STEP MOTHER (Minho story)

ini ptoject ff aku yang baru. aku terinspirasi dari kisah hidup keluarga al el dul dan juga orang tuanya. hanya saja ada beberapa perbedaancerita. tapi untuk kelanjutannya,mungkin akan lama, karena saya juga masih punya beberapa ff yg belum selesai dan harus fokus untuk pendaftaran kuliah tahun ini ^^ terimakasih untuk Imey yang udah bantuin untuk memilih cast nya. yah semoga ff ini tidak mengecawakan. jika responnya tidak terlalu baik, kemungkinan besar, projectnya tidak akan saya jalankan. saya harap membacanya dengan mendengarkan lagu Maia Estianti yang berjudul ‘serpihan sesal’ ^^ Dan cerita versi minho ini menceritakan kenangan-kenangan masa kecilnya yang tak pernah dia lupakan.

Tittle: Step Mother

Gendre: Family, Romance, Triangle Love

Cast: Jessica Jung

Lee Donghae (SUJU)

Son Eunseo (Actress)

Choi Minho (SHINee) as Lee Minho

Shin Yoonjo (Hello Venus) as Lee Yoonjo

Jeno (SM Rookie) as Lee Jeno

Other Cast: Bibi Kim (fiktif)

Mr. Lee (Donghae’s Father)

and, for the next cast: Aleyna Yilmaz (Ulzzang baby)

etc

NEW5

Tahun 1995, aku terlahir dari rahim seorang wanita yang amat ku cintai, melebihi apapun di dunia ini, bahkan,melebihi diri ku sendiri. Saat aku lahir, mereka memanggil ku dengan nama ‘Minho’, ketika itu, aku tersenyum senang mendengarnya. Marga ku Lee, ya, itu karena ayah ku seorang bermarga Lee juga. Dulu, aku sangat menghormatinya,menganggapnya sebagai seorang pahlawan yang selalu akan melindungi ku dan melindu Ibu juga, dan tentu saja dengan adik-adikku kelak. Setelah aku menginjak umur 3 tahun, mulai dari situ, aku benar-benar merasa menjadi anak yang paling beruntung di dunia, mempunyai kedua orang tua yang saling menyayangi satu sama lain, dan juga mempunyai adik kecil yang diberi nama ‘Lee Yoonjo’ oleh Ibu dan Ayah.

Adik ku sangat cantik, mirip dengan Ibu, tapi senyumannya mirip dengan ku dan Ayah. Dulu, kami masih tinggal di rumah yang tak terlalu besar, yah, cukuplah untuk ditinggali 4 anggota keluarga. Ibu ku terlahir dari keluarga pengacara yang di kenal hebat di negeri kelahirannya, San Fransisco, sedangkan Ayah terlahir dari keluarga pengusaha yang cukup besar di Seoul. Keduanya ingin hidup mandiri, rela meninggalkan segala kekayaan orang tuanya untuk membangun rumah tangga dengan biaya yang mereka hasilkan sendiri. Di rumah kecil itu, hingga sekarang, segala kenangan yang pernah terjadi di sana masih membayangi ku, bahkan di umur ku yang sebentar lagi akan beranjak  19 tahun. Rumah biru, aku biasa memanggil rumah lama kami seperti itu.

Di rumah biru, ada banyak suara tawa, dari Ayah, Ibu, aku, Yoonjo, juga Kakek dan Nenek. 1 tahun kemudian, aku berumur  4 tahun dan Yoonjo 2 tahun, Ibu dan Ayah berhasil mengembangkan usaha mereka masing-masing. Ibu dengan perusahaan pakaiannya dan Ayah dengan perusahaan otomotifnya, kami pindah di rumah yang sangat besar, ada banyak TV, kamarnya luas, tempat tidurnya empuk, aku dan Yoonjo juga punya mainan banyaaakkkkk sekali, juga, senyuman Ayah dan Ibu yang tak pernah akan lupakan, mereka tersenyum bahagia di depan ku dan di depan Yoonjo sembari Ayah yang mengecup kening Ibu.

