PIECES OF YOU

Hai hai, yg baca ff ini pasti bingung deh, kok bisa-bisanya gue buat ff dengan cast seperti itu hahahaha. Maklum aja, author ngefeel nya ke mereka sih hoho, tadinya mau pake Mino Winner, tapi tiba-tiba wajah ‘ngejek’ nangisnya dia di parodi the heirs telah mengkontamidasi otak ku dan tiba-tiba menjadi ilfeel jika membayangkan wajah sedihnya *alah*. Gue lagi suka-sukanya nih sama lagu-lagu ballad epik high, itulah mengapa ff ini mempunyai judul yg sama dengan salah satu lagu epik high yg berjudul pieces of you, judul itu juga menjadi judul buku yang ditulis tablo, tapi gue pribadi belum baca sih hehe. Monggo baca ff ini sambil dengerin lagunya yaaaa ;D oh iya, makasih juga buat kak Amel yg udah repot2 nyariin artworker buat ff ini huhu, juga terimakasih buat para artworker yang telah melayani permintaan kami, gue terhura hiks hiks.

Tittle: Pieces Of You

Cast: Kim Woobin

Bae Irene (Red Velvet)

Other Cast: Kang Seulgi (Red Velvet)

Son Wendy (Red Velvet)

Lee Jonghyun (CN Blue)

Song Mino (Winner)

Kwon Yuri (SNSD)

Gendre: Romance, Friendship, Triangle Love, Angst

Author: PrettyBoy

image

Your eyes are the first mirror of my existence.
I see the reflection of my youth.
I want to be that again for you.

Irene memandangi teman-temannya yang sudah jatuh tertidur diruang tengah, mereka pasti kelelahan setelah membantunya seharian untuk membereskan rumah, matanya yang bening memandang keseluruh sudut rumahnya, bebarapa kotak berwarna coklat yang berisikan barang-barang yang akan dibawanya sudah tertata rapi disebelah pintu masuk, sedangkan perabotan lainnya yang berukuran besar sudah ditutupi dengan kain berwarna putih, menghindari setiap perabotan rumah itu dari debu yang akan menempel, dia memutuskan untuk tidak membawanya. Irene membuka lemari baju, mulai mengemasi setiap pakaian miliknya dan memasukkannya kedalam koper berukuran besar, diambilnya sebuah seragam berwarna kuning yang tergantung pada lemari, Irene memanding seragam ketika dia SMU dulu dengan seksama, dia melepaskan jas sekolah berwarna kuning yang menjadi lapisan kemeja putih yang telah penuh dengan berbagai coret-coretan berwarna-warni, ia tersenyum ketika mengingat hari kelulusannya 6 tahun lalu.

“Irene”

Gadis berambut hitam panjang itu menoleh kearah pintu, mendapati seorang Pria bertubuh tinggi dengan mata sipit yang tajam telah melangkah mendekatinya dan ikut duduk dilantai seperti yang dilakukan Irene.

“Kenapa kau belum tidur?” tanyanya dengan wajah yang masih datar tanpa ekspresi

Irene tersenyum sebentar dan meletakkan kemeja putih yang dipegangnya tadi diatas tempat tidur dan mulai melakukan kegiatannya tadi. “Masih ada beberapa pakaian yang belum aku masukkan kedalam koper”

Pria bernama lengkap Kim Woobin itu hanya mengangguk sebagai balasan, dia ikut membantu Irene melipat setiap pakaian dan memasukkannya kedalam koper, lama mereka berdua hanya berdiam diri, tenggelam dalam sunyinya malam dan alunan suara ombak pantai yang berbenturan dengan pasir pantai dari luar rumah Irene.

“Kau akan membawa seragam SMU mu?” seru Woobin membuka pembicaraan

“Ya” jawab Irene singkat

“Kenapa?”

“Karena seragam itu berharga”

Woobin memasukkan baju terakhir kedalam koper lalu memandangi wajah Irene yang tersenyum lebar dihadapannya, dia segera berdiri, sebelum pergi dari sana, dipandanginya dengan sekilas kemeja sekolah Irene yang terlentang diatas tempat tidur.

