One In A Million

1. Author : Lime
2. Judul : One In A Million
3. Kategori : Romance, Family, Oneshoot
4. Cast :
– Park Chanyeol EXO
– Kim Hyelim/Lime Hello Venus
– Other cast

chanyeol lime

Tangan kanannya tengah asyik memainkan jam alarm. Ia sudah lebih dulu terjaga sebelum alarm itu berdering. Ia masih belum beranjak, sengaja menunggu alarm itu berdering kemudian ia akan berpura-pura terbangun dengan kagetnya sambil berjalan lemas menuju kamar mandi. Atau mungkin menunggu seseorang meneriaki namanya.
Alarm itu tidak bergeming. Ia masih menanti detik tiap detik.
Ia menggeliat ke samping karena sinar matahari menerpa sebagian tubuhnya. Ia sadar pagi sudah menjelang. Tanpa menunggu alarmnya lagi, ia beranjak ke kamar mandi. Berkecimpung dengan dunia air membuatnya merasa lebih baik. Sewaktu kecil ia gemar bernyanyi di bawah guyuran air. Seakan kamar mandi adalah konser solo baginya. Kini ia sudah jarang melakukannya. Ia memutuskan pilihan yang akan ditentukan di bawah shower.
Ia sudah selesai mengenakan seragam sekolahnya.
Eomma dan dongsaeng nya sudah menunggu di ruang makan. Ia menarik kursi dan duduk samping dongsaengnya.
“Noona, kau bangun cukup pagi hari ini.” Cibir dongsaengnya.
Ia diam saja. Ia asyik menikmati sandwich buatan eommanya. Salah satu sarapan paling cepat dan mengeyangkan favoritnya.
“Kim Hyelim, cepat habiskan sarapanmu dan jangan sampai terlambat!” Suara tinggi eommanya membuatnya mempercepat frekuensi memasukkan sandwich ke dalam mulutnya.
Tanpa berucap ia segera berlalu dan berangkat sekolah. Sebuah rutinitas pagi selama 17 tahun hidupnya. Eommanya membiasakan Hyelim untuk sarapan sebelum melakukan aktivitas. Perutnya sudah terbiasa terisi penuh sebelum berangkat sekolah. Sekali saja ia tidak sarapan, tubuhnya akan lemah dengan wajah pucat.
***
“Benarkah?”
“Ya, aku serius! Kabarnya dia akan berada di kelas kita!”
“Wah, aku sudah tidak sabar bisa berteman dengan seorang bintang!”
“Aku sendiri tidak bisa membayangkan betapa kerennya dia!”
Hyelim menebar pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Beberapa kelompok gadis-gadis tengah membicarakan rumor yang sudah tersebar sejak sepekan.
Braakk!
Sebuah tas mendarat mulus di meja di samping Hyelim duduk. Tas itu milik sahabatnya, Shin Yoonjo. Sejurus kemudian Yoonjo sudah duduk manis di samping Hyelim dengan mata yang berbinar.
“Aku tidak percaya! Kita akan sekelas dengan artis!”
Hyelim menghela nafas panjang. Sahabatnya tidak berbeda jauh dengan teman-teman sekelasnya yang lain. “Ayolah! Dia mungkin seorang artis terkenal, tetapi dia juga manusia biasa. Dia akan diperlakukan seperti orang biasa disini.” Ujar Hyelim.
“Dia bukan orang biasa, dia Park Chanyeol!” Seru Yoonjo bersemangat. Hyelim berputus asa dengan tingkah fangirling sahabatnya yang begitu berlebihan.
Kelas masih belum dimulai namun semua siswa sudah berada di dalam kelas. Semua sudah menanti kehadiran seorang bintang yang akan menjadi siswa baru di kelas mereka. Kecuali Hyelim. Baginya artis itu sangat menjengkelkan. Kemana pun kau pergi selalu dikerubuti oleh fans yang berteriak, “Oppa, fighting!”. Tidak ada kebebasan sama sekali. Segala sesuatu sudah diatur. Jadwal ini, jadwal itu, tidak ada waktu senggang yang bisa dinikmati. Begitulah yang dipikirkannya.
Belum lagi perhatian berlebih yang akan didapatkan sang artis. Perlakukan istimewa dari banyak orang membuat sang artis seakan seperti raja. Hyelim benar-benar tidak menyukai hal itu. Sangat tidak mandiri.
“Dia datang! Dia datang!” Jerit salah seorang siswi. Kontan seluruh kelas histeris lalu duduk di tempat masing-masing, menanti datangnya seorang bintang.
Suasana berbalik seratus delapan puluh derajat. Kelas yang tadinya riuh menjadi tenang sesaat setelah pintu kelas dibuka. Terdengar jelas langkah-langkah kaki yang memasuki kelas. Langkah kaki itu kemudian berhenti. Seperti membeku, semua menatap sosok yang berdiri di muka kelas.
Laki-laki dengan tinggi 184 cm tersenyum mengekspos deretan giginya yang putih bersih. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana sambil tetap tersenyum. Laki-laki itu memiliki telinga unik, namun itu adalah daya tarik tersendiri. Ia memakai seragam yang sama dengan seluruh siswa, ini berarti ia sudah resmi menjadi salah satu dari siswa sekolah itu. Laki-laki itu adalah Park Chanyeol.
Hyelim mengalihkan pandangannya. Sudah cukup ia melihat Yoonjo menggilai foto Chanyeol yang diselipkan di setiap buku sekolahnya.
“Apa aku boleh mengatakan sesuatu terlebih dahulu?” Pinta Chanyeol pada Lee seonsangnim. Lee seonsangnim sepertinya juga tersihir oleh aura bintang yang dibawa Chanyeol. Wanita paruh baya itu mengangguk cepat dan pasti.
“Ehm. Aku tidak perlu memperkenalkan diriku, bukan? Aku yakin kalian pasti lebih mengenalku.” Ujar Chanyeol. Beberapa siswi histeris sambil menunggu sang bintang melanjutkan kalimatnya. “Meskipun aku adalah artis terkenal, aku harap kalian semua bisa memperlakukanku sama seperti siswa yang lain.”
Suara tepukan tangan memenuhi ruangan kelas sedetik kemudian.
“Aku tidak percaya betapa kerennya dia!” Kata Yoonjo bersemangat.
“Aku tidak percaya betapa ia menganggap dirinya keren.” Cibir Hyelim.
***
Hyelim kehilangan nafsu makan melihat segerombolan siswi mengelilingi meja seseorang yang tengah menikmati makan siangnya. Siapa lagi kalau bukan Park Chanyeol. Dan salah satu dari gerombolan siswi itu adalah sahabatnya sendiri, Shin Yoonjo.
Tak berapa lama Yoonjo menghampiri Hyelim dengan wajah sumringah. Seperti bayi kekenyangan air susu setelah berhari-hari tidak disusui. “Lihat! Aku mendapatkan tanda tangannya! Ini seperti fan meeting. Oh tidak, fan meeting setiap hari!”
“Kau dengar sendiri, bukan? Dia ingin diperlakukan sama seperti siswa yang lain. Ayolah, berikan dia ruang untuk bergerak. Dia juga manusia biasa.” Gumam Hyelim pada Yoonjo.
“Ia bukan manusia biasa, dia Park Chanyeol! Whoooo!!!”
Hyelim menyerah. Ia meninggalkan Yoonjo yang kembali ke lingkaran ‘fan meeting’.
Hyelim menghabiskan waktu di dalam kelas. Kelas memang selalu sepi saat jam istirahat. Ditambah seorang artis telah menginjakkan kaki di sekolahnya, tentu akan menambah tingkat kesunyian di kelas.
Hyelim tidak duduk di tempatnya, melainkan di tempat milik siswa lain, tepat di samping jendela. Pandangannya lurus menatap ke luar, menyusuri setiap titik di halaman sekolahnya. Semilir angin lembut menampar wajahnya. Ketenangan menerpa tubuh lelahnya.
“Hey, Kim Hyelim.”
Sebuah suara berat memanggilnya. Ia sadar sumber suara itu juga menepuk pundaknya. Hyelim menoleh dan menemukan seseorang mengenakan hoodie sambil menutupi sebagian wajahnya dengan masker.
“Ini aku, Park Chanyeol. Aku sedang menyamar agar bisa kembali ke kelas dengan aman.” Chanyeol melepas maskernya dan tersenyum ramah pada Hyelim.
“Wah, kau pasti semakin sibuk.” Kata Hyelim tanpa mempedulikan Chanyeol. “Ada apa?”
“Sebenarnya kau duduk di tempatku.” Chanyeol mengetuk mejanya.
“Oh maaf. Aku sudah duduk di tempat sang bintang.” Cibir Hyelim kemudian segera beranjak.
“Eng… sebenarnya aku ingin berterimakasih.” Chanyeol mencoba menghentikan Hyelim yang melangkah menjauh. “Terimakasih karena memperlakukan sama seperti yang lain.”
Hyelim menghentikan langkahnya lalu berbalik, “Maksudmu?”
“Kau tahu, menjadi bukan apa-apa itu hal yang tidak menyenangkan. Tetapi menjadi sesuatu itu juga tidak mudah. Terkadang aku berpikir bagaimana caranya agar bisa hidup dengan normal dan melonggarkan stempel keartisanku meskipun hanya sebentar.” Chanyeol menambahi. “Aku berterimakasih padamu karena aku bisa merasakan hal itu.”
Hyelim tidak menanggapi perkataan Chanyeol. Ia menatap laki-laki itu sebentar kemudian membelakanginya.
Tiba-tiba segerombolan siswi masuk dan meringsek beberapa meja di kelas. Mereka berlari ke arah Chanyeol dan kembali mengerubuti sang bintang.
“Hye…lim…ah..”
Di antara keributan di kelas itu, Hyelim mendengar Chanyeol menyebut namanya.
***
Yoon Hanna menyapu wajahnya dengan make up natural. Ia merapa setiap kerutan yang sudah mulai menghiasi wajahnya. Wajar saja, ia sudah memiliki dua anak yang kini mulai beranjak dewasa. Kim Hyelim, anak pertamanya sudah menginjak di tahun kedua sekolah menengah atas. Sedangkan anak bungsunya, Kim Jaebum pada tahun ketiga sekolah menengah pertama.
“Monster apa yang sedang kutatap ini.” Gumam Hanna.
“Eomma, kau mau pergi kemana?”
“Ah! Kau mengagetkanku saja!” Semprot Hanna pada putrinya.
Hyelim menggelayut manja di lengan ibunya. “Meskipun natural, aku tahu eomma sedang berdandan. Beritahu aku, eomma akan pergi kemana?”
“Ini hal yang tidak perlu kau ketahui.”
“Eomma…” Hyelim menatap nakal Hanna. “Eomma, akan berkencan, hah?”
“Bu-bukan hal seperti itu!” Hanna mendorong Hyelim kemudian berlalu.
Hyelim segera mengikuti Hanna dengan hati-hati. Tepat di belakangnya Jaebum sudah membuntuti Hyelim.
Hanna bergegas keluar rumah dan masuk ke dalam taksi yang sudah parker di depan rumah.
“Noona, apa taksi itu sudah ada disana sejak tadi?” Tanya Jaebum heran. Mata laki-laki itu mengikuti taksi yang melesat cepat.
“Mungkin saja eomma sudah memesan taksi itu lebih dulu. Benar, kan?”
Jaebum mengangguk-angguk. Entah ia paham atau tidak.
“Jaebum ah, bukannya itu hal yang baik kalau eomma mulai berkencan lagi?” Hyelim meraih kedua bahu adiknya. Dengan mata berbinar ia menatap adiknya penuh harap.
Jaebum menaikkan bahunya lalu meninggalkan Hyelim mematung di depan pintu.
Hyelim tahu benar bahwa adiknya ingin orangtuanya bersatu kembali. Perceraian sudah memisahkan anak dan ayah, itu yang Jaebum rasakan. Sudah dua tahun sejak orangtuanya berpisah, adiknya masih sangat berharap keluarganya bisa utuh kembali. Berbeda dengan Hyelim, ia sudah tidak mau tahu tentang ayahnya. Ia sudah cukup dewasa untuk mengerti apa itu perceraian dan perpisahan. Ia paham alasan kedua orangtuanya berpisah. Sebuah alasan yang memenuhi hati Hyelim dengan kebencian.
“Noona, ayo masuk dan tutup pintunya!”
Hyelim menghela nafas panjang. Ia meraih gagang pintu lalu menutupnya perlahan.
Hyelim beranjak menuju computer tua kesayangannya. Sebuah memo dilekatkan di layar monitor. “Kau harus membantu Eomma membalas semua e-mail itu.” Hyelim membaca.
Membalas puluhan e-mail untuk Eomma nya adalah rutinitas Hyelim selama satu tahun terakhir. Yoon Hanna adalah seorang psikolog yang termasyur karena keberhasilannya membantu para klien. Bahkan beberapa klien Yoon Hanna datang ke rumahnya. Yoon Hanna juga memberikan alamat e-mail pribadinya kepada siapa saja dan bisa berkonsultasi melalui surat elektronik itu.
Tak jarang Hyelim membantu Yoon Hanna membalas puluhan e-mail yang masuk sekaligus dalam sehari. Yoon Hanna memberikan kebebasan untuk Hyelim membalas dan memberi solusi dari masalah-masalah yang dikeluhkan. Tentu saja Hyelim akan bertanya lebih dulu pada Yoon Hanna apakah solusi yang ia berikan tepat atau tidak. Buah memang tidak jatuh jauh pohonnya, bakat Yoon Hanna menurun pada Hyelim.
Hyelim mulai membuka e-mail tersebut satu per satu. Ia akan menjawab e-mail yang dikiranya bisa diselesaikan.
Ia berhenti sebentar. Sebuah nama yang tidak asing muncul di inbox. Nama yang membuatnya merengut beberapa hari terakhir. Park Chanyeol.
“Wow, sepertinya selebriti juga punya banyak masalah.” Gumamnya.
Click. Ia menarik nafas kemudian membaca pelan e-mail dari Chanyeol.
“Rasanya sudah lama kita tidak berbincang-bincang. Terimakasih karena terus mendampingiku selama ini. Sekarang aku baik-baik saja, bahkan jauh lebih baik.”
Baca Hyelim tenang. Kemudian ia melanjutkan.
“Sepertinya aku tertarik dengan salah satu teman sekelasku. Dia gadis yang baik, dia memperlakukanku sama seperti yang lain. Saat dia bicara padaku, dia bicara langsung pada Park Chanyeol, bukan aku dengan title artis. Namanya Kim Hyelim dan aku menyukainya…”
Hyelim berhenti sebentar. Pikirannya tidak jernih. Ia membaca kembali berulang kali berharap ada kalimat yang salah atau terlewatkan. Namun tetap saja tidak ada yang berubah.
“Apa itu hal yang baik untuk menyukai seseorang? Karena dia sendiri selalu mengacuhkanku.”
Hyelim tersenyum. Dengan terampil sepuluh jarinya menari di keyboard computer,
“Kalau begitu lupakan saja gadis itu dan jangan mengganggunya lagi. jalani hidupmu dan jauhi hidupnya.”
ENTER!
***
“Hyelim…”
Hyelim melepas earphone nya dan menatap dingin laki-laki yang duduk di mejanya. “Ada apa?”
“Aku sudah memikirkannya, mungkin aku tidak akan mengganggumu lagi.” Tutur Chanyeol.
“Mengapa baru sekarang kau berpikir begitu? Tapi cukup melegakan, aku tidak akan dikejutkan oleh mu yang terus memintaku untuk sekedar mengobrol. Aku sudah lelah dipelototi fangirlsmu itu.” Ujar Hyelim santai.
“Ya. Anggap saja ini kali terakhir aku memaksamu untuk berbicara padaku, bagaimana?”
“Baiklah.”
Chanyeol menarik kursi dan duduk di samping Hyelim. Laki-laki itu diam sesaat dengan tatapan sendu. Ia menghembuskan nafas panjang, Hyelim tidak mengerti dan bahkan tidak peduli dengan apa yang Chanyeol lakukan.
“Appa ku adalah seorang pilot. Aku pikir dia juga bisa menerbangkan pesawat ke luar bumi, aku ingin ia membawakan satu bintang untukku. Appa berkata, ‘kau tidak bisa meraih bintang di langit, tapi kau bisa menjadi salah satu bintang. Hanya saja kesempatan menjadi bintang itu satu dari satu juta.’ Lalu aku mengatakan bahwa aku ingin menjadi satu dari satu juta itu. Kau tahu, itulah yang membuatku bersemangat, menjadi bintang dan bersinar…”
“Kau sudah berhasil menjadi bintang, sayangnya sinarmu tidak sampai padaku.” Potong Hyelim.
Chanyeol tertawa lalu melanjutkan, “kau memang satu dari satu juta yang tidak menikmati kilaunya sinar bintangku. Kau menganggapku sama seperti yang lain, tidaklah bintang. Tapi kau tetap saja tidak menyukaiku sebagai bintang ataupun orang biasa.”
Hyelim tertegun. Ia melirik Chanyeol yang sudah tidak membuka mulutnya. Keduanya larut dalam keheningan sebentar. “Aku pergi.” Kata Chanyeol kemudian berlalu.
***
Hanna mengintip putrinya yang tengah menatap langit. Tampak Hyelim memutar kepalanya beberapa kali, berpindah tempat, melompat-lompat, namun berakhir duduk di halaman rumah.
“Apa yang kau lakukan?”
Hyelim menunjuk ke langit, “Mengapa bintang tidak terlihat?”
“Itu karena disini terlalu terang. Gedung pencakar langit, hiruk pikuk keramaian dengan cahaya terang mengalahkan bintang.” Jawab Hanna lalu duduk di samping Hyelim.
“Apa tidak bisa satu dari satu juta bintang terlihat malam ini?”
“Sejak kapan kau menyukai bintang?”
“ah.. sudah lama saja Eomma aku tidak melihat bintang.” Elak Hyelim. Sejak perbincangan dinginnya bersama Chanyeol, ia merasa bersalah karena tidak mengindahkan Chanyeol selama ini. Chanyeol hanya ingin merasakan sejenak bagaimana hidup dengan normal, layaknya orang pada umumnya.
“Kau sedang jatuh cinta?” Goda Hanna.
“Ah tidak! Eomma mana mungkin aku seperti itu. Tidak tidak!”
“Siapa orangnya?”
Hyelim menyerah, “Park Chanyeol.”
“APA? Kau menyukai Chanyeol?!”
“Eomma! Reaksimu berlebihan!” Acuh Hyelim.
“hahahaa Eomma hanya terkejut. Kau yang belum pernah jatuh cinta malah menjatuhkan hatimu pada seorang bintang.”
Hyelim merengut kesal, “Masalahnya kami sudah sepakat untuk tidak saling bicara lagi, tapi sekarang aku malah menyukainya. Apa yang harus lakukan Eomma?”
“Kalau begitu katakana saja padanya! Yaaa bukankah kau sering memberi solusi cinta pada remaja seusiamu huh, seharusnya kau bisa menyugesti dirimu sendiri.”
“Eomma?!”
Hanna tertawa puas melihat ekspresi putrinya. “Ungkapkan saja pada bintang itu, apapun reaksinya setidaknya kau sudah mencoba. Tidak masalah jika wanita yang menyatakan terlebih dahulu, jika ia tidak merasakan hal yang sama kau bisa move on dan melupakannya. Bukan kah itu lebih melegakan?”
***
Hyelim mengintip segerombolan siswi yang membuntuti Chanyeol. Chanyeol tampak kewalahan namun tetap ramah dan tersenyum seikhlasnya. Hyelim bersabar menunggu sang bintang mendapat waktu senggang sehingga ia bisa menemui Chanyeol.
Sekitar 30 menit kemudian Chanyeol berhasil kabur, ia meminta disiapkan tempat untuk makan siang dan gerombolan siswi itu menyebar. Hyelim mengekor di belakang Chanyeol sampai ke kelas.
“Kau sudah berubah menjadi fans ku?” Ujar Chanyeol sesaat setelah mengetahui Hyelim berdiri di belakangnya.
“Anggap saja iya.” Balas Hyelim. Mereka beradu pandang sebentar, Chanyeol menaikkan alisnya seakan bertanya ‘ada apa?’
“Yoon Hanna…”
“Kau mengenalnya?” Potong Chanyeol cepat.
“Sebenarnya Yoon Hanna adalah eomma ku. Aku sering membantu eomma membalas puluhan e-mail dari kliennya tiap hari. Dan e-mail terakhirmu…”
“Kau membacanya dan kau sendiri yang membalas e-mailku?!” Tanya Chanyeol spontan.
Hyelim mengangguk. “Ya. Aku tidak bermaksud lancang. Aku juga terkejut dengan apa yang kau ulas di e-mail itu.”
“Ah…” Chanyeol menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Aku tahu kedengarannya aneh. Aku mengacuhkanmu selama ini dan aku merasa bersalah.”
“Sekarang kau mengerti kan? Aku hanya ingin merasakan hidup normal.”
“Ya, aku mengerti. Sebenarnya… aku juga menyukaimu.”
Senyum Chanyeol perlahan memudar. Wajahnya begitu tegang sambil menunggu Hyelim melanjutkan kalimatnya.
“Aku mencintaimu, Park Chanyeol.”
Tiba-tiba Chanyeol menggebrak meja dengan kasar. Hyelim bergidik kaget, wajah ramah Chanyeol berubah begitu dingin.
“Kau bahkan mengatakan hal itu, cih!” Chanyeol berbalik kemudian berlalu meninggalkan Hyelim dalam kebingungan.
Seperti ditembak timah panas, tubuh Hyelim melemas. Ia mencoba mengejar laki-laki itu namun diacuhkan.
Sepanjang hari Hyelim mencoba mencari kesempatan untuk meminta penjelasan, namun Chanyeol selalu mempunyai para fans nya untuk ia bersembunyi.
Tanpa alasan yang jelas, Hyelim merasa tercampakkan.
***
Malam itu Hanna kembali memergoki Hyelim menatap langit tanpa bintang. Hyelim tidak menyadari kehadiran eommanya sampai akhirnya Hanna memeluk Hyelim. “Apa yang terjadi?”
“Aku tidak mengerti. Aku mengatakan aku mencintainya kemudian ia marah dan pergi. Apa mencintai seseorang seburuk itu?” Tutur Hyelim.
“Ah, eomma belum menceritakan semuanya padamu. Tentu saja, Chanyeol jelas akan marah mendengar kalimat itu.”
“Apa yang tidak aku ketahui, Eomma?” Hyelim melepas pelukan Hanna dan menatap Hanna dengan penasaran.
“Chanyeol sudah menjadi klien eomma selama dua tahun ini. Ia ditinggalkan seseorang yang sangat dicintainya.”
“Siapa?”
“Appa nya.” Jawab Hanna. “Chanyeol dan Appa nya begitu dekat setelah Eomma nya meninggal dunia saat ia berusia 10 tahun. Appa nya adalah pilot senior dengan jam terbang tinggi. Hari itu, hari yang sangat berat untuk Park Chanyeol, terjadi kecelakaan pesawat yang dikendalikan Appa nya. Tidak ada korban yang selamat, termasuk sang pilot. Sebelum meninggalkan rumah untuk bertugas, Appa Chanyeol mengatakan ‘aku mencintaimu’ pada Chanyeol. Chanyeol begitu terpukul, ia sering berkhalusinasi. Ia benci hal-hal yang menyangkut penerbangan dan yang paling fatal, ia benci seseorang mengatakan cinta padanya. Meskipun itu adalah fans sekalipun, ia akan menutup telinga dalam.” Jelas Hanna. “Walaupun begitu, ia ingin selalu menjadi bintang seperti yang Appa nya katakan. Katanya menjalani kesibukan sebagai artis membantunya melupakan tragedi itu. Entah mengapa sekarang ia malah ingin menjalani hidup normal.”
Hyelim ternganga. Pikirannya kalut, begitu berat derita yang dipikul sang bintang.
“Chanyeol selalu berkata, sesulit apapun masalahnya, ia akan selalu tersenyum seperti idiot. Nyatanya itu adalah topeng untuk menutupi kesedihannya. Eomma sendiri tidak yakin sejak awal Chanyeol bisa melupakan tragedi itu. Buktinya kau sendiri dicampakkan begitu saja hanya karena kalimat penuh makna itu.” Hanna mengakhiri penjelasannya kemudian meninggalkan Hyelim sendiri.
Hyelim merebahkan tubuhnya di rumput. Penjelasan Eomma nya berputar-putar di kepalanya. Tanpa disadari sudut matanya mengeluarkan butir-butir bening yang jatuh membasahi pipinya hingga jatuh menetes ke rumput, bersatu dengan embun.
Di tempat lain, di sebuah apartemen mewah di pusat kota Seoul, seorang laki-laki memandangi langit malam tanpa bintang.
“Jika kau tidak bisa menemukan bintang di langit, ingatlah, kau adalah satu dari satu juta bintang itu yang akan selalu bersinar.” Gumamnya.
Chanyeol tersenyum, kalimat itulah yang selalu dikatakan Appa nya.
“Appa, sekarang kau sudah bersama sembilan ratus ribu sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan bintang disana, disini ada satu bintang yang tertinggal.”
***
Sepanjang hari di sekolah, Hyelim kembali mencari kesempatan untuk berbicara dengan Chanyeol. Tiba saat istirahat makan siang, Hyelim menghentikan gerombolan siswi yang siap menyeret Chanyeol ke kantin.
Chanyeol enggan berbicara dengan Hyelim namun ia ingin segera menyelesaikan masalahnya. Dengan sopan ia meminta siswi-siswi itu memberikannya privasi atau menyiapkan meja dan makanan untuk makan siangnya.
Sekarang keduanya di ruang kelas yang sepi, hanya mereka berdua.
“Apa maumu?” Tanya Chanyeol.
“Aku sudah tahu semuanya sekarang. Tentangmu dan masa lalumu…” Kata Hyelim gugup.
“Lalu?”
“Kemarin aku tidak mengerti situasimu dan masa lalumu…”
“APA HAKMU BICARA TENTANG MASA LALUKU?!” Bentak Chanyeol.
“Aku tahu, aku tidak berhak sama sekali. Aku hanya mencintaimu…”
“KALAU MEMANG KAU MENGERTI, MENGAPA KAU MASIH MENGATAKAN KALIMAT ITU?!
Hyelim mengepal jemarinya menahan emosi. Makhluk tampan dan ramah itu berubah menjadi monster penuh amarah di hadapan Hyelim. “Siapa yang menyuruhmu untuk mencampakkanku tanpa alasan jelas?.”
“Karena kalimat seperti itu palsu. Cinta itu hanya fantasi, aku tidak percaya hal semacam itu.” Balas Chanyeol.
“Begitu? Hanya karena kau ditinggalkan oleh orang yang kau cintai, bukan berarti kau berhak meninggalkan orang yang mencintaimu. Kau bersikap seperti anak kecil.”
Chanyeol hendak berbalik dan pergi namun Hyelim cepat meraih tangan Chanyeol dan menahan laki-laki itu. “Kau tidak perlu lagi menggunakan topeng bila bersamaku. Kau selalu tersenyum seperti orang bodoh untuk menutupi perasaanmu, ada kalanya kau perlu meluapkan perasaan itu. Sekarang saatnya kau membuka topeng itu dan memancarkan senyuman terbaikmu, bukan senyuman palsu yang hanya untuk membentengi perasaanmu. Jadi, aku berharap kau menunjukkan senyumanmu yang sebenarnya, bukan berakting untuk tersenyum.”
Hyelim melepaskan cengkramannya, ia menatap Chanyeol lembut. “Aku mencintaimu.” Sedetik kemudian Hyelim berbalik dan melangkah menuju pojok kelas, menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Chanyeol terdiam sesaat kemudian mendekati Hyelim, “Kim Hyelim, menghadap kesini.” Hyelim masih memunggungi Chanyeol. Chanyeol menarik bahu Hyelim dan membuat gadis itu melihatnya.
“Aku akan menunjukkan senyuman terbaikku, senyum tulusku.”
“Benarkah?”
Chanyeol mengangguk. “Kita harus berjanji akan selalu membuat satu sama lain tersenyum.”
Hyelim tersenyum lebar dibarengi anggukan.
“Aku ingin memelukmu disini tapi terlalu berisiko.” Ujar Chanyeol, kemudian keduanya tertawa.
***

3 months later…

Chanyeol menyerngitkan alisnya. Begitu terampil Hyelim mengetik cepat di keyboard tanpa perlu berpikir lama saat membalas e-mail yang ditujukan untuk Yoon Hanna. Chanyeol memperhatikan wajah kekasihnya yang sibuk dengan puluhan kasus yang dipecahkan.
Malam ini sebenarnya malam yang dinanti Chanyeol, besok adalah hari ke-100 hubungan mereka. Chanyeol tidak mungkin mengajak kencan Hyelim ke tempat pada umumnya, melakukan backstreet saja sudah sangat melelahkan. Mereka hanya bisa bertukar senyum dan pandangan di sekolah. Lalu menghabiskan waktu berjam-jam di telepon dan dengan rutin Chanyeol mengunjungi rumah Hyelim, tentu saja dengan ekstra hati-hati. Bahkan Yoonjo pun tidak mengetahui hubungan Chanyeol dan Hyelim.
“Kau harusnya berkencan denganku, bukan dengan computer tua ini.” Cibir Chanyeol.
Hyelim menatap Chanyeol sebentar lalu melanjutkan pekerjaannya.
“Apa sebegitu pentingnya membalas semua e-mail itu? Menyelesaikan tugas 10 lembar saja aku tidak sanggup.”
Hyelim tidak mengindahkan ucapan Chanyeol, ia masih fokus pada desktop.
“Jadi kau ingin menjadi psikolog seperti Yoon Hanna ssi?”
Hyelim mengangguk.
Chanyeol semakin kesal, “Ap kau memang harus membantu orang-orang itu?”
Hyelim menghela nafas panjang lalu menoleh, Chanyeol memasang wajah bebek sambil terus menggerutu.
“Kau mungkin membutuhkan alasan untuk menyakiti seseorang, namun untuk menolong, apa kau masih membutuhkan alasan?” Ujar Hyelim santai.
“Kalau begitu aku meminta bantuanmu untuk mengingat hari ke-100 kita.”
Hyelim menepuk dahinya sendiri. Ia benar-benar lupa. Ia akui Chanyeol sangat tepat dan teliti dalam hal waktu. Tak heran jadwal sibuk sang bintang tak pernah terbengkalai karena kedisiplinannya.
“Jangan bilang kau lupa.” Ancam Chanyeol.
“Aku tidak lupa, hanya tidak ingat.”
“Lalu apa bedanya?”
Hyelim tersenyum tanpa rasa bersalah. “Baiklah aku akan berkencan denganmu, sebelumnya aku akan mematikan computer ini dulu.”
Chanyeol bertepuk tangan lalu beranjak ke ruang tamu menunggu Hyelim. Hyelim melompat ke sofa kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Chanyeol. tidak ada suara, keduanya menikmati kesunyian.
Biasanya Jaebum akan berulah dan berusaha duduk di tengah-tengah Chanyeol dan Hyelim. Namun kali ini adik kecil Hyelim itu tengah keluar rumah.
“Ehm.”
Suara Hanna mengejutkan keduanya. Yoon Hanna melipat kedua lengannya di dada sambil menggeleng, “Kalian jangan sampai melakukan yang tidak tidak!”
“Tenang saja, Eomma.” Kata Hyelim disambut anggukan mantap Chanyeol. “Eomma, mau pergi kemana?”
“Adak lien yang harus aku temui.” Jawab Hanna kemudian pergi.
“Aku rasa dia berbohong.” Bisik Chanyeol.
Hyelim mengintip Hanna dari balik tirai jendela, Chanyeol mengintip dari sisi satunya. Tampak Yoon Hanna menyambut hangat seorang laki-laki yang keluar dari mobil, lalu mereka masuk dan mobil hitam itu melesat cepat.
“Eomma….”
“Ada apa? Bukankah itu hal yang bagus Yoon Hanna ssi sudah memulai hidup baru?” Tanya Chanyeol.
“Itu… itu Appaku. Jadi, pria yang dikencani Eomma akhir-akhir ini adalah Appa ku sendiri?!”
Chanyeol menepuk-nepuk bahu Hyelim lalu menariknya kembali duduk di sofa. Hyelim mematung dan tidak berkedip. Ia butuh waktu lama hingga akhirnya mengacak-acak rambutnya sendiri.
“Tenangkan dirimu.” Bujuk Chanyeol. “Hmm sepertinya aku mengenal wajah Appa mu tapi…”
“Kim Jong Woon.”
Chanyeol terbelalak. “Kim Jong Woon sunbae nim?! Appa mu seorang selebriti?”
Hyelim mengangguk. “Eomma dan Appa bercerai karena keduanya tidak pernah bertemu. Appa yang selalu sibuk dengan dunia keartisannya, Eomma yang sibuk dengan kliennya. Meskipun Eomma telah merelakan waktunya untuk keluarga, Appa selalu dan selalu…” Hyelim terisak. Masa-masa tersulit itu kembali terekam di dalam pikirannya. Ia menangis.
“Karena itu kau tidak menyukaiku dulu?” tanya Chanyeol. Hyelim mengangguk.
“Kita sebut saja itu adalah trauma. Kau trauma pada artis. Aku sendiri trauma kalimat ‘itu’ dan pesawat terbang.” Ujar Chanyeol lagi. “Sudah jangan menangis. Mungkin orangtuamu masih saling mencintai dan mereka sedang berusaha untuk memperbaiki semuanya kembali.”
Hyelim hanya memberi anggukan lagi. “Mungkin…”
“Tunggu dulu…” Chanyeol berpikir sejenak. “Eomma mu seorang psikolog, Appa mu selebriti dan tidak berjalan baik, bukan? Jika kau akan menjadi psikolog dan aku tetap menjadi bintang berarti…”
Hyelim meninju dada Chanyeol lalu merengut kesal.
***
“Ah, aku tidak tahu harus melakukannya atau tidak.” Keluh Chanyeol.
“Itu sebabnya aku disini, Yoora eonni memintaku untuk meyakinkanmu.” Kata Hyelim.
Kali ini Hyelim mengunjungi apartemen Chanyeol atas dasar permintaan Park Yooara, kakak perempuan Chanyeol.
Chanyeol diminta untuk melakukan fanmeeting di Tokyo, Jepang. Yoora adalah manager adiknya sendiri, tentu saja tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Akan tetapi trauma pesawat terbang Chanyeol menghambat semuanya.
“Semuanya akan baik-baik saja. pesawatnya tidak akan menikuk kemudian jatuh ke laut, atau tidak akan meledak dan puing-puingnya tenggelam ke dasar laut bersamamu, atau mungkin menabrak gunung dan….”
“Yaaaa Kim Hyelim kau membuatku semakin takut!” Semprot Chanyeol.
“Tenang saja! tidak akan terjadi apa-apa!”
Chanyeol berpikir sejenak kemudian tersenyum, “Aku akan pergi jika kau ikut bersamaku, Kim Hyelim.”
“Kenapa harus aku? Yoora eonni akan ikut bersamamu, bodoh!” Tolak Hyelim.
“Hanya 2 hari!”
“Bagaimana jika ada yang curiga kau dan aku mengambil izin bersama hah?!”
“Aku akan izin terlebih dulu untuk persiapan, tenang saja tidak akan terjadi apa-apa!”
“Mengapa sekarang kau yang menenangkanku?!”
***

From : Dobby
Aku akan berangkat ke bandara sekarang. Kau menyusul saja, akan berbahaya jika kita check in bersama.

Hyelim membaca pesan dari Chanyeol. sambil menarik koper kecilnya, ia berpamitan pada Jaebum.
“Noona, kau harus membelikan oleh-oleh untukku!” Rengek Jaebum.
“Baiklah, apa yang kau inginkan?”
“Maria Ozawa.”
Hyelim menjitak keras kepala dongsaeng nya. Jaebum tertawa sambil membawakan koper Hyelim.
“Kau sudah bersiap pergi?” Suara Yoon Hanna menghentikan Hyelim. Hanna terlihat kusam, lingkar matanya gelap dan berat, seperti menangis semalaman.
“Eomma, apa kau baik-baik saja?” Tanya Hyelim khawatir.
“Appa mu… mencampakkan Eomma lagi.”
“Hah, sudah kuduga! Eomma seharusnya…”
“Seharusnya kau belajar dari orangtuamu! Jangan pernah berkencan dengan artis! Bawa kembali kopermu dan tinggalkan Park Chanyeol!” Bentakan Yoon Hanna begitu mengejutkan Hyelim.
“Tapi Eomma….”
“KAU MASIH TIDAK MENGERTI?!”
Hyelim menekuk wajahnya dalam, air matanya mengalir deras. Tangannya bergetar hebat sambil meraih handphone di sakunya. Ia sangat mencintai Chanyeol, namun ia lebih mencintai eomma nya.

To : Dobby
Maaf aku tidak bisa menemanimu sekarang, besok, dan seterusnya. It’s done, we’re done.

***
Yoora mondar-mandir di bandara. Sesaat sebelum check in, Chanyeol seakan membeku kemudian berlari keluar. Pesawat menuju Tokyo sudah lepas landas dua jam yang lalu. Meski belum bisa dipastikan fanmeeting akan batal atau tidak, tentu saja ini sudah menimbulkan masalah karena Hyelim yang tiba-tiba memutuskan hubungannya dengan Chanyeol.
Chanyeol membaca pesan dari Hyelim berulangkali, berulangkali juga jantung terasa tertusuk pisau hingga menembus punggung.
Tidak ada air mata, tidak ada suara. Hanya kesunyian yang melukiskan perasaannya. Kalimat yang diucapkannya sendiri untuk terus tersenyum seperti idiot meski sesulit apapun yang masalah yang dihadapinya terkesan bullshit sekarang.
“Noona, kita pulang saja.”
Sesampainya di gedung apartemen, Chanyeol menemukan Hyelim duduk di atas kopernya tempat di depan pintu apartemen.
“Apa yang kau lakukan disini? Bukannya kita sudah selesai?” Cetus Chanyeol.
“Aku tahu kau tidak akan pergi tanpaku, jadi aku menunggmu disini.” Jawab Hyelim.
“Lalu?”
“Eomma memintaku untuk mengakhiri hubunganku denganmu…”
“Dan kau melakukannya dengan sangat baik.”
“Aku rasa begitu.” Kata Hyelim. “Aku sadar, tidak ada seorang pun yang bisa menentukan takdirku tapi aku. Aku ingin bersamamu.”
“Bagaimana dengan eomma mu hah? Jangan bilang kau hanya berubah pikiran sekarang kemudian besok meninggalkanku lagi.”
Derap langkah Yoon Hanna mengalihkan perhatian keduanya. “Aku akan mengerti. Tidak semua laki-laki itu sama.”
Hyelim meraih tangan Chanyeol dan menggenggamnya erat, “Maafkan aku, ya?”
Chanyeol masih diam. Ia merasa dipermainkan, namun eratnya genggaman Hyelim melemaskan otot-ototnya yang sebelumnya terisi darah panas karena emosi.
“Park Chanyeol, kau adalah satu dari satu juta bintang yang berbeda. Satu-satunya bintang yang kilaunya mampu menyentuh bayangan gelapku hingga membuatnya pudar.” Kata Hyelim.
“Mengapa kau tidak mengatakan kalimat itu?” Gumam Chanyeol.
“Aku takut kau akan kembali marah dan…”
“Aku mencintaimu.” Potong Chanyeol.
Hyelim tersenyum bahagia. Tangan mereka bertautan erat tanpa celah.
Yoon Hanna berbalik dan pergi meninggalkan putrinya bersama laki-laki yang dicintai Hyelim. “yah, terkadang psikolog juga memerlukan pendapat orang lain untuk menyelesaikan masalahnya.” Desis Yoon Hanna.
“Eomma mu sudah pergi.” Bisik Chanyeol.
“Lalu?”
Dengan cepat Chanyeol menarik Hyelim ke dalam pelukannya.
-END

3 thoughts on “One In A Million

  1. aku sukaa! yaah, pairing gak jadi masalah, yg penting ffnya. aku suka kata-kata yg selalu admin lime karang. kayak bagian yoonjo sama lime, waktu chanyeol baru datang. dan, aku kira ff-nya bakalan rumit, karena banyak konflik. eh, gk taunya kayak gini. sweet ^ ^; Keep writing kak!! ♥

Kritik, Saran dan lain-lain DISINI

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s