GOODBYE

Halo haloooo, sepertinya sudah lama sekali ya tidak post apapun disini, dan setelah semua baca komentarnya, kayaknya ff yg masih belum ada ending (ff saya) sepertinya tak akan ada lanjutannya, maaf yaaa, sekarang lagi sibuk kuliah, walaupun sedang libur tapi harus kerja, jadi nggak punya banyak waktu. Tapi ini ff pendek kok, iseng iseng aja hehe. Oh iya sekedar peringatan aja, yg biasanya mention saya ke twitter sepertinya sudah tidakbisa lagi, twitter saya kena hack beberapa bulan yang lalu, huhu, jadi yg mau tanya tanya bisa komentar kesini saja ya ^^ ini ff myungstal, akhir-akhir ini susah buat ff haesica, habisnya nggak pernah dapat feel nya sih😦 oh iya makasih buat Tikaatas covernya ^^ btw, ada perubahan judul ya disini, kalo di cover judulnya See You Agaian, tapi saya ganti jadi Goodbye hahaha ._.v ya udah deh, monggo dibaca😀

Tittle: Goodbye

Gendre: Romance, Family, Slice Of Life

Cast: Jung Soojung (Krystal fx)

Kim Myungsoo (Infinite)

Other Cast: Nyonya Kim (Fiction)

Tuan Kim (Fiction)

Author: -PrettyBoy-

image   

“Soojung-ah…..Soojung-ah….”

Mendengar namanya dipanggil, Soojung segera berbalik dan membasuh tangannya yang kotor karena membersihkan daging sapi yang akan segera dimasak. Ia berdiri dan mengikuti langkah seorang wanita berumur setelah sebelumnya diberitahu untuk segera berdiri didepan pintu masuk untuk menyambut anak tertua dari keluarga Kim. Seluruh pelayan telah mengambil posisi, bersiap untuk memyambut kedatangan pewaris utama keluarga Kim yang bersekolah diluar negeri, dilihatnya Tuan Kim dan Nyonya Kim ikut berdiri didepan pintu dengan wajah yang tak luput dari senyuman kebahagiaan.

“Soojung, lepaskan apron mu” bisik salah satu pelayan

“Ah iya” Soojung berlari-lari kecil kembali kedapur sambil melepaskan apronnya, setelah itu kembali ketempatnya yang semula

“Tuan Muda telah tiba, Tuan, Nyonya” lapor salah seorang satpam rumah

Para pelayan segera berdiri tegap setelah melihat sebuah mobil mewah berhenti tepat dipekarangan rumah, seorang supir turun untuk membuka pintu, sedangkan pelayan lainnya ikut membantu mebawa barang bawaan sang Tuan Muda. Soojung sama sekali tidak melepaskan pandangannya, bahkan ketika Pria yang sejak tadi ditunggu turun dari mobil dan melangkah melewatinya, Soojung belum juga mengalihkan matanya dari Pria itu.

“Selamat datang anak ku” Tuan Kim dan Nyonya Kim memeluk anak sematawayang mereka dengan penuh kasih sayang

“Soojung, tolong siapkan makanan ya?”

Kalimat yang dilontar sang Ibu membuat Myungsoo menoleh kebelakang, pandangannya bertemu dengan Soojung yang juga memandanginya, tapi dengan cepat Soojung membungkukkan setengah badannya dan segera pergi kedapur, melanjutkan pekerjaanya tadi, sementara itu para pelayan yang lain terlihat asik mengobrol mengenai Myungsoo, membicarakan betapa sempurnanya fisik yang Myungsoo miliki, berbeda dengan Soojung, ia memilih diam sambil terus mengaduk adonan yang tengah dia buat, walaupun dalam kepalanya masih penuh dengan sosok Myungsoo.

-Goodbye-

Tangannya sesekali menepis dahan daun yang menutupi penglihatannya, seulas senyuman manis terpampang dengan jelas dibawah langit malam yang gelap, menemui seseorang yang sejak dulu ia rindukan adalah suatu hal yang paling ia nanti-nanti, dan hari ini akhirnya datang juga. Punggung kecil itu masih terlihat sama dengan beberapa tahun yang lalu, punggung yang selalu takut ia sentuh, seolah punggung rapuh itu akan hancur begitu mudahnya jika ia memegangnya.

