya dari atas ke bawah. Lagi dan lagi.
” Kemeja, kaos v-neck dan skinny jeans. Kau serius? ” Yongguk benar-benar tak percaya saat Sulli menyuruhnya untuk memakai semua pakaian itu.
Sulli mengangguk pasti.
” Tentu saja, ini gaya kesukaanku. ” Yongguk hanya menggelengkan kepalanya namun ia hanya pasrah dan menuruti Sulli.
Sulli duduk sambil menghentak-hentakkan kakinya. Menunggu Yongguk memamerkan bajunya.
” Hei. ” Sebuah suara membuat Sulli tersadar.
Sulli tidak bisa menutup mulutnya akibat terpesona dengan apa yang ia lihat.
Ia kira ia akan tertawa terbahak-bahak melihat Yongguk dalam balutan pakaian yang ia pilih. Namun yang terjadi adalah kebalikannya.
Ia malah terdiam, terpesona.
Ia sekarang baru sadar bahwa Yongguk memang keren. Ia punya aura yang membuat siapa saja tidak akan menoleh dua kali.
Sialnya, mengapa ia baru sadar hal ini sekarang?
Oh tentu saja Bang Yongguk menjadi seorang playboy bukan tanpa alasan.
” Ya bagaimana? Ah sudah kuduga ini pasti aneh. ”
” Tidak itu bagus. Sangat bagus. ” Tangan Sulli mencegah Yongguk untuk mengganti pakaiannya.
” Bagus? ” Yongguk bertanya untuk memastikan apa yang ia dengar bukanlah kesalahan.
Sulli hanya mengangguk namun tak berani menatap wajah Yongguk.
Yongguk tertawa kecil.
” Ini pasti sangat bagus. Haruskah aku langsung memakainya? ”
Belum sempat Sulli menjawab Yongguk sudah berjalan meninggalkannya menuju kasir.

Sekarang Sulli bahkan tidak berani untuk berjalan di samping Yongguk.
Setiap wanita yang melewati mereka akan berhenti dan mulai terpesona pada pesona Yongguk.
Dan itu membuat Sulli tidak nyaman. Lebih tepatnya tidak nyaman dalam artian ia tidak suka bagaimana gadis-gadis itu terpesona pada Yongguk. Teman kencannya.
Ia ingin menggandeng Yongguk, mengatakan bahwa pada gadis-gadis bahwa lelaki yang berjalan sangat keren itu

adalah miliknya. Namun ia juga tak mau berjalan di samping Yongguk.
Ia tidak suka bagaimana jantungnya berdebar begitu kencang. Hingga ia pikir Yongguk pasti bisa mendengar suara debaran jantungnya yang selalu bertambah kencang setiap detiknya.
” Apa kau benar-benar akan berjalan di belakangku? ” Yongguk membalikkan badannya. Bertanya pada Sulli. Namun perhatian Sulli bukanlah ke arahnya melainkan ke sebuah toko.
Yongguk menggerakkan kepalanya sama dengan arah mata Sulli.
” Toko yang menjual barang pasangan. ” Pekik Sulli girang.
Yongguk hanya bisa menganga melihat Sulli sudah berjalan ke arah toko tersebut.
” Woah ada cincin, kalung. Mana yang bagus menurutmu? ”
” Kau benar-benar akan membeli barang-barang seperti ini? ”
Sulli tidak perduli dengan pertanyaan Yongguk ia malah berjalan ke arah lain.
” Bahkan ada mug, bantal, boneka. Woah ini benar-benar hebat. Kita harus beli satu. ”
Yongguk mengacak-acak rambutnya frustasi melihat betapa senangnya Sulli melihat barang-barang pasangan ini.
” Apa yang harus kita beli? Ah cincin, setiap pasangan punya cincin kan? ”
” Ti Dak! ” Yongguk menekan setiap huruf yang keluar. Memberi tolakan tegas.
” Wae? ”
” Aku tidak memakai cincin. ” Sayangnya mata Sulli menangkap jari manis Yongguk yang menggunakan cincin.
” Tapi kau menggunakan cincin. ” Yongguk langsung menyembunyikan tangannya.
” I..tu… Pengecualian. Carilah yang lain. ” Sulli mendengus kesal.
” Bagaimana dengan baju? Bukankah akan lucu jika kita menggunakan baju pasangan? ”
” Bukankah kita sudah membeli baju pasangan nyonya Choi? ”
Ah kemeja yang ia pilih untuk Yongguk yang berakhir menjadi baju pasangan mereka karena Yongguk memaksa membeli dua untuk dirinya juga.
” Tapi itu… ”
” Anting. Kita akan membeli anting. ” Tanpa menunggu persetujuan Sulli Yongguk sudah langsung mengambil anting yang hampir berbentuk cabai.
” Aku yang hitam kau yang merah. ” Lalu Yongguk langsung membayarnya ke kasir tanpa membiarkan Sulli membuka mulutnya.

” Heol kencan apa ini. Jauh dari yang kubayangkan. ” Ujuar Sulli kesal.
” Wae? ” Yongguk yang duduk di sampingnya hanya menatapnya bingung.
” Tidak romantis sama sekali. ” Sulli cemberut.
” Aku bukan pria romantis, itulah pesonaku. ” Sulli ( kembali ) mendengus dan mencibir.