Setahun kemudian, keluarga kami mendapatkan anggota baru. Dia sangat kecil, kulitnya putih, bibirnya tipis, matanya yang sipit ketika tersenyum membuat semua orang gemas, juga jangan lupakan pipi gembulnya yang bersemu merah,kenalkan, dia adik ku dan Yoonjo, Ibu memanggilnya Jeno, Lee Jeno. Selamat datang di keluarga kita yang penuh kebahagiaan ini, dongsaeng-ah.

“Mommy, kenapa nama adik namanya Jeno?”

Yoonjo sekarang sudah berumur 3 tahun, rambut berwarna cokelatnya yang di kepang dua semakin membuatnya terlihat manis. Aku lalu mengalihkan perhatian ku pada Ayah dan Ibu yang tersenyum mendengar pertanyaan saudara perempuan ku. Sembari menyusui Jeno, Ibu menjawabnya dengan senyuman bahagia yang terlihat dari wajah kelelahannya sehabis melahirkan Jeno.

“Je itu dari dua kata nama Mommy, N itu satu kata dari and, dan O itu satu kata dari nama Daddy”

Aku dan Yoonjo saling bertatapan, kami berdua tersenyum senang mendengarnya. Walaupun singkat, tapi nama Jeno mengandung banyak arti. Ayah menggendong ku dan Yoonjo untuk naik ke atas tempat tidur Ibu, kami tertawa senang melihat Jeno yang menguap dengan lucunya. Sejak aku kecil, Ayah dan Ibu terbiasa merekam semua aktifitas kami dengan sebuah handycam, ketika ku tanya untuk apa, Ayah menjawab..

“Itu agar kau tak melupakan masa kecil mu ketika kau besar nanti, juga kau bisa memperlihatkannya kepada anak dan cucu mu kelak”

Mata ku berbinar senang mendengar kalimat Ayah, karena itu, aku tak pernah segan untuk di rekam. Di dalam handycam itu, terdapat video ketika aku masih bayi, lalu menangis cengeng karena tak mau masuk sekolah, saat itu aku masih TK, Yoonjo juga ikut mengantar ku, dia memakai tas bergambarkan Micky Mouse, malah Yoonjo lah yang terlihat lebih bersemangat untuk ke sekolah di bandingkan aku. Juga ada video Yoonjo yang menangis histeris ketika di ajari berenang saat dia berumur 3 tahun, tapi sekarang, berenang adalah hobinya, Yoonjo tak takut lagi. Juga ada video Jeno yang masih berumur dua tahun. Tubuhnya gembul sekali, pipinya semakin tembem saja, seperti dua bakpau yang terempel di wajahnya, sembari melompat-lompat senang, Jeno masih saling meledek dengan Ayah.

“Daddy nakal”

“Jeno yang nakal”

Aku tertawa mendengarnya sembari duduk di pangkuan Ibu yang sedang merekam Ayah juga Jeno, dan Yoonjo yang sibuk memasukkan permen ke dalam mulutnya, dan aku mengikuti Ayah dan Jeno yang saat ini saling menirukan suara hewan, hehe. Saat aku 9 tahun, aku baru mengerti, kenapa banyak orang-orang yang menunggu dan kadang berdesakan untuk bertemu Ayah dan Ibu, aku bertanya pada Bibi Kim yang telah menjaga ku dan Yoonjo sejak kami masih tinggal di rumah yang lama.

“Bibi, kenapa banyak orang yang mencari dan memotret Mommy dan Daddy?”

Aku melihat Bibi Kim tersenyum lembut, dia berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi tubuh ku yang belum berkembang dengan baik. Bibi Kim mengelus pipi ku, lalu memperbaiki sedikit kerah baju ku.

“Minho beruntung sekali menjadi anak sulung keluarga ini. Mommy dan Daddy mu kan seorang pengusaha muda yang sangat sukses, jadi banyak orang yang terkesan dengan kemampuan mereka”

Aku tersenyum lebar, lebih dari kata beruntung hingga aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Aku bahagia, bahkan lebih dari bahagia karena Tuhan memilih aku dan Yoonjo juga Jeno untuk terlahir di keluarga ini. Dan sekarang, aku menginjak umur  13 tahun, Yoonjo 11 tahun dan si bungsu Jeno 8 tahun. Hari-hari kami terkadang di habiskan di perusahaan milik Ayah atau Ibu, karena pekerjaan mereka yang semakin sibuk, tapi tak membuat kami menjauh sedikitpun. Tiap pulang kantor, Ayah dan Ibu akan mengajak kami makan dan jalan-jalan, sabtu dan minggu, kami sering datang ke taman bermain atau berkunjung ke rumah sanak saudara. Sangat menyenangkan hari-hari yang kami lewati. Sampai pada akhirnya, siang itu, Ibu datang dengan seorang wanita asing dan memperkanalkannya kepada Ayah juga kepada ku dan adik-adik ku.

“Kenalkan, dia Son Eunseo. Anak-anak, ayo berikan salam sayang”

Ibu tersenyum senang, dan aku hanya mampu terdiam, entahlah, hati ku merasa tak enak pada wanita bernama Son Eunseo ini. Sadar kedua adik ku telah selesai memberi salam, aku juga berdiri dan memberikan salam singkat, ku lihat wanita itu tersenyum ke pada ku. Lalu, sekarang giliran Ayah, mereka berdua berjabat tangan, ku lihat mata wanita itu berbinar, persis seperti gadis-gadis di sekolah ku yang senang ketika aku menyapa mereka.

“Eunseo akan menjadi sekertaris baru ku, karena dia baru saja kehilangan tempat tinggalnya, jadi untuk sementara, Eunseo akan tinggal bersama kita”

Ucapan Ibu membuat ku terkejut. Tinggal bersama? Perasaan ku semakin tidak enak. Aku kembali menatap Ibu yang kini duduk di pangkuan Ayah, mereka mengobrol sebentar.

“Iya, dia boleh tinggal di sini” ujar Ayah yang membuat Ibu tersenyum senang. ”Eunseo-ssi, semoga kau senang bersama kita, ne?

Dan, itu adalah saat terakhir di mana ku lihat keluarga ku merasakan apa itu kebahagiaan. Karena hanya aku yang tumbuh dewasa sendirian, Yoonjo dan Jeno masih belum mengerti apa yang terjadi. 4 bulan Eunseo tinggal bersama  kami, dia akhirnya pindah dari rumah kami, setelah sebelumnya Ayah dan Ibu sering terlibat pertengkaran kecil. Tadinya, ku pikir, setelah Eunseo pergi, keadaan Ayah dan Ibu bisa seperti dulu lagi, tapi apa yang aku harapkan meleset sangat jauh. Mereka saling berteriak satu sama lain, hingga pada akhirnya, untuk yang pertama kali dalam hidup ku, ku lihat cairan bening mengalir dari mata foxy Ibu yang selalu Ayah puji dengan ‘mata ter-sexy’ itu. Aku semakin yakin jika ada yang tak beres. Malamnya, aku pergi menemui Bibi Kim yang terlihat merenung di dalam kamar, akhir-akhir ini, aku sering melihat Ibu masuk ke kamar Bibi Kim, aku datang ke sini karena aku yakin Bibi Kim bisa menjawab semua pertanyaan yang berada di kepala ku.

“Bibi, kenapa Mommy dan Daddy bertengkar? Apa yang membuat mereka bertengkar?”

Kalimat ku yang singkat, membuat Bibi Kim menangis sembari memeluk ku. Aku semakin merasa ada yang  tak beres dengan keluarga ku. Malam itu, sambil menangis, Bibi Kim berkata pada ku..

“Minho, tolong maafkan Daddy mu yang telah berselingkuh dari Mommy mu. Tolong maafkan dia”

Jantung ku berdenyut sakit, darah ku berdesir dan air mata ku mengalir tanpa bisa ku tahan. Ternyata, apa yang aku takutkan selama ini terjadi. Ku lepaskan pelukan Bibi Kim dan ku tatap dengan lekat matanya yang sayu.

“Apa semuanya karena Eunseo Ahjumma? Apakah, Mommy dan Daddy akan berpisah?”

Tanya ku saat itu dengan suara yang datar, dan, suara tangis Bibi Kim yang semakin kencang telah menjawab semuanya. Kebahagiaan ku berada di ujung tanduk. Hari semakin hari, pertengkaran Ayah dan Ibu semakin parah, banyak barang yang pecah dan luka lebam di wajah Ibu. Untungnya, mereka melakukan hal itu ketika Yoonjo dan Jeno sedang di bawa jalan-jalan oleh salah satu pengurus rumah. Tapi sayangnya, mereka lupa akan aku, mereka lupa jika aku kini telah beranjak dewasa, aku bukan Yoonjo ataupun Jeno yang masih terlalu kecil untuk mengetahui permasalahan yang terjadi di antara mereka. Aku lelah melihat Ibu yang menangis dan Ayah yang akan selalu membanting pintu ketika perkelahian mereka selesai. Sampai pada akhirnya, kalimat yang di ucapkan Ibu membuat dunia ku seperti kiamat saat itu juga.

“Aku ingin cerai!! Aku tidak kuat lagi melihat mu dengan Eunseo. Aku akan menceraikan mu!! Aku tidak mau di poligami Lee Donghae!!!”

Aku berdiri di balik tembok yang berada di dapur, Ibu datang menghampiri ku, memeluk ku dengan menangis hingga membuat piyama yang ku kenakan basah oleh air matanya.

“Minho”

Hingga kini, bayangan Ibu yang terlintas ketika menangis dengan memanggil-manggil nama ku tidak akan pernah ku lupakan. Kenangan itu menjadi kenangan paling buruk yang pernah ku dapatkan. 3 bulan kemudian, proses cerai mereka di laksanakan, setelah Ayah mengusir Ibu dari rumah kami, Eunseo kembali tinggal di rumah kami, seolah, dia akan menggantikan posisi Ibu di sana. Hal yang tak pernah ku bayangkan adalah, duduk di kursi tamu yang berada di dalam persidangan. Sedangkan Ayah dan Ibu duduk di depan hakim, persis seperti seorang penjahat yang akan di vonis mati. Aku menunduk, ada banyak wartawan yang mengambil gambar, tapi, suara Ayah yang berteriak membuat ku tersentak kaget.

“TIDAK!! DIA YANG TELAH BERSELINGKUH DENGAN REKAN BISNISNYA!!”

Aku menunduk melihat Ayah dan Ibu yang saling menuduh. Tapi sejujurnya, aku percaya dengan Ibu, Ayah lah yang sedang berselingkuh dengan ‘mantan’ teman Ibu. Tapi kenapa Ayah menuduh Ibu? Bukan hanya itu, Ayah juga menuduh Ibu sering merokok di depan aku dan adik-adik ku. Aku, tidak mengerti dengan Ayah. Beberapa hari kemudian, Ayah menyuruh Yoonjo dan Jeno untuk tidak menonton TV dulu, ku pikir, Ayah belum mau adik-adik ku tahu dan terkejut dengan berita perceraian mereka yang di tayangkan di TV juga beberapa di majalah.

“Sejujurnya, anak ku lah yang telah berselingkuh dengan Son Eunseo. Jessica tak pernah berselingkuh ataupun merokok di hadapan anak-anaknya, ia Umma yang baik”

Kakek, Ayah dari Ayah ku mengatakan hal itu di depan media. Aku senang sekali melihat keberanian Kakek, mungkin, dengan munculnya Kakek bisa membuat Ayah luluh dan perceraian itu tidak akan pernah terjadi, tapi, lagi-lagi aku salah. Ayah dan Kakek juga bertengkar, Ayah marah karena Kakek membocorkan rahasianya dan Kakek marah karena Ayah lebih memilih wanita lain di bandingkan Ibu. Sejak saat itu, hubungan Kakek dan Ayah tidak baik lagi. Lalu, harapan yang ku tanam pada Kakek ikut pupus bersamaan berjalannya waktu.

Suara ketukan berjumlah 3x itu sama artinya bahwa hak asuh anak jatuh di tangan Ibu. Ibu menangis bahagia, sedangkan Ayah menunduk sedih, dan, aku sekarang tahu jawaban dari pertanyaan yang dulu ku tanyakan. Ayah, memfitnah Ibu agar hak asuh jatuh di tangannya. Tapi sepandai-pandainya Ayah berbohong, kebenaran pada akhirnya juga terungkap.  Besoknya, Ibu datang dengan beberapa temannya untuk menjemput kami. Tapi, Ayah menghadang mereka, suara ricuh terdengar di lantai bawah, aku menjajakkan kaki ku hingga ke pertangahan anak tangga, ku lihat Eunseo hanya berdiri diam melihat Ibu dan teman-temannya saling mendorong dengan Ayah dan beberapa bodyguard di rumah.

“Biarkan aku masuk Lee Donghae!! Aku mau menjemput anak-anak ku!!”

“TIDAK!! Sampai kapanpun, mereka tidak akan pernah meninggalkan rumah ini! Mereka akan tetap tinggal bersama ku”

Di tengah suara ramai itu, Bibi Kim dengan tergopoh-gopoh naik ke atas tangga, membawa kedua adik ku kembali masuk ke dalam kamar. Sungguh, terlalu banyak kebohongan yang mereka sembunyikan dari adik-adik kecil ku. Dan, air mata ku kembali mengalir mendengar suara Ibu.

“Kau memang mantan suami ku dan aku mantan istri mu. Tapi ingat Lee Donghae, tidak ada yang namanya MANTAN ANAK!!”

Rasanya percuma semua pengorbanan Ibu untuk masuk ke dalam ke sini. Dulu, dia dengan leluasanya keluar masuk rumah kami, menjadi satu-satunya ratu di sini. Tapi, sekarang sudah tidak lagi. Ada banyak perbuahan hanya dalam waktu singkat, ya? Setelah hari itu, Ayah masih melarang Ibu menemui kami, padahal, Yoonjo sudah merengek dan Jeno terus menangis ingin bertemu Ibu. Aku kecewa sekali, hingga bahkan bersuara pun tak bisa, semuanya, berdampak buruk bagi ku. Mereka bilang, aku menjadi lebih pendiam dan terlihat seperti orang ling-lung, aku benci diri ku dan kehidupan ku.

Tepat jam 12 malam, aku menginjak umur 14 tahun, aku terbangun dari tidur ku ketika mendengar suara ribut-ribut di luar. Ternyata, itu Ibu dan beberapa sanak keluarganya yang datang ke rumah. Aku menangis melihat perjuangan Ibu yang harus rela memanjat pagar tinggi hanya untuk bisa masuk ke sini. Kaki ku berlari turun, tepat ketika aku akan melewati Ayah dan Eunseo yang sedang di ruang keluarga, Ayah menahan tubuh ku.

“Kau tidak boleh kemana-mana Lee Minho!!”

Ayah bersuara dengan tegas, tapi aku tidak perduli, aku mau bertemu Ibu. Dengan bersamaannya suara bantingan tubuh ku di atas sofa, suara tangisan Yoonjo dan Jeno terdengar dari atas, belum lagi suara ribut di luar hampir membuat ku gila. Ayah masih menahan tubuh ku yang memberontak, sampai seorang penjaga datang dan membawa Ayah pergi dari ruang keluarga. Kini, ada dua orang penjaga yang menahan pergerakan ku, tanpa sengaja, aku memandangi Eunseo yang lagi-lagi hanya bisa terdiam. Demi tuhan, aku sangat membencinya. Ketika dia sedang terpuruk, Ibu datang menolongnya, tapi kemana dia ketika Ibu sedang ada masalah? Aku bersumpah, aku akan membencinya seumur hidup ku.

Aku menggigit bibir ku menahan amarah, suara Ibu yang terisak sambil memanggil nama ku, mampu membuat ku terlepas dari kekangan dua penjaga tadi. Ketika aku keluar, aku melihat Ayah memukul laki-laki yang saat itu selalu setia mendampingi Ibu di pengadilan, lalu ada Bibi Kim di samping Ibu yang menangis, setelah Ibu pergi, Bibi Kim memilih ikut dengan Ibu. Mereka, meninggalkan ku dan adik-adik.

“MOMMYYY”

Lagi-lagi, aku hanya bisa berteriak memanggil Ibu saat Ayah menarik ku masuk ke dalam. Dengan cepat, aku bersimpuh di depan Ayah, memeluk kakinya dengan menangis cengeng seperti yang biasa Jeno lakukan.

“Aku mohon Daddy, aku ingin bertemu Mommy. Aku mohon izinkan aku, aku tidak meminta hadiah apapun untuk ulang tahun ku kali ini, aku hanya ingin bertemu Mommy. Tolong, tolong izinkan aku”

Ayah melihat ku dengan mata sendunya, ia membuang wajahnya sambil berkata. “Kau hanya boleh bertemu dengannya di teras”

Aku langsung berlari keluar tanpa mau mengucapkan terimakasih pada Ayah. Ibu, Bibi Kim dan yang lainnya tersenyum senang ketika melihat ku datang. Ibu memeluk ku dengan erat, aku melihat orang-orang yang disana ikut menangis. Begitu menyedihkannya kah kami?

“Minho, maaf, kue ulang tahun yang Mommy bawa sudah hancur. Tapi, Mommy masih punya korek gas”

Memang benar, kue tart berwarna coklat yang terlihat enak itu sudah jatuh berhamburan, tapi aku tidak perduli, yang terpenting bagi ku, sekarang aku bisa melihat Ibu yang tersenyum dalam tangisnya sembari membawa korek gas dan menjadikannya pengganti lilin yang ikut hancur. Teras rumah terlihat remang-remang, angin berhembus cukup kencang malam ini, sampai membuat Ibu harus repot-repot menutupi api yang berasal dari korek itu dengan salah satu telapak tangannya. Aku menatap Ibu dalam diam, dia tersenyum, lalu mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk ku. Suaranya yang indah ketika bernyanyi, kini, ku nikmati sendirian.

“Happy birthday Minho…Happy birthday Minho..”

Ibu menyanyikan lagu itu dengan suara yang semakin lama semakin terdengar parau, air matanya menetes hingga membuatnya terisak di tengah nyanyiannya. Setelah selesai, aku segera meniup api itu, suara tepuk tangan terdengar, seperti biasa, Ibu memeluk ku dan mencium kening juga ke dua pipi ku, dia menatap ku sebentar, aku tahu, di umur ku yang ke 14 tahun ini, Umma pasti mengira aku tidak lagi bersedia Umma mengecup bibir ku ketika saat aku masih kecil dulu. Aku menganggukkan kepala ku, Umma tersenyum dan mengecup bibir ku dengan sayang, setelahnya, Umma menempelkan kepalanya dengan kepala ku, aku mengalungkan ke dua lengan ku pada leher Ibu, persis seperti yang di lakukan Ibu sekarang.

“Minho harus jadi anak yang baik, menjadi Kakak yang bertanggung jawab untuk Yoonjo dan Jeno, juga menyayangi Mommy dan Daddy”

Sesungguhnya, aku tidak mengerti kenapa Ibu masih menyuruh ku untuk bisa sayang pada Ayah yang jelas-jelas telah menghancurkan hidup kami. Dan sekali lagi, aku merasa seperti orang bodoh, ku topang dagu ku dengan tangan sebelah kiri sambil sesekali menghapus air mata ku dengan kaos hitam yang ku pakai. Aku hanya bisa terdiam, tidak mau melihat wajah Ibu yang kini merubah posisinya menjadi duduk di lantai dan terus bertanya aku meminta hadiah apa. Aku tidak butuh hadiah, aku hanya butuh keluarga ku yang seperti dulu.

Masih sama seperti hari-hari sebelumnya, Ibu masih sangat sulit untuk bertemu dengan ku dan Yoonjo juga Jeno. Sampai akhirnya, Ibu nekat datang ke sekolah kami dan membawa kami secara sembunyi-sembunyi naik ke atas mobilnya. Yoonjo dan Jeno terlihat senang sekali bertemu Ibu, itu karena sudah hampir 3 bulan kami tidak pernah bertemu. Jeno yang duduk di pangkuan Ibu sembari mengemut lollipop berwarna merah terang membuat ku tertegun dengan pertanyaan polosnya.

“Mommy kenapa tidak pernah pulang? Sekarang Eunseo ahjumma tinggal di rumah lagi. Tapi, kenapa Eunseo ahjumma tidak tinggal di kamarnya yang lama? Dia malah tidur di kamar Mommy dan Daddy”

Dan, Ibu hanya tersenyum dalam tangisnya, sedangkan Yoonjo menatap Ibu bingung, menunggu jawaban darinya, lalu aku, hanya mampu membuang wajah ku dari mereka. Kalimat Ibu yang selalu ku ingat tapi tak masuk akal bagi ku adalah..

“Apa yang telah terjadi pada keluarga kita jangan kau sesali, ini memang sudah takdir tuhan. Terkadang, apa yang kita inginkan memang tak pernah sejalan dengan takdir dari Tuhan. Tapi yang terpenting, kalian harus tumbuh menjadi anak yang baik, menjadi anak yang membuat Mommy dan Daddy bangga”

Hingga kini, aku tidak mengerti kenapa Ibu menyuruh kami untuk tidak menyesali ini semua. Ibu seakan telah ikhlas jika memang tak bisa bersatu dengan Ayah lagi. Sayangnya, aku, Yoonjo juga Jeno tak akan pernah ikhlas sampai semuanya kembali seperti dulu.

TBC

aku pakai karakter Eunseo disini bukan karena aku benci dia ya ^^ secara personal, aku suka banget sama Eunseo, dia cantik, liat mukanya tuh adeemmm bange, aktingnya juga lumayan, hanya saja, saya merasa cuma dia yg cocok untuk karakter ff ini. dan kalo di tanya kenapa Minho bukan Baekhyun? aku ngambil pengalaman dari ff aku yg sebelumnya, karakter Minho disini hampir sama dengan karakter Baekhyun di ff sebelumnya, banyak yg bilang Baekhyun tidak terlalu cocok memerankan tokoh yang tegas dan sedikit dan menyebalkan. karena nggak mau ngulangin kesalahan yang sama, jadinya aku pilih Minho ^^ untuk scene ultah itu aku ambil dari kisah nyata waktu al ultah, ini videonya https://www.youtube.com/watch?v=rc3n-tlDTGM bye~

27 thoughts on “STEP MOTHER (Minho story)

  1. Ahh pas awal2 senang banget eh pas udh akhir nyessekk banget, donghae kok tega banget ya,udh di butain tuh ma eunseo kasian sica..
    Lanjut ya thor aku suka bnget🙂

  2. hwaaaaa.. kenapa harus TBC sihh u,u semoga lanjutannya bisa cepet di share😀

    Author sukses banget bikin aku nangis, feelnya dapet banget.. Haeppa kok jahat banget ama Sicamma sihhh, mending ama Sica dari pada Eunso “eh u,u
    jangan gitu dong haeppa!! TOBAT HAEPPA!! “apaan sih”
    Semoga Haesica cepet-cepet bersatu kembali😀

  3. aaarrrghhhhh LEE DONGHAE EUNSEO ><
    kejemmm banget sih haeee, minho yoonjo dan jeno kan pengen ketemu ibu kandungnya sendiri kenapa pake dilarang2 segala sih -__- itu juga pas di persidangan ngapain cobaa nuduh2 sica yg engga2~

    feel nya dapeeeeeettt banget far, apalagi pas yg ulang tahun itu, sampe nangis imey😦 jdi keinget sama video yg aslinya nyeseeeekkk banget TT

    kerennn far lanjuuttt buat hae nyesel ya hehe😀

  4. awalnya bingung knp pake cast nya harus minho. secara, dia gk pernah jadi anak hs. tapi, semakin lama makin tau kalau peran ini emang cocoknya minho. dia pendiam, ganteng, juga tinggi. pas sama al. hahaa. min suka banget, sumpah! sama cerita keluarganya ahmad dhani ini. masih berharap dani-maia bersatu. itu istrinya yang satu lagi gk tau diri bgt. eh maap ya yg suka sama artis itu. kenyataan kok. *jadi curhat*
    tapi bagus bgt min ini dijadiin hs. Hs emang cocok utk ff genre apapun!
    trus, ini terserah deh min mau dilanjut kapan. yang penting dilanjut ^ ^ . Semoga diterima ya min di univ favoritnya. Semoga berhasil. semoga beruntung .. hahaha..
    maap kalau komen saya mengganggu!!

  5. Kasihan Minho, Yoonjo, dam Jeno. Dasar Eunseo jahat! Tega banget sih! Menurut tebakanku, Aleyna bakal jd anaknya Eunseo. Apa HaeSica masih bisa bersatu? Aku harap begitu.

  6. Hduh hiks hiks sicaaaaaa huaaaaaa dongeee lu jht bngtttt .hiks
    Ini konflik nya berattt ga bsa byngn deh hduh klo dksh nyta nya kn ga bkln nyatu lg .tp ini kn efef yh jd msh ad hrapan dund bt njess sm dongee bstu lg . Hduhh eunseo ith yg psngn donge dwgm ith kn.cntik sih tp ttp cntkn jessie😀
    Dtggu next part nya🙂

  7. Annyoeng!!! Reader baru disini. Huuaaa ffnya makin kemari makin sedih ya thor. Si donghae tega nian bgt sama jessie. Lagian si eunsoenya diem aja. Gak tau apa diassat dia susah dia di tolong jessie?? Huuu sedih thor sumpah mau nangis. Kasian minho dan adik2nya:((( ditunggu next chapt nya

  8. halooo..new reader disini..,ff.a bgus..,aq baca.a sampe’ nangis..,kasian minho,…donghae jht…,
    tp nanti bikin haesica brsatu ya thor…,ditunggu lanjutannya..,

  9. Anyeong
    Aq reader baru
    Salam kenal

    pas baca pertengahan udah duga ini agak mirip kisah bunda maia
    Terlebih pas scene ultah

    Ya allah, jadi nangis lagi, keingat kejadian 2008, waktu tuh sampe bener* benci ma dhani n mulan
    Padahal dhani – maia couple fav banget

    Sayang tuh jamedong tekdung pake muncul

    Gembel g taw diri
    #jadicurhat

    Di tunggu next chap nya thor

    Jangan sampe nasib jess jess kayak bunda

    Giliran dhani nyaris bangkrut baru anak* boleh dekat ma maia

  10. ffx nyesek author….
    tp please author ffx jangn sampai kyak khdupan aslix brharap haesica bs kmbli lg…
    eunseo bner2 gak tau dri dah dksh hati msh minta yg lain…
    mga hae oppa cpt sdar..
    gak sbr nunggu klnjtanx..
    part 2 x jangan lma2 ya author…
    Gomawo

  11. readers baru nih ^^ bangapseumnida~ nice ff! feel nya dpt bgt. ga bsa nahan air mata wktu scene ultah yg korek gas itu T^T Eunso gtw diri -_- nusuk dr blkg! minho emng cocok bgt jdi karakter Al! baca narasi td smbil bayangin minho, pas bgt. dilanjut plis~

  12. Bagus banget Thor ffnya^-^ Tapi LEBIH BAGUS lagi kalau Jessica sama Donghae nya sama-sama lagi😐. Di next ya Thor ^-^. Pokoknya terakhirnya harus HAPPY ENDING!!!~~~ 화이팅 juga ya Thor nulis lanjutan/ffnya lagi^-^. Oiya, aku mau request castnya Jeno, Donghae, Jessica, Yoonjo lagi yah Thor heheh….Soalnya suka banget apalagi sama Jeno. Soalnya aku cari ff yang castnya Jeno dan semua ff cast dia udah aku baca semua. Jadi, tolong yah Thor^-^ 고마워 dan 미안 kalo banyak permintaan. Heheh^ ^.

Kritik, Saran dan lain-lain DISINI

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s