“Soojung-ah”

Soojung tersentak kaget mendengar suaranya dipanggil, ia menatap Myungsoo yang kini duduk manis disebelahnya.

“Ternyata tempat ini masih menjadi tempat favorite mu” ujar Myungsoo dengan memandang lurus kedepan

“Sama seperti mu kan?” balas Krystal sambil tersenyum kecil

Myungsoo ikut tersenyum dan membuka suaranya sekali lagi. “Aku senang kau baik baik saja”

“Aku juga, melihat mu hidup dengan bahagia membuat aku senang, aku…..”

Myungsoo menarik Soojung masuk kedalam pelukannya, mendekapnya dengan erat seolah takut akan kehilangan sosok gadis cantik itu, sedangkan Soojung hanya mampu terdiam sembari membalas pelukan Myungsoo dengan canggung, tapi tak bisa dirinya pungkiri jika jantungnya berdetak dengan sangat cepat, seperti detak jantung Myungsoo yang bisa ia dengar dengan jelas, seolah membagi kebahagiaan satu sama lain.

“Aku pulang” seru Myungsoo sembari memandangi wajah Soojung

Soojung tersenyum dengan mengangguk, diusapnya air mata yang mengalir dari mata Myungsoo dan kembali masuk kedalam pelukan Myungsoo, membiarkan air matanya yang juga berhasil lolos dari sela-sela pelupuk matanya membasahi jaket tebal yang digunakan Myungsoo.

“Aku tidak akan meninggalkan mu lagi, aku janji, kita akan merasakan bahagia itu bersama-sama, seperti dulu”

Myungsoo mengecupi ubun-ubun kepala Soojung tanpa henti, lalu kembali menopangkan dagunya diatas bahu Soojung, sementara itu Soojung tidak membalas ucapan Myungsoo, terlalu sibuk menahan isakannya yang ia tahan ditenggerokannya, belum lagi hatinya yang tiba-tiba terasa perih semakin menambah beban pikiran Soojung hingga membuatnya tak bisa lagi berhenti menangis dalam dekapan Myungsoo.

-Goodbye-

“Soojung, tolong tuangkan teh untuk ku”

“Baik Tuan”

Soojung menuangkan teh hangat keatas cangkir Tuan Kim, ia melirik Myungsoo saat dirasakannya Pria itu memandanginya, setelah selesai, Soojung mundur beberapa langkah dan berdiri diujung meja makan, berjaga-jaga jika salah satu dari anggota keluarga Kim membutuhkan tenaganya lagi.

“Jadi tak ada satupun gadis Jerman yang berhasil menarik perhatian mu?” tanya Tuan Kim, diseruputnya teh hangat buatan Soojung

Myungsoo dan Soojung saling melempar tatapan sekilas, “Tidak ada, lagipula aku lebih suka dengan gadis Korea” balasnya sembari melahap buah yang dihidangkan

“Tidak apa-apa jika memang belum punya kekasih saat ini, tidak perlu terburu-buru” ujar Nyonya Kim, ia tersenyum hangat dan mengelus lengan Myungsoo dengan sayang

“Kalau kau mau, Ayah bisa mengenalkan mu dengan anak rekan kerja Ayah” tawar Tuan Kim semangat

“Tidak perlu, aku sudah punya calon sendiri” Myungsoo mengedipkan sebelah matanya dan mengambil sebuah daging dari piring, “Soojung”…

Soojung tersentak kaget mendengar panggilan Myungsoo, bukan hanya dirinya, tapi kedua orang tua Myungsoo dan seorang pelayan lainnya yang berjaga disana juga terlihat terkejut, bahkan kini mereka menatap Soojung dengan penuh tanda tanya, sedangkan yang ditatap terlihat begitu gugup sampai tak berani mengangkat wajahnya.

“Soojung, daging buatan mu memang selalu enak. Aku ke taman dulu”

Ekspresi Tuan Kim dan Nyonya Kim akhirnya kembali normal dan terlihat tidak tegang lagi, mereka bahkan kini kembali melanjutkan sarapan, Ayah Myungsoo juga membuka mulutnya dan sependapat dengan ucapan Myungsoo tadi, masakan Soojung memang enak, setelah menyelesaikan sarapannya, mengecup pipi sang Ibu dan menepuk bahu Ayah nya, Myungsoo lalu meninggalkan meja makan dan bergegas ke taman belakang untuk menghirup udara pagi, saat melewati Soojung, Myungsoo malah tersenyum jahil tanpa ada rasa bersalah hingga membuat Soojung ingin melemparnya dengan teko yang ia pegang sekarang.