“Tidurlah, kita harus berangkat besok pagi”

Deretan kalimat yang dilontarkan Woobin terdengar dingin, Irene berdiri dari duduknya, menatap punggung lebar dan tegap Pria itu hingga menghilang dari penglihatannya, Irene duduk diatas tempat tidur sembari mengambil kemeja miliknya, memandanginya sekali lagi, ia membaringkan tubuhnya sembari memeluk kemeja itu, dimana terdapat tulisan besar yang bertuliskan namanya dan sebuah nama lain’.

Detik berganti dengan menit dan menit berganti dengan jam, suara detik jam yang terdengar tidak mampu membuat Irene masuk kealam mimpi. Tubuhnya yang cukup mungil dia balikkan terlentang, seolah ada yang menarik dari atap kamarnya diatas sana, dia tidak bisa tidur, sudah sejak beberapa hari yang lalu, selalu ada yang menganggunya tiap kali ia memejamkan mata, lelah hanya mencari posisi, Irene pada akhirnya memilih turun dari tempat tidur, diambilnya sebuah cardigan berwarna hitam dan melangkah keluar kamar, dilewatinya teman-temannya yang masih tertidur pulas, Irene membuka pintu utama dan segera angin malam pantai menyambutnya, suara ombak yang bergerumuh cukup mampu membuat dirinya merasa sedikit lebih tenang, tapi mata Irene memicing ketika mendapati seorang Pria yang sudah dia kenal sejak SMU itu berdiri tak jauh dari rumahnya, lama dia memandanginya sampai Pria itu menoleh kebelakang, dan Irene terkejut saat melihat Woobin menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca, ketika air mata Woobin berhasil jatuh, dengan segera ia mengusapnya, tersenyum dan pergi dari hadapan Irene.

-Pieces Of You-

“Semuanya sudah masuk kedalam mobil?” ujar Jonghyun

“Belum, masih ada beberapa lagi didalam, sebentar lagi mereka akan keluar” balas Wendy

Seulgi menahan tangan Irene tepat ketika Irene akan membuka pintu kamar, Irene memandangi sahabatnya itu dengan raut wajah bingung. “Ada apa?”

“Kau benar-benar mau pergi?” tanya Seulgi

Irene tertawa kecil mendengar pertanyaan Seulgi. “Tentu saja, lagipula akukan sudah sejauh ini”

“Kau tidak mau menununggunya?” ucap Seulgi sekali lagi

Raut wajah Irene berubah menjadi sedih, dia mengibaskan rambut panjangnya kebelakang dan berusaha tersenyum untuk Seulgi. “Aku sudah 3 tahun menunggu, tapi sampai saat inipun dia belum bisa memutuskan apapun. Lagipula dulu yang kau bilang sendirikan, aku terlalu bodoh jika menunggunya terus-terusan, sejak dulu aku bermimpi bisa bekerja sebagai Desaigner di Paris, dan aku mendapatkan kesempatan ini jadi tidak mungkin
jika aku menyia-nyiakannya untuk sesuatu yang tidak pasti”

Seulgi memeluk Irene, apa yang dikatakan semuanya memang benar, untuk apa menunggu sesuatu yang tidak pasti, tapi Seulgi tetap tidak bisa mengingkari jika dia tidak mau Irene pergi dari Korea dan melepaskan seseorang yang ia cintai disini, tapi menetap disini juga tidak menghasilkan apapun untuk Irene, sekarang dia hanya bisa berharap agar Irene bisa bahagia ditempatnya yang baru nanti, lalu mendapatkan seseorang yang dia cintai dan yang juga mencintainya. Irene dan Seulgi secara bersamaan menghapus air matanya dan segera keluar dari kamar, dilihatnya orang yang mereka bicarakan tadi kini sedang mengepaki salah satu kardus berukuran besar, mereka berdua mendekat kearah Woobin, tapi Seulgi memilih keluar lebih dulu, meninggalkan Woobin dan Irene berdua.

Keduanya hanya memandangi satu sama lain, atmosfir disekitar mereka tiba-tiba saja berubah, ada rasa canggung yang mereka rasakan. Teringat akan waktu, Woobin segera membuka pembicaraan sambil berusaha menutupi rasa gugupnya. “Sudah tidak ada yang tertinggal?”

“Tidak ada, ayo pergi” ajak Irene

“Irene tunggu”

Irene membalikkan tubuhnya menghadap Woobin, kedua mata mereka bertemu, Woobin melangkah mendekati Irene dan mengeluarkan sesuatu melalui kantung celananya. “Ini untuk mu”

Woobin meletakkan sebuah gelang berwarna merah muda diatas telapak tangan Irene, ia mengenggamnya dan beralih menatap Woobin, mengucapkan terimakasih dan memasukkan gelang pemberian Woobin kedalam tas, setelah itu Irene melangkah keluar rumah di ikuti Woobin yang membawa kardus terakhir dan membawanya ke bagasi mobil. Setelah mengunci pintu, Irene lebih dulu memfokuskan penglihatannya pada Rumah minimalisnya yang berada tepat dihadapan pantai, untuk jangka waktu yang lama, Irene akan meninggalkan rumah ini, teman-temannya dan juga…..

“Irene, apa yang kau tunggu? Ayo pergi”

“Ah iya” Irene menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari seruan Woobin, kakinya melangkah meninggalkan pekarangan rumah dan masuk kedalam mobil, duduk dibangku tengah bersama Woobin

Orang yang dicintainya.

Di mobil mulai ramai dengan pembicaraan, Wendy yang duduk paling belakang bersama Jonghyun dan Seulgi yang duduk disebelah kemudi dengan Mino terlihat asyik membicangkan masa-masa SMU mereka, sedangkan Irene hanya sesekali tersenyum dan tertawa ketika mendengar cerita teman-temannya, masa-masa ketika dia masih SMU sesuatu kenangan yang tidak ingin dilupakan Irene, tapi juga tidak ingin terlalu diingatnya, ada banyak kejadian yang terjadi saat itu, satu-satunya yang tak bisa Irene lupakan dimana saat dia dan Woobin bertemu, juga saat pengumuman kelulusan, wajah bahagia Woobin yang tersenyum senang sembari memeluknya selalu masuk kedalam alam mimpi Irene, termasuk kemeja sekolahnya dulu yang masih ia simpan dengan baik sampai saat ini.

Woobin sejak tadi memandangi jalan diluar sembari menopang dagunya dengan tangan sebelah kiri, suara-suara yang terdengar ditelinganya seperti angin lalu, dia terlalu larut dalam dunianya sendiri. Tangan kanannya yang menganggur sejak tadi akhirnya bergerak, mencari sesuatu yang sudah sejak dulu ingin dia genggam dengan erat tanpa ada perasaan takut akan dilihat oleh orang-orang, dan ketika tangannya menggapai tangan Irene, Woobin mengeratkan pegangan tangan mereka seolah tidak mau melepaskannya, dia bisa melihat dengan jelas bagaimana ekpresi Irene saat ini melalui pantulan kaca jendela mobil.

“Irene, kau benarkan pernah dapat nilai 25 di pelajaran Kimia?”

“Eh? I-iya”

Irene terbangun dari lamunannya saat Wendy menepuk bahunya, untuk yang terakhir kali Irene menatap Woobin sekilas, tapi segera menunduk saat dirasakannya air mata sudah membasahi matanya, bersamaan dengan tangan hangat Woobin yang masih menggenggamnya dengan erat.

Your two hands
Were the first scales of my life
Measuring the lies and truths of the world.

-Pieces Of You-

“Kau hati-hati disana, jangan ceroboh” nasihat Jonghyun dan melepaskan pelukannya untuk Irene

“Jangan menghabiskan uang mu untuk membeli camilan” Irene tertawa mendengar ucapan Mino sembari memeluknya

“Jika terjadi sesuatu langsung hubungi kami” Wendy memeluk tubuh Irene dengan erat, matanya bahkan telah berkaca-kaca sekarang

“Jaga diri mu disana, jangan sampai kau dibodohi bule Prancis” ledek Seulgi

Irene mengangguk, sembari menahan air matanya, dengan berat dia melepaskan pelukan Seulgi, lalu menoleh pada Woobin yang memang hari ini tak banyak mengeluarkan suara. Irene melangkah bermaksud untuk memeluk Woobin, tapi tiba-tiba saja ada sesuatu yang menghentikannya hingga membuat langkahnya mundur kembali, Woobin yang melihat hal itu tertawa canggung, kakinya yang panjang melangkah mendekati Irene dan memeluknya. Air mata yang sejak tadi ditahannya sudah jatuh melalui pelupuk mata kirinya, keduanya bisa merasakan detak jantung masing-masing yang berdetak semakin kencang, sedangkan empat orang lainnya yang melihat didepan mata hanya bisa membuang nafas panjang, merasa sedih karena kedua anak manusia itu harus berpisah.

“Kau pendek, bodoh dan ceroboh, hidup yang baik disana” Woobin tersenyum, tangannya mengacak rambut panjang hitam Irene dengan mata yang berair

Mereka semua berpelukan secara bersama-sama, mempersiapkan diri untuk melapaskan Irene sekarang setelah mendengar suara pemberitahuan yang mengingatkan jika Pesawat yang akan ditumpangi Irene akan lepas landas 20 menit lagi. Wendy dan Seulgi sudah menangis secara bersama-sama, sebelum pergi, Irene lebih dulu menghampiri Woobin, ia mengangkat kepalanya untuk memandangi mata sipit Woobin, selama ini mereka tidak pernah berani berbincang dengan menatap satu sama lain, terlalu takut jika keduanya akan jatuh kedalam lubang yang semakin dalam.

“Bisa peluk aku sekali lagi? Untuk yang terakhir kalinya” pinta Irene dengan tersenyum sedih

Woobin terkejut mendengarnya. “Pergilah, pesawat mu akan terbang sebentar lagi” kata Woobin sambil menepuk-nepuk bahu Irene, sebagai ganti karena ia tak bisa memenuhi permintaan Irene

“Baiklah, aku pergi dulu”

Irene melambaikan tangannya sebelum benar-benar pergi dari hadapan sahabat-sahabatnya, ia menarik koper besar berwarna merah mudanya dan berjalan kedepan, meninggalkan mereka semua dibelakang, untuk sekali lagi Irene menoleh kebelakang, walaupun semuanya terasa berat, tapi Irene sudah memutuskan ini semua, dia tidak mau ada penyesalan, karena itu langkah kaki Irene terlihat lebih cepat dari sebelumnya. Melihat Irene yang sudah semakin dekat dengan pintu gerbang kepergian, mereka juga memilih pergi dari sana, Jonghyun menepuk-nepuk bahu Woobin ketika melihat raut wajah Woobin yang terlihat sedih.

Setiap langkah yang dibuat Woobin membuat otaknya berputar ke masa lalu, setiap kenangannya bersama Irene muncul dalam pikirannya seolah dia sedang menonton Film sekarang, dimulai ketika mereka pertama kali bertemu, menjadi teman dekat yang hampir tiap hari menghabiskan waktu bersama-sama, dan entah sejak kapan rasa cinta itu telah tumbuh di hati masing-masing, sebuah perasaan yang hanya bisa mereka rasakan, perasaan yang meluap dari hari ke hari tapi tak bisa mereka ekspresikan bentuknya, sebuah benteng penghalang yang berdiri kokoh ditengah-tengah mereka selalu menjadi alasan mengapa keduanya harus menyimpan perasaan masing-masing dalam jangka waktu yang tak bisa ditentukan. Setiap kalimat yang berisikan janji-janji manis Woobin sudah kadaluarsa untuk Irene, semua harapan yang dia simpan untuk Woobin telah pupus selama waktu terus berjalan, menunggu bukan keahlian Irene, tapi tanpa sadar dia telah menunggu Woobin selama bertahun-tahun untuk memiliki Woobin seutuhnya, seperti yang Pria itu janjikan, tapi pada akhirnya Irene juga menyerah, Woobin tidak bisa memilih siapa yang harus dipilihnya, seorang wanita yang telah menjadi kekasihnya tapi juga menjadi sebuah penghalang atas hubungun tak berdasar yang dijalinnya bersama Irene.

“Aku tau perasaan ini salah, tapi aku mencintai mu Irene”

“Kau pikir untuk apa aku menunggu mu bertahun-tahun jika aku tidak mencintai mu”

“Aku akan ke Prancis”

“Kau bilang kau mau menunggu ku”

“Untuk apa aku menunggu lagi jika seseorang yang aku tunggu nyatanya tidak bisa memutuskan apapun. Orang bilang, cinta tidak harus selalu memiliki, dan itu terjadi pada kita”

“Maafkan aku, tapi aku mencintai mu”

“Bisa peluk aku sekali lagi? Untuk yang terakhir kalinya”

Jantung Woobin berdetak semakin kencang, air matanya tanpa sadar telah membasahi wajahnya, dia sadar sekarang, dia sadar betapa dia mencintai Irene dan tak mau kehilangannya, dia juga sadar seberapa banyak ia telah menyakiti hati wanita yang ia cintai. Secara tiba-tiba Woobin merubah langkahnya, dia berbalik dan berlari, berusaha menggapai Irene sebelum semuanya terlambat.

“IRENE”

Bersamaan dengan suara teriakan Woobin, tangannya yang panjang berhasil menarik tubuh Irene tepat ketika wanita itu akan melangkah masuk ke pintu gerbang kepergian. Passport dan tiket yang dipegang Irene sudah jatuh diatas lantai, pelukan Woobin semakin erat, ia bahkan bisa merasakan basah dibagian bahunya, mendengar suara tangis Woobin sambil terus mengucapkan ‘maafkan aku’ dan ‘aku mencintai mu’ membuat tangis Irene juga pecah, kedua tangannya bahkan sudah membalas pelukan Woobin sama eratnya.

You know I do
I do love you
Your tired image
Your retreating silhouette
I love you
I do love you
Every little piece of you
Every little piece of you
I love you

Untuk menatap satu sama lain saja biasanya mereka tak berani, setiap gerak gerik yang mereka lakukan selalu diawasi banyak mata, kejadian masa lalu membuat keduanya merasa canggung dalam hubungan sahabat dengan perasaan cinta, tapi hari ini, siapa yang perduli dengan omongan orang lain, yang Woobin tau, dia hanya mau mendekap Irene dalam pelukannya.

Woobin melepaskan pelukannya, kedua telapak tangannya dia gunakan untuk memegang pipi kanan kiri Irene, mata mereka yang memerah saling menatap satu sama lain, melihatnya membuat kedua hati mereka menjadi perih, Woobin memeluk Irene sekali lagi dan berganti mengecup dahinya.

“Maafkan aku, jangan pergi….aku mohon” pinta Woobin

Irene menggelengkan kepalanya, dia mengelus wajah tampan Woobin dan memandangi wajah itu dengan seksama. “Aku tidak bisa” Irene tersenyum, mengecup tangan Woobin dan secara perlahan melepaskan genggaman tangan Woobin

Sebelum pergi, Irene mengeluarkan kemeja sekolahnya dari dalam tas, ia memandangi sebentar kemeja itu dan memberikannya pada Woobin dengan tersenyum. “Simpan ini untuk ku”

“Irene tunggu, Irene”

Woobin mengenggam erat kemeja milik Irene dan berusaha mengejar Irene yang sudah melewati pintu gerbang kedatangan, tapi gerakannya tertahan ketika dua orang staff bandara menahannya masuk, tidak perduli dengan pandangan orang-orang, Woobin masih berteriak memanggil nama Irene, tapi yang dipangil bahkan sama sekali tidak berbalik, seolah membuktikan pada Woobin jika dia tak mau lagi kembali menunggu atas janji tak pasti Woobin. Sedangkan Jonghyun, Wendy, Seulgi dan Mino tak bisa melakukan apapun, tidak bermaksud menyalahkan Woobin, tapi Irene memilih pergi karena Woobin, karena Pria itu.

I want to touch time and grasp it in my hands,
So that you can be with me,
I want to send it flying.

-Pieces Of You-

Yuri kembali dari dapur dengan membawa dua gelas cangkir kopi, dia tak tau apa yang terjadi pada kekasihnya, setelah pulang mengantar Irene, Pria itu datang dengan mata yang merah dan membengkak, Yuri bahkan tak bisa mengartikan raut wajah Woobin. Yuri menghela nafas panjang dan memberikan secangkir kopi hangat pada Woobin yang sedang duduk disofa tepat berhadapan dengan TV sembari memainkan sebuah kemeja yang sejak tadi ia genggam.

“Kemeja siapa itu?” tanya Yuri dan duduk disebelah Woobin

Woobin tidak menjawab, ia malah merubah posisi duduknya, menggeser badannya sedikit menjauh dari Yuri dan menyalakan Tv. Yuri menahan amarahnya karena sikap Woobin, entah ini perasaannya saja atau memang Woobin yang berubah, sejak tadi Pria itu berusaha menjauhinya, diajak bicara tak ada tanggapan, ia bahkan enggan menatap Yuri, tapi Yuri juga tak mau membahasnya, terlalu malas untuk bertengkar dengan Woobin. Melihat Woobin yang sejak tadi mengganti-ganti channel tanpa berniat menonton satupun siaran yang disuguhkan membuat Yuri kesal, dengan kasar Yuri meletakkan cangkirnya diatas meja dan merebut remot tv dari Woobin.

“Terjadi kecelakaan pesa—-“

Woobin tersentak kaget mendengar suara reporter yang didengarnya sekilas, ia merebut remot TV tadi dan menggantinya ke channel berita yang sempat Yuri ganti, entah kenapa tangannya malah bergetar saat ia memencet tombol remot, jantungnya bahkan berdetak semakin kencang.

“Pesawat XXX dengan nomor XXX tujuan ke Prancis dilaporkan jatuh dua jam yang lalu di kawasan XXX”

“Irene”

Woobin menjatuhkan remot tv, ia segera berdiri dan berlari keluar rumah dengan tergesa-gesa, tidak perduli dengan suara Yuri yang terus memanggil namanya dari belakang, pandangan Yuri terhenti pada kemeja yang dipegang Woobin tadi, diambilnya kemeja itu dan dibacanya sebuah tulisan besar yang bertuliskan ‘IRENE’ dan tulisan kecil bertuliskan ‘& Woobin’, Yuri meremas kain putih itu dengan air mata yang jatuh dari matanya.

Your eyes,
Your hands,
I want to look in your eyes forever and hold your hands
I already want to turn back time.

“Dilaporkan bahwa semua penumpang pesawat telah tewas”.

-Piece Of You-

“Bae Irene, kenapa kau mendekati kekasih ku? Jauhi dia!!!”

“Hei kau sudah dengar? Katanya Irene menjadi selingkuhan Woobin”

“Aku minta maaf atas sikap Jiwoo pada mu”

“Tidak apa-apa”

“Jhonny brengsek, apa yang kau lakukan pada Irene hah? Berani sekali kau mau melakukan hal bejat padanya!!”

“Aku mohon Woobin, aku mohon jangan beritau siapapun, aku mohon hiks”

“Tenanglah, aku tidak akan mengatakannya pada siapapun. Yang terpenting sekarang kau sudah aman. Aku akan berada disamping mu, selalu!”

“Irene, apa kau mencintai ku?”

“Kau bicara apa?”

“Aku hanya….Aku….akhhh aku tidak tau, tapi aku merasa…aku merasa jika aku mencintai mu. Irene, apa kau juga merasakannya?”

“Engg”

“Selamat atas kekasih baru mu”

“Kau tau dari mana?”

“Tidak penting tau dari mana, aku hanya bingung, bagaimana bisa kau menyatakan cinta pada seorang wanita tapi malah memacari wanita lain”

“Aku pasti akan memutuskannya, tunggu aku”

“Irene, aku pasti menepati janji ku”

“Tunggu aku”

“Irene, tunggu aku”

Woobin berhenti berlari, nafasnya memburu dengan bulir-bulir keringat yang membasahi wajahnya, mata sipit itu bisa melihat dengan jelas banyaknya kerumunan yang berkumpul di bandara saat ini, suara tangisan dan air mata tak terhitung jumlahnya, dengan langkah yang gontai Woobin berjalan kearah kerumunan itu, dilihatnya Jonghyun dan Mino yang sudah lebih dulu berada disana kini melangkah mendekatinya, ia bisa melihat Wendy yang menangis tersedu-sedu dipelukan Seulgi. Woobin menatap kedua sahabatnya, seolah menunggu kalimat apa yang akan mereka lontarkan, tapi melihat wajah putus asa Jonghyun dan Mino membuat seluruh tubuh Woobin bergetar, setelah lama menunggu, Jonghyun menggelengkan kepalanya, seolah mengatakan jika Irene telah pergi dan tak akan kembali.

Tubuhnya terasa semakin lemas, Woobin menyandarkan tubuhnya pada tembok dibelakangnya, semakin lama kaki panjang itu tak bisa lagi menopang tubuhnya, ia jatuh terduduk bersamaan dengan suara tangisnya yang pecah dan menambah keramaian diruangan itu, Jonghyun dan Mino berjongkok, berusaha menenangkan Woobin walaupun mereka tau jika usaha mereka tidak akan menghasilkan apapun.

And with the remaining half of your life,
If you live for me again,
The things that someone as insignificant as myself can do,
The things you want and desire for eternity,
A spirited body,
For ever I accepted it,
Now I want to take back.

-Pieces Of You-

Hujan yang turun membasahi tanah seolah bertanda bahwa langit ikut sedih, air mata masih mengalir dari setiap orang yang berada dipemakaman Irene hari itu, kacamata hitam yang dipakai Woobin tak bisa menyembunyikan berapa banyak air mata yang sudah ia hasilkan. Suara tangis dan suara orang-orang yang memanggil nama Irene seperti angin lalu ditelinga Woobin. Ia berharap jika hari ini hanyalah bunga tidurnya saja, tidak, Woobin bahkan tak mau memimpikannya, melihat peti mati Irene yang telah masuk kedalam liang kubur menyadarkan Woobin bahwa apa yang telah terjadi hari ini adalah sebuah kenyataan yang harus ia hadapi, dan secara tiba-tiba suara tangisan Ibu Irene yang histeris menyadarkan Woobin, ia mendongakkan kepalanya, tak kuat melihat setiap potongan-potongan kejadian yang terjadi dihadapan matanya, dan saat ia menatap kedepan, ia melihat Irene tengah tersenyum kearahnya, wanita itu berdiri dibelakang orang-orang yang memakai baju berwarna hitam.

Another day passes without you,
When dreams come I want to go find you,
I want to follow you,
Matching your footsteps.

Woobin melepaskan kacamatanya, memastikan apakah wanita yang dilihatnya benar Irene apa bukan, dan saat ini ia bisa melihat Irene terus tersenyum kearahnya sembari berjalan selangkah demi langkah melewati orang-orang dihadapannya, sama dengan Woobin, matanya tak lepas dari sosok Irene yang berada dihadapannya, setiap langkah yang dibuat Irene akan di ikuti oleh Woobin. Kini keduanya berdiri tak jauh dari makam Irene, wanita itu juga berdiri beberapa langkah dihadapan Woobin, masih sama, Irene tersenyum tanpa beban dibalik senyumannya.

“Woobin, selamat tinggal”

“Irene!!”

Woobin mempercepat langkahnya ketika Irene telah berjalan menjauh darinya.

“Aku mencintai mu”

Dan, tubuh Irene menghilang dari pandangan matanya tepat ketika ia mengatakan tiga kalimat tadi.

“Irene!!!!! IRENE!!!!”

Your eyes
Your hands
I want to breathe
looking into your eyes forever
I want to turn back time already

Semua orang terkejut ketika mendengar suara teriakan Woobin, Pria itu terlihat seperti orang linglung yang terus berteriak memanggil nama Irene. Jonghyun dan Mino berlari menghampiri Woobin, berusaha menahan setiap gerakan Woobin.

“Woobin, hei tenanglah”

“IRENE!!! IRENEEEEE!!!”

You know I do
I do love you
Your tired image
Your retreating silhouette
I love you
I do love you
Every little piece of you
Every little piece of you
I love you

image

THE END 

4 thoughts on “PIECES OF YOU

  1. faraaaaaaaaaaaaaaaaa gua suka bgt sama yg satu ini !!!!!! Walaupun agak pendek tp entah kenapa gue suka ajah. Cara km ceritain bagian woobin tuh ngena bgt,ngefeelnya kerasa sampe di siniiiiii *nunjukhati* lol.selanjutnya gue tunggu,ntar gue bantuin cr cover lagi hahaha

  2. Iya setuju sama yang diatas, tiap pairingnya jarang bgt dan apalagi woobin udah punya min ah. Tapi cara kamu merangkai cerita ini dan feel yang bisa kamu bangun diantara mereka ituloh yang bikin cerita ini dalem banget:”))
    Dan ohiya, saya mau kasih koreksi aja ya, tanda baca nya masih ada yg kurang jadi agak aneh juga, tapi untunglah setidaknya feelnya mantapz. Semangat!

Kritik, Saran dan lain-lain DISINI

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s