Timeless

ff ini aku buat udah lammmaaaa banget, tapi belum selesai-selesai, pas cek note hp kemarin aku lanjutin ff nya dan ada sedikit perombakan juga. akhir-akhir ini aku sering buat ff soalnya nggak ada kerjaan dirumah haha. enjoy ^^

Tittle: Timeless

Gendre: Romance, Friendship, Triangle Love, Angst

Cast: Jessica Jung

Lee Donghae (SUJU)

Kwon Yuri

Kim Yesung (SUJU)

Other Cast: Cho Kyuhyun (SUJU)

etc

new14Malam ini terasa mencekam, bukan karena pencahayaan yang remang-remang disalah satu lorong Rumah Sakit ternama di Seoul, tapi sebuah keadaan yang bernamakan ‘menunggu’ didepan ruang operasi masih kalah seramnya dengan bertemu mahluk-mahluk yang tak kasat mata, hingga sebuah suara pintu yang terbuka membuyarkan kehengingan dilorong sepi itu.

“Dokter, bagaimana keadaan tunangan saya?”

Wanita berparas manis dengan rambut panjang hitam pekatnya itu segera menghampiri Dokter laki-laki yang lebih dulu keluar dari ruang operasi lalu diikuti Dokter wanita yang berdiri di belakangnya.

“Operasi nya berjalan lancar. Dua jam lagi kami akan memindahkannya keruang rawat. Permisi” Dokter pria bernama Kim Yesung itu berlalu meninggalkan wanita tadi

Wanita itu tersenyum dengan menitikkan air matanya saking senangnya. Sedangkan Dokter yang satunya hanya diam ditempatnya, sedetik kemudian dia terbangun dari lamunannya ketika menyadari jika Yesung sudah berjalan agak jauh dari tempatnya. Tepat kita Dokter muda itu ingin beranjak dari sana, tunangan dari pasiennya tadi menahan tangannya.

“Jessica-ssi, terimakasih”

Jessica terdiam sejenak, menepis tangan Yuri dengan lembut dan menepuk bahunya. “Jaga dia dengan baik”

Yuri menganggukkan kepalanya, menatap kedua dokter muda itu sudah berjalan agak jauh dari tempatnya. Dengan segera, Yuri mengeluarkan ponselnya, menghubungi keluarganya dan keluarga tunangannya atas kabar bahagia ini.

-Timeless-

Jessica menatap keluar jendela, memandangi beberapa anak kecil yang sedang bermain dengan riangnya ditaman Rumah Sakit. Sejak tadi dia hanya mengaduk coffee latte nya, wajahnya terlihat sangat datar, terlihat seperti seseorang yang tak punya semangat. Tak lama, pintu ruang kerjanya terbuka, menampilkan sosok Pria berpakaian rapi dengan rambut blonde kuningnya.

Yesung mengikuti arah pandang Jessica, lalu menoleh kembali pada wanita itu. “Hari ini kau ada jadwal untuk memeriksa pasien di nomor 310, tapi kenapa kau masih disini?”

Jessica memutar bola matanya, tidak suka atas kehadiran Yesung yang sudah mengganggu kegiatannya. Jessica memberikan secangkir minumannya tadi pada Yesung, melangkah kemeja kerjanya dan mengambil jas berwarna putih lalu memakainya.

“Kau bisa gantikan aku?” tanya Jessica

“Lagi? Ini sudah yang ketiga kali kau menolak memeriksa pasien mu” omel Yesung sembari meminum coffee latte Jessica

“Aku sudah janji dengan Kyuhyun untuk bertemu dengannya sore ini” ujar Jessica

Yesung terdiam sejenak, dia sedikit mengerti dengan permintaan Jessica. Tapi memeriksa pasien sudah menjadi tugas dan tanggung jawab Jessica. Yesung tak tahu harus bagaimana, tetap memaksa Jessica untuk tinggal atau membiarkannya pergi dan lari dari tugasnya?

“Kau tidak bisa seperti ini terus. Bagaimana jika kepala Rumah Sakit tahu?” kata Yesung serius

“Ini yang terakhir. Aku janji, setelahnya, aku pasti akan menjalankan tugas ku lagi” mohon Jessica

Yesung menghela nafas panjang dan meletakkan cangkir yang dipegangnya diatas meja.

“Ya sudah, pergilah. Tapi ini yang terakhir!” ulang Yesung

“Iya, aku janji. Aku pergi ne? Bye”

Jessica menutup pintu ruangannya, meninggalkan Yesung sendiri. Dari balik jendela, Yesung bisa melihat Jessica yang sedang berjalan menuju parkiran. Wanita itu terlihat kelelahan, paska operasi 3 hari yang lalu, Jessica kurang tidur dan tak pulang ke apartementnya. Entah apa tujuannya, padahal disuruh memeriksa pasien pun dia tak mau. Yesung menggelengkan kepalanya dan keluar dari ruangan Jessica.

-Timeless-

“Bagaimana?” tanya Yuri pada Yesung yang baru saja keluar dari kamar rawat

“Sudah cukup membaik. Kita lihat minggu depan, jika keadaannya semakin membaik, 2 minggu lagi dia bisa pulang” jawab Yesung dan memasukkan stetoskopnya kedalam kantung jas nya

“Terimakasih. Ngomong-ngomong, dimana Jessica-ssi? Aku tidak melihatnya lima harian ini” kata Yuri

“Oh. Dia pergi bertemu Kyuhyun” ucap Yesung datar

Yuri tertegun untuk sesaat, bertemu Kyuhyun ya? Bertemu dengan kekasih sendiri tak salahkan? Yuri tersenyum dan membungkuk sedikit ketika Yesung berpamitan padanya. Wanita itu memerhatikan Yesung sejenak, setelah itu masuk kedalam ruang rawat Donghae, pria yang sudah menjadi tunangannya hampir enam bulanan ini.

Senyuman Yuri mengembang melihat Donghae menatapnya, meletakkan sekantung buah diatas meja, menarik kursi dan duduk disisi sebelah kanan Donghae sembari menggenggam tangannya.

“Dokter bilang, kau bisa pulang 2 minggu lagi” ucap Yuri senang

Donghae hanya tersenyum sebagai balasan perkataan Yuri. “Yul, aku haus. Boleh minta minum?”

“Tentu” Yuri menuangkan secangkir air putih dan membantunya untuk meminum air itu

“Ini masih seperti mimpi bagi ku. Ku pikir, aku akan bertemu Appa di surga. Tapi, Tuhan masih mengizinkan ku untuk tinggal lebih lama didunia” tutur Donghae yang menatap langit-langit kamarnya

“Ini keberuntungan untuk mu. Tidak semua orang bisa mendapatkan donor jantung secara cepat dan cocok seperti mu” Yuri menyuapkan sepotong apel pada Donghae

“Yul. Boleh aku bertemu dengan pendonor jantung ku?”

Yuri berhenti mengupas apel, menyuapkan Donghae sekali lagi dan mengecup kening tunangannya.

“Setelah keadaan mu membaik ne?”

-Timeless-

“Selamat pagi Uisa” sekertaris Jessica membungkukkan tubuhnya saat melihat Jessica baru saja datang

“Pagi. Hari ini ada jadwal apa saja?” tanya Jessica sembari memakai jas putihnya

Suster bernama Park Soyeon itu mengambil papan tulisnya yang terdapat sebuah kertas berisikan jadwal-jadwal Jessica. Sedetik kemudian, Soyeon mendongak memandangi Jessica.

“Pagi ini Uisa harus memeriksa Tuan Lee” jawab Soyeon

Jessica menghentikan pergerakan tangannya yang tadi ingin menuang minuman dari dalam kulkas. Mata foxy nya berkedip beberapa kali, melanjutkan menuang minum dan meneguknya dengan cepat. Dia mengambil stetoskop nya yang berada diatas meja.

“Baiklah” seru Jessica dan melangkah keluar ruangannya terlebih dulu

Soyeon mengangguk, mengikuti langkah Jessica sembari mendiskusikan mengenai pasien-pasien selanjutnya yang akan diperkisa. Tidak butuh waktu lama, kini dua wanita itu telah sampai didepan pintu berwarna coklat bernomorkan 301. Jessica masih berdiri ditempatnya, sedangkan Soyeon yang sudah sejak tadi membuka pintu kamar menatap Jessica heran.

“Uisa?”

Jessica terbangun dari lamunannya, menyuruh Soyeon untuk masuk terlebih dulu. Kakinya melangkah dengan pelan, matanya mendapati Donghae yang terbaring diatas tempat tidur sambil memainkan boneka bergambarkan ikan nemo. Yuri sepertinya masih kerja, baru jam 11 pagi sekarang.

“Tuan Lee” panggil Soyeon dan mendekat kearah Donghae

Boneka yang Donghae pegang terjatuh diatas lantai ketika mata lembut itu memandangi Jessica yang juga menatapnya. Jessica berdiri dibelakang Soyeon, ia segera membuang wajahnya, tidak mau bertatapan dengan Donghae dan ikut berdiri disamping Soyeon.

“Mana suntiknya?” tanya Jessica yang kini sudah menggenggam lengan sebelah kanan Donghae

Donghae masih tak berkutik, tubuhnya terasa kaku, tapi matanya tak pernah lepas dari Jessica. Rasa sakit suntikan bahkan sudah tak ia rasakan, yang penting untuknya, memandangi wajah barbie dihadapannya dengan puas.

“Kapan kau pulang?” ucap Donghae tiba-tiba

Jessica berhenti menuliskan kondisi Donghae pada papan tulis yang dibawa Soyeon tadi, ia tak mengindahkan, tepatnya berusaha tak perduli dengan pertanyaan Donghae. Selesainya Soyeon menggantikan infus yang baru, Jessica melangkah, bermaksud meninggalkan ruangan itu. Tapi tangan Donghae dengan cepat menggenggamnya.

“Kita perlu bicara!” kata Donghae dengan suara yang dingin

Wanita berambut coklat itu menghela nafas panjang, menyuruh Soyeon keluar untuk meninggalkan mereka berdua, lalu menepis tangan Donghae.

“Jadi, kapan kau pulang dari San Fransisco?” tanya Donghae sekali lagi

“Bukan urusan mu!” jawab Jessica ketus

Donghae menatap Jessica tak percaya, sedetik kemudian dia tertawa miris. “Harusnya aku yang bersikap dingin pada mu, bukan kau yang bersikap seperti ini dengan ku!”

“Aku tidak pernah menyuruh mu untuk bersikap baik pada ku!” balas Jessica tak terima

“Aku tidak tahu apa yang terjadi pada mu setelah kau pindah ke San Fransisco dan setelah kau mencam–”

“CUKUP!!” teriak Jessica marah. “Jangan ungkit tentang masa lalu kita! Semuanya sudah selesai!!” ujar Jessica sekali lagi, sebelum ia keluar, ditatapnya dengan nanar boneka Donghae yang jatuh tadi, lalu akhirnya ia menutup pintu kamar Donghae dengan kasar.

Donghae menatap pintu yang ditutup Jessica tadi dengan datar, ia menelan salivanya dengan susah payah. Dia masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Jessica, harusnya Donghae lah yang bersikap jahat pada wanita itu, tapi kenapa malah? Donghae tersenyum miris dan melemparkan vas bunga yang berada disampingnya dengan marah.

Sedangkan disisi lain, Yesung muncul dari balik tembok, tindakannya mengangetkan Jessica yang wajahnya masih terlihat emosi. Yesung menggenggam tangan Jessica dengan erat saat Jessica ingin meninggalkannya.

“Kau tidak boleh bersikap seperti itu pada Donghae” jelas Yesung dengan melepaskan tangan Jessica

Jessica terdiam untuk sesaat, memutar tubuhnya menghadap Yesung sembari menatapnya tajam. “Jangan campuri urusakan ku!”

“Apa yang dikatakan Donghae benar.” ujar Yesung membuat Jessica menghentikan langkahnya. “Harusnya dia yang marah pada mu, bukan sebaliknya”

Jessica menyeringai, mencela ucapan Yesung. “Marah? Kau pikir dia mampu marah dengan dua orang yang sudah menyelamatkan hidupnya?”

“Kau tidak benar-benar mau bersikap kasar padanyakan?” seru Yesung yang kini menatap Jessica

DEG

Jantung Jessica berdetak, tanpa perduli dengan Yesung lagi, ia segera mempercepat langkahnya pergi dari sana. Mungkin, apa yang dikatakan Yesung benar, sejak tadi, dibalik emosinya, sesungguhnya Jessica menyembunyikan rasa sakit, kesedihan dan kebahagiaannya. Sakit dan sedih ketika dia sadar bahwa dia telah menyakiti Donghae dengan ucapannya, bahagia karena Donghae sudah bisa hidup sehat sekarang.

Tubuhnya dia sandarkan pada tembok ruangannya, perlahan tubuh Jessica jatuh merosot dan terduduk diatas lantai. Jessica menenggelamkan kepalanya pada lututnya yang dia peluk, tangisannya pecah, kini rasa bersalah menumpuk semakin banyak, dari Donghae dan Kyuhyun.

-Timeless-

Jessica terbangun dari tidurnya dengan terkejut, ia memijit-mijit kepalanya untuk menghilangkan rasa pusingnya. Sudah jam 8 pagi, lagi-lagi dia tertidur dalam ruangannya. Jessica berdiri dari duduknya, merenggangkan otot-otot tubuhnya lalu mengambil segelas air dan menenguknya dengan cepat. Ketika dia menatap meja kerjanya, ternyata masih ada beberapa lembar kertas yang harus dia periksa.

Jessica kembali duduk ditempatnya, mengambil bolpoin miliknya dan mulai menandatangani beberapa berkas, tapi gerakannya terhenti ketika bolpoin itu tidak mengeluarkan tinta lagi. Tangannya meletakkan bolpoin tadi disisi meja sebelah kanan, mengambil telfon dan menekan angka satu.

“Yoboseyo?”

“Sunny-ssi, tolong ambilkan tinta bolpoin yang baru untuk ku”

“Ne, Uisa”

Jessica menutup sambungan telfonnya dengan salah satu suster yang ada di Rumah Sakit itu. Sembari menunggu Sunny, Jessica memilih masuk kedalam kamar mandi yang berada dalam ruangannya, membasuh wajah cantiknya dengan air dingin yang mengalir dari keran lalu menggosok giginya.

Tok..Tok…

Jessica dengan cepat menyelesaikan aktifitasnya tadi, berkumur dan keluar dari kamar mandi lalu kembali duduk ditempatnya.

“Masuk” seru Jessica

Pintu berwarna putih itu terbuka, menampilkan sosok Donghae yang masih dalam balutan baju pasien dengan menenteng infus miliknya ditangan sebelah kiri. Jessica yang melihat kehadiran Donghae terkejut, matanya tak lepas dari Donghae sampai pria itu duduk dihadapannya.

“Untuk apa kau kesini?” tanya Jessica dingin

“Kita harus selesaikan ini” jawab Donghae lalu duduk di hadapan Jessica

“Apa yang harus di selesaikan?” ujar Jessica

“Tentu saja antara kau dan aku!” sahut Donghae kesal

“Aku sudah bilang! Semuanya sudah selesai! Lagipula kau sudah punya Yuri! Jadi apa lagi yang kau harapkan dari ku?!! Aku juga sudah berhenti mencintai mu sejak lama!” gertak Jessica kesal

Donghae menyeringai, tangannya menggapai bolpoin berwarna biru tua yang di simpan Jessica tadi. Di tatapnya lekat-lekat bolpoin itu dengan tersenyum, lalu kembali memandangi Jessica.

“Sudah berhenti? Haruskah aku percaya pada semua kebohongan mu untuk kesekian kalinya? Jika kau memang sudah berhenti mencintai ku sejak lama—” kata Donghae yang penuh penekanan, ia mendorong bolpoin yang di pegangnya ke hadapan Jessica. “Harusnya kau juga sudah membuang bolpoin pemberian ku itu”

Sial! Lagi-lagi Jessica tertangkap basah. Entah kenapa, sejak dulu, dia tak pernah bisa berbohong di hadapan Donghae. Memang benar, bolpoin cantik itu pemberian Donghae ketika Jessica di terima di Universitas kedokteran, sudah hampir lima tahun ia memakai bolpoin itu walaupun hubungannya dengan Donghae sudah berakhir sejak dua tahun yang lalu.

“Lalu, haruskah aku menerima pria yang berstatus sebagai tunangan wanita lain ke dalam hidup ku?” ucap Jessica sekali lagi

“Jadi kau tahu Yuri tunangan ku?”

Jessica tersenyum mencela, dia berdiri dan lebih memilih menatap keluar jendela.

“Keluarlah. Aku tidak mau ada yang salah paham” usir Jessica

“Sejak kau memutuskan ku demi Kyuhyun hingga aku bertunangan dengan Yuri, aku tidak pernah menganggap hubungan kita usai Jessica. Kau tahu karena apa? Itu karena aku selalu mencintai mu! Tapi kau selalu saja menyakiti hati ku! Dan bodohnya, hati ku masih saja tetap tinggal untuk mu”

Jantung Jessica berdetak dengan cepat. Ingin rasanya ia berteriak tepat di depan wajah Donghae untuk berhenti berbicara! Semua kata-kata Donghae semakin membuat Jessica tersudutkan dan lebih membuatnya merasa bersalah. Benarkah begitu besar cinta Donghae untuk Jessica?

“Aku tidak tahu kenapa kau membenci ku sekarang, aku juga masih tidak tahu kenapa aku masih mencintai mu” Donghae mengusap wajahnya kasar. “Tapi aku tetap yakin, kau masih mencintai ku walaupun kini kita punya pasangan masing-masing”

Itu suara Donghae yang di dengar Jessica terakhir kali sebelum di dengarnya suara pintu yang di tutup. Wanita itu menunduk, lagi-lagi menangis dalam diam. Jessica tak mau untuk berbuat tega lagi pada Donghae untuk kedua kalinya. Tapi Jessica tidak mau ada hati yang merasa sakit akan hubungannya dengan Donghae untuk kedepan.

Walaupun tidak pernah mengobrol lebih banyak dengan Yuri dan tidak pernah mengenal Yuri, tapi sangat gampang membacanya jika Yuri punya cinta yang besar untuk Donghae. Dulu, Jessica menyakiti hati Donghae untuk bisa bersatu dengan Kyuhyun, apa sekarang, dia harus menyakiti hati orang lain lagi demi hatinya sendiri? Jangan bertanya lagi! Jessica benar-benar tak sunggup memikirkannya.

-Timeless-

Sinar matahari yang masuk melalui jendela sama sekali tidak membuat Donghae terganggu apalagi terbangun dari lamunannya. Mata teduh itu masih tetap memandang keluar jendela. Ini sudah hari ke sebelas dia di Rumah Sakit. Yuri hari ini datang lebih pagi, katanya ingin bertanya kapan Donghae bisa pulang. Sebetulnya, wanita berparas manis itu tak perlu repot-repot untuk bertanya kapan Donghae pulang, toh, Donghae memang tak mau pergi kemana-mana sebelum dia mendapatkan jawaban dari Jessica bahwa Jessica masih mencintainya.

Terdengar egois, memaksa atau terlalu percaya diri memang. Tapi itulah yang terjadi, walaupun Jessica telah meninggalkannya, Donghae selalu yakin akan hatinya bahwa Jessica masih mencintainya.

“Donghae” Yuri masuk ke dalam ruangan Donghae dengan senyumannya yang lebar. “Kau bisa pulang besok”

Donghae menoleh pada Yuri, dia hanya mengangguk pelan dengan tersenyum tipis dan kembali menatap keluar jendela. Sedangkan Yuri sendiri berkerut bingung. Pasalnya, Donghae sama sekali tidak menunjukkan ada rasa bahagia setelah dia berucap tadi. Dengan segera, disentuhnya bahu Donghae dengan lembut.

“Waeyo? Apa ada yang menganggu pikiran mu?” tanya Yuri sedikit khawatir

“Tidak ada. Kau tidak bekerja?” tanya Donghae balas, ia menampakkan senyuman yang lebih baik dari tadi, walaupun itu adalah senyuman palsu

“Tentu saja aku pergi, aku akan menyelesaikan semua pekerjaan ku untuk hari ini dan besok, jadi aku bisa mengambil cuti besok” jawab Yuri dengan memakai tas berwarna hitamnya

“Cuti? Untuk apa?” kata Donghae

Yuri sekali lagi tersenyum manis. “Karena kau akan pulang besok. Aku pergi dulu ne? Nanti akan ku hubungi” Yuri mengecup kening Donghae dan pergi dari sana, meninggalkan Donghae sendirian.

Tak lama berselang, disaat Donghae menikmati kesendiriannya, suara pintu yang dibuka mengusik Donghae. Ternyata itu Yesung. Dengan tidak sopannya, Yesung langsung saja masuk tanpa mengetuk pintu dulu dan melihat-lihat pigura photo yang menampilkan kemesraan Donghae dan Yuri. Sudah pasti Yuri yang menata pigura-pigura itu.

“Kau beruntung mendapatkan Yuri” seru Yesung, tersenyum dengan menatap Donghae

Donghae tesenyum kecil. “Tidak seberuntung Kyuhyun yang mendapatkan Jessica, Hyung”

Yesung membuang nafas panjang, kepalanya menggeleng. Pria itu merasa geli dengan jawaban yang di lontarkan Donghae.

“Kalau aku jadi kau, aku pasti akan sangat merasa beruntung mempunyai Yuri di samping ku” Yesung berdiri dan melipat kedua tangannya di hadapan Donghae

“Hyung sudah mengucapkannya berulang kali” Donghae kembali merebahkan dirinya dan memainkan boneka ikan Nemo nya

“Kau dan Jessica……walaupun sudah lama tidak bertemu dan berkomunikasi, tapi masih saja menyimpan barang-barang saksi cinta kalian dulu” ledek Yesung dan tertawa saat melihat boneka Nemo Donghae

“Itu karena kami saling mencintai” seru Donghae

“Percaya diri sekali. Oh ya, kau akan pulang besok” ucap Yesung dan berjalan ke arah pintu

“Hyung. Apa——Jessica dan Kyuhyun masih bersama?”

Yesung menghentikan langkahnya, tanpa menjawab apapun, Dokter akhli penyakit dalam itu memilih keluar dari ruangan Donghae tanpa menjawab pertanyaannya.

-Timeless-

Yuri terus melangkahkan kakinya menuju stasiun kereta, sejak ia pergi dari Rumah Sakit, pikirannya terus terganggu akan Donghae. Yuri seperti merasa jika pria itu tak senang untuk pulang. Sampai hari ini, Yuri masih penasaran dengan hubungan Kyuhyun, Donghae dan Jessica. Jika Donghae dan Kyuhyun saling mengenal, itu berarti Donghae juga mengenal Jessica kan? Tapi, kenapa keduanya malah terlihat seperti musuh?

Yuri terlonjak ketika mendengar suara kereta yang akan segera berangkat pergi. Dengan cepat, kakinya yang panjang masuk ke delam kereta dan duduk di kursi tepat di hadapan pintu. Lama dia bergulat dengan pikirannya sendiri, suara ponselnya yang berbunyi lagi-lagi mengejutkan Yuri dari lamunannya.

To: Yuri
From: Yesung Oppa
“Kau sudah berangkat kerja? Hati-hati di jalan”

Yuri tersenyum membaca pesan singkat dari Yesung. Ini yang pertama kalinya dia mendapatkan pesan yang berisikan seperti itu, Donghae, kekasihnya bahkan tak pernah sekalipun mengirimkan pesan singkat seperti yang dikirimkan Yesung untuknya.

Bola mata hitam kelam yang terbingkai dalam kelompak matanya yang sipit itu masih menatap pemandangan yang di lihatnya melalui jendela. Pertemuan pertamanya dengan Yesung adalah ketika dirinya dikenalkan oleh Donghae, Yesung ternyata adalah Kakak kelas Donghae semasa SMU, hubungannya dengan Yesung semakin dekat pasca keadaan Donghae yang semakin memburuk sebelum operasi donor jantung. Pria itu baik, baik sekali, tiap kali Yuri merasa kesepian jika Donghae sedang istirahat, Yesung selalu datang menghampirinya untuk sekedar menghibur, padahal Yuri tahu Yesung juga cukup lelah dengan segala rutinitasnya di Rumah Sakit.

Walaupun belum lama mengenal Yesung, tapi Yuri merasakan pria berkepala blonde itu mampu membuatnya tertawa bahagia, sesuatu hal yang terdengar simple tapi tidak pernah di lakukan oleh Donghae, bukan juga berarti jika Donghae pernah membuatnya menangis atau bersikap tidak baik padanya, hanya saja, Yuri selalu merasa jika Donghae berbohong akan perasaannya, termasuk berbohong selalu ingin berada di sampingnya, dan yang lebih bodoh lagi, Yuri juga membohongi dirinya jika dia kuat dengan segala sikap yang diterimanya dari Donghae. Semuanya bagaikan cinta bertepuk sebelah tangan yang tidak terbalas, dan tanpa terasa, air matanya mengalir begitu saja.

-Timeless-

Pagi ini terlihat cerah, kolam renang yang berada dihadapan mereka terlihat menjadi lebih biru karena terkena sinar matahari langsung dari ruangan outdoor didalam rumah Donghae. Dua gelas cangkir yang berada diatas meja masih terletak seperti 5 menit yang lalu, belum ada tanda-tanda jika cangkir itu telah dipegang atau diminum isinya. Jika dibilang terkejut atas kedatangan Jessica yang tiba-tiba kerumahnya, Donghae lebih terkejut lagi ketika Jessica pada akhirnya membuka pembicaraan mereka yang sempat diselimuti keheningan beberapa saat yang lalu.

“Mianhae” katanya singkat tanpa menatap wajah Donghae

Donghae tersenyum tipis, tipis sekali, hingga terlihat samar dari penglihatan. Sejujurnya, bukan kata itu yang ditunggunya, karena tanpa meminta maaf pun Donghae sudah jauh-jauh hari memaafkan wanita yang duduk dihadapannya ini dengan menatap cerminan dirinya melaui air kolam yang jernih, seolah ada yang menarik didalam sana.

“Bukan itu yang mau aku dengar dari bibir mu” balas Donghae

Jessica hanya melirik Donghae sekilas lalu kembali melakukan kegiatan barunya dirumah Donghae, tatapan Donghae yang memandanginya bisa dirasakan Jessica. Dokter muda itu seakan tahu kemana arah pembicaraan Donghae, karenanya Jessica memberikan jeda dalam obrolan mereka, atau tepatnya merangkai kalimat-kalimat apa yang akan di lontarkannya.

“Kalaupun aku bilang aku masih mencintai mu, kalimat itu tidak akan merubah apapun kan?” seru Jessica, kali ini diberanikan dirinya untuk menatap masuk kedalam mata Donghae

“Kau terdengar yakin sekali” balas Donghae dengan tertawa kecil

“Kau punya Yuri. This is impossible if we could be like it used to be”

“Tidak ada yang mustahil didunia ini”

Keduanya kini terlihat saling bertatapan satu sama lain, mata mereka seolah memancarkan aura berbeda. Jessica yang sudah siap mematahkan argument Donghae dan Donghae yang siap-siap merangkum argumentnya untuk Jessica.

“Sebagai buktinya, kau lihat saja aku. Tadinya orang-orang berpikir aku pasti akan mati, tapi kau lihatkan? Tuhan memberi ku kesempatan untuk bisa hidup dengan donor jantung yang ku dapatkan” jelas Jessica

Jessica kalah telak, selain karena omongan Donghae memang benar, dia juga tidak mau mengungkit masalah pendonoran jantung lagi. Berada dalam suasana canggung seperti ini bukan keahlian Jessica untuk mengusir kecanggungan yang kini mengelilingi Donghae dan Jessica, sedangkan Donghae melirik Jessica dan menyandarkan tubuhnya pada kursi berwarna biru tua tersebut.

“Berkali-kali aku mengatakan pada mu, aku masih mencintai mu, bahkan saat ini lebih besar. Setelah lama tidak bertemu, rasanya aku tidak mau melepaskan mu lagi. Aku—tidak mau kehilangan mu untuk yang kedua kalinya”

Orang awam pun tahu jika kalimat yang dilontarkan Donghae benar-benar penuh ketulusan bahkan terdengar sebuah permohonan. Tapi untuk yang kesekian kalinya Jessica tidak bisa membalas kalimat itu. Bukan karena ia tidak mau membalas perasaan Donghae, jika ditanya lagi, Jessica masih menjawab dengan jawaban yang sama, dia mencintai Donghae, rasa cintanya sama besarnya yang dirasakan Donghae, Jessica juga tidak mau melakukan hal bodoh untuk yang kedua kalinya, tapi, ada banyak alasan yang membuatnya tidak bisa membalas perasaan Donghae dan mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya.

“Aku ada pasien”

Donghae tentu saja tahu itu hanyalah sebuah pelarian Jessica dari perkataannya tadi, tapi, sebelum Jessica benar-benar pergi dari hadapannya, Donghae segera berdiri dari duduknya dan membuat Jessica menghentikan langkahnya yang sudah ada beberapa langkah darinya.

“Aku akan mencari jalan keluarnya agar kita bisa bersama lagi” sahut Donghae tegas

Jessica terdiam untuk sesaat, tidak berniat berbalik apalagi menatap wajah Donghae. “Apapun jalan yang kau temui, aku tidak akan mau orang lain merasakan sakit seperti yang kita rasakan dulu”

Lalu, tubuh Donghae hanya bisa diam membeku, matanya masih memandangi Jessica yang berjalan semakin menjauh dan menghilang dari balik pintu yang menyambungkan taman belakang dengan ruang tengah. Walaupun Donghae cukup kecewa dengan kalimat Jessica, tapi tetap tidak ada kata mundur dari dalam dirinya. Untuk kali ini, Donghae tidak mau melepaskan kesempatan yang sudah ada.

-Timeless-

Yesung menyeruput cappucino hangat yang baru saja dibuatnya, mata sipit itu menatap bulan yang memancarkan cahaya begitu terang malam ini melalui jendela dalam kamarnya yang terbuka lebar, seteguk air berwarna coklat muda kembali ditelannya sebelum mengambil sebuah pigura photo diatas meja. Dikeluarkannya dua lembar foto dari dalam pigura tadi lalu membawanya keluar jendela dan diarahkannya kearah bulan dan bintang. Salah satu foto yang berisikan 3 orang pria sedang tersenyum senang dengan memakai baju seragam sekolah SMU diarahkan pada bulan yang masih bersinar, sedangkan foto lainnya yang berisikan jumlah yang sama dan orang yang sama dengan foto sebelumnya, hanya saja mereka berfoto dengan pakian casual didepan sebuah Universitas, Yesung mengarahkannya kearah bintang yang tak kalah bersinarnya. Dulu, dirinya dan kedua pria yang berada didalam foto itu bak bulan dan bintang, sesuatu yang tak bisa dipisahkan, tapi kini, semuanya berbeda, termasuk mengubah hidupnya dan hidup salah satu pria didalam foto tersebut.

Yesung tersenyum masam, diturunkan tangannya dan diletakkan foto-foto tadi diatas meja yang ada. Jika dikatakan apakah dia kecewa dan menyesal dengan kenyataan yang diterimanya sekarang, dengan lantang Yesung akan menjawab, IYA. Tapi, sekecawa dan seberapa besarpun penyesalan Yesung tidak akan membawanya ke masa lalu. Kini, matanya menatap lurus ke depan, sebuah jendela dari sebuah rumah yang tepat berada didepan rumahnya. Dulu, dari jendela kamarnya, Yesung selalu bisa melihat seorang wanita yang melakukan aktifitasnya melalui jendela kamar wanita itu, tapi sejak 3 tahun yang lalu, ia tak pernah lagi melihatnya, sampai ketika Ibu Yesung memberitahu jika wanita beserta keluarganya telah pindah rumah, dan, hati Yesung benar-benar mencolos kala itu.

Tak ada satupun kata yang terlontarkan, saat itu, Yesung mengakui dirinya benar-benar pengecut karena tak berani berkenalan apalagi mengobrol dengan tetangga barunya, dia hanya bisa menatapnya melalui jendela kamarnya, Yesung pikir wanita itu pasti akan tinggal lebih lama atau malah akan tinggal selamanya dirumah itu, tapi ternyata, mereka hanya mampu bertahan setahun karena harus pindah ke Mokpo. Penyesalan memang selalu datang diakhir, dan Yesung percaya akan adanya kesempatan kedua, setelah dirinya kembali bisa bertemu dengan wanita yang disukainya secara diam-diam, nyatanya, dia masih saja belum bisa memilikinya. Mungkin benar Tuhan memberikannya kesempatan kedua, tapi kesempatan itu hanya untuk bisa membuatnya dekat dengan wanita idamannya dalam konteks berteman, bukan sebagai sepasang kekasih atau sesuatu yang muluk-muluk yang telah dipikirkan Yesung.

“Kau tahu? Kau itu pria paling beruntung di Dunia ini”

Yesung menatap foto yang telah ia masukkan kembali didalam pigura dan kini Yesung membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur sembari memejamkan matanya.

“Lee Donghae, kau benar-benar beruntung”.

-Timeless-

“Donghae”

Donghae mendongak, mendapati Yuri yang baru saja menutup pintu ruang kerjanya dan memberikan senyuman lebarnya untuk Donghae. Sebisa mungkin, walaupun sejak tadi ia memikirkan permasalahannya dengan Jessica sambil mengerjakan pekerjaan yang ada, kini bebannya bertambah dengan harus bersikap baik, bersikap layaknya seorang kekasih dihadapan Yuri. Dan tepat ketika Yuri duduk dihadapannya dengan membawa sebungkus makan siang, Donghae berusaha tersenyum dan bersikap biasa saja dihadapan wanita itu.

“Aku membawa makanan kesuakaan mu. Kau tidak boleh terlambat makan” kata Yuri sembari menyiapkan makanan yang dibuatnya

Untuk sekali lagi Donghae tersenyum, memperhatikan Yuri yang sibuk mengoceh sendirian. Jika dilihat dari mata orang normal, memang tidak ada alasan yang bisa membuat Donghae tak bisa mencintai wanita yang berstatus tunangannya ini, secara fisik, Yuri cantik dengan wajahnya yang manis tidak membuat orang bosan akan wajahnya, secara kepribadian, Yuri tentu saja wanita yang baik dan penuh perhatian, satu-satunya alasan dari Donghae adalah, dia tak punya cinta untuk Yuri karena seluruh cintanya sudah habis dia berikan untuk Jessica. Tapi secara manusiawi, Donghae juga tidak mau terus-terusan membohongi Yuri dan menyakitinya secara tidak langsung.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Yuri khawatir setelah melihat Donghae memegang kepalanya

“Ah, tidak apa-apa” elak Donghae

Yuri tersenyum sekali lagi, kali ini ditariknya kursi kesebelah kanan Donghae dan duduk bersampingan bersama Donghae.

“Mau aku suapi?” seru Yuri

“Tidak perlu” tolak Donghae lembut dan mulai membuka bekal yang dibawa Yuri

“Enak tidak?”

Seperti biasanya, Donghae hanya menjawab pertanyaan Yuri dengan tersenyum. “Oh ya, kau sudah tahu siapa yang mendonorkan jantungnya untuk ku?”

“Belum, nanti aku akan menghubungi Yesung Oppa untuk menanyakannya” jawab Yuri

“Kau semakin dekat dengan Yesung Hyung ya?” ucap Donghae

“Kami tidak punya hubungan apa-apa kok”

“Ada apa-apa juga tidak masalah”

Yuri menatap Donghae dengan tatapannya yang datar, ia tak mungkin salah dengar dan salah melihat, ketika Donghae berkata seperti tadi, Yuri bisa melihat sebuah senyuman diwajah Donghae. Senyuman itu seperti senyuman bahagia, dan, ini yang pertama kalinya Yuri melihat senyuman Donghae yang seperti tadi. Ada yang salah disini, tapi Yuri belum menemukan dengan jelas dimana salah itu.

-Timeless-

“Kau membawa ku ke rumah Donghae?” seru Jessica ketika melihat jalan yang tak asing lagi melalui kaca jendela mobil Yesung

Yesung tidak menjawab, diinjaknya rem mobil dan berhenti tepat didepan rumah Donghae lalu mengeluarkan ponsel berwarna hitam yang ia simpan dalam kemeja biru tuanya. Tak lama, Yuri dan Donghae keluar bersamaan, Jessica terkejut, dibalikkan tubuhnya menghadap Yesung.

“Sebenarnya kita mau kemana?” tanya Jessica dengan sedikit berteriak

“Kita akan membawa Donghae bertemu pendonor jantungnya” jawab Yesung enteng

“KAU GILA??!!” bentak Jessica marah

“Gila apanya? Mereka terlebih Donghae sudah harus tahu yang sebenarnya” balas Yesung tak mau kalah

“Tapi—”

“Hai”

Jessica membanting tubuhnya kembali ke kursi dengan wajah marah bercampur kesal, perkataannya terpotong karena kini Yuri dan Donghae sudah duduk dikursi belakang. Sekilas, dia dapat melihat Donghae yang menatapnya melalui kaca dalam mobil. Tapi Jessica tak punya waktu untuk bercuri-curi pandang dengan Donghae setelah mobil Yesung kini berlaju meninggalkan rumah Donghae, terlalu banyak kalimat-kalimat yang harus disusunnya sebelum sampai ke pemakaman.

Sepanjang perjalanan, hanya ada suara obrolan dari Yesung dan Yuri, kedua manusia lainnya yang juga berada didalam mobil memilih berdiam diri dengan menatap keluar jendela. Tak lama, mobil sedan berwarna putih milik Yesung sudah berhenti didepan gerbang masuk pemakaman. Semuanya turun dari mobil, Jessica yang paling terakhir, dengan segera angin sepoi yang bertiup segera menyambut kedatangan mereka. Pemakaman itu memang terletak diatas bukit dan menampilkan pemandangan kota yang indah.

“Pendonor jantung ku dimakamkan disini?” tanya Donghae

Yesung memasukkan kedua tangannya didalam saku celana. “Ya. Jessica akan membawa kita kesana”

Jessica menatap tajam Yesung, melayangkan protes untuk pria blonde itu. Diliriknya Donghae dan Yuri untuk sebentar, berusaha lari apalagi berbohong dari kenyataan ini sudah tidak ada gunanya lagi, mungkin memang benar, semuanya sudah harus terungkap sekarang. Langkah demi langkah dijajaki pada tanah yang berselimut daun berwarna hijau, sudah puluhan nisan yang mereka lewati, Donghae yang berdiri dibelakang Jessica tanpa sengaja menabrak punggung belakang Jessica yang tiba-tiba berhenti. Sedangkan Yesung dan Yuri saling bertukar pandang.

“Ini nisannya” ucap Jessica dan bergeser sedikit agar Donghae bisa berjalan melewati dirinya

CHO KYUHYUN
3 February 1988 – 15 November 2013

Terlihat perubahan raut wajah Donghae yang dilihat oleh Jessica, Yesung dan Yuri, lama dipandanginya batu nisan berwarna abu-abu itu, sampai setetes air mata yang jatuh membuat tubuh Donghae juga jatuh terduduk diatas tanah, Yuri yang melihatnya terkejut dan langsung menghampiri Donghae, sedangkan Yesung menoleh kearah lain, tidak mau melihat pemandangan yang akan membuat matanya menjadi basah, dan Jessica, dia segera menunduk melihat Donghae.

“Kyu? Kyuhyun? Dia Kyuhyun? Kyuhyun kita?” racau Donghae dengan suaranya yang parau. “Ya tuhan”

Dan sekarang, suara tangisan Donghae mulai terdengar, ia memang sudah cukup lama tidak bertemu dengan Kyuhyun, tapi Donghae tidak pernah berharap bertemu Kyuhyun dalam keadaan seperti ini. Jauh diluar bayangannya, bahkan tak pernah Donghae pikirkan jika Kyuhyun lah yang bersedia mendonorkan jantung untuknya.

Jessica mendongak, matanya bertatapan dengan Yesung yang menganggukkan kepala kearahnya, seakan mengerti, Jessica segera menghampiri Donghae dan duduk disebelah kirinya.

“Donghae, Kyuhyun menderita kanker paru-paru” jelas Jessica

Donghae menoleh kearah Jessica, menatapnya dengan mata yang memerah. “Jadi itu alasan kau meninggalkan ku?”

Tubuh Yuri menegang, bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan Donghae untuk Jessica. Secara refleks, tubuhnya segera berdiri dan mundur beberapa langkah dari posisi Donghae, tapi ia masih berdiri disana untuk mendengarkan obrolan yang tak pernah Yuri ketahui sebelumnya.

“Jika Donghae membutuhkan transplantasi jantung, aku mau, jantung ku yang berada dalam tubuhnya” ucap Kyuhyun dengan menatap kosong kedepan

Jessica mencengkram pegangan kursi roda Kyuhyun, membuang nafas panjang dengan berat.

“Juga, tolong sampaikan permintaan maaf ku pada nya” Kyuhyun menoleh kebelakang, menatap Jessica yang juga menatapnya. “Kau, tidak perlu meminta maaf padanya. Semua kesalahan yang terjadi akibat ulah ku. Jika aku mati, kau boleh kembali padanya”

Kyuhyun tersenyum miris dengan kembali memandangi langit yang semakin gelap. Jessica tetap masih berdiri dibelakang Kyuhyun dengan diam. Dia benar-benar tidak tahu dengan perasaannya kini. Setelah masa lalunya yang memaksanya untuk memilih salah satu dari keduanya, kini, tanpa adanya paksaan, salah satu dari mereka akan pergi atas permintaan salah satu dari mereka juga. Jessica terbangun dari lamunannya ketika merasakan telapak tangan Kyuhyun menggenggam tangangannya.

“Walaupun aku sudah menghancurkan hubungan kalian, tapi aku yakin, kalian pasti masih saling mencintai. Iyakan?” ucap Kyuhyun dengan tersenyum.

“Maaf Donghae, saat itu aku tidak tahu jika ternyata kau juga sakit. Keadaan Kyuhyun benar-benar buruk, orang tuanya datang dan meminta ku untuk mendampinginya, aku tidak bisa menolak, aku tidak tega dengan Kyuhyun, jadi….aku..maafkan aku Donghae..”

Donghae menarik Jessica kedalam pelukannya, mereka menangis bersama, meratapi semua masalah yang telah menimpa keduanya dan seakan tak sadar jika ditempat itu bukan hanya ada mereka berdua saja, baik Donghae ataupun Jessica seakan lupa jika ada Yuri dan Yesung juga.

Yesung melirik Yuri yang menunduk, walaupun tidak menangis ataupun menunjukkan raut wajah sedih, tapi Yesung sadar jika Yuri pasti tersakiti akan pemandangan yang dilihatnya sekarang, dan tepat ketika Yuri akan meninggalkan makam Kyuhyun, Yesung menahannya dengan menggenggam tangannya sembari menatap Yuri, seolah berkata bahwa semuanya baik-baik saja.

-Timeless-

Tubuh Donghae masih terlentang diatas tempat tidur dengan menggenggam selembar surat yang diberikan Yesung padanya tadi pagi, matanya yang terlihat sembab dengan sesekali masih mengeluarkan air mata. Kematian Kyuhyun, kebohongan Jessica dan Kyuhyun, juga jantung Kyuhyun yang kini berada dalam dirinya seperti tamparan keras untuk diri Donghae. Beberapa tahun yang lalu, Donghae pada akhirnya pindah ke Mokpo setelah menerima kenyataan bahwa kekasihnya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri, dimasa-masa keterpurukannya, Yuri datang berusaha menghiburnya sampai kedua orang tua masing-masing mengikat mereka dalam satu hubungan yang dinamakan pertunangan, Donghae bertahan dalam rasa sedihnya yang masih mencintai Jessica walaupun Jessica telah selingkuh darinya, hingga pada akhirnya, penyakit jantungnya semakin parah dan dia dilarikan ke Rumah Sakit. Benar yang dikatakan Yesung dulu, seharusnya Donghae mengakui sejak awal pada Jessica jika dia menderita sakit jantung, tapi jika Donghae mengakuinya saat itu, lalu bagaimana dengan nasib Kyuhyun?

Mungkin, ini memang takdir Tuhan untuk mereka semua. Tapi bagaimanapun, ditinggalkan oleh sahabat sendiri dengan permasalahan yang belum selesai membuat hati Donghae sakit. Kalaupun Kyuhyun tidak berada diantara mereka semua lagi, dia dan Jessica juga tidak bisa bersatu, masalah dan beban terasa semakin menumpuk saja, semuanya membuat kepala Donghae sakit dan seakan mau meledak.

“Donghae-ah”

Donghae mengangkat kepalanya yang baru saja ia benamkan kedalam bantal tidur, dilihatnya Jessica berjalan mendekatinya, wanita itu kini duduk diatas tempat tidur, sedangkan Donghae belum mau merubah posisinya.

“Aku sudah tahu jika semuanya pasti berakhir seperti ini” ucap Jessica sedih

“Harus berapa banyak lagi sakit yang harus ku tanggung, Jessica?”

Jessica menuduk merasakan air matanya mengalir, walaupun tidak melihat wajah Donghae, tapi suara Donghae yang serak sudah bisa ditebak jika ia juga sedang menangis.

“Aku kehilangan Kyuhyun, dan sekarang aku juga harus kehilangan mu?” tanya Donghae

“Jangan seperti ini Donghae” balas Jessica, ia membalikkan tubuhnya sembari menggenggam tangan Donghae. “Jangan berkata jika seolah-olah aku tidak mencintai mu lagi”

“Sekarang semuanya percuma, semua cinta yang kita punya tidak bisa mempersatukan kita. Ya tuhan, salah apa aku sebenarnya?” Donghae menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa frustasi dengan semua masalah yang menimpanya

Jessica naik keatas tempat tidur dan memeluk Donghae, seberapa keras dia menahan dirinya, tetap saja hatinya selalu kembali pada Donghae. Tapi bagaimana bisa mereka bersatu jika masih ada seseorang diantara mereka? Haruskah keduanya menyakiti orang lain demi kebahagiaan mereka sendiri?

“Aku tidak mau kehilangan mu lagi Jessica, aku tidak mau” ujar Donghae sedikit meracau dalam pelukan Jessica

“Aku juga tidak mau Donghae” seru Jessica dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Donghae yang bergetar.

-Timeless-

Yesung tersenyum pada sesosok wanita yang juga tersenyum padanya sedang berdiri diluar ruangan berkaca sembari memamerkan sebuah bungkusan yang dibawanya.

“Rapat kita selesai” kata Yesung

Satu persatu Dokter mulai meninggalkan tempat duduk mereka dan keluar dari ruangan kaca tersebut, termasuk Yesung juga, ia menghampiri wanita yang tak lain Yuri sudah menunggunya tak jauh dari ruang rapat dalam Rumah Sakit. Dan disinilah mereka sekarang, dibelakang taman Rumah Sakit yang cukup asri.

“Aku bawa makan siang untuk mu” Yuri meletakkan sekotak bekal dihadapan Yesung

“Wah, ddeukbokki” Yesung menatap bekal yang dibawa Yuri senang. “Em, ini enak sekali”

Yuri senang sekali melihat Yesung yang terlihat semangat memakan masakannya, apalagi ketika mendengar pujian dari Yesung, Donghae tak pernah melakukan hal seperti itu padanya. Yuri tersenyum masam mengingatnya, kenapa ia baru sadar jika selama ini hubungannya dengan Donghae tak sehat? Walaupun berstatus tunangan, Donghae tidak pernah mengucapkan ‘sayang’ dan ‘cinta’ untuk Yuri. Mungkin, inilah kesalahan yang selama ini Yuri cari-cari dalam diri Donghae.

“Kau kenapa?” bingung Yesung

“Oppa, apakah—–Donghae mencintai ku?”

Yesung menatap Yuri, diletakkan bekal yang dipegangnya diatas kursi dan menatap Yuri lekat-lekat. “Kau merasa Donghae tidak mencintai mu?”

“Entahlah” Yuri mengangkat kedua bahunya dengan masih tersenyum masam

“Uisa, pasien dikamar 708 kritis” seru salah satu perawat yang menghampiri mereka

Yesung mengangguk, menyuruh suster tadi pergi lebih dulu, kembali mata sipitnya memandangi Yuri, ia mengeluarkan sebuah sapu tangan dari saku jasnya dan dia sodorkan pada Yuri.

Yesung menyeka air mata dipipi Yuri. “Kau harus cari kebahagiaan mu yang sebenarnya”

Yuri memejamkan matanya, merasakan kehangatan dari ciuman Yesung dikeningnya sebelumnya pria itu pergi menjauh darinya. Sesungguhnya, Yuri tak tahu apa arti dari kalimat terakhir Yesung, dan ketika akan meninggalkan taman, langkah Yuri terhenti ketika merasakan ia menginjak sesuatu dibawah high heels yang dipakainya.

“Surat?” tanya Yuri bingung dan kembali ketempat duduknya

“To: Yesung Hyung

Aku tidak hanya harus meminta maaf pada Donghae saja, tapi kau juga Hyung, aku harus meminta maaf pada mu. Maafkan aku, karena keegoisan ku, persahabatan yang kita jalin sejak SMP bersama Donghae harus hancur begitu saja karena sikap ku. Aku memang jahat, merebut Jessica dari Donghae, padahal saat itu, aku juga tahu Donghae punya penyakit yang bahkan jauh lebih berbahaya dari ku, sampai Donghae pergi meninggalkan kita karena kecewa dengan ku, lalu aku dan Jessica yang pergi ke San Fransisco untuk perawatan ku, meninggalkan diri mu sendiri disini. Aku tahu Hyung, aku juga pernah merasa bagaimana sakitnya saat orang yang kita cinta ternyata menjadi milik orang lain. Aku juga sedih sekali saat ternyata, adik kelas kita yang sudah ku taksir sejak masuk SMU menjadi milik Donghae, dan sekarang, karena aku, Hyung dan Donghae harus kehilangan wanita yang kalian cintai. Donghae kehilangan Jessica dan kau Hyung, kau kehilangan Yuri, Kwon Yuri”

Jantung Yuri berdetak semakin cepat ketika namanya tertera disana. Ia baru tahu jika ternyata Kyuhyun adalah sahabat Yesung dan Donghae, juga Jessica adalah adik kelas mereka, dan Donghae juga Jessica yang nyatanya mempunyai hubungan masa lalu, tapi bukan itu yang membuat Yuri terkejut, namanya yang tertulis dikertas itu membuat Yuri bertanya-tanya. Oh tidak, misteri apalagi yang akan terungkap sekarang?

“Hyung, masih ku ingat dengan jelas saat bagaimana semangatnya kau tiap kali membicarakan Yuri, tetangga mu yang tidak pernah berani kau temui bahkan kau ajak bicara, masih teringat dengan jelas dikepala ku juga jika kau sering memotret Yuri secara diam-diam, dan, aku juga ingat betapa sedihnya kau saat Yuri pindah rumah. Hyung, saat Ahra Noona memberitahu ku dan Jessica jika Donghae telah bertunangan bersama Yuri, rasa bersalah yang kurasakan semakin besar saja. Tak bisa ku bayangkan betapa sakitnya hati mu dan hati Jessica saat itu, aku juga bisa membayangkan bagaimana tersiksanya Donghae ketika harus menjalin kasih dengan orang lain sementara dirinya masih mencintai Jessica. Hyung, aku kembali untuk mengembalikan kebahagiaan kalian seperti semula lagi. Karena itu, tolong, tolong berikan jantung ku untuk Donghae. Untuk kesekian kalinya, aku minta maaf Hyung, maafkan aku.

Dari adik mu, Cho Kyuhyun”

Tubuh Yuri bersandar, ditutupnya mulut mungil miliknya untuk menahan tangisnya. Semuanya sudah terjawab sekarang, Yuri tidak pernah menyangka betapa sulitnya masa-masa yang harus mereka berempat lalui. Belum lagi ucapan Kyuhyun yang mengatakan jika Yesung mencintainya, dan bodohnya, Yuri terlambat menyadari semua perhatian dan kebaikan Yesung untuknya. Tapi Yuri merasa Yesung bodoh, sangat bodoh, dengan sabarnya ia bisa melihat orang yang dicintainya mendampingi sahabatnya sendiri, semuanya Yesung lakukan tentu saja untuk melihat kebahagiaan Yuri. Dan Jessica, ia juga berdiam untuk melihat dirinya bisa bahagia dengan Donghae.

Lalu sekarang, setelah Kyuhyun pergi, Yuri merasa dirinyalah yang menjadi penghalang kebahagiaan Jessica dan Donghae. Yuri menghapus air matanya menggunakan sapu tangan yang diberikan Yesung, dengan segera, Yuri pergi dari tempat itu bersamaan senyuman Yesung yang terlintas dalam pikirannya.

-Timeless-

“Donghae, makan sesuap lagi, ne?” bujuk Jessica, sudah 4 hari Donghae demam karena memikirkan masalah yang tak kunjung ada akhirnya

Donghae menggeleng, ditepisnya sendok makan berisikan bubur yang diberikan Jessica. “Apa kita akan menyakiti Yuri?”

Jessica memandangi Donghae sebentar, diletekkannya mangkuk berwarna putih diatas meja nakas disamping tempat tidur Donghae. Perasaan resah yang dulu dirasakan Jessica kini dirasakan Donghae. Dan pertanyaan itu belum bisa terjawab sampai sekarang.

“Kalian tidak menyakiti ku”

Donghae dan Jessica mengalihkan pandangannya kesumber suara, terkejut melihat Yuri yang berdiri didepan pintu dan kini sudah berjalan mendekati keduanya. Jessica terkejut, ia segera berdiri dari duduknya.

“Aku sudah tahu yang sebenarnya. Tentang hubungan kalian berdua, dan juga—mengenai perasaan Yesung Oppa. Aku, tidak mau menghalangi kebahagiaan orang lain”

“Yuri, aku tahu kau mencintai Donghae. Kau–kau tidak perlu melakukan hal ini”

“Cinta ku pada Donghae tidak sebesar cinta mu untuknya” jawab Yuri, ditatapnya Donghae yang kini menatapnya juga. “Aku sudah memikirkannya matang-matang”

Yuri menunduk untuk sebentar, dikeluarkannya sebuah cincin berlian yang tadinya melingkar dijari manisnya, lalu ia melangkah kearah Donghae dan mengembalikan cincin itu ditelapak tangan Donghae.

“Bukan aku yang pantas memakainya, tapi kau, kau Jessica”

Jessica memeluk Yuri, sedangkan Donghae menggenggam tangan sebelah kanan Yuri, sepasang kekasih itu mengucapkan terimakasih padanya. Yuri melepaskan pelukan Jessica, dan menuntun tangan kanan Jessica pada tangan Donghae.

“Aku lebih senang melihat kalian bersama” ucap Yuri

Donghae mengucapkan terimakasih sekali lagi, dipasangkannya cincin tadi kearah jari manis Jessica. Yuri tersenyum lembut, secara perlahan ia melangkah pergi meninggalkan Jessica dan Donghae, dengan ditutupnya pintu kamar Donghae dan dihapusnya air mata yang mengalir dipipinya menandakan jika semua rasa cintanya untuk Donghae juga sudah menghilang. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan singkat untuk Yesung.

To: Yesung Oppa
From: Yuri
“Aku…….sudah menemukan kebahagiaan ku yang sebenarnya”

Yuri membalikkan tubuhnya, matanya bertemu dengan mata sipit Yesung yang ternyata sudah berdiri dibelakangnya.

“Kau menemukan surat Kyuhyun kan? Aku sudah tahu kau pasti akan kesini” seru Yesung. “Aku bangga pada mu Yuri”

Yesung tersenyum dan menarik Yuri masuk kedalam pelukannya, Yuri kembali menangis, kali ini bukan karena Donghae, tapi ia menangis karena Yesung, untuk seorang pria yang masih setia mendampinginya hingga saat ini.

“Sekarang, biarkan aku yang menjaga mu”

Yuri tak membalas apapun, tapi dia membalas pelukan Yesung, memeluk pria itu dengan erat, sangat erat, seolah takut kehilangan Yesung.

“They say when you meet the love of your life, time stops, and that’s true. What they don’t tell you is that when it starts again, it moves extra fast to catch up.” – Daniel Wallace
new15END

maaf kalo sampe buat kalian bingung dengan cerita yg rumit ini uu komentar kalian sangat berarti ^^ terimakasih :*

16 thoughts on “Timeless

  1. Bener” rumit yh huwaa cinta segiempat bner” bt pusying😀 sdih jg knpa kyu nya hrs mninggl .tp klo ga mninggal ntar donge sm njess nya ga bsa brstu yh😀 yesung sbar bngtt yh nguin yuri😀 tapi seneng akhrnya mrka bsa bersatuuu lgii🙂

  2. huuaaa sedih😦 baca ff nya…cinta segiempat rumit ya…kyuppa berkorban besar banget..seneng endingnya haesica n yulsung bersatu…saya tunggu ff yang laennya thor keep writing🙂🙂

  3. wow, cinta segi lima yah? kok jadi ga tega sm kyu yah T^T Tapi gpp lah, kyu udh smpet bahagia bareng Sica di akhir hidupnya. and HaeSica ttp bersatu🙂 terharu bgt pas scene di pemakaman. nyesek gt, hikseu T^T Baguslah happy end. dtunggu ff lainnya ^^

  4. Cinta segi empat yg merumitkan kaya soal mtk *efekselesaiUjian
    kpn kelanjutan ff love will remember ama dear my family, lumutan nunggunya *peace xD

  5. bener kan? kyuhyun yang jadi pendonornya. awalnya takut baca ini ff. ngeliat judulnya, takut kalau ini ff sedih
    . gak pernah sanggup baca ff sedih. tapi untung aja akhirnya bahagia. walaupun itu kyuhyun meninggal. dan aku masih gak relaa. hahaha. nice ff thor! semoga makin banyak waktu luang. makin banyak waktu buat ff!😀

  6. Y ampun….. terharu bget bc crita mreka.. bgus bget dehc thor… feel’a jg dpet.. ksian kyuhyun y.
    Tp happy ending jg. Akhirnya mreka mnemukan kbhgiaan masing2…

  7. aaaaaaaaaa keren bgt thor keren sampe ikutan sedih bacanya. feelnya dapet bgt suka bangeeettt sukaaaaa. aaahhhh sequel.in dong mereka haesica sama yesung-yuri blm nikah thor mau dibikinin sequelnya pokoknya. heheheheheh keren bgt lah daebak (y)

  8. Yeay, akhirnya sica dan donghae bersatu…
    Untungnya yuri udah nemuin namja yg sangat mencintainya, chukkaeeee yesung oppa. Hihii… akhirnya perasaan yesung terbalas…

    Haesica jjang!

  9. udah nebak dari pertama, kalo yng donorin jantung ke donghae itu kyuhyun. Ehh ternyata bener, btw ffnya keren bgttt, sequel dong tpi sequelnya yg tiba2 kyuhyun muncul lagi

Kritik, Saran dan lain-lain DISINI

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s