“Soojung, kau boleh kembali sekarang, sarapanlah” suruh Tuan Kim

“Baik Tuan, permisi” Soojung membungkukkan setengah badannya dan pergi dari ruang makan, sementara itu Nyonya Kim tidak bisa melepaskan pandangannya dari Soojung.

-Goodbye-

Nyonya Kim tersenyum ketika melihat Soojung yang sepertinya terlihat asik memandangi Myungsoo dari balik jendela yang sedang bermain dengan anjing peliharaannya ditaman, ia bahkan tidak sadar jika saat ini wanita berusia 38 itu telah berdiri disebelah Soojung, ikut mengalihkan perhatiannya pada Myungsoo yang tak henti-hentinya tertawa senang.

“Senang sekali rasanya melihat orang yang kita sayangi dapat tertawa bahagia seperti itu, iyakan?”

Soojung terkejut, ia membungkukkan setengah badannya memberi salam dan mengangguk dengan canggung, mengiyakan ucapan Nyonya besar dirumah ini. “S-saya permisi dulu”

“Jangan” larang Nyonya Kim, “Kau tidak perlu kemana-mana, aku ingin memgobrol dengan mu” pinta Nyonya Kim, dilihatnya seulas senyuman menghiasi wajah cantiknya yang tak mampu dimakan usia

“B-baik” kata Soojung menurut

“Soojung, menurut mu, gadis seperti apa yang disukai Myungsoo?”

Soojung secara refleks menoleh kearah Nyonya Kim, saat Nyonya Kim ikut menatapnya, Soojung menunduk, menghindari tatapan itu. “Maaf, saya kurang tahu, Tuan Muda tidak pernah membahasnya”

“Benarkah? Kalau begitu, apa kau tahu siapa gadis yang ia maksud saat dimeja makan beberapa hari yang lalu?”

Untuk kedua kalinya Soojung kembali dikejutkan dengan pertanyaan yang dilontarkan Nyonya Kim, jari-jarinya sibuk memelintir lap meja yang ia gunakan untuk membersihkan ruang tengah. Soojung tidak tahu apa tujuan Nyonya Kim memberikannya pertanyaan seperti itu, tapi yang pastinya, Soojung merasa tidak enak, belum lagi tatapan Nyonya Kim yang seolah mengintropeksinya membuat Soojung semakin merasa tidak nyaman.

“S-saya tidak tahu, Nyonya”

“Aku pikir kau tahu, bukankah, kau teman masa kecil Myungsoo?” tanya Nyonya Kim sekali lagi, sekarang sambil menghadap Soojung dengan menatapnya lurus

“Maaf, saya benar-benar tidak tahu”

Nyonya Kim menghela nafasnya dan kembali memandangi Myungsoo, “Sebagai seorang Ibu, aku ingin tahu siapa gadis beruntung yang dicintai anak ku, kau tahukan, Myungsoo satu-satunya pewaris kerjaaan Kim, mau tidak mau dia harus melanjutkan semua usaha keluarga Kim, membuat usaha yang ada saat ini menjadi lebih berkembang, dan dia bisa melakukannya jika hanya menemukan gadis yang setara dengannya”

Raut wajah Nyonya Kim terlihat berubah, matanya dengan jelas memancarkan kekhawatiran yang besar saat memikirkan masa depan Myungsoo, tapi harus Soojung akui, kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Nyonya Kim membuatnya terserang mental breakdown, Soojung masih belum menemukan jawaban untuk setiap kalimat Nyonya Kim, ia masih memikirkan apa sebenarnya tujuan Nyonya Kim berkata hal seperti itu padanya, mungkinkah dia tahu tentang hubungannya dengan Myungsoo?

“Tidak apa-apa jika memang kau tidak tahu, tapi jika suatu saat Myungsoo mengenalkan gadis itu pada mu, tolong bawa dia datang menemui ku, mengerti?”