” Tapi kenapa kau tak pakai baju pasangan kita? ”
” Ya! Hanya sebuah kemeja kau bilang itu baju pasangan? ”
” Ya baju yang sama dan di pakai dua orang itu di sebut baju pasangan apapun bentuknya. ” Sulli mencibir lagi.
” Kau tidak memakainya? Perlu aku yang memakaikannya? ”
” Arasso. Aku akan memakainya. ” Dengan sebal Sulli mengeluarkan kemeja pasangan itu dari kantung belanjaan dan memakainya sebagai jaket yang di padukan dengan kaos dan rok. Hampir mirip dengan Yongguk yang juga memakai kemeja itu sebagai jaket.
” Puas? ” Yongguk mengangguk sambil berusaha memakai anting yang baru saja mereka beli.
” Ah benda itu. Mengapa dari sekian banyak benda harus benda itu yang kau pilih? Dan kenapa kau tidak menanyakan pendapatku dan malah langsung membelinya? ”
” Ah diamlah Choi Sulli. Kau sudah mengomel sepanjang hari. Lagipula ini adalah style-ku kau tahu? ” Akhirnya Yongguk selesai juga memasang kedua anting tersebut di kedua kupingnya.
” Apa kau pakai anting? ” Sulli menggeleng.
Yongguk menyibakkan rambut Sulli. Melihat kupingnya dengan seksama.
” Ada tindikan, bisa di pakai. Kemarilah. ”
” Mwo? ”
” Kau tidak tahu cara memasangnya kan? Kemarilah aku akan memasangkannya. ” Yongguk menarik Sulli mendekat. Mempersempit jarak di antara mereka.
” Awas jika kau sampai salah. ” Ancam Sulli.
” Tidak akan. Percayalah padaku. ” Semua fokus Yongguk tertuju pada pemakaian anting.
Sulli menggigit bibirnya juga mengepalkan tangannya. Gugup.
” Tenanglah. Santai saja ini hanya akan sakit sedikit. ”  Suara Yongguk yang berbicara di kupingnya membuat Sulli harus menahan nafasnya.
Bodoh, bagaimana ia bisa tenang jika aliran darahnya mengalir cepat secepat tsunami. Juga bagaimana ia bisa santai saat detak jantungnya berdebar sangat keras hingga ia merasa jantungnya siap meledak kapan saja.
Bagaimana ia bisa?
” Kau tahu kenapa cinta itu tidak masuk akal? ” Kini Yongguk sudah berpindah ke kuping kirinya.
” Wae? ”
” Karena saat kita jatuh cinta otak kita berhenti berpikir rasional. ”
” Saat kita jatuh cinta ada banyak hal yang tidak bisa di terima oleh otak kita namun dapat di terima oleh hati kita. ”
” Karena saat jatuh cinta hati kitalah yang lebih banyak berbicara. ” Yongguk menatap Sulli dekat lalu tersenyum.
” Hati lebih berbicara di banding otak maksudmu? ” Sulli bertanya. Kurang begitu tanggap dengan apa yang Yongguk katakan.
” Seperti ini. ” Tepat pada saat itu Sulli dapat merasakan bibir Yongguk tepat berada di bibirnya.
Bang Yongguk menciumnya!
Sulli hanya terdiam mematung, tak tahu apa yang harus ia lakukan.
Seluruh tubuhnya lemas.
Ia bisa merasakan banyak kupu-kupu yang berterbangan di perutnya.
Ia bahkan bisa mendengar suara lonceng dan kembang api dalam telinganya.
Dan ya, jantung sudah meledak sedari tadi.
Sulli masih membeku bahkan saat Yongguk sudah tak lagi menciumnya.
Yongguk menatap Sulli yang berubah menjadi patung sambil tertawa kecil.
Tangan Yongguk yang mengacak-acak rambut Sulli menyadarkan Sulli.
Sulli mengerjap-ngerjapkan matanya sambil terus melihat Yongguk yang sedang tersenyum di depan matanya.
Sulli masih tak percaya dengan apa yang terjadi bahkan setelah Yongguk berdiri.
” Kaja kita lakukan sampai akhir kencan ini. ” Yongguk mengulurkan tangannya, menyuruh Sulli untuk mengenggam tangannya.
——————————–
Sulli memejamkan matanya sambil menghirup udara segar yang di keluarkan dari pepohonan yang berada di taman ini. Tempat yang Yongguk dan Sulli sering datangi.
Semenjak kejadian Yongguk-mencium-Sulli. Sulli sudah menghindar Yongguk sebisa mungkin.
Ia akan selalu berbalik begitu matanya menangkap sesosok Bang Yongguk.
Apakah Yongguk berusaha mendekatinya? Tentu saja, dan itulah yang membuat Sulli semakin menghindari Yongguk.
Entahlah, Sulli hanya tak tahu bagaimana caranya berinteraksi setelah apa yang telah terjadi kepada mereka berdua.
Haruskah ia berpura-pura tidak terjadi apa-apa? Oh tidak mungkin. Itu akan ( mungkin ) melukai perasaan Yongguk dan ( mungkin ) juga perasaanya.
Lalu? Haruskah ia menyapa ” Hai Yongguk senang bertemu denganmu, bibirmu kemarin terasa enak. ” Ugh, tidak tidak. Dia terlihat seperti gadis murahan jika ia berkata seperti itu.
Lihat kan? Jadi bukan salah Sulli jika Sulli lebih memilih menghindari Yongguk. Setidaknya sampai ia bisa memikirkan cara bagaimana untuk menyapa Yongguk.
Karena sejujurnya, nampaknya, ia sedikit merindukan kehadiran Bang Yongguk.
” Kau fikir aku tak akan kemari? ” Sulli berpikir sejenak. Nampaknya ada sebuah suara yang ia kenal berbicara…
” Aku di sini. ” Kembali suara itu berbicara. Ah suara itu.
Tunggu?! Bukankah itu suara Yongguk?
Mata Sulli langsung membelalak begitu ia menemukan Yongguk bersandar di pohon, tepat di depan matanya.
” Bang Yongguk? ” Sulli bertanya sebuah pertanyaan yang tak perlu di jawab.
” Sampai kapan kau mau menghindariku Choi Sulli? ” Setapak demi setapak Yongguk melangkah mendekati Sulli yang masih mematung di tempat duduknya.
” Aku tidak menghindarimu. ” Bantah Sulli.
” Benarkah? Memutar balik begitu melihatku, tidak menjawab teleponku, apakah itu bukan bentuk dari menghindar? ” Akhirnya Yongguk sudah berdiri beberapa cm dari Sulli.
” Itu… ” Sulli mencoba menjaga jarak antara dirinya dengan Yongguk.
Namun semakin dia mengangguk semakin mendekat pula Yongguk.
Sulli terus memalingkan mukanya ketika Yongguk mendekatkan wajahnya ke wajah Sulli.
Sulli menggigit bibir bawahnya tepat ketika matanya jatuh di bibir Yongguk yang menggodanya.
Melihat tingkah Sulli membuat Yongguk tertawa kecil dan menjauh dari Sulli. Mengambil jarak aman.
” Kau benar-benar menarik Choi Sulli. ” Perkataan Yongguk berhasil membuat Sulli memutar otaknya.
Menarik maksudnya?
” Apanya yang menarik? ” Tanya Sulli polos, ia tidak menangkap maksud perkataan Yongguk.
” Hemp, menarik seperti… Ah sudahlah lupakan. Jika diteruskan mungkin aku akan bisa tertarik padamu Sull. ” Sulli hanya memandang Yongguk yang tersenyum penuh arti dengan pandangan penuh arti.
” Tapi ngomong-ngomong apa yang membuatmu kemari? ” Sulli bertanya karena sedari tadi ia penasaran dengan apa yang Yongguk lakukan.
” Aku mengikutimu, ada sesuatu yang ingin kusampaikan. ” Sulli menunggu Yongguk menyelesaikan perkataanya. Dan baru ia sadari jantungnya sudah berdetak secara tidak normal sejak Yongguk tiba-tiba berdiri di hadannya. Kenapa lagi sih?
” Berhentilah menghindariku karena – Jieun? ”
” Jieun? Apa itu? ” Tanya Sulli yang aneh dengan kalimat Yongguk.
” Jieun, Song Jieun. ” Sulli terdiam sejenak lalu ikut menoleh ke arah tatapan Yongguk dimana Yongguk hanya berdiam mematung, matanya hanya memandang pada satu objek.
Seperti baru saja bertemu mahluk halus di siang bolos.
” Yongguk. ” Ah rupanya yang di maksud Jieun itu adalah seorang

wanita.
Sulli memperhatikan wanita yang di panggil Jieun oleh Yongguk itu dengan seksama.
Tinggi badanya ukuran gadis normal lainnya. Dari wajahnya nampaknya mereka seumuran. Rambut gadis itu coklat panjang bergelombang dengan wajah yang cukup cantik.
Cukup cantik untuk membuat seorang Bang Yongguk berjalan perlahan ke arahnya dengan penuh perasaan yang tak mampu kau deskripsikan.
Baik Gadis itu, Jieun maupun Yongguk sama-sama memiliki ekspresi wajah yang sama.
Sedih, rindu, bahagia tercampur menjadi satu.
” Akhirnya aku bertemu denganmu Song Jieun. ” Walaupun lirih dan pelan namun Sulli masih bisa mendengar apa yang Yongguk katakan pada gadis yang tengah ia peluk dengan erat itu.
Saat itu juga Sulli merasa tubuhnya melemas. Nafasnya tercekit. Sepertinya airmatanya akan jatuh.
” Yongguk-ah.” Sulli tidak suka dengan bagaimana cara gadis – Jieun memanggil nama Yongguk. Penuh kasih sayang. Ia tak suka itu.
Detik saat Sulli berdiri adalah detik dimana Yongguk dan Jieun melepaskan pelukan mereka. Sulli masih memandangi mereka.
” Aku tidak perduli apakah kau sibuk atau tidak, aku – kita punya banyak yang harus di katakan. ” Suara pelan namun tegas dan menyuruh Yongguk membuat Sulli tahu satu hal, gadis ini pasti spesial.
” Tapi… ” Mata Jieun menunjuk ke arah Sulli yang berdiri di belakang Yongguk.
Yongguk berbalik dan menatap Sulli sekilas.
” Dia bukan pacarku, dia temanku. ” Tidak ada yang salah dengan penjelasan Yongguk tentang siapa dirinya. Yang salah adalah dirinya yang merasa sakit hati dan terluka akibat penjelasan Yongguk.
Ini tidak benar, ia harus segera pergi jika tidak ingin hatinya terluka lebih dalam lagi.
Jadi Sulli hanya membungkukkan badanya formal lalu bergegas pergi secepat yang kakinya bisa.

Satu bulir, dua bulir, tiga bulir. Sial, airmatanya keluar jauh lebih banyak dari yang ia perkirakan.
Sulli berhenti dan terduduk di pinggir jalan.
Ia tak perduli apakah orang-orang akan menganggapnya aneh atau apa.
Karena yang terpenting sekarang adalah hatinya yang sakit dan airmatanya yang terus mengalir.
Sulli bahkan tak tahu pasti alasan kenapa ia menangis, kenapa ia terluka hanya karena perkataan Yongguk.
Apakah hanya perkataannya? Atau mungkin karena bagaima cara Yongguk memperlakukan gadis itu? Atau karena bagaimana cara Yongguk menatap gadis itu?
Yah mungkin karena semuanya.
Itu menyakitinya melihat bagaimana cara Yongguk menatap gadis itu dengan cara yang belum pernah ia lihat sama sekali. Ia mungkin tak mengerti. Tapi ia tahu, ada yang lain saat Yongguk menatap gadis itu. Sesuatu yang sulit untuk Sulli jelaskan.
Itu juga menyakitinya melihat bagaimana cara Yongguk memperlakukan gadis itu seakan ia akan menggengam erat gadis itu dan tak akan melepaskanya walau apapun yang terjadi.
Dan itu juga menyakitinya saat Yongguk mengatakan bahwa dirinya hanyalah seorang teman. Entahlah, pemikiran hanya menjadi teman terdengar sangat menyakitkan bagi Sulli.
Sulli mungkin belum mengetahui pasti alasan mengapa ia terluka. Tapi ia tahu pasti alasan ia menangis, untuk mengurangi sedikit beban di hatinya yang tersakiti karena Bang Yongguk.
——————————–

Kaki Sulli melangkah berat menaiki anak tangga yang nampaknya tak berujung.
Sinar di wajah Sulli sudah menghilang bagaikan busa yang meletus begitu saja. Tergantikan oleh raut wajah kegelapan.
Helaan nafas yang berat terdengar di setiap tarikan nafas Sulli.
Entahlah, hari-hari terasa lebih berat semenjak kejadian ia melihat Yongguk dan gadis bernama Jieun.
Sulli menatap pintu yang berada di hadapannya.
Ia menghela nafasnya sebentar sebelum akhirnya ia memutuskan untuk membuka pintu itu.
Sulli memutuskan bolos dari pelajaran hari ini. Ia merasa apapun yang guru sampaikan tak akan pernah masuk ke dalam otaknya.
Kepalanya terlalu penat. Seakan terlalu banyak pikiran.
Dan yang lebih masalah lagi, semuanya itu adalah tentang Bang Yongguk.
Jantung Sulli berdebar tak karuan saat ia hanya baru melihat punggung seorang pria yang baru ia sadari kehadirannya itu.
Rupanya Yongguk juga sedang berada di atap, sama seperti dirinya.
Dengan sedikit penyesalan Sulli memutuskan untuk berbalik, pergi menghindari Yongguk sebelum ia menyadari kehadirannya disini.
” Sampai kapan kau akan menghindariku Choi Sulli? ” Suara berat Yongguk membuat langkah Sulli berhenti dan berbalik menatapnya.
Sama seperti Sulli, wajah Yongguk juga telah sedikit kehilangan sinarnya, nampak kelam.
” Duduklah. ” Yongguk menepuk-menepuk tempat duduk yang tidak bisa di sebut tempat duduk karena itu hanyalah bagian dari bangunan yang bisa untuk di duduki.
Dengan menurut Sulli berjalan sesuai perintah Yongguk.
Bahkan sampai ia duduk Sulli berusaha keras untuk tidak melihat ke arah Yongguk walaupun ia sangat ingin memandang wajah pria yang ia amat rindukan ini.
” Kenapa kau terus menghindariku? ” Kembali suara pelan Yongguk memacu jantung Sulli untuk berdetak lebih cepat.
” Aku… Tidak tahu. ” Tentu saja, bagaimana mungkin Sulli menjelaskan pada Yongguk bahwa ia menghindari Yongguk karena… Cemburu?!
” Jangan menghindariku. Kumohon. ” Mata redup Yongguk yang memohon pada Sulli untuk tidak menghindarinya membuat suatu rasa tersendiri di hati Sulli. Sebuah perasaan dimana Sulli ingin memeluk dan menangis untuk Yongguk sambil berkata bahwa Sulli tidak akan menghindarinya lagi.
Namun ia harus menahan itu semua. Menggigit bibirnya.
” Aku merindukanmu Choi Sulli. ” Sial, Bang Yongguk benar-bemar tahu bagaimana caranya untuk membuat hati dan pikirannya kacau. Kata rindu dari Yongguk berhasil membuat aliran darahnya mengalir, mengalir dan mengalir lebih cepat.
Kata rindu Yongguk berhasil tertancap tepat di hati Sulli dan membuat ratusan kembang api meledak-ledak dalam hati Sulli.
Namun sekali lagi, harus ia tahan.
” Nado. ” Dengan sedikit berbisik, berharap Yongguk tak akan mendengarnya Sulli mengutarakan isi hatinya. Berharap Yongguk akan mengerti.
Yongguk hanya tersenyum lalu berpaling memandang awan.
” Kau dulu pernah bertanya padaku kan apakah aku pernah jatuh  cinta. Aku pernah. Dan gadis tempo lalu itu adalah orangnya. Gadis yang pernah kucintai sepenuh hati, itu adalah dia. ” Sulli hanya terdiam mendengar cerita Yongguk. Seharusnya Sulli tahu, saat dimana Yongguk menatap gadis itu dengan cara yang berbeda seharusnya Sulli tahu kalau gadis itu spesial.
Tapi ia tak menyangka kalau itu akan begitu sakit saat Yongguk sendiri yang mengucapkannya.
” Dulu aku mencintainya, kupikir iapun begitu. Jadi suatu hari kukatakan cintaku padanya, dia hanya tersenyum, tak memberi jawaban. Dan keesokan harinya yang kutahu, ia sudah pergi jauh ke luar kota. Itulah mengapa aku tidak percaya cinta lagi, mungkin lebih tepatnya karena aku takut. Aku takut jika aku kembali memberikan seseorang seluruh rasa cintaku mereka hanya akan pergi meninggalkanku begitu saja. ” Sulli tak bergeming dari tempatnya. Dia akhirnya tahu alasan Yongguk menjadi playboy seperti sekarang ini.
Setelah memikirkan matang-matang Sulli akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
” Apakah kau masih mencintainya? Jieun, apakah kau masih mencintainya? ”
Sulli menunggu dengan harap-harap cemas jawaban dari Yongguk. Seakan ia mempertaruhkan nyawanya untuk jawaban itu.
Sulli terus berdoa agar Yongguk mengucapkan kata yang ingin ia dengar yaitu ‘tidak’. Tapi rasanya mustahil melihat bagaimana Yongguk bereaksi pada gadis itu.
” Entahlah. ”
Yongguk berdiri merapikan seragamnya. Ia menatap Sulli yang masih duduk termangu karena mendengar jawaban Yongguk yang menggantung.
” Aku ke kelas duluan, senang bisa berbicara lagi denganmu Sull. ”
Langkah Yongguk terhenti sebelum ia benar-benar meninggalkan atap dan Sulli.
” Sull, maukah kau jalan denganku, bukan untuk penelitianmu, tetapi sebagai temanku. Maukah kau? ”
——————————–

Sulli tidak mengerti mengapa ia berada di sini, di sisi lain taman yang sering ia kunjungi bersama Yongguk.
Ia tidak mengerti kenapa ia setuju untuk jalan bersama Yongguk sebagai teman.
Apa akal sehatnya mulai tidak waras? Tidak ia yakin otaknya sudah bersikeras untuk menolak rencana hari ini karena tahu ini pasti hanya akan membuatnya semakin masuk terperosok ke dalam lubang bernama kesakitan.
Tapi hati kecilnya menolak. Hati kecilnya berkata bahwa ia akan menyesal jika tidak datang hari ini.
Dan kali ini hatinya menang.
Jadi disinilah dia, berdiri di samping danau menunggu Yongguk.
Oh itu dia yang di bicarakan datang.
Yongguk terlihat dari kejauhan… Oh dia memakai setelan pakaian yang beberapa waktu lalu Sulli pilihkan untuknya. Beserta anting pasangan mereka juga.
Sulli tersenyum sumringah melihat Yongguk yang sudah berdiri di depannya.
Memakai barang-barang yang penuh makna untuknya itu.
” Hai Sull, menunggu lama? ” Sapa Yongguk sambil melipat kacamata hitamnya.
Rupanya Yongguk sudah kembali menjadi Yongguk. Sinarnya sudah kembali. Sulli lega melihat Yongguk sudah menjadi dirinya lagi.
” Tidak begitu. ” Sulli tersenyum lebar. Tidak ada yang lebih baik dari melihat Yongguk bahagia.
Sulli dan Yongguk berjalan bersama-sama.

Sulli dan Yongguk berjalan bersama-sama. Membicarakan banyak hal, terkadang mereka akan tertawa atau menggoda satu sama lain.
Kembali seperti saat mereka masih murni menjadi teman.
Tanpa sadar tangan Yongguk sudah merangkul Sulli.
” Senang bisa seperti ini denganmu lagi Sull. ” Ucap Yongguk sambil mengelus pelan kepala bagian belakang Sulli sedangkan Sulli hanya berusaha menahan senyumannya.
” Yongguk-ah aku lapar, bagaimana jika kita makan? ” Yongguk mengangguk antusias, memyetujui ide Sulli.
Tetapi langkah bahagia Yongguk-Sulli harus berhenti saat mereka menangkap sosok wanita yang sedang kesulitan. Wanita itu nampak di ganggung oleh beberapa pria. Dan parahnya, wanita itu adalah Jieun.
Tangan Yongguk yang merangkul Sulli terlepas begitu saja.
” Pergilah. ” Sulli menyuruh Yongguk. Lebih tepatnya memberi izin.
” Kau… ”
” Tenanglah aku akan baik-baik saja. Dan rencana makan kita bisa kita lakukan lain waktu, pergilah selamatkan dia. ” Sulli sedikit mendorong Yongguk menuju arah Jieun.
Yongguk menarik Sulli ke dalam pelukannya lalu berbisik.
” Lain kali aku akan mentraktirmu. ” Kemudian Yonggukpun berlari menuju Jieun secepat mungkin.
Sulli membuang nafasnya berat. Ia tahu ia telah melakukan hal bodoh dan ia menyesalinya itu.
Tapi ia tak bisa menahan Yongguk untuk terus berada di sampingnya saat ia tahu pasti bahwa yang hanya ada di pikiran Yongguk hanyalah Jieun.
Jadi Sulli hanya membiarkan saja Yongguk pergi. Karena ia lebih suka Yongguk tersenyum di banding berduka.
Saat Sulli membuka mata adalah saat Sulli merasa seperti di sambar oleh petir langsung.
Bagaimana tidak? Baru beberapa menit yang lalu Sulli menyuruh Yongguk untuk pergi. Namun sekarang pemandangan yang ia lihat adalah Yongguk dan Jieun berciuman…
Tubuh Sulli gemetar.
Nafasnya mulai tak beraturan.
Dadanya terasa sakit seperti ada banyak orang yang berusaha untuk terus memukul hatinya, lebih kencang, kencang.
Ia tidak bisa melihat apapun. Ia tidak bisa memikirkan apapun selain sosok pria dan wanita yang sedang berciuman di hadapannya.
Air matanya mengalir begitu saja seiring dengan rasa sakitnya yang membuncah.
Untuk saat ini ia merasa seperti gadis yang paling malang di dunia.
Melihat orang yang kau sukai mencium gadis lain tepat di depan matamu.
Setelah mengelak ribuan kali akhirnya Sulli mengaku pada dirinya sendiri hari ini bahwa ia memang menyukai Bang Yongguk.
Lelaki yang telah mengajarinya tentang apa itu cinta.
Termasuk saat ini, lelaki itu memberikan padanya apa itu yang di maksud patah hati dalam percintaan.
Ternyata lebih sakit dari yang ia duga.
Dengan nafas yang tercekit dan satu tangan yang mengepal Sulli memutuskan untuk pergi meninggalkan Yongguk.
Sungguh ia tak tahan untuk melihat ini lebih lama lagi.
——————————–

Yongguk dan kelima temannya berbaring di atap sekolah, memandang indahnya langit.
” Baru kali ini aku melihat langit secerah ini. ” Gumam Yongguk yang langsung mendapat pandangan aneh dari teman-temannya. Yongguk memuji langit?
Itu adalah hal yang tidak mungkin Yongguk lakukan.
” Hyung kau sakit? ” Junhong sang maknae menempelkan tangannya di dahi Yongguk, memastikan Yongguk baik-baik saja.
” Nan gwechana Junhong-ah. ” Yongguk menepis tangan Junhong.
” Semuanya menjadi indah saat dia datang. ” Kini Yongguk bergumam sambil tersenyum cerah bak pria yang sedang di mabuk asmara. Mungkin dia memang sedang.
” Dia? Siapa? ” Tanya Himchan yang mewakili teman-temannya untuk bertanya.
” Jieun. Dia kembali. ” Ucapan Yongguk berhasil membuat kelimanya terdiam sesaat sampai Himchan membuka mulutnya.
” Jieun, Song Jieun yang mencampakanmu dulu? ” Otomatis Himchan mendapat teguran di kepalanya lewat tangan Yongguk.
” Iya Jieun yang itu, tapi dia tidak mencampakanku. ”
” Kau menyukainya lagi? ” Tanya Youngjae.
” Bukan lagi, tapi masih. Kurasa selama ini aku hanya menutup diriku sendiri karena aku masih amat mencintainya. Dan ketika ia datang ialah yang mampu membuka kunci diriku. ”
” Kupikir kau dan Sulli… ” Yongguk menatap Junhong, menunggu Junhong untuk melanjutkan perkataanya.
” Aku dan Sulli apa? ”
” Kukira kau ada sesuatu yang lebih dengan Sulli. Melihat bagaimana kau memperlakukannya dengan spesial. ”
Yongguk terdiam sejenak mendengar perkataan Junhong.
” Tidak aku dan Sulli hanya- ”
” Bruk ” ” Aww ” Perkataan Yongguk terpotong saat mereka mendengar suara jatuh dan seseorang merintih. Otomatis mereka langsung berlari untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Yongguk sedikit terkejut dengan sosok wanita yang tengah duduk bersimpuh memegang pergelangan kakinya sambil meringis.
” Sull. ” Yongguk memanggil nama Sulli.
Sulli langsung membuang mukanya begitu ia melihat Yongguk mulai datang menghampirinya.
” Gwenchana? ” Sulli hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Yongguk. Ia mencoba untuk menahan airmatanya yang terasa akan jatuh.
Sulli menjauhkan dirinya dari Yongguk dan mencoba untuk berdiri sendiri.
” Aww ” Sulli kembali terjatuh karena kakinya yang terkilir akibat terjatuh dari tangga tadi.
” Aku akan mengantarkanmu ke uks. ” Yongguk menawarkan tangannya namun Sulli menepisnya.
” Ada apa denganmu Sull? Kau sakit dan jelas-jelas kau butuh bantuanku. ” Sulli tetap diam menunduk, tak mau menatap apalagi menjawab perkataan Yongguk.
Yongguk menghela nafasnya lalu ia mulai mengangkat Sulli dan menggendongnya.
Sulli tak percaya dengan apa yang Yongguk lakukan.
Matanya menatap wajah Yongguk yang hanya berada beberapa mili dari wajahnya sendiri.
Jantung Sulli mulai berdebar dengan kencang. Paling kencang dari semua debaran yang pernah Yongguk buat untuknya. Sampai-sampai ia takut Yongguk akan mendengar detak jatungnya yang berdebar kencang untuk dia.
Yongguk tidak berbicara, tidak juga menggerakan matanya. Pandangannya lurus ke depan.
Ia bisa melihat Sulli dari samping matanya yang terus melihat ke arahnya seakan ia bisa membuat lubang di wajah Yongguk akibat tatapannya.
Begitu ia melihat uks, Yongguk langsung bernafas lega karena akhirnya ia tak perlu berlama-lama dalam situasi canggung dengan Sulli yang ia sendiri tidak tahu kenapa. Tapi yang jelas ini sangatlah canggung sekarang.
Yongguk membaringkan Sulli di ranjang uks.
Sulli mencoba mengatur nafasnya untuk mencegah airmatanya jatuh namun sayangnya itu gagal. Perlahan demi perlahan airmatanya jatuh begitu saja.
” Sull nampaknya guru uks sedang tidak ada jadi – Sull kau menangis? ” Yongguk yang baru pulang dari mencari guru uks terkejut melihat tubuh Sulli begetar, isak tangisnya terdengar begitu jelas.
” Appa. ” Lirih Sulli saat Yongguk mendekat.
” Apakah sesakit itu Sull? ” Tangisan Sulli malah semakin pecah.
” Sull dimana yang sakit? ”  Yongguk mulai panik karena tangisan Sulli semakin lama semakin deras.
” Aku merasakannya. ”
” Mwo? ” Tanya Yongguk yang binging dengan apa yang Sulli katakan.
” Aku merasakannya, rasa sakit yang perlahan-lahan membunuhmu. Aku merasakannya. ”
” Aku merasakannya rasa sedih yang membuatmu merasa seperti gadis termalang di dunia ini. Aku merasakannya. ” Sulli mengungkapkan isi hatinya, berharap Yongguk akan mengerti tanpa Sulli membuatnya lebih jelas lagi. Sungguh Sulli tak tahan lagi, ia hanya ingin berteriak di hadapan Yongguk, membentak pria itu sambil berkata bahwa ia mencintainya.
” Rasa sakit hati yang kau jelaskan padaku, aku sudah merasakannya Yongguk-ah. ” Dengan lirih Sulli menatap Yongguk, mengatakan perasaanya lewat tatapan mata. Berharap Yongguk tahu.
” Nuguya? ” Sulli sedikit kecewa dengan tanggapan Yongguk. Benarkah Yongguk tidak mengerti?
Bukankah ia playboy? Harusnya ia bisa segera tanggap jika ada gadis yang menyukai dirinya. Bukankah begitu?
” Apakah kau benar-benar tidak tahu? ” Yongguk mengangguk.
Sulli meringis.
” Itu kau baboya, orang yang mengajariku tentang apa itu cinta. Kau benar-benar mengajariku sampai aku mengerti karena aku menyukaimu. Aku mencintaimu, tidakkah kau tahu itu? ” Akhirnya Sulli mengatakan juga isi hatinya. Ia tahu Yongguk pasti akan menolaknya, ia tahu. Tapi itu lebih baik daripada hanya memendamnya begitu saja. Karena Sulli tak ingin cinta pertamanya hanya berakhir pada cinta bertepuk sebelah tangan yang tak melakukan apapun. Yongguk adalah seorang playboy. Jadi dia akan bergerak jika ia mau, jika tidak maka kau harus membuatnya bergerak.
Jadi Sulli memutuskan untuk membuatnya bergerak, untuk membuat Yongguk merubah sudut pandang Yongguk tentang dirinya.
Agar Yongguk bisa melihatnya sebagai seorang wanita walaupun itu adalah mustahil.
” Sull… ” Yongguk berdiri lemas. Ia benar-benar tak berfikir bahwa Sulli akan jatuh cinta pada dirinya.
Maksudnya, seorang yang polos takkan mungkin mau menyerahkan cinta pertamanya pada seorang playboy begitu saja kan? Dan lagi ia kira Sulli… Sama sekali tak punya pandangan apapun tentang dirinya.
” Oh kenapa kalian di sini? ” Guru uks datang dan menyelamatkan mereka berdua dari situasi yang tak mengenakkan ini.
——————————–
” Aku tahu kau akan ada di sini. ” Suara Yongguk yang berasal dari arah belakang mengagetkan Sulli

yang sedang duduk terdiam di taman ( yang nampaknya sudah menjadi tempat favoritnya )
Sulli hanya terdiam bahkan saat Yongguk merengkuh dagunya, memintanya untuk menatap Yongguk.
Yongguk berjongkok namun matanya masih menatap Sulli lekat.
” Maafkan aku Sull jika aku sudah membuatmu merasakan rasa sakit yang tak seharusnya kau rasakan. Jika aku sudah membuatmu menangis. Maafkan aku karena telah membuat cinta pertamamu jatuh kepada pria seperti diriku. Maafkan aku. ” Airmata Sulli jatuh kesekian kalinya karena pria ini. Kali ini bukan karena pria ini menyakitinya bukan, tapi karena permintaan maafnya yang membuat Sulli menangis, mendengar Yongguk berkata seperti itu adalah rasa sakit yang lebih buruk daripada saat Yongguk mencium Jieun.
” Maafkan aku Sulli, kau gadis yang baik, kau adalah gadis yang menarik. Tapi maaf aku tidak bisa membalas rasa cintamu padaku. Bukan karena kau tidak cantik maupun menarik tidak. Kau adalah gadis yang paling menarik yang pernah kutemui, hanya saja aku adalah orang bodoh. ” Tangisan Sulli semakin kencang.
” Kau akan menyesalinya Bang Yongguk. ”
” Ya aku akan menyesalinya. ” Yongguk menarik Sulli ke dalam pelukannya, membiarkan Sulli menangis dalam pelukannya.
” Kenapa kau harus begitu baik? Kenapa kau tidak buang saja aku seperti kau membuang gadis-gadis lainnya. Kenapa? Padahal akan lebih mudah jika kau membuangku, karena dengan begitu aku bisa membencimu. ”
” Bencilah aku Sulli-ya, aku layak dapatkan itu. ”
Setelah isak tangisnya sedikit mereda Sulli melepaskan dirinya dari pelukan Yongguk.
” Jadi kau menolakku begitu saja? Kau tidak mempertimbangkanku? ”
” Maaf. ”
” Kau benar-benar susah untuk di taklukan Bang Yongguk. Sepertinya seluruh hidupmu hanya ada Jieun dan tak ada yang lain yang bisa mengubahnya. ” Yongguk hanya tersenyum pahit.
” Tapi aku ingin bertanya satu hal, saat kau menciumku, apakah itu bagian dari pelajaran? ”
Yongguk menggeleng ” Bukan. ”
Alis Sulli mengernyit. Bukan? Lalu jika bukan bagian dari pelajaran lalu apa?
” Sejujurnya kau hampir melelehkan dinding es yang ada di hatiku Choi Sulli. ”
Hampir?
” Aku sedikit menyukaimu Sull. ”
Waktu terasa berhenti saat Yongguk mengatakan bahwa ia sedikit menyukainya. Bukankah itu artinya ada kesempatan untuk dirinya?
” Tapi gadis itu Jieun, telah mengambil kembali semua ruang yang tersisa. ” Yongguk benar-benar mampu menaik turunkan perasaan Sulli seperti rollercoaster. Sesaat setelah kau di naikkan, kau akan di turunkan begitu saja dengan kecepatan yang amat sangat tinggi.
” Itu bukan karena kau tidak menarik, hanya saja usahamu yang kurang, dan juga… Karena aku tidak memberikanmu banyak kesempatan. ” Ingin sekali rasanya Sulli membentak dan memaki pria yang berada di hadapannya ini.
Tapi sayang ia tidak bisa, alasan Yongguk terdengar masuk akal sehingga ia tidak bisa memprotesnya.
Yah mungkin karena usahanya kurang. Mungkin karena selama ini hanya bersembunyi.
——————————–
” Awalnya aku tidak tahu apa itu cinta. Saat seseorang berkata padaku bahwa cinta itu hanyalah kebahagiaan semu aku percaya saja, melihat bagaimana orang yang tadinya senang bisa menjadi sedih karena cinta. Kupikir cinta itu terlalu berlebihan. Kenapa kita harus menghabiskan waktu kita hanya untuk memikirkan orang yang kita saja belum tentu memikirkan kita. Kenapa kita harus menangis tersedu-sedu hanya untuk orang yang bahkan belum tentu perduli pada kita. Atau kenapa kita harus melonjak kegirangan atas setiap hal kecil yang orang itu lakukan? Aku benar-benar tak mengerti. Namun aku salah. Cinta adalah sesuatu yang jika kau tak rasakan sendiri kau takkan pernah tahu bagaimana itu rasanya. Karena cinta adalah saat dimana otakmu tak mampu mengerti namun hatimu lebih mampu mengerti. Saat dimana hati yang lebih banyak berbicara. Karena saat jatuh cinta kau mungkin akan jatuh cinta dengan orang yang tak pernah kau duga. Kau mungkin bisa saja jatuh cinta pada playboy tapi kau tetap tak perduli. Mungkin itu terdengar gila, namun itulah cinta. Dan kupikir hal yang paling indah dalam jatuh cinta adalah rasa sakit dan airmata. Karena semua rasa sakit dan airmata itu yang menjadikan cintamu lebih berwarna. Karena rasa sakit dan airmata itulah yang mampu membuatmu berdiri tegar meskipun itu butuh proses yang cukup lama.
Karena saat kau jatuh cinta kau akan mendapatkan banyak hal yang tak pernah kau dapatkan sebelumnya.
Itulah pendapat saya, Choi Sulli tentang cinta. ”
Sulli tersenyum lebar saat teman-teman sekelasnya bertepuk tangan atas hasil pendapatnya. Ia juga bisa melihat senyum bangga sang guru yang duduk di kuris belakang.
Mata Sulli bergerak ke arah jendela.
Senyum Sulli menjadi lebih cerah lagi. Sulli tertawa kecil saat pria yang berdiri di jendela kelasnya, Yongguk memberikan dua jempol kepada dirinya.
-The End-

Annyeong ^^/
Bagaimana ff ini baguskah?
Maafnya kalo di bagian ending sedikit kurang. Itu karena author ngerjaiin buru-buru bngt.
Dan maaf banget kalo author jarang update, soalnya komputer author mati, jadi gak bisa ngepost ff T.T
Seperti biasa happy reading and keep RCL
Kalo ada kritik dan saran silahkan komen. Author terima dengan tangan terbuka :))

5 thoughts on “What Is Love?

Kritik, Saran dan lain-lain DISINI

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s