I’m Sorry

yg pastinya,aku pernah buat ff seperti ini tapi dengan alur cerita dan cast yg berbeda. awalnya ff ini aku mau buat 2 ver, tapi gimana yaaa…takut nggak bisa lanjut kalo sampai dibuat 2 verhehe ^^ haesica sih, tapi yah nggak banget banget haesica nya haha. hanya sebuah cerita mengenai seorang ayah dan anak ^^ enjoy😀

Tittle: I’m Sorry

Gendre: Romance, Family, Angst

Cast: Lee Donghae (SUJU)

Jeno (SM Rookie) as Lee Jeno

Jessica Jung

Victoria Song (FX)

Other Cast: Ok Taecyeon (2PM)

Kim Kangin (SUJU)

Author: -PrettyBoy-

NEW11

Hujan masih turun semakin deras, waver di luar mobil juga masih terus bergerak, menghapus air hujan yang tiap kali menjatuhi kaca mobil depan dan membuat pandangan menjadi sedikit buram. Mata sipitnya melirik jam yang berada di dalam mobil, menunjukkan jam 11 malam sekarang. Karena hujan yang keras dan angin yang bertiup sedikit kencang membuat jalanan yang biasanya di penuhi dengan kendaraan dan orang-orang yang berlalu lalang nyatanya malam ini menjadi sepi, tentu saja orang-orang enggan keluar rumah dengan cuaca seperti sekarang. Jari-jarinya ia ketukkan pada setir mobil sembari menunggu lampu merah berganti menjadi hijau, tapi, tepat ketika matanya beralih ke arah sisi kanan, dia mendapati seorang anak laki-laki sedang berjongkok di depan saluran air yang di tutupi dengan penutup besi semacam pagar. Kaos putih yang di pakai anak itu bahkan sudah basah, tubuhnya bahkan cukup bergetar. Setelah memarkirkan mobilnya di sisi kanan jalan, pria itu turun dari atas mobil, tanpa ada payung yang melindungi dirinya, dia berjalan dan mendekati anak laki-laki yang di lihatnya tadi.

“Hei, apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya sembari mengusap air hujan yang membasahi wajahnya

Anak laki-laki tadi mendongak, pencahayaan yang mereka dapatkan tidak terlalu terang, hingga membuat ke duanya tidak terlalu jelas melihat wajah satu sama lain, tapi walaupun seperti itu, Donghae masih bisa melihat dengan jelas bibir anak tadi sudah membiru karena kedinginan.

“Kalung ku jatuh ke dalam” jawabnya dengan suara bergetar, entah karena kedinginan atau karena menahan tangisnya

Sang pria dewasa memandangi anak laki-laki di bawahnya dengan tatapan kosong. Kejadian malam ini sama persis dengan kejadian 10 tahun lalu saat ia membantu seorang wanita yang kehilangan gantungan kuncinya karena masuk di dalam saluran air. Tubuhnya yang semampai berjongkok, dengan refleks, di usapnya rambut kehitaman anak laki-laki yang juga berjongkok di hadapannya.

“Ahjussi akan membantu mu”

Anak itu tersenyum canggung walaupun di hatinya ia bersorak senang karena ada seseorang yang mau membantunya. Sedetik kemudian, pria dewasa tadi membuka penutup saluran air yang cukup berat, mata anak itu berbinar senang, tangannya dengan lebih dulu mengambil kalungnya yang tersangkut pada batu kecil, dengan senyuman lebarnya yang terlihat manis, dia terus mengucapkan rasa terimakasihnya kepada pria yang membantunya tadi.

“Gamsahamnida Ahjussi”

Dan itu adalah kalimat terakhir yang di dengarnya sebelum anak itu pergi menjauh darinya, berlari sembari menggenggam kalungnya dengan erat. Entah apa matanya yang bermasalah atau bagaimana, tapi rasa-rasanya, kalung itu pernah ia lihat, atau mungkin hanya perasaannya saja, karena tadi dia hanya melihatnya dengan sekilas. Setelah puas memandangi anak yang di tolongnya tadi, ia kembali masuk ke dalam mobil dan menjalankannya menuju rumah yang di tempatinya, tapi, bayang-bayang anak tadi masih terus menghantui pikirannya.

-I’m Sorry-

“Donghae….YAK LEE DONGHAE!!!”

Pria yang di panggil Lee Donghae itu tersentak kaget mendengar suara teriakan bawahan sekaligus sahabatnya, dengan wajah yang kesal, Donghae melemparkan pulpen yang ia mainkan tadi di hadapan Sungmin.

“Kau membuat ku terkejut, Hyung” seru Donghae sebal

“Siapa suruh, kau ku panggil-panggil malah tidak menyahut” bela Sungmin, di letakannya sebuah berkas di atas meja Donghae

Donghae hanya memutar bola matanya, berdiri dari duduknya sementara Sungmin duduk di sebuah sofa yang berada di dalam ruangan Donghae. Sungmin memperhatikan gerak-gerik Donghae yang hanya berdiri mondar-mandir di hadapan jendela, seakan tahu apa yang di pikirkan Donghae, Sungmin segera menyahut.

“Sudahlah, Jessica sudah bahagia dengan suaminya di Jepang” ujar Sungmin dengan santai

Rasa kesalnya semakin bertambah mendengar kalimat yang di lontarkan Sungmin. Tanpa di beritahupun, Donghae tahu akan hal itu, lagipula Donghae sedang memikirkan hal yang lain. Capek berdiri terus, Donghae akhirnya memilih kembali duduk di tempatnya, setelah agak lama memandangi telapak tangannya, pria berumur 33 tahun itu menatap Sungmin dengan raut wajah yang membuatnya bingung, tidak bisa mengartikan arti pandangan Donghae untuknya.

“Semalam, aku bertemu dengan anak kecil di depan supermarket” kata Donghae

Sungmin menaikkan satu alisnya bingung, ia masih tetap diam, membiarkan Donghae melanjutkan ceritanya.

“Dia mengingatkan ku dengan Jessica”

Dan, Sungmin tak tertarik lagi dengan cerita Donghae, terbukti dengan bagaimana tubuh mungil itu menghempas kembali pada sofa yang empuk. Dia sudah terlalu malas mendengar cerita Donghae yang selalu ada sangkut pautnya dengan Jessica. Bukan, Sungmin bukannya membenci Jessica, dia hanya tidak mau Donghae terus berada dalam rasa penyesalannya dan menganggap semua yang terjadi dalam hidupnya ada sangkut pautnya dengan Jessica.

“Kau ini bodoh apa bagaimana? Semua saja kau bilang mengingatkan mu dengan Jessica” kata Sungmin sembari berdiri dari duduknya

“Tapi kali ini berbeda, Hyung” seru Donghae yang ikut berdiri

Sebelum membuka pintu ruangan Donghae, Sungmin menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Donghae.

“Donghae-ah, jangan karena rasa penyesalan mu yang berlarut-larut membuat mu menjadi orang ling lung”

Dan, Donghae kembali duduk dengan sebal setelah Sungmin keluar. Kali ini dia yakin, bukan karena rasa menyesalnya atau yang lainnya, tapi dia memang benar-benar merasa anak itu mengingatkannya dengan Jessica, walaupun wajah keduanya berbeda, tapi ada titik di mana Donghae yakin anak itu selalu membuatnya terbayang akan Jessica lagi. Donghae mendongakkan kepalanya, terlintas pikiran jika dia mau bertemu anak itu, tapi kemana Donghae harus mencarinya?

-I’m Sorry-

Bel pulang sekolah telah berbunyi, salah satu siswa di kelas 1-3 sama bersemangatnya dengan para siswa dan siswi yang lain. Setelah memasukkan buku-bukunya, dengan cepat dia memakai tas berwarna biru mudanya dan berlari keluar kelas. Kaki kecilnya masih berlari, tapi terhenti karena sebuah pemandangan yang selalu membuatnya tercenang. Di mana para orang tua menjemput anaknya di sekolahan, wajahnya terlihat lesu, kepalanya masih menunduk sambil berjalan pulang ke rumah.

“Terimakasih atas bantuan biaya anda untuk sekolah kami, Tuan Lee”

Donghae hanya tersenyum sembari mengangguk, setelah bersalaman dan berpamitan, ia segera melangkah ke arah parkiran, tapi matanya yang teduh mendapati anak kecil yang di temuinya kemarin. Dengan wajahnya yang berbinar senang, Donghae berlari dan berdiri tepat di hadapan anak itu. Apa yang di lakukan Donghae cukup membuatnya terkejut, tapi seakan tidak perduli, Donghae masih tersenyum senang, tiap langkah kaki yang di buatnya, malah membuat anak tadi mundur ketakutan, dan hal itu membuat Donghae menjadi bingung sendiri.

“J-jangan takut, Ahjussi bukan orang jahat” ujar Donghae, di bacanya papan nama yang tertera di seragam sekolahnya. “Je-no, Lee Je-no”

Anak bernama Jeno itu menutupi papan namanya secara refleks, dia semakin ketakutan, memang selalu begitu jika bertemu orang asing. Kepalanya menunduk, tapi bisa merasakan jika kini Donghae berlutut di hadapannya.

“Jeno, tidak mengingat Ahjussi?” tanya Donghae

Jeno mendongak, suara itu cukup familiar di telinganya, ketika kedua mata itu saling bertemu, mereka terkesima, bagaimana bisa wajah mereka terlihat begitu mirip? Kini bahkan jantung Donghae berdetak semakin cepat, marga yang sama dan wajah yang sama, apa hanya sebuah kebetulan atau mungkin mereka punya hubungan keluarga? Sepertinya hanya kebetulan, karena dia tidak pernah merasa mempunyai anggota keluarga yang seumur Jeno dan bernama Lee Jeno. Tapi tetap saja, Donghae semakin merasa ada terkaitan dengan Jeno, bahkan sekarang, andaikan saja Jeno tidak menunjukkan rasa takutnya, Donghae pasti sudah memeluknya dengan sangat erat.

“A-Ahjussi siapa?” tanya Jeno balik, suaranya terdengar penuh kewaspadaan

Donghae segera menghapus pergulatan pikirannya, ia kembali tersenyum lebar sembari berjongkok mendekati Jeno yang tadi mundur menghindarinya.

“Ahjussi yang menolong mu semalam mengambilkan kalung mu” jawab Donghae

Jeno terlihat berpikir, mencoba mengingat-ngingat wajah pria yang menolongnya semalam sambil sesekali mencuri-curi pandang ke arah Donghae. Dengan tatapannya yang polos itu, membuat Donghae semakin gemas. Hanya menerka-nerka saja, mungkin anak itu bingung mengenali wajah Donghae yang semalam atau bingung karena wajah keduanya yang terlihat sangat mirip.

“Aku ingat. Tapi Ahjussi siapanya Jeno? Kenapa wajah kita mirip Ahjussi?” ucap Jeno polos

Donghae terkekeh, di sentuhnya dengan lembut kedua bahu kecil Jeno. “Hm, mungkin kita anak kembar yang terpisah?”

“Eh? Hahaha, Ahjussi bercanda ya?”

Dan untuk yang kesekian kalinya, Donghae kembali terkesima karena anak ini. Wajahnya memang sangat mirip dengan Donghae, tapi cara tertawanya begitu mirip dengan Jessica, seorang wanita yang pernah, ah tidak, seorang wanita yang masih hidup dalam hatinya hingga sekarang. Lalu, perasaan menyesalnya kembali menghantam dirinya hingga membuat Donghae tersenyum miris. Di gelengkan kepalanya untuk tidak memikirkan Jessica dulu saat ini, ketika di rasakannya Jeno tidak takut lagi padanya, Donghae dengan cepat menggendong tubuh mungil Jeno.

“Nama Ahjussi Lee Donghae. Kita punya marga yang sama kan?” ujar Donghae

“He’en, jangan-jangan kita memang anak kembar Ahjussi” sahutnya dengan mata yang membulat besar

Donghae tertawa, di elusnya rambut kehitaman Jeno, jangan lupakan sedikit rambut sebelah kanannya yang di kuncir satu, Apple hair milik Jeno membuatnya semakin terlihat lucu, hingga membuat Donghae untuk menahan diri agar tidak memeluknya dengan erat. Dia tidak mau gerakannya yang tiba-tiba membuat Jeno kembali takut dengannya.

“Jadi sekarang kita boleh menjadi teman?” Donghae mengulurkan jari kelingking sebelah kanannya di hadapan Jeno

“Hmm, Ok deh, Jeno mau” Jeno mengaitkan jari kelingking mungilnya dengan jari kelingking milik Donghae

“Jeno suka Ice Cream? Mau makan Ice Cream dengan Ahjussi?”

“MAAUUUU” sorak Jeno senang.

-I’m Sorry-

Tubuhnya terduduk di pojokan dapur, bergetar menahan ketakutan dan rasa sakit yang mendera wajah dan beberapa bagian tubuhnya yang lebam karena terkena pukulan dan lemparan benda tumpul. Rambutnya yang berwarna coklat sudah terlihat berantakan, air matanya masih mengalir. Setiap suara langkah kaki yang di buat pria itu membuatnya semakin ketakutan, di sembunyikan wajahnya pada lipatan tangannya.

“Kemari kau”

Dengan kasarnya, pria berbadan kekar tadi menarik lengan kurus wanita yang berstatus istrinya, saking kurusnya, gerakan seperti apapun rasanya bisa membuat tulang wanita itu menjadi remuk, tapi sang suami seakan tidak perduli dan malah menariknya ke dalam kamar.

“Kau benar-benar wanita tidak tahu diri, masih untung aku mau menikahi mu, tapi kau malah masih menyimpan barang-barang dari bekas kekasih mu itu!!”

Suara bantingan di atas kasur terdengar, suara tangisnya tertahan. Sekali lagi, pria itu seakan tidak perduli, di bukanya salah satu laci meja, lalu mengeluarkan sebuah pigura photo. Mata foxy nya membulat besar, terkejut ketika pigura yang tersisa satu-satunya itu akan di banting ke lantai, dengan susah payah, tubuh rapuhnya turun dari atas tempat tidur dan memeluk salah satu kaki suaminya.

“Jangan, aku mohon jangan. Aku minta maaf, hiks” ujarnya memohon

Pria tadi tidak perduli, di dorongnya tubuh Istrinya hingga terhempas ke lantai, lalu di susul dengan suara pecahan kaca. Pigura itu sudah hancur berkeping-keping, tidak sampai di situ, di injak-injaknya sebuah foto yang berisikan seorang pria dan wanita yang merangkul dengan mesra. Kini, foto itu sudah terlihat kusut, tepat ketika dia akan mengambilnya, sebuah kaki menginjak tangannya hingga membuatnya kesakitan, setelahnya terdengar suara teriakan kesakitan yang menyayat hati.

-I’m Sorry-

Donghae masih memandangi Jeno yang bermain di taman depan panti asuhan anak yang di tinggalinya, kali ini, tatapan Donghae terlihat sendu, tangannya bahkan sudah terkepal menahan marah.

“Ibu nya meninggal saat dia berumur 8 tahun, dia di asuh oleh Ayah nya, tapi Ayah nya melakukan tindakan kekerasan pada Jeno. Bukan hanya fisik, tapi psikis Jeno juga sempat terganggu, dia selalu merasa ketakutan dan selalu waspada pada orang-orang asing yang mendekatinya” jelas seorang wanita bernama Victoria

“Lalu, dimana Ayah nya sekarang?” tanya Donghae datar

“Di penjara, sejak polisi menemukan Jeno yang di pukuli di lorong dekat rumahnya 2 tahun yang lalu”

Donghae menyeringai, bersorak senang ketika mendengar pria bejat yang sudah tega menyakiti anak sekecil Jeno. Tapi tetap saja Donghae tidak menyangka jika pengalaman hidup Jeno yang bahkan bisa di bilang belum terlalu lama sudah begitu menyakitkan untuknya. Senyuman Jeno yang manis dan membuat orang semua gemas berhasil menutupi masa lalu kelamnya. Belum lagi, Ibu nya yang sudah meninggal di usianya yang masih begitu muda.

“Saya terkejut ketika anda ternyata baru mengenal Jeno hari ini. Tidak biasanya Jeno bisa sangat cepat akrab dengan orang yang baru mengenalnya, dengan saya saja, butuh waktu 2 bulan agar Jeno mau dekat dengan saya” ujar Victoria sekali lagi dan menyeruput teh hangatnya. “Yang mengejutkan lagi, wajah kalian benar-benar terlihat sangat mirip”

“Terimakasih” balas Donghae, dia bangga di bilang mirip dengan anak semanis Jeno

“Kalau saya boleh tahu, anda bertemu Jeno di mana?” ujar Victoria

“Di depan supermarket semalam, kebetulan aku lewat sana dan melihat Jeno duduk di pinggir jalan, saat ku dekati, ternyata kalungnya tersangkut di dalam saluran air” seru Donghae

Victoria tersenyum dan mengikuti arah pandang Donghae yang sedang menatap Jeno. “Ya, kemarin kalung Jeno memang hilang. Terimakasih telah membantunya, kalung itu sangat berharga untuk Jeno”

“Kalung ini sangat berharga untuk ku Donghae-ah”

Jantung Donghae melongos, suara Jessica terdengar di telinganya, dia ingat pernah memberikan kalung untuk Jessica, meminta wanita itu untuk tidak pernah melepaskan apalagi menghilangkannya, hingga pada akhirnya, Jessica menganggap kalung pemberian Donghae menjadi salah satu barang yang sangat berharga baginya. Tidak terasa, sudah 10 tahun kejadian itu berlalu.

“Kalau begitu, saya permisi dulu”

Donghae berdiri, membungkuk memberi salam perpisahan untuk Victoria. Sebelum benar-benar pergi, Donghae menemui Jeno lebih dulu, walaupun rasa-rasanya Donghae tidak mau berpisah dengan Jeno.

“Yah, Ahjussi kenapa pulang?” Jeno melingkarkan kedua lengannya pada leher Donghae yang kini sedang memeluknya

“Besok kan bisa bertemu lagi. Ahjussi akan menjemput Jeno besok, ok?”

Jeno mengangguk dengan semangat, di peluknya tubuh mungil Jeno dengan erat. Tidak pernah sebahagia ini sejak 10 tahun yang lalu, dan semua kebahagiaannya serasa kembali lagi semenjak bertemu Jeno. Di elusnya rambut Jeno lalu di kecupnya kening Jeno yang sedikit jenong, ah, lagi-lagi mengingatkannya dengan Jeno.

“Bye..Bye..Ahjussi” Jeno melambaikan tangannya hingga Donghae menghilang bersama mobil mewahnya.

-I’m Sorry-

“Untuk ku?”

Donghae duduk di hadapan Jessica, tersenyum ketika melihat kekasihnya ikut tersenyum senang sembari menggenggam kalung pemberian Donghae.

“Iya, kau suka kan?”

“Tentu saja. Lebih dari kata suka malah” kata Jessica, bibir mungilnya melebar karena tersenyum senang. “Pakaikan” rajuk Jessica

“Manja sekali” Donghae mengelus rambut coklat Jessica, berdiri dan memakaikan kalung ke leher Jessica

Jessica mengecup tangan kiri Donghae sembari mengucapkan terimakasih, kalung emas putih dengan bandul berbentuk hati itu memang sederhana, tapi bergitu berharga untuk Jessica. Di baliknya bandul hati itu, terukir huruf D&J di sana, untuk kesekian kalinya Jessica tersenyum, menghampiri Donghae dan duduk di pangkuan kekasihnya sembari Donghae yang memeluk pinggang kecil Jessica mesra.

Kalung itu sebahagia hadiah 6 tahun hubungannya dengan Donghae, keduanya kini sudah menginjak umur 23 tahun, baik Jessica ataupun Donghae memang belum terlalu serius membicarakan mengenai pernikahan, itu karena mereka berjanji akan menikah di umur 25 tahun, dan 2 tahun lagi semua impian keduanya akan terwujud. Dan Jessica bersyukur kepada Tuhan-NYA karena telah memberikan kekasih seperti Donghae, begitupun dengan Donghae, ia amat sangat bersyukur di berikan wanita seperti Jessica, seseorang yang dapat menghiasi hari-harinya menjadi lebih berwarna.

“I love you, Donghae-ah”

“I love you more, Jessica”

-I’m Sorry-

Victoria mengenggam tangan Jeno, sedangkan sebelah tangan Jeno menggenggam sebuket bunga, senyuman bahagia tidak henti-hentinya terlihat dari wajah manis anak berumur 10 tahun itu, dan kini, keduanya sudah berdiri tepat di hadapan makam Ibu Jeno. Sebelum meletakkan sebuket bunga yang di bawanya, Jeno lebih dulu melambai dan mengucapkan salam pada makam Ibu tercintanya.

“Hai Umma, bagaimana kabar mu? Kalau Jeno baik-baik saja Umma, hehe” Jeno meletakkan buket bunga yang di bawanya dan duduk di samping kanan makam. “Umma..Umma, Jeno sekarang punya teman baru, namanya Donghae Ahjussi, wajahnya miriiipppp sekali dengan Jeno, dia juga baik sekali, suka menjemput Jeno, main sama Jeno, membelikan ice cream untuk Jeno juga—”

Victoria ikut senang melihat semangat anak di hadapannya ini ketika bercerita. Sejak pertama kali dia bertemu dengan Jeno, sekalipun Victoria tidak pernah melihat kebahagiaan dari Jeno, tapi semenjak ia mengenal Donghae, Jeno menjadi berubah, secara perlahan psikisnya menjadi lebih baik dan sampai pada akhirnya bisa senormal anak-anak lain. Rasa ketakutannya kepada orang asing sudah tidak terlalu parah seperti sebelumnya, Jeno juga sudah tidak menangis dan meminta ikut bersama Ibu nya ketika berkunjung ke makam, pengaruh Donghae, benar-benar besar untuk anak kecil usia 10 tahun itu.

“Pokoknya Jeno senang sekali Umma bisa mengenal Donghae Ahjussi, hehe. Coba Umma masih hidup, jadi Umma bisa mengenal Donghae Ahjussi juga” cerita Jeno sambil tangan kecil membersihkan tanah makam sang Ibu

“Jeno, sekarang kita berdo’a untuk Ibu mu, ne?” ajak Victoria

Jeno mengangguk, di kaitkan sepuluh jari-jarinya hingga terkepal di depan dada, matanya terpejam dan kepalanya menunduk, dalam hati masih memanjatkan do’a yang sama untuk sang Ibu, untuk seorang wanita yang rela mengorbankan apapun untuk dirinya, dan pastinya seorang wanita yang sangat Jeno cintai. Permintaannya tidak muluk-muluk, Jeno hanya meminta Ibu nya bisa tenang dan bahagia di alam yang berbeda dengannya, meminta kepada Tuhan untuk menjaga malaikat cantik Jeno. Setelah selesai berdo’a, Jeno mengecup nisan sang Ibu dan memeluknya, mencoba merasakan kehangatan pelukan Ibu nya yang sudah lama tak pernah ia rasakan.

“Umma, Jeno pulang dulu, nanti Jeno ke sini lagi, ok? Daahh Umma, saranghae”

Jeno membentuk kedua tangannya seperti bentuk hati di atas kepala, setelah itu, dia kembali mengenggam tangan Victoria dan berjalan pulang.

“Vic Umma, kenapa Jeno berbeda dengan anak yang lain?”

Secara refleks, Victoria menghentikan langkahnya, walaupun baru kali ini Jeno bertanya hal seperti itu, tapi sebenarnya Victoria sudah lama menyadari jika Jeno selalu memperhatikan setiap anak yang di berikan kasih sayang oleh kedua orang tuanya. Dan akhirnya, hari itu datang juga, Jeno mempertanyakan perbedaan kehidupannya dengan anak yang lain.

“Jeno tidak berbeda, Jeno sama anak yang lain sama saja. Jeno punya Umma yang juga sayaaannggg sekali dengan Jeno, tapi karena Tuhan lebih sayang dengan Umma mu, jadi Tuhan mau Umma mu mendampingi tuhan, yang tadinya Umma mu malaikat tanpa sayap, kini Umma Jeno menjadi malaikat seutuhnya” jelas Victoria sambil mencubit pipi Jeno

“Tapi Jeno tidak punya Appa yang baik” ujar Jeno yang sudah menundukkan kepalanya sedih

“Tapi Jeno kan punya Donghae Ahjussi”

Kepala Jeno langsung mengadah ketika mendengar nama Donghae, matanya bahkan berkilat senang. “Oh iya, Jeno lupa, hehe. Ayo jalan lagi Vic Umma”.

-I’m Sorry-

“Appa…ampun Appa..”

“AKU BUKAN APPA MU, ANAK SIAL!!”

“TAECYEON, APA YANG KAU LAKUKAN!!”

Tubuh pria yang di panggil Taecyeon itu berhasil mundur beberapa langkah ketika seorang wanita berhasil mendorong tubuhnya dan berlari memeluk, tepatnya melindungi seorang bocah kecil yang menangis terisak-isak menahan rasa takut dan kesakitannya.

“Heh, anak dan ibu sama saja. Sama-sama tidak berguna” cela Taecyeon sembari pergi dengan membanting pintu

Dipeluknya tubuh kecil itu dengan penuh kasih sayang, suara tangis semakin terdengar hingga membuat kepalanya berdenyut sakit, tapi ia tidak perduli, anak semata wayangnya lebih penting sekarang. Secara perlahan, anak tadi melepaskan pelukan Ibu nya, menatap masuk ke dalam mata Ibu nya yang mulai berkaca-kaca.

“Umma, kenapa Appa jahat pada kita?”

Hanya bisa bungkam, hanya hal itu yang bisa di lakukan Ibu dari anak tadi. Bukannya menjawab, dia malah melepaskan sebuah kalung emas putih yang selalu terpasang di lehernya, tapi sekarang, kalung itu beralih ke leher sang Anak.

“Jangan pernah melepaskan kalung ini, ne? Kalung ini sangat berharga untuk mu, dan hanya kalung ini yang bisa menemukan jati diri mu yang sebenarnya”

Kalimat-kalimat yang di lontarkan sang Ibu tidak semuanya bisa di cerna oleh anak sekecil itu. Tapi setidaknya, ia telah berjanji akan selalu menjaga kalung pemberian Ibu nya. Pelukan Ibu nya yang terasa hangat semakin lama semakin menjauh, tubuh Ibu dari anak tadi terjatuh di atas lantai, darah keluar dari hidung dan mulut Ibu nya.

-I’m Sorry-

Jeno masih terduduk sambil sesekali mengayun-ayunkan kursi ayunan yang di mainkannya, sudah sebulan sejak pertemuannya dengan Donghae, anak berumur 10 tahun itu semakin dekat saja dengan Donghae, membuat orang-orang menjadi salah paham jika keduanya adalah sepasang Ayah dan anak. Suara Jeno yang terkekeh kecil terdengar, dia senang sekali jika memang benar bisa punya Ayah seperti Donghae. Sosok Ayah yang tidak pernah di dapatkan Jeno sebelumnya membuat Jeno begitu bahagia setelah mengenal Donghae. Dan mungkin, akan lebih bahagia lagi jika Donghae benar-benar Ayahnya, dan Ibu nya…..bisa hidup kembali.

“Jeno-yaaa” Donghae yang baru saja datang langsung menggendong Jeno, tapi melihat ekspresi sedih anak itu membuat Donghae bingung. “Kau kenapa? Ah! Jeno marah karena Ahjussi lama menjemput Jeno, ya?”

“Bukan Ahjusssiiii, Jeno rindu Umma” jawab Jeno dan menatap Donghae

Donghae memeluk Jeno, di dudukkan tubuhnya di atas ayunan yang tadi di pakai Jeno dan memangku tubuh kecil Jeno sembari memperbaiki ikatan rambutnya, setelah itu, Donghae membekap kedua pipi Jeno yang masih saja menatapnya dengan pandangan polos.

“Jeno jangan sedih lagi, kan ada Ahjussi, mau makan ice cream?”

Jeno mengangguk, tapi wajahnya masih terlihat sendu.

“Kalau tidak senyum, kita tidak akan makan Ice Cream” ancam Donghae sembari mengalihkan pandangannya

“Iya..iya..aku senyum. Hiii”

Jeno melebarkan kedua pipinya hingga membuat gigi-gigi mungilnya terlihat, dan sikap Jeno berhasil membuat Donghae tertawa-tertawa hingga masuk ke dalam mobil. Walaupun mereka hanya berdua, tapi rasanya di dalam mobil itu ada 10 orang yang ikut bernyanyi hingga tidak terasa kini keduanya sudah sampai di taman.

“Ice Cream coklat untuk Jeno yang manis” Donghae menyerahkan sekotak Ice Cream ke tangan Jeno

“Horeee” seru Jeno senang dan langsung melahap sesuap Ice Cream yang di berikan Donghae

Donghae menatap Jeno, tenggelam dalam tingkah manis anak berumur 10 tahun itu sembari mendengarkan cerita Jeno tentang sekolahnya hari ini, sisa ice cream yang mengotori sekitar bibir Jeno benar-benar membuat Donghae gemas, saking tidak tahannya, Donghae malah memeluk Jeno erat.

“Aigo-yaaa, uri Jeno manis sekali”

Jeno tertawa geli melihat ekspresi Donghae, di berikannya sesuap ice cream untuk pria yang telah memberikannya kehangatan layaknya seorang Ayah.

“Jeno, Ibu mu wanita seperti apa?” tanya Donghae yang masih memangku Jeno

Jeno bersandar dengan kembali melahap ice cream. “Umma baaiikkkk sekali, dia juga cantik, mirip seperti boneka barbie, terus dahinya mirip dahi Jeno”

“Sica-ya, kau itu seperti boneka barbie, tapi kau unik, karena kau barbie jenong, haha”

“Yak!! Lee Donghae brengsek!!”

Lagi-lagi ucapan yang di lontarkan Jeno berhasil membuat Donghae kembali mengingat Jessica. Dalam diamnya, Donghae memutar tubuh Jeno hingga berhadapan dengannya, ia tersenyum sedih dan segera memeluk Jeno, setidaknya, ketika Donghae memeluk Jeno membuat Donghae bisa merasakan pelukan Jessica, sebaliknya dengan Jeno, pelukan hangat Donghae persis seperti pelukan hangat Ibu nya.

-I’m Sorry-

“Donghae-ah”

Donghae memutar tubuhnya, mendapati Kangin yang sudah duduk di salah satu sofa dalam ruang tamu rumahnya.

“Bagaimana Hyung?” sergap Donghae yang ikut duduk di hadapan Kangin

Kangin mematikan puntung rokoknya, mengeluarkan sebuah amplop berkuran besar dan berwarna coklat, lalu memberikannya kepada Donghae yang langsung di terimanya dengan semangat.

“Seperti yang kita tahu, Jessica memang menikah dengan Taecyeon, tapi—pernikahan mereka tidak berjalan lancar, Taecyeon melakukan tindakan kekerasan pada Jessica juga dengan seorang anak laki-laki yang tinggal dengan mereka, sampai pada akhirnya, setelah 8 tahun usia pernikahan mereka, Jessica meninggal”

Secara perlahan kepalanya mendongak, nafasnya bahkan tidak beraturan, matanya berkaca-kaca dan tubuhnya jatuh terduduk di atas lantai bersamaan dengan air mata yang mengalir semakin banyak, Donghae bahkan sudah tidak perduli dengan amplop yang bahkan belum sempat di bukanya.

“Setelah Jessica meninggal, Taecyeon dan anak laki-laki yang di lahirkan Jessica pindah ke Korea, tapi, Taecyeon di masukkan dalam penjara karena melakukan tindak kekerasan pada anak laki-laki Jessica. Dan—anak laki-laki itu——anak laki-laki itu anak mu Donghae-ah”

Donghae mengusap wajahnya kasar, menarik rambutnya dengan air mata yang masih mentes, kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri, seolah tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Kangin.

“Donghae, aku hamil”

“A-apa?”

“Aku hamil 5 minggu”

“J-Jessica, k-kau, kau tahukan aku belum siap menikah, ak-aku—“

“Tidak apa-apa, aku tidak meminta mu untuk bertanggung jawab, aku akan menggugurkannya. Ah, aku masih ada pekerjaan lain, aku harus pergi sekarang”

Donghae memukul-memukul lantai, meluapkan amarahnya, rasa penyesalan, rasa amarah dan rasa sedihnya terkumpul menjadi satu. 10 tahun yang lalu, Jessica datang kepadanya dan mengatakan jika dia hamil, saat itu, Donghae bingung, tidak tahu harus melakukan apa, menghamili wanita di luar nikah tentu saja sebuah aib yang tidak bisa di terima keluarga Donghae, dia turut senang mendengar wanita yang di cintainya hamil darah dagingnya, tapi di satu sisi, Donghae tidak bisa menerimanya. Sampai 3 bulan setelah kejadian itu, Jessica menikah dengan pria lain di Jepang, meninggalkan Donghae dengan rasa penyesalan yang teramat sangat dan terus tenggelam dalam rasa bersalah dan kesepian. Dan sekarang, dia harus menerima kenyataan jika Jessica telah pergi untuk selamanya dan meninggalkan seorang malaikat yang bahkan Donghae tak tahu bagaimana kabar dari anak mereka.

“Hyung…Hyung, lalu di mana anak kami Hyung? DI MANA ANAK KAMI?!!” tanya Donghae kalap

“Tenanglah Donghae. Aku masih belum menemukannya, tapi aku menemukan sepucuk surat di rumah lama Jessica dan Taecyeon. Ini”

Donghae merampas kertas berwana putih itu dan membacanya, air matanya bahkan terjatuh membasahi kertas.

“Donghae, aku minta maaf telah berbohong, tapi aku melakukannya agar anak kita tidak di gugurkan. Donghae, anak kita laki-laki, dia lucu sekali, tapi aku sebal, seluruh fisiknya, terlebih wajahnya sangat mirip dengan mu, tapi, senyumannya mirip dengan ku. Aku bersyukur Tuhan telah memberikan seorang anak laki-laki untuk kita. Donghae, kalung yang kau berikan telah aku berikan ke anak kita. D&J, dulu kata itu mempunyai arti ‘Donghae&Jessica’, tapi semenjak anak kita lahir, D&J bukan lagi ‘Donghae&Jessica’ melainkan ‘Donghae&Jeno’. Donghae, nama anak kita Jeno, Lee Jeno”

Tangan Donghae bergetar, wajahnya terlihat datar, Kangin yang melihat keadaan Donghae mulai sedikit khawatir, tepat ketika tangannya akan menyentuh bahu Donghae, Donghae segera menepisnya dan mengambil kunci mobil di atas meja.

“Jeno..Jeno..”

Donghae terus bergumam mengambil Jeno, kakinya menginjak gas dengan kecepatan penuh, ternyata firasatnya selama ini benar, pantas saja Jeno mempunyai wajah dan senyuman yang sama persis dengannya, juga kehidupan kelam Jeno yang di ceritakan Victroia waktu itu sama dengan apa yang di ceritakan Kangin. Di dalam rasa sedihnya, masih terselip kebahagiaan jika ternyata selama ini anak kandungnya telah berada sangat dekat dengannya.

“Tuan Lee, ada apa malam-malam kema—”

Victoria merasa bingung melihat keadaan Donghae yang terlihat acak-acakkan, belum lagi sikap Donghae yang langsung saja masuk ke dalam rumah dan berteriak-teriak seperti orang kesetanan memanggil nama Jeno, dan tak lama, Jeno keluar dari kamarnya, di lihatnya Donghae yang segera berlari dan berjongkok di hadapan Jeno sambil menyentuh bandul kalung Jeno dengan tangan yang bergetar.

“Ya tuhan, Jeno”

Donghae menggenggam kedua lengan Jeno dengan kembali menangis, di balik bandul Jeno terukir kata D&J, persis seperti kalung yang di berikan Donghae untuk Jessica saat itu.

“A-Ahjussi, kenapa?” ujar Jeno sedikit gugup

“Jeno—aku Appa mu Jeno, aku Appa mu”

Jeno terkejut, tapi lebih tidak mengerti dengan maksud ucapan Donghae, sedangkan Victoria yang saking terkejutnya sampai menutup mulutnya, tidak percaya dengan kenyataan yang berada di depan matanya.

“Jeno dengar. Taecyeon itu bukan Appa mu, aku Lee Donghae, akulah Appa kandung mu, pria yang di cintai Ibu mu, dan Pria yang telah menyakiti Ibu mu dan menyakiti mu. Maafkan Appa, Jeno-ya”

Donghae memeluk Jeno, air matanya sampai membasahi piami tidur Jeno. Walaupun belum mengerti maksudnya, tapi Jeno sungguh sangat senang jika pria di hadapannya ini adalah Ayah nya. Jeno senang, impiannya mempunyai Ayah seperti Donghae benar-benar terwujud.

-I’m Sorry-

“Jeno ayo kemari, pakai baju mu”

Donghae berlari mengitari rumah mewahnya, memburu Jeno yang baru saja dimandikannya dan kini berlari dengan tubuh telanjangnya berputar-putar rumah, pasti anak itu mengerjai Donghae lagi. Setelah semuanya terkuak, Jeno akhirnya tinggal bersama Donghae, memulai hidup baru menjadi seorang Ayah untuk Jeno.

“Nah kena kau!”

Jeno berusaha terlepas dari kekungan Donghae, tapi tidak berhasil, buktinya sekarang Jeno sudah duduk di atas meja sementara Donghae sedang memakaikan jas berwarna hitam yang sama dengan jas yang di pakainya sekarang. Setelah selesai, Donghae menyisir rambut Jeno seperti model rambutnya, Donghae melompat-lompat saking gemasnya melihat Jeno. Lalu, Donghae menggendong Jeno dan mereka berdua berdiri di hadapan cermin.

“Lihat Jeno, wajah kita mirip sekali” kata Donghae

“Engg. Tapi Umma bilang, Jeno lebih tampan dari Appa”

“Eh, enak saja. Karena ketampanan Appa ini makanya Umma bisa mencintai Appa. Ja, sekarang kita menjenguk Umma”

Bahkan rasa penyesalan yang masih hidup dalam diri Donghae tidak berhasil mengubah apapun, juga tidak berhasil menghidupkan sosok Jessica lagi. Tapi dengan Jeno yang kini berada di sisinya membuat hidup Donghae bisa menjadi lebih baik setelah sepeninggalan Jessica. Dan hari ini adalah hari pertama dimana Donghae melihat Jessica lagi, walaupun dalam keadaan yang berbeda, keadaan di mana Jessica yang telah berada dalam kubur.

“Jessica, maafkan aku, maafkan aku”

Donghae jatuh tepat di samping makam Jessica, menangis dengan terisak-isak meminta maaf. Sedangkan Jeno hanya bisa duduk di sebelah sang Ayah, ikut merasakan kesedihan Ayahnya.

“Sica, semuanya salah ku Jessica, semuanya salah ku. Seandainya dulu aku tidak berkata seperti itu dengan mu, semuanya pasti tidak akan seperti ini. Aku benar-benar meminta maaf”

“Umma pasti memaafkan Appa”

Donghae menoleh pada Jeno, ikut tersenyum ketika di lihatnya malaikat yang di titipkan Jessica padanya ikut tersenyum. Jeno kini duduk di pangkuan Ayah, mengikuti tangan Donghae yang juga sedang mengelus nisan Jessica, persis seperti yang sering Jeno lakukan.

“Sica-ya, hari ini kami terlihat sangat tampan kan? Aku sengaja memakai jas yang sama dengan Jeno. Oh iya, Jeno sekarang sudah besar, sebentar lagi dia 9 tahun, tapi dia manja sekali, seperti mu”

“Aku tidak manja Appaaa”

“Oh lihat Jessica, anak mu bahkan sekarang berani memukul ku, haha”

Hanya satu harapan yang kini mereka inginkan, Jessica berharap dua orang pria yang amat di cintainya bisa bahagia, karena dari alam lain, Jessica ikut senang karena pada akhirnya semuanya bisa berakhir dengan bahagia walaupun dirinya tidak bisa berada di sisi mereka.

“I love you, Lee Donghae, Lee Jeno”

-I’m Sorry-

“Apa barang mu terjatuh ke dalam?”

Kepalanya mendongak, walaupun samar-samar karena penerangan yang tidak terlalu terang dan air hujan yang masih turun semakin deras, tapi mata foxy nya masih bisa melihat betapa tampannya pria yang kini ikut duduk di hadapannya.

“Biar ku bantu” katanya sembari membuka penutup saluran air, di ambilnya sebuah gantungan kunci dari dalam dan di berikannya pada wanita tadi

“Terimakasih” jawab wanita tadi dengan berdiri

“Sama-sama. Ah, aku Lee Donghae” pria bernama Lee Donghae itu mengulurkan tangannya dengan tersenyum

Ia ikut tersenyum senang dan membalas uluran tangan Donghae. “Aku Jessica, Jessica Jung”

new12
END

aku pakai cast taecyeon bukan karna aku benci ato nggak suka ya sama dia, tapi ngerasa cocok aja buat karakter di ff ini hehe ^^ thankyou ^^v

21 thoughts on “I’m Sorry

  1. Aahhh sedih bacanya pas tau jessica nya udah meninggal, dan donghae nya nyesel banget karna udah ninggalin jessica. Tapi akhirnya donghae sama jeno bersatu dan jessica bahagia disana hehe:’)

  2. Kyaaaa sdihh crts nya.smpe berair ini mta bca nya.nyeseg bngt jd sica nya dpt suami tukang pukul bgtu.hdehhhh
    Knpa sica nya dbt mati sih.klo ga mninggal kn mngkin msh bsa bsatu lg gt sm donge sm jeno😀
    Donge juga gmna x udh nanem benih tp ga mau tanggung jwb.kn ksian sica nya.hiks hiks

  3. yaampun jenooo, itu dicover yang bawah, yang rambutnya diikat imut-imut sekaleee!
    seneng banget baca ff family kek gini. gak papa kok gk ada haesica yang penting ada lee fam. kalau ada waktu buat yang verse ke2 nya min. penasaran. apakh yg diverse 2 itu jessicanya hidup, atau gimana.
    keep writing admin pretty! always love your ff! *and you /ditendang/*

  4. jessie udh meninggal? huh.
    males deh, jeHae emang happy
    harusnya HaeSica Happily Ever After .
    kkeep writing!! ^^

  5. annyeong~ aq reader baru ^^ nangis baca ff ini T^T Nasibnya Sica miris bgt. Donghae sbagai pacrnya gmw tanggung jwb, trus dpt suami kasar gt. nyesek bgt. aq trharu baca scene trakhir. bner” nyentuh hati :’) Lee family jjang! btw, aq suka dua posternya!

  6. Daebak keren bingitsss thor😉
    Tapi sedih sedih gimana gitu…
    Soalnya jess unnie nya udah meninggal😦
    Oya yang kata kata terakhir itu flashback atau nyata ?
    Di buat nyata aja jadi ceritanya jess unnie di lahirkan kembali gitu… #ngarang
    di tunggu ff yang lainnya🙂
    Oya aku readers baru di sini ni ^^

  7. ya Tuhannnn >.< ini sedih banget .. Taecyeon jahat banget ama Jessica, aku jadi sebel banget ama Taecyeon /plak/
    Jeno ama Donghae emg cocok banget dah jadi bapak (?) sama anak ,, ini pokonya Fell nya dapett (y)🙂
    aku tunggu FF yg lainnya thor ~😀

  8. Bingung mau komen apaan setiap baca ff di sini, pasti pngen nangis pas bacanya T.T
    karya2 author di sini keren (y), jngan lnjutin ff step mother ya thor..XD

  9. Hy thor q readers bru di blog kmu….
    Oh y ff mu kren bget smp3 terharu bcnya…
    NI bner 2 bkin nyesek. Kcian jessica hrus ngrsain pnderitaan skejam itu dr taec… le jeno bkin q trharu…
    Ditgu ff kmu lainya thor….

  10. KYAAAAAAA!!!!!!~~~~
    SUMOAH THOR!! MALEM-MALEM BACA FF INI NANGIS SESENGGUKAN!!! Dooohh -_- Itu Jessica nya gak bisa dihidupin lagi apa ya? #eeh😐. Pokoknya 2 jempol untuk AUTHOR!!!! *prokprokprok* Thor, bikin ff lagi ya yang cast nya Jeno, Donghae, Jessica. Habisnya aku baca ff castnya Jeno usah aku baca semua😐. Kabulin yah Thor plis *puppy eyes*. Gomawo…^ ^.

  11. sebenernya udah ngira kalo jeno anak donghae,tp yang bikin kaget tau sica udh meninggal. aaaaa sedih banget thor feelnya itu loh dapet bgt sumpah keren ikut terharu sampeee. daebak thor🙂

  12. kyaaaaa bener2 daebak deh ff disini,aihhh berharap jessicanya masih ada pasti lengkap banget dah kebahagiaan mereka #plakk.Ternyata jeno emg beneran anaknya haeppa dan aku baru nyadar pas kangin bilang kaya gitu ,omg -_-(?),walaupun moment2 haesica dikit to gapapa lah ya :’3 ,terus berkarya ya thor 😍😘 aku tunggu ff haesica selanjutnya pokoknya lee family series harus !!! nyiahahahaa *evillaugh papay^^~

  13. Aku baca udah lama banget dari tahun 2016 haha. Tapi sumpah aku nangis kejer baca ff ini :’) ,ngebayangin jessica mati aduh…. tapi sampai haru ini.aku masih berharap haesica happy ending

Kritik, Saran dan lain-lain DISINI

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s