“Baik Nyonya”

Nyonya Kim tersenyum untuk yang terkahir kalinya sebelum meninggalkan Soojung, kepergian Nyonya Kim membuat pernafasan Soojung sedikit merenggang hingga ia akhirnya bisa bernafas dengan leluasa, tapi tetap saja otaknya masih dipenuhi dengan Nyonya Kim, mungkin sampai hari-hari berikutnya.

“Soojung, apa yang dikatakan Ibu pada mu?” sahut Myungsoo yang baru selesai bermain bersama anjingnya

“Bukan apa-apa, aku kembali kerja dulu”

Myungsoo berkerut bingung melihat sikap aneh Soojung, belum lagi bayangan Ibu nya dan Soojung yang mengobrol tadi semakin membuat rasa penasaran Myungsoo semakin besar, ingin tahu apa yang keduanya bicarakan.

-Goodbye-

Soojung berusaha menutupi telinganya dengan bantal yang ia pakai, tapi suara barang yang dilempar mengenai jendela kamarnya terus mengganggunya dan membuat dia menyerah. Soojung akhirnya turun dari tempat tidur, menyalakan lampu kamar dan membuka jendelanya, dibawah sana sudah berdiri Myungsoo dengan senyuman yang lebih mirip dengan cengiran, tangannya melambai-lambai pada Soojung, seolah menyuruhnya untuk segera turun menghampirinya, tapi Soojung menggeleng, menolak ajakan Myungsoo, sekarang jam 2 Pagi dan Pria gila dibawah jendelanya masih saja terus memaksa, memasang wajah cemberutnya sambil mengusap-usap kedua telapak tangannya, memohon agar Soojung mau menuruti ajakannya.

“Haahh, dasar manja” Soojung menghela nafas panjang, mengambil jaket tebal dan segera turun kebawah

“Akhirnya kau turun juga” sahut Myungsoo saat melihat Soojung yang menghampirinya

“Kau tahu ini tindakan gila, bagaimana jika ada yang menemukan kita?” omel Soojung kesal

“Tidak akan, ayo ikut aku”

Myungsoo menggenggam tangan Soojung, membawanya ketempat rahasia yang dimana hanya mereka saja yang tahu, sebuah hutan kecil yang berada tak jauh dari letak rumah Myungsoo. Walaupun gelap, tapi tempat itu indah sekali, dihiasi dengan banyak bunga-bunga yang bermekaran, juga sebuah danau kecil yang berwarna biru bersih, dan jangan lupakan kunang-kunang yang selalu berbaik hati untuk menjadi penerang ditengah gelapnya rembulan malam. Myungsoo menjatuhkan tubuhnya pada rumput yang lebat, berbaring disana dengan penuh kebahagiaan.

Soojung tersenyum kecil, mengejek tindakan bodoh Myungsoo dan memandang lurus kearah danau. “Apa pernah kau membayangkan bagaimana jika tempat ini tidak pernah ada?”

Myungsoo mengangkat kepalanya untuk menatap Soojung yang masih berdiri, ia merubah posisinya menjadi duduk. “Untuk apa aku repot-repot membayangkan sesuatu yang tidak perlu aku bayangkan?”

Soojung membalas tatapan Myungsoo, berjongkok dihadapan Myungsoo dan mencubit kedua pipi tirus Myungsoo, “You don’t get the point”

“Sudahlah” Myungsoo menepis tangan Soojung dan beralih menggenggamnya, “Kau terlalu banyak berpikir, jika bersama ku, kau tidak boleh memikirkan yang lain, kau hanya boleh memikirkan aku saja”

“Dasar genit” Soojung mendorong Myungsoo hinga terjatuh kembali diatas rumput

“Ehhh, tapi kau sukakan? Hahaha”

Myungsoo menarik tubuh Soojung hingga ikut berbaring diatas rumput, menggelitik pinggul gadis berambut hitam panjang itu hingga suara tawa terdengar disekeliling mereka, lelah bercanda, Myungsoo mecium bibir Soojung yang masih berbaring dibawahnya, mencium kening, mata dan kedua pipi Soojung sebagai bukti betapa besarnya cinta yang ia miliki untuk Soojung.

“Aku sangat mencintai mu, Jung Soojung”

“Myungsoo…”

“Ne?”

Myungsoo tersenyum, tapi senyuman itu membuat Soojung merasa sedih, ia mendorong tubuh Myungsoo dengan lembut dari atas tubuhnya dan duduk kembali menghadap danau, terdiam disana seolah memikirkan sesuatu, dan hal itu membuat Myungsoo ikut khawatir mengingat sikap Soojung hari ini. Tangan sebelah kirinya menyentuh tangan Soojung yang dingin, menatap wajah Soojung yang terlihat sedih.

“Ada apa? Kau punya masalah?” tanya Myungsoo

Krystal menoleh kearah Myungsoo dan menggeleng, “Myung, kau ingat ketika kau harus pergi ke Jerman 10 tahun yang lalu, kau menangis dengan sangat sedihnya karena tak mau pergi, lalu kau berhenti menangis saat Ibu mu yang menenangkan mu, saat itu aku berpikir jika kau pasti sangat suka pada Ibu mu”

Walaupun sedikit heran dengan pernyataan Soojung, tapi Myungsoo tetap mengangguk, mengiyakannya. “Ya, aku sangat suka pada Ibu, aku menyayanginya, dan untuk ku, hanya ada dua wanita yang paling aku cintai di dunia ini, kau dan Ibu”

“Dua? Bukankah seharusnya ti—”

“Kenapa aku harus menyayanginya juga?” wajah Myungsoo berubah menjadi kesal, Soojung tertawa kecil melihatnya

“Apa yang dia lakukan di masa lalu tidak bisa kau jadikan alasan untuk membencinya” balas Soojung

“Tapi dia juga membenci ku” kata Myungsoo lirih

“Jadi jika ada orang lain yang mencuri, kau juga mau mencuri?”

Mata Myungsoo terbalalak kaget, untuk sekali lagi Soojung tertawa sembari mengapit kedua pipi Myungsoo dengan tangannya. “Jangan membencinya, jangan biarkan hati mu penuh kebencian”

“Apa itu yang kau rasakan?”

Soojung terdiam sejenak, sedetik kemudian dia mengangguk dan tersenyum tulus. “Yang terpenting sekarang, kau sudah punya Nyonya Kim, dia sangat mencintai mu, jadi kau jangan membuatnya kecewa” lanjut Soojung, dicubitnya pipi Myungsoo dengan gemas

“Aw aw sakit, iyaaa, lagipula aku tidak pernah berpikir untuk mengecewakannya” Myungsoo mengusap-usap pipinya yang ia yakini telah memerah

“Bagus sekali”

Keduanya terdiam, kini sama-sama sibuk dengan pikiran sendiri, tak lama Myungsoo menyenderkan kepalanya dibahu Soojung, menikmati setiap detik waktu yang dia miliki dengan gadis itu, matanya terpejam, menandakan bahwa betapa nyamannya ia saati ini, keadaan yang berbeda dengan Soojung, kepalanya terasa berat, terlalu penuh dengan berbagai macam beban pikiran, hingga obrolannya dengan Nyonya Kim tadi siang kembali terlintas diingatannya.

“Myungsoo, menurut mu apa itu Cinta?”

“Engg, cinta itu…….hmm….ah, cinta itu ketika kita merasakan kasih sayang satu sama lain, tidak menyakiti satu sama lain, selalu bersama dalam keadaan apapun, tak terpisahkan selain maut yang menjemput dan hidup bahagia bersama selama-lamanyaaaaa”

Soojung tersenyum kecil mendengar jawaban Myungsoo yang terdengar childish, tapi dalam hati merasa sedih, sedangkan Myungsoo malah tersenyum, memandangi wajah Soojung sebentar dan mengecup pipi sebelah kanannya, bersamaan dengan itu, Soojung telah mengambil keputusam yang besar dalam hidupnya kali ini.

-Goodbye-

“Akhirnya kau datang menemui ku”

Soojung hanya bisa menatap Nyonya Kim yang tengah duduk disalah satu sofa dalam kamarnya, disaat Nyonya Kim tersenyum kearahnya, Soojung malah menunduk sembari meremas telapak tangannya.

“Tuan Muda, air hangat anda sudah siap” seru salah satu pelayan

“Terimakasih” Myungsoo meninggalkan anjing peliharaannya, melangkah masuk kedalam kamar dan mengambil sebuah handuk diatas tempat tidur, tapi sepucuk kertas berwarna kuning yang berada diatas bantal tidurnya menarik perhatian Myungsoo.

image

“Nyonya, ingatkah kau pada kejadian 10 tahun yang lalu?”

“Saat Myungsoo tidak mau belajar ke luar negeri?”

Soojung mengangguk kecil, “Hng, dan saat itu kau berhasil menenangkannya, mengatakan padanya bahwa semua akan baik-baik saja dan jika ia kembali nanti, dia akan masih bisa melihat ku disini. Sejak itu aku tahu, betapa besarnya pengaruh Nyonya untuk hidup Myungsoo, karena Nyonya, dia bisa tersenyum lebih lebar, tertawa lebih keras, mengucapkan kalimat lebih banyak, dan merasa bahagia dari yang sebelumnya, karena itu….aku akan mengalah pada Nyonya”

Nyonya Kim menurunkan kedua tangannya yang ia gunakan sebagai tumpuan dagunya ketika melihat mata Soojung yang menatapnya dengan arti tatapan yang tak dimengerti oleh Nyonya Kim.

image

Myungsoo menelan salivanya dengan susah payah, ia mendudukkan dirinya diatas tempat tidur dan kembali membaca surat yang ia genggam dengan tangan gemetar.

Nyonya Kim berdiri dari duduknya, melangkah mendekat pada jendela besar yang berada diujung kamar, terdiam sebentar lalu membuka suaranya. “Harus ku akui kau sudah berkorban banyak, tapi kau memang selalu melakukannya demi orang yang kau sayangi, sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Ku ucapkan terimakasih pun rasanya tak cukup, tapi ku rasa kau sudah tahu, ini semua kita lakukan demi masa depan Myungsoo”

Ujar Nyonya Kim dan menoleh kebelakang, dilihatnya Soojung masih berdiri ditempatnya, tak bergerak sedikitpun, tapi mata itu menatap masuk kedalam mata Nyonya Kim, seolah ia menyiratkan harapan besar atas kebahagiaan Myungsoo yang kini bergantung pada Nyonya Kim.

image

Myungsoo terkejut, Soojung memang benar, ketika Ibu nya meninggal, dia sebenarnya tidak benar-benar merasa sedih, Myungsoo tidak punya alasan untuk menangisi kepergiannya, wanita yang selalu ia panggil Ibu tak pernah menjadi ‘Ibu’ untuknya, wanita itu membencinya dengan seluruh hatinya, mengutuk Myungsoo tiap kali ia melihat wajahnya, mengusir Myungsoo tiap kali ia berusaha mendekatinya dan memukul Myungsoo tiap kali anak itu menyentuhnya, alasan itulah yang membuat Myungsoo tidak bisa menahan kebenciannya pada sang Ibu, tapi Soojung, gadis itu selalu mengingatkan padanya, sebenci apapun dia pada mendiang Ibu nya, dia tetaplah wanita yang melahirkannya, sama seperti yang dilakukan Soojung, walaupun Ibu Soojung selalu memberikan lebam di wajah atau tubuh Soojung, gadis itu tidak pernah membencinya, bahkan sekalipun Ibu Soojung pergi meninggalkan Soojung hingga membuatnya harus bekerja sebagai pelayan di rumah Myungsoo, Soojung tak juga membenci Ibu nya, ada banyak pelajaran yang bisa ia ambil dari kehidupan Soojung sebenarnya.

Myungsoo tersadar dari lamunannya, meninggalkan kenangan-kenangan masa lalu yang sempat menguasai pikirannya, ia kemudian membaca lembar selanjutnya dengan jantung yang berdetak tak beraturan, antara penasaran dan takut dengan setiap kalimat yang ditulis Soojung melalui surat itu.

“Hati ku sedikit lega setiap kali memikirkan bahwa kini Nyonya ada disamping Myungsoo, menjadi seseorang yang bisa ia jadikan sandaran setiap kali ia merasa sedih, mendengarkan semua keluh kesah disetiap ceritanya, dan melihat senyuman dan tawanya setiap kali ia bahagia, dan mungkin itu semua bisa membuat Myungsoo tak lagi terlalu bergantung pada ku, tapi pertanyaannya, apakah aku benar-benar bisa melepaskan seseorang yang selalu menemani ku selama hampir setengah umur ku? Dan bisakah Myungsoo juga melepaskan seseorang yang seolah telah menjadi ‘obat’ untuk dirinya?”

Keduanya saling menatap satu sama lain, tapi mendengar kalimat terakhir Soojung, Nyonya Kim membuang wajahnya, hatinya terasa tercubit sedikit.

“Itu juga berarti, Nyonya mempunyai tugas yang lebih berat setelah aku pergi nanti, tapi benar apa yang dikatakan Nyonya, saya akan melakukan apapun demi kebahagiaan Myungsoo, sama seperti mu, tapi yang berbeda adalah, aku sama sekali tidak mendapatkan keuntungan dari ini semua”

Nyonya Kim terkejut, ia terlihat salah tingkah dan hanya bisa meremas kedua tangannya dengan gugup.

“Sebelum aku menyudahi semuanya, boleh aku minta satu permintaan?”

image

Atmosfir disekitar Myungsoo tiba-tiba berubah, membaca tulisan ‘berpisah’ membuat jantungnya berdetak berkali-kali lebih cepat, Myungsoo tidak mengerti kemana arah pembicaraan Soojung, dan itu membuatnya tak tenang, rasanya ia ingin langsung saja melompat ke kertas terakhir dari surat Soojung, tapi Myungsoo juga tak mau meninggalkan setiap kalimat yang ditulis Soojung.

image

Tangan Myungsoo semakin bergetar saat mengambil kertas terakhir, nafasnya naik turun tak beraturan, wajahnya kini telah dipenuhi oleh peluh.

image

“Dia sudah pergi?” Tuan Kim memeluk pinggang Istri nya mesra

“Ya” jawab Nyonya Kim, dan tiba-tiba saja perbincangan terakhirnya dengan Soojung memenuhi pikirannya.

“Ibu, bisakah kau memeluk ku untuk yang pertama dan terakhir kalinya?”

Nyonya Kim menggigit bibir bawahnya, sudah lama ia tak mendengar panggilan itu dari bibir Soojung, bertahun-tahun berlalu sejak ia menjadi Ibu Myungsoo dan meninggalkan Soojung sendirian hingga membuat Soojung harus menjadi pelayan dirumah ini, ada banyak rahasia yang tersimpan rapat-rapat dari Myungsoo, dan selamanya akan selalu seperti itu.

Secara perlahan, Nyonya Kim melangkah sedikit demi sedikit dan memeluk Soojung yang telah menitikkan air mata. “Aku selalu berpikir, tidak apa-apa jika memang Ibu tidak bisa menjadi ‘Ibu’ untuk ku, tapi setidaknya Ibu telah menjadi seorang ‘Ibu’ yang selalu bisa dibanggakan Myungsoo, dan aku harap selamanya akan begitu. Ibu juga tak perlu khawatir, aku akan pergi dari Korea, dengan begitu, Ayah Myungsoo tidak akan menceraikan Ibu, dan tolong, buat dia selalu bahagia, sekarang, kebahagiaannya bergantung pada mu”

Nyonya Kim melepaskan pelukan Soojung dan segera membalik badannya membelakangi Soojung. ” Yah, pergilah sekarang”

Soojung membuang nafas panjang, menghapus air matanya dan mengangguk, “Aku pergi” dan bersamaan dengan pintu yang tertutup, air mata Nyonya Kim merembes turun dari kedua matanya, dia tak pernah tau apa yang dirasakan Soojung selama ini, yang dia tau hanyalah, Soojung selalu bersedia melepaskan kebahagiaannya sendiri demi orang lain.

Dari balik kaca jendela, mereka bisa melihat dengan jelas bagaimana Myungsoo yang sedang keluar dari rumah dan menuju taman dengan tergesa-gesa, tangannya membawa surat yang ditulis Soojung, dari jarak sejauh ini, mereka bisa melihat bagaimana wajah Myungsoo yang memerah karena marah dengan lelehan air mata yang terus membasahi wajahnya ketika para pengawal terus menahannya untuk tidak keluar rumah, bahkan teriakan Myungsoo yang memanggil nama Soojung masih terdengar jelas hingga masuk kedalam rumah. Dan setelah ini, kemana takdir akan membawa mereka?.

image

The End

9 thoughts on “GOODBYE

  1. yatuhan, ternyata soojung…. baik banget soojung yaampun. kenapa ibunya soojung tega sama soojung? really, aku kaget dan hampir nangis waktu tau kalo ternyata ibu kandung soojung itu ibu tirinya myungsoo, poor soojungie:”

  2. Hello, aku datang ke sini sebelumnya atas saran dari dysaaaR (tunjuk komen atas), and before i going ‘ngalor ngidul’, let me i say how nice the poster is..

    Posternya bener-bener bisa mewakili seluruh isi cerita, terlebih sama ‘image’ krystal yang terlihat dewasa di sana, bikib aku takjub.. kesan pertamaku pas liat cover dan judulnya aku punya bad feeling kalau ff ini bakal bad ending huhuu ;;;;

    Kedua, you are so tricky, authornim.. twist ff ini bener-bener bisa bikin aku gigit-gigit jempol saking keselnya👿 aku bener-bener ga habis pikir, jadi ibu kandung Soojung selama ini adalah ibu tiri Myungsoo? -_- dia bisa menyayangi Myungsoo, tapi dia bahkan ga bisa menyayangi Soojung yang notabene adalah anak kandungnya sendiri -_- ugh such like a cruel mother sukses deh dikau buat aku benci banget sama ibu kandungnya Soojung.. tega amat dia ke Soojung.. udah ditelantarin gitu aja, eh dia malah suruh Soojung buat tinggalin Myungsoo.. shit you make me cries a lot at midnight ;_;

    Ketiga, aku betul-betul amaze at how Soojung’s profile.. dia digambarkan begitu dewasa dan bertanggung jawab disini sampe aku pengen masuk ke dalam cerita terus kasi pelukan hangat ke Soojung sambil bilang, “its okay, soojungie.. everything will gonna be okay at the right time” sikap saling mencintainya myungstal di sini berhasil buat aku cinta sama mereka, how couls you make those two cutie pie broke up just like that? ;_; /slapped/ tingkahnya Myungsoo aku suka banget di sini, dia teasing Soojung dan Soojungnya juga…. aduuh… fluffnya meskipun cuman slight, tapi kuat banget buat ninggalin kesab mendalam buat aku..

    Keempat, i really really really nead a sequel of this.. tolong endingnya bener-bener bikin aku kena double counter attack and let me slap Soojung’s ‘shit’ mother.. serius kisah cinta Myungstal tolong jangan dibiarin cuman segini aja, aku bener-bener kasihan sama Soojung disini ;_; let her find her happiness, please :))

    At least, aku udah lama ga baca ff myungstal dan ketika kak dyssa menyarankan ff ini ke aku, aku bener2 seneng😀

    (Well, aku punya sedikit gambaran buat sequel ff ini.. dan kalau author mengizinkan, bolehkah saya membuat sequel dari ff ini? You can contact me by line, id: diyahanggraeni.. thank you before)

    Keep writing and.. fighting :))

  3. Pembaca br di blog ini , salam kenal^^
    Mksih buat autor-nim yg sdh buat ff ini sampe” buat sy lupa sebentar sm rasa lapar , tp hampir buat puasa sy batal di akhir” cerita. pertama x baca awalnya , sy sempat mikir ceritanya sdh terlalu mainstream , antara si kaya & si miskin , tp entah knp ada sessuuaatuuu yg buat sy mau baca trs , & jeng jeng jeng sy ga nyesel bc ff ini :’) bnr2 kaget pas baca klu ibu myung trnyt ibu kandung soojung , ceritanya bnr2 nggak bisa di tebak. sama dngn komentar yg di atas , kami bth sequel #demo# semangat terus author , sy tunggu karya slnjtnya ^^

  4. sequelnya dong min . huhu ini ff keren banget (y) .. soojung baik banget , dia rella ngelakuin apa aja demi kebehagian orang lain ..

  5. Sequelll pleaseeee ;( ga rela bngtt mrka pisahhh tragis bgtu cranya .hiks hiks

    Tega bner ith ibunyaaa😦 #peyukKrys

  6. Unni emg slah 1 author favoritkuuu aaa aku suka ffnya walau gk ngeship myungstal krn myungsoo punya aku#plak bahahahhh. Dannn aaahhhh ibunya soojung jaad asli, anak sendiri di telantarin eh anak org diurus-__-

    Sequel nih gereget sm aku nunggu kelanjatuan dear family ;3

  7. Sedih ;A; feelnya dapet banget sampe nangis ;-;
    Soojungnya baik banget, Myungsoonya kasihan ;-;
    bagus ffnya, keren lah

Kritik, Saran dan lain-lain DISINI